Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 48


__ADS_3

Iren menyentuh perutnya yang terasa pedih. Sudah dua hari dia tak masuk kerja. Mual akibat kehamilannya semakin bertambah parah. Beruntung Alvaro tak ada dirumah. Dia sedang ke luar kota, sudah dua hari ini dia tidak pulang. Kalau tidak, Alvaro pasti sudah membawanya ke rumah sakit untuk dirawat.


Iren melihat jam di atas nakas, sudah hampir jam tujuh malam. Patas saja perutnya terasa pedih, sedari siang belum ada yang masuk. Stok buah anggurnya sudah habis sedari siang. Tapi tubuhnya terasa lemas untuk hanya sekedar beranjak dari tempat tidur.


Tapi kali ini, sepertinya dia harus beranjak dari tempat tidur kesayangannya. Perutnya sudah terasa sangat perih, setidaknya menelan dua butir anggur bisa meredakan rasa pedih di perutnya.


Iren memikirkan mobilnya di halaman parkir mini market. Jarak mini market dengan apartemennya tidak terlalu jauh, tapi dengan keadaannya saat ini. Butuh perjuangan agar bisa sampai ketempat itu.


Begitu turun, Iren langsung melangkah ke etalase yang memajang buah anggur segar. Setelah mengambil beberapa, dia langsung bergegas kemeja kasir.


"Biar aku aja yang bayar mbak." ujar suara yang terdengar familiar di telinga Iren. Iren cepat menoleh, lelaki ini lagi.


Tanpa kata Iren mengambil dua lembar uang yang sudah berada di tangan si mbak kasir. Lalu menaruh lembaran uang itu di atas meja tepat di depan pria itu.


"Pakai ini mbak." Iren menyerahkan uangnya sendiri pada si mbak kasir.


Lelaki itu tak mencegah, dia hanya mengamati wajah pucat Iren dengan intens. "Kamu sakit?" tanyanya terlihat khawatir.


Iren tak menggubris, setelah menerima kembalian dia bergegas pergi. Tapi seperti biasa, lelaki itu malah mengikuti langkah pendek Iren.


Tapi baru beberapa langkah dia meninggalkan mini market, kepalanya terasa berat. Matanya juga berkunang kunang membuat langkahnya terhuyung kedepan. Tubuhnya ambruk kedepan, beruntung pria yang sedari tadi mengikuti langkah Iren cepat menangkap tubuhnya. Sebelum tubuh Iren benar benar jatuh menyentuh tanah.


"Hey, sadarlah." ujar pria itu sembari menepuk pipi Iren. Iren membuka matanya, menatap pria itu dengan pandangan layu.


"Tubuh mu lemas, kita duduk dulu ya." ujarnya lalu memapah tubuh Iren ke bangku yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Tunggu di sini." ujar Pria itu, lalu bergegas masuk kedalam mini market. Tak lama dia keluar lagi.


"Ini minumlah." ujarnya sembari menodorkan air mineral di tangannya.


Iren menatap pria itu sekilas, kemudian dia meminum air pemberian lelaki itu.


"Terimakasih." ujar Iren, tanpa melihat pria itu. Dia membuka plastik berisi anggur yang dia beli, mengambil beberapa butir anggur dari dalamnya. Lalu memakannya perlahan.


Iren menatap pria itu sembari mengunyah anggur di mulutnya. "Terimaksih sekali lagi, karena sudah membantuku. Tapi sekarang kau boleh pergi." ujarnya. Pria itu tersenyum miring, dengan sedikit menyondongkan tubuhnya dia menatap Iren.


"Kenapa masih disini?" tanya Iren, dengan sedikit ketus. Dia sudah menemukan kekuatannya lagi.


Pria itu tersenyum. "Jutek." gumamnya.


"Apa?!" salak Iren garang. Pria itu menggeleng sembari mengulum senyum.


Iren berdecak kesal, lalu beranjak pergi.

__ADS_1


"Hey, apa perlu aku antar?" kejar pria itu, me-sejajari langkah gadis itu menuju mobilnya. Iren tak merespon, dia terus melangkah.


"Dengar dulu, aku beneran khawatir sama kamu loh. Kalau pingsan saat sedang nyetir gimana?" ujar pria itu, sembari menahan pintu mobil Iren yang sudah akan di tutup.


Iren menarik nafas dalam, lalu menatap pria berwajah tampan tapi rese itu lekat lekat. "Singkirkan tanganmu!" ujar Iren, masih dengan nada ketusnya.


Lelaki itu menarik nafas dalam. "Kau keras kepala ya?" ujarnya sembari melepas tangannya dari pintu mobil.


Iren tak menyahut, cepat dia menutup pintu mobilnya. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan pria itu seorang diri.


Saat mobil Iren sampai di basemen apartemen, ternyata mobil Alvaro juga sudah ada di sana.


Hatinya berdesir senang. Dua hari tak bertemu Alvaro, rindunya menggunung.


Bergegas dia masuk kedalam lift, menuju apartemennya.


Begitu pintu apartemen terbuka, Iren bergegas masuk. Langkahnya terhenti di ruang tengah. Alvaro tengah duduk di sana, menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.


"Dari mana?!" tanya Alvaro dingin.


Iren tak menyahut, dia menatap pria itu lekat lekat. Ada apa? Kenapa sorot matanya terlihat berbeda saat menatapnya. Tidak seperti biasanya.


Mendadak dada Iren terasa berdenyut sakit, sorot mata pria itu menyakiti hatinya.


Iren men desah berat. "Beli ini." sahutnya sembari mengangkat tangannya. Memperlihatkan anggur yang baru saja dia beli.


"Hanya itu yang kau beli?"


Iren mengangguk, dia memang tak membeli apa pun selain anggur.


"Siapa yang kau temui di sana?" tanya pria itu dengan suara bergetar.


Iren tertegun. Siapa yang bisa dia temui di sana?


"Tidak ada yang aku temui disana. Lagi pula tidak ada yang aku kenal di lingkungan ini." sahut Iren.


Alvaro tersenyum miring. Dia membuka tas hitam yang sedari tadi ada di atas meja. Mengeluarkan beberapa lembar foto dari sana.


"Bukan kah pria ini yang kau temui?!" ucapnya sembari membanting lembaran foto itu di atas meja hingga berserakan di atas meja, sebagian ada yang jatuh kelantai.


Iren termangu di tempatnya. Lembaran foto dirinya dan pria rese itu bertaburan di atas meja dan lantai.


"Sekarang sudah ingat siapa yang kau temui?" cibir Alvaro.

__ADS_1


Iren terdiam apa yang ada dipikiran Alvaro membuat hati Iren sakit. Pria itu selalu berpikiran negatif kepadanya.


"Sudah ingat belum!" bentak Alvaro. Iren tersenyum lalu mengagguk, kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.


"Iren! Kita belum selesai bicara!" bentak Alvaro. Tapi Iren seperti tak mendengar teriakan pria itu, yang membahana.


Iren menutup pintu kamarnya dengan kasar, lalu melempar anggur di tangannya kesembarang arah.


Pria breng sek itu menuduhnya punya hubungan dengan pria yang bahkan tidak dia kenal. Tapi kenapa di foto itu mereka terlihat begitu akrab. Iren tak memungkiri kalau adegan di foto itu memang real adanya. Tapi yang terjadi tidak seperti yang terlihat.


Iren tak tau dari mana Alvaro mendapatkan foto itu. Tapi yang jelas si pengambil foto sangat pintar mengincar angle yang tepat untuk menfitnah Iren.


Brak..!


Pintu di buka paksa oleh Alvaro. Kemarahan jelas terlihat di matanya saat pria itu menatap Iren.


Pria itu melepas dasinya, lalu melempar benda itu kesembarang arah. Dengan langkah lebar dia menghampiri Iren. Langkah kakinya berhenti begitu jarak di antara mereka hanya tinggal hitungan inci. Lelaki itu meraih dagu runcing iren, meremasnya geram.


"Sejak kapan kau mengenalnya?" tanya Alvaro. Nafasnya terdengar memburu. Iren hanya diam membisu. Otaknya tengah berpikir keras.


"Iren, apa kau bisu?!" bentak Alvaro emosi. Melihat Iren hanya diam membuat dia frustasi.


Iren menarik nafas dalam, lalu menatap wajah kelam Alvaro lekat lekat. "Kak, kalau aku bilang aku hamil anak mu. Apa kau percaya?" ujarnya kemudian.


"Bullshit." umpat Alvaro.


"Tapi aku benar benar mengandung anak mu kak." ujar Iren.


Alvaro tertawa sinis. "Kau selalu minum pil saat bersamaku. Dan aku selalu memastikan itu. Jadi kau tak mungkin hamil. Kecuali..." Alvaro menggantung kalimatnya, netranya menatap Iren penuh selidik. Membuat hati Iren berdenyut sakit. Dia tau apa yang dipikirkan Alvaro. Laki laki itu benar benar mencurigai kehamilannya.


"Apa dia orang yang kau sukai?" tebak pria itu.


Iren tersenyum kecut, dasar breng sek. Umpat Iren dalam hati. Dia menatap Alvaro dengan perasaan marah, lalu mengangguk. Alvaro tercengang, dadanya terlihat turun naik menahan emosi.


"Bang sat!" hardik Alvaro, sembari mendorong tubuh Iren ke belakang. Gadis itu tumbang kebelakang, tubuhnya terhempas di atas kasur. Sementara Alvaro sudah merangkak kearahnya.


"Kau milikku Iren, jangan coba coba memikirkan lelaki lain." ucapnya geram. Urat urat wajahnya bahkan tercetak jelas.


"Jangan berpikir kau bisa menemui pria itu lagi. Dan bayi ini, aku segera menggugurkannya." geramnya. Kemudian beranjak bangkit meninggalkan kamar. Di luar sana terdengar barang barang pecah. Juga teriakan Alvaro yang membahana. Lelaki itu tengah melampiaskan kemarahannya.


Iren meraih ponselnya, mengirimi mamanya pesan. Tak berapa lama pesan Iren berbalas. Gadis itu tersenyum lega saat membaca pesan dari mamanya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2