
Iren duduk di atas closet kamar mandi kantor. Alvaro berulang kali menghubunginya melalui panggilan telepon. Tapi tak di hiraukan Iren. Walau gadis itu begitu merindukan pria arogan itu, dia bahkan tak bisa tidur. Karena ingin di peluk oleh Alvaro. Dada bidang dan hangat milik pria itu membuat hatinya tenang, saat memeluknya. Tapi mengingat milik siapa pria itu, menyurutkan keinginan Iren.
"Iren!" panggil mbak Niken, sembari mengetuk pintu kamar mandi. Dia mendengar dering ponsel Iren di sana. Tapi gadis itu tak merespon, apa jangan jangan gadis itu pingsan lagi?
"Iren!"
"Iya mbak?"
"Kamu gak apa-apa?"
"Aku gak apa apa mbak." sahut gadis itu.
Krieet..
Pintu kamar mandi terbuka, Iren keluar dari sana. Niken menarik nafas lega. "Kamu bener gak apa apa? Lihat muka mu pucat gitu. Kalau belum sehat, mintalah ijin sakit dari dokter. Istrahat barang sehari dua hari." saran Niken. Dia menyukai gadis ini, parasnya yang cantik dan lembut membuat siapa saja bisa langsung menyukainya.
Ponsel Iren kembali berdering. Iren hanya menatapnya sekilas, lalu kembali mengacuhkannya. "Jawab dulu, siapa tau penting." ujar Niken. Sebab sedari tadi dia dengar ponsel Iren berdering.
"Biar aja mbak. Telepon gak penting." sahut Iren.
"Ya udah kalau gitu, ayo." Niken menggandeng tangan Iren keluar dari kamar mandi.
Terjadi sedikit kegaduhan saat mereka masuk keruang kerja. Orang orang terlihat berdiri dan saling berbisik.
"Ada apa ini..." bisik Niken, pada Iren. Iren menggeleng, dia juga tak tau apa yang terjadi.
Tapi kemudian tatapan matanya tertuju pada dua sosok di sudut sana. Alvaro dan Heru tengah wb ke arahnya dengan tatapan tajam.
Iren menarik tubuhnya bersembunyi di balik tubuh Niken. Membuat wajah Alvaro semakin mengelam. Lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekati Iren. Langkahnya baru berhenti saat berada tepat di depan Iren.
"Aku bilang jangan tinggalkan rumah tanpa seizinku. Apa kau tuli?!" hardik Alvaro dengan suara meninggi. Tanpa melihat situasi dan kondisi saat ini. Membuat semua mata tertuju padanya. Asisten pribadinya mendekat, berusaha mengingatkan Alvaro bahwa ini tempat umum. Tapi pria itu sama sekali tak mengindahkan ucapan pria itu.
"Ayo pulang, aku sudah memintakan izin cuti pada Heru." imbuhnya. Sembari meraih jemari Iren yang mengepal. Menyeret langkah gadis itu mengikuti langkah lebarnya.
Sontak adegan itu menimbulkan bisik bisik di antara karyawan.
"Jangan sembarangan bergosip. Cepat kembali ke meja kalian masing masing." titah Heru, membungkam mulut mereka.
Sementara Iren langsung di bawa pulang oleh Alvaro. "Apa pria itu karyawan di kantor mu?" tanya Alvaro dengan suara rendah. Iren yang tengah menatap keluar jendela, beralih menatap Alvaro.
"Pria apa?" tanya gadis itu malas. Dia bahkan sudah merasa mual oleh aroma tubuh Alvaro di sampingnya.
"Masih berlagak bertanya padaku? Pria apa lagi, tentu saja pria yang kau sukai." sahutnya dengan persaan kesal.
Iren tertegun, jadi sampai sekarang Alvaro masih memikirkan ucapannya?
__ADS_1
"Tidak." sahut Iren acuh.
"Jangan bohong. Kau bahkan melanggar perintahku demi bertemu dengan pria itu, iya kan?!"
Iren menarik nafas berat, lalu menatap wajah Alvaro yang terlihat panik. "Maaf." ucapnya sembari tertunduk.
Alvaro menarik nafas dalam, sembari memejamkan matanya erat. Berusaha mengendalikan amarahnya yang meluap luap.
Jawaban Iren membuatnya amat sangat membuatnya marah. Siapa kepa rat itu yang sudah menawan hati kekasihnya.
"Kita mau kemana?" tanya Iren begitu dia menyadari jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju apartemen.
Alvaro tak menyahut, pria itu memejamkan matanya sembari bersandar pada bahu kursi.
"Kak." panggil Iren. Sebutan yang selalu membuatnya jengkel. Karena panggilan itu dia harus menutupi hubungannya dengan gadis ini.
"Kau bisa diam tidak?!" Sahut Alvaro tanpa membuka matanya.
Iren menarik nafas dalam, lalu membuang pandangannya ke luar jendela. Saat ini kepalanya sangat pusing, perutnya juga sangat mual. Aroma tubuh Alvaro membuatnya tak bisa menahan keinginannya untuk muntah.
"Pak, bisa hentikan mobilnya di tepi. Aku mau muntah." ujar Iren. Lalu membuka kaca mobil lebar lebar agar angin bisa masuk. Atau dia akan muntah sebelum mobil mereka berhenti.
Mendengar ucapan Iren, Alvaro membuka matanya. Menatap wajah gadis itu yang terlihat bertambah pucat.
"Cepat menepi." titahnya panik.
"Kau turunlah temani dia." pinta Alvaro pada asisten pribadinya.
Cukup lama Iren di luar bersama asisten pribadi Alvaro, barulah dia masuk. Saat masuk bwc terlihat bertambah pucat dan matbanya bertambah layu. Melihat itu amarah Alvaro berubah menjadi khawatir.
"Panggil Dokter pribadi kita untuk datang ke kantorku." titah Alvaro begitu mobil mereka sudah kembali melaju.
"Antar aku ke apartemen aja kak." pinta Iren. Dia bisa pingsan kalau harus terus menerus satu ruangan dengan Alvaro. Menghidu aroma tubuhnya, aroma yang sangat tidak dia suka saat ini.
"Aku tidak percaya padamu. Bisa saja kau menghubungi pria itu saat aku tidak ada." sahut Alvaro.
Iren berdecak kesal. Pria ini benar benar posesif. Apa dia tidak berpikir akan bahaya membawanya kekantor. Bagaiamana kalau Tery tiba tiba datang, lalu membuat keributan di sana.
Mobil berhenti di depan pintu masuk gedung mewah milik Alvaro. Gedung yang terlihat menjulang tinggi ini, adalah pusat dari seluruh bisnis Alvaro.
Mereka langsung di sambut begitu memasuki gedung. Keberadaan Iren langsung jadi sorotan. Sebab tidak ada yang tau kalau keluarga Alvaro telah mengadopsi anak angkat.
Tapi tidak ada yang berani terang terangan menatap mereka. Aura Alvaro membuat mereka tak berani mengangkat muka saat berhadapan dengannya. Dalam lingkungan perusahaan Alvaro, pria itu di kenal berdarah dingin. Dia tidak segan segan memecat karyawannya bila hatinya tak berkenan.
Dengan menggunakan lift kusus mereka naik ke lantai atas. Pintu lift terbuka tepat di depan ruang kerja Alvaro. Sebelum masuk ke ruang kerja pria itu, mereka harus melewati kubikel kubikel beberapa karyawan yang bertugas di lantai itu.
__ADS_1
Alvaro membuka pintu ruang kerjanya. Lalu meminta Iren masuk kedalam.
"Istrahat di dalam. Di sudut sana ada ruang pribadiku. Kau bisa istrahat di sana sembari menunggu Dokter datang. Aku ada rapat penting, jadi aku harus pergi. Dan kau, jangan coba coba meninggalkan tempat ini. Atau aku akan menyeret pria itu di jalanan." Ancam Alvaro.
Iren mencebik. 'Seret saja!' batinnya, sembari menatap sengit pria arogan itu.
"Masuklah." titahnya lagi, lalu menutup pintu ruang kerjanya.
Sebelum pergi dia berhenti di meja paling dekat dengan ruang kerjanya. "Fika, jangan ada yang boleh masuk keruanganku. Selain Dokter pribadiku. Kau paham."
Wanita yang di panggil Fika itu mengangguk ragu. "T-tapi pak, kalau yang datang nona Tery?"
"Alvaro berdecak kesal. Aku bilang siapapun. Apa kau tidak paham!"
"P-paham pak." sahutnya gugup. Dia bertanya bukan tanpa alasan. Sebab atasannya itu baru saja membawa masuk seorang wanita kedalam ruang kerjanya.
Sementara Iren didalam ruang kerja Alvaro, tengah mengusir aroma Alvaro yang tertinggal. Dengan menyiramkan minyak kayu putih keseluruh ruang pribadi Alvaro. Seperti dukun yang sedang menyiramkan air kembang.
Dia baru saja berbaring saat pintu ruang pribadi Alvaro di ketuk seseorang.
"Nona ini saya. Apa saya boleh masuk." terdengar suara Dokter Ana memanggil dari luar.
"Iya silahkan dok."
Pintu terlihat terbuka, lalu sosok ramah Dokter pribadi Alvaro itu terlihat masuk kedalam.
"Hay." sapanya ramah.
Dia duduk di sebelah Iren, lalu meraih pergelangan tangannya. Memeriksa denyut nadi gadis itu.
"Apa nona mengalami mual?" Iren mengangguk.
"Aku juga benci bau Alvaro. Apapun itu, mau samponya, parfumnya, bahkan sabun mandi yang biasa dia pakai saja aku tidak suka. Kenapa bisa begitu dok?"
Dokter Ana tersenyum. "Tidak apa itu, itu biasa di alami saat hamil." sahut Dokter Ana.
"Kita periksa tekanan darah ya." ujarnya sembari mengeluarkan alat dari dalam tasnya.
"Tuan Alvaro sudah tau tentang kehamilan nona?" tanya Dokter Ana. Iren menggeleng.
Dokter Ana sangat tau hubungan keduanya. Sudah cukup lama dia bekerja dengan keluarga Alvaro dia tau dengan jelas karakter anggota keluarga ini satu persatu.
"Bicarakan pelan pelan dengan tuan. Mungkin saja reaksinya tidak akan seperti yang nona takutkan." ucapnya.
Iren menatap Dokter Ana, benarkah begitu?
__ADS_1
.
Bersambung