
Mobil Alvaro melaju cepat menuju apartemen. Padahal bukan ini tujuan awalnya. Tapi kenapa Alvaro selalu tak bisa mengendalikan apapun yang berkaitan dengan Iren. Hasratnya, posesifnya pokoknya segalanya tentang Iren dia tak mampu mengendalikannya.
Pria bertubuh kekar itu bergegas turun dari mobil. Dengan menggunakan lift dia naik kelantai atas.
Tak berapa lama dia sudah ada di ambang pintu, lalu melangkah mencari sosok Iren. Langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tengah, saat mendengar suara tawa Iren yang begitu renyah dan merdu.
Membuat Alvaro penasaran apa yang membuat gadis itu tertawa begitu renyah. Padahal saat bersamanya dia terlihat begitu tertekan.
Tatapannya jatuh pada sosok Iren yang tengah berbaring menyamping menghadap Tv. Tubuh moleknya terbalut baju tidur tipis berwarna hitam. Itu baju yang dia beli beberapa waktu lalu tanpa sepengetahuan Iren. Dia yakin Iren terlihat cantik saat memakainya. Lalu dia membelinya, dan menyelipkannya di antara baju baju yang lain. Dugaannya tidak salah, tubuh Iren tampak begitu sempurna memakainya.
Menyadari ada orang lain di ruangan itu, Iren cepat menarik tubuhnya ke posisi duduk. "Kak. Langkah mu gak ada suara gitu, bikin kaget aja," cebik Iren.
"Kau saja yang terlalu focus ke Tv, jadi tidak tau ada yang datang." sahut Alvaro, lalu duduk di samping Iren. Pria itu duduk bersilang kaki, dengan wajah angkuh menatap layar kaca di depannya. Membuat Iren berdecih pelan. Bagaimana bisa wajah angkuhnya terlihat begitu tampan di mata Iren.
"Kak." panggil Iren, sembari memiringkan tubuhnya menghadap Alvaro.
"Hhhm."
"Ibu tadi telpon. Ibu bertanya kenapa akhir akhir ini aku jarang pulang ke rumah." ujar Iren, kelopak matanya berkedip beberapa kali. Memamerkan bulu matanya yang lebat.
Alvaro beralih menatap ke arahnya dengan sorot mata seperti biasa. Tajam setajam mata elang, tapi entah mengapa sorot tajam itu selalu membuat jantung Iren berdebar kencang. Kalau tidak sedang menahan diri, mungkin tangan Iren sudah bergerak nakal menjamahi kelopak mata berbulu tebal dan rahang tegas itu dengan penuh perasaan.
"Lalu kau jawab apa?" tanya Alvaro, membuyarkan lamunan Iren.
Gadis itu mengerjab berulang kali guna menetralkan perasaannya. Gerakan yang membuat Alvaro tak mampu menahan keinginannya untuk tidak menyentuh Iren.
"Kau menggodaku?" tanya pria itu, sembari menyentuh dagu Iren. Membawa wajah cantik itu menghadap kearahnya. Iren menggeleng sembari mengerucutkan bibirnya, dia memang tak menggoda Alvaro.
"Lalu apa yang kau lakukan tadi?" tanya pria itu, tubuhnya semakin mendekat. Menghimpit tubuh Iren ke sisi sofa.
"Aku tidak melakukan apapun." bantahnya gugup.
__ADS_1
"Benarkah, tapi aku melihat kau berusaha menggodaku." bisik pria itu. Dia tak tahan lagi, bukan hanya jantungnya saja yang berdebar kencang. Tapi darahnya juga berdesir ditubuhnya, terasa sangat panas. Kini pandangannya tertuju pada bibir merah Iren. Bahkan dia bisa merasakan betapa manisnya bibir itu tanpa menyentuhnya sama sekali.
Tapi dia tak ingin hanya melihat, dia ingin merasai hangatnya kulit tubuh Iren yang seputih salju. Dengan gerakan lembut dari biasanya, Alvaro ******* bibir merah Iren. Menyesapnya penuh perasaan, membuat jantung gadis itu hampir meledak. Biasa di perlakukan kasar oleh Alvaro, lalu kini di sentuh dengan begitu lembut dan berirama. Membuatnya melayang, bersama hasrat yang meledak ledak.
Alvaro melepas ciumannya perlahan, dengan mata berkabut dia memindai wajah Iren. "Kita pindah tempat ya." bisiknya, dengan nada suara yang begitu lembut. Semembut tatapan matanya pada Iren.
Iren mengangguk lemah, kabut hasrat sudah menyelimuti otaknya, mengikis sebagian kesadarannya. Dia ingin di sentuh Alvaro, dengan sentuhan yang lebih intim lagi. Sentuhan hangat pria itu semakin membuatnya kecanduan. Dia lupa, milik siapa pria itu. Yang dia ingat, tubuh kekarnya terasa begitu hangat. Sentuhannya memabukkan jiwa. Seperti meminum Alkohol dengan kadar rendah.
Pria bertubuh kekar itu membopong tubuh Iren masuk kedalam kamar. Lalu melanjutkan kehangatan yang sempat terjeda.
Dalam sekejap, atmosfer di ruang kamar ini berubah hangat. Membuat dua tubuh yang saling menggimpit itu, bermandi keringat. Desah dan geraman terdengar bersahutan. Seiring dengan dua tubuh yang berpacu mengejar kenikmatan. Ungkapan ungkapan manis terus saja keluar di bibir Alvaro.
Sementara Iren memilih menikmati setiap sentuhan dan pujian pria ini. Hanya desah nikmat satu satunya yang terdengar keluar dari bibirnya nan ranum menggoda.
Tubuh Alvaro menghentak dalam, membuat Iren terpekik nikmat.
Gadis itu memiliki wajah yang begitu mempesona saat sedang tinggi hasratnya. Dan Alvaro sangat menyukai itu, bahkan hanya melihat ekspresi itu, mampu membuat Alvaro tumpah. Tapi bukan berarti pria ini lemah dan tak mampu bermain lama. Alvaro adalah pria dambaan wanita kalau soal kepegawaiannya di atas ranjang.
Kamar mendadak sunyi, hanya terdengar deru nafas sisa sisa dari percintaan mereka. Dan rasa lelah yang mendera tubuh keduanya. Walau hanya bermain lembut, tapi Alvaro melakukannya dengan durasi yang lumayan lama.
Setelah lelah mereka sedikit hilang, keduanya membersihkan diri. Alvaro membopong tubuh polos Iren penuh kelembutan. Entah kenapa lelaki ini berperilaku tak seperti biasanya.
Alvaro mengisi bathtub dengan air hangat. Lalu meminta Iren masuk kedamnya. Dengan cekatan pria itu mengeramasi rambut Iren.
"Iren." panggil Alvaro. Sembari menuangkan sampo pada rambut Iren.
Iren menengadah menatap Alvaro di atasnya. "Hmmm." sahutnya dengan gumaman.
 Ekspresi wajahnya lagi lagi membuat Alvaro gemas. "Jangan perlihatkan Ekspresi seperti itu. Kau ingin ku makan lagi?" geram Alvaro, sembari menyentil kening Iren. Gadis itu mengaduh sakit.
"Gak mau. Aku lelah tau." rajuk Iren.
__ADS_1
"Omong kosong, bukan kah hari ini aku bermain slow?"
"Slow apanya, aku aja sampe kelelahan gini." sungut Iren.
Alvaro tertawa, membuat Iren termangu melihatnya. "Kakak tampan saat tertawa, tapi kenapa kakak pelit banget jarang ketawa?" ujarnya.
Alvaro langsung merubah ekspresi nya ke mode datar. "Aku memang tampan. Tanpa harus tertawa. Kau juga tau itu kan?" ucapnya dengan pd.
Iren mencibir. Tapi itu memang benar. Iren saja suka diam diam menikmati wajah Alvaro.
Selesai menyuci rambut Iren, lalu mereka mandi bersama di dalam bathtub. Tentu saja mengulang kembali kehangatan di atas ranjang tadi.
Kini keduanya sudah berada di atas kasur. Saling memeluk dengan hangat.
"Iren." panggil Alvaro dengan suara beratnya.
"Hmmm."
"Jangan pernah berpikir untuk menghangatkan ranjang pria lain. Atau aku akan membuatmu menangis darah."
Iren mengendur pelukannya, lalu berbalik membelakangi Alvaro. Bisa bisanya pria itu mengancamnya sambil memeluk tubuhnya mesra.
Hanya beberapa detik, tubuh Iren di paksa berbalik ke arah pria itu. "Aku tidak main main." tegasnya.
Iren menatap Alvaro dengan tatapan tajam. Dia tidak suka kata kata Alvaro. Seakan akan dia gadis yang gampang merangkak keranjang seorang pria.
"Aku juga tak pernah berpikir untuk menghangatkan ranjang mu." ucapnya sinis. Alvaro tertegun sesaat, tapi kemudian bibirnya menyeringai.
"Kau pandai memancing hasraku Iren." ucap pria itu penuh naf su.
Bersambung
__ADS_1