Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 63


__ADS_3

Sudah tiga minggu Alvaro kembali ke negaranya. Meninggalkan putranya di negara asing tempat dimana dia lahir. Rindu, jangan di tanya lagi. Bahkan rasa rindunya melebihi rindunya pada Iren, ibu bocah itu. Ah Iren...


Setiap mengingat nama itu, kepalanya mendadak sakit. Membayangkankan Iren berada dalam dekapan pria lain, bahkan tidur seranjang. Dadanya terasa panas.


Kenji, pria itu sedang di selidiki oleh Alvaro beberapa hari ini. Dia berharap menemukan cela pada pria itu agar bisa mengagalkan ikatan pertunangan mereka.


Tok...


Tok...


Terdengar ketukan di pintu ruang kerja Alvaro.


"Masuk." ujar pria itu sembari terus memeriksa laporan diatas meja kerjanya.


Dia menatap orang yang baru saja masuk lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. "Katakan apa yang kau dapat?" titah Alvaro.


"Baik tuan. Kenji baru saja bertunangan dengan anak koleganya. Acaranya di gelar secara sederhana di kediamannya. Kami tidak bisa mencari terlalu banyak informasi Kenji, ada beberapa pihak yang sengaja melindungi data keluarga besar Kenji. Jadi hanya itu yang bisa kami dapat tuan." ujar pria itu melaporkan.


Alvaro terlihat mengaguk pelan. "Tidak apa, itu lebih dari cukup. Kau boleh keluar, aku akan kirimkan bonus bulan ini ke rekeningmu." ujar Alvaro datar.


"Terimakasih tuan." sahut pria bertubuh kerempeng itu, kemudian beranjak pergi.


"Dasar breng sek." umapat Alvaro geram. Berani beraninya Kenji mempermainkan Iren. Dia melamar Iren lalu diam diam bertunangan di negaranya. Apa dia berniat memadu Iren. Itu yang ada dipikiran Alvaro saat ini. Membuat darahnya mendidih.


Dia harus memberi pria itu pelajaran dan peringatan. Bahwa Iren bukan wanita yang bisa dia permainkan seperti itu.


* * * * *


Sudah hampir jam dua belas malam tapi dia masih berkutat di ruang kerjanya. Matanya sudah terasa pegal sedari pagi memandang layar monitor. Menarik garis, membuat sketsa.


Gadis itu menarik tubuhnya bersandar di bahu sofa, sembari memejamkan matanya. Mengistrahatkan semua otot tubuhnya yang terasa kaku. Akibat seharian bekerja.


Tiba tiba ponselnya berdering. Iren membuka matanya perlahan lalu meraih ponsel yang berada di sampingnya.


Nama Kenji tertera di sana. Membuat Iren mengernyitkan alisnya. Sudah lama semenjak pulang kenegaranya, pria ini tak pernah lagi menghubunginya.


"Halo."

__ADS_1


"Kau masih bekerja?" tanya lelaki itu. Suaranya terdengar berayun ayun.


"Kau sedang minum ya?"


"Aku bertanya kenapa kau malah balik nanya. Jawab dulu pertanyaanku."


"Aku sedang menyiapkan cetak biru."


"Hhhh, aku memintamu menjadi nyonya Kenji. Tapi kau memilih bekerja keras seperti ini. Dasar keras kepala." omel pria itu. Iren hanya tersenyum mendengar omelan Kenji.


"Oh ya, aku ingin memberitahu bahwa aku sudah bertunangan. Kau tau, wanita itu terlihat sangat anggun, dia bahkan tak membuka bibirnya saat bicara. Berbeda dengan mu, yang selalu saja mengumpat dan meneriakiku dengan suaramu yang nyaring itu. Dia juga cantik dan sangat tinggi. Kalau berdiri mungkin tubuhnya akan menyamai tinggiku. Tidak seperti tubuhmu yang pendek. Pokoknya dia lebih dari dirimu dalam hal segalanya." racau Kenji.


Iren kembali tersenyum. "Waah selamat ya. Aku turut senang, semoga pernikahan kalian nanti berjalan lancar."


Kenji menghempas nafas kasar. "Kau benar benar memberiku selamat?"


"Tentu saja."


"Ohh begitu ya, kalau begitu terima kasih. Oh ya, beberapa waktu lalu aku bertemu Alvaro. Pria itu menghajar tubuhku tanpa ampun. Dia memintaku memutus pertunangan denganmu. Karena dia tau aku di sini sudah bertunangan. Tapi aku menolak. Tidak kusangka pria itu cepat sekali naik darah. Dia langsung menghajarku tanpa aba aba. Dasar licik." omelnya lagi.


"Alvaro memang seperti itu. Kalau sedang marah dia suka lebih dulu bertindak tanpa berpikir."


"Kau benar, jadi hati hatilah saat jadi istri pria itu. Tapi kalau dia berani menyakiti Irenku, aku akan memberinya perhitungan."


"Istri apaan. Kau mabuk berat rupanya, sampai mengigau begitu."


"Aku bicara fakta. Kau pikir kau bisa lepas dari pria itu setelah apa yang kau lakukan padanya. Jangan bercanda, dia bersikap sangat lunak padamu karena kau wanita yang sangat dia cintai. Kalau bukan, kau pikir kau masih bisa bernafas saat ini?" ujar Kenji.


Iren tak memungkiri hal itu, dia menyaksikan sendiri saat Alvaro hampir membunuh ART mereka dulu. Itu sebabnya melarikan diri saat Alvaro tak mengakui Austin sebagai anaknya.


"Kenji, aku sedah ngantuk. Sudah hampir jam satu, besok aku harus berangkat kekantor pagi pagi sekali. Kau dengan aku Kenji?"


"Hmmm."


"Ya sudah aku tutup telponnya ya."


"Sebentar, ada satu lagi yang ingin aku katakan padamu. Kau. Cepatlah menikah dengan Alvaro. Atau aku nekat membawamu lari."

__ADS_1


Iren terdiam. Dasar pemabuk! "Iya aku tau. Saat kau menelponku lagi, aku pastikan aku sudah menikah dengan Alvaro." sahut Iren jengkel. Lalu memutus panggilan.


Alvaro, pria itu tak pernah menghubungi dia sejak meninggalkan negara ini. Padahal hampir setiap hari dia menghubungi Austin.


Entah mengapa akhir akhir ini dia sangat merindukan sosok Alvaro. Mendengar suaranya saat bercengkrama dengan Austin dadanya berdebar kencang. Bahkan dia sering membayangkan wajah tampan pria itu.


Orang bilang, jarak dan waktu mampu mengikis segala rasa yang ada. Itu hanya omong kosong buat Iren. Sampai saat ini dia masih memiliki rasa yang begitu kuat terhadap Alvaro.


Karena terlalu banyak memikirkan Alvaro. Iren jadi bangun kesiangan. Beruntung pagi ini tidak ada pertemuan penting.


Austin juga tumben tidak merusuh di kamarnya pagi ini. Biasanya saat dia kesiangan begini bocah itu sudah membuat gaduh. Iren keluar kamar dengan hanya mengenakan jubah mandi. Rambutnya yang basah dia balut dengan handuk kecil.


Dengan langkah lebar dia berjalan kemeja makan. Berniat sarapan dengan Austin, jarang jarang dia ada waktu sarapan pagi dengan putranya itu. Sebab dia sudah berangkat kerja saat Austin baru saja bangun tidur.


Langkah Iren mendadak berhenti di ambang pintu ruang makan. Matanya nyalang menatap ke meja makan.


"Kakak." gumamnya. Sembari terus menatap Alvaro yang juga menatap tak berkedip ke arahnya.


"Kenapa berdiri disana, cepat kemari ikut kami sarapan." ujarnya mempersilahkan. Layaknya seperti pemilik rumah.


Iren terdiam gugup. Dengan jubah mandi berukuran mini seperti ini. Dia yakin, Alvaro bisa melihat sebagian tubuhnya yang terbuka.


"A-Aku ganti baju dulu." sahut Iren, kemudian berbalik menuju kamar.


Alvaro mengulum senyum, melihat wajah Iren yang bersemu merah. Gadis itu masih saja seperti itu, padahal mereka sudah menghasilkan Austin.


"Mama kenapa balik lagi?" tanya Austin heran.


"Mama lupa lepasin handuk di kepalanya. Makanya balik lagi." sahut Alvaro sekenanya.


"Mama, mama. Gitu aja lupa."


"Iya kan. Untung saja Mama masih ingat papa. Coba kalau dia juga lupa sama papa, kan repot." sahut Alvaro. Austin mengagguk setuju. Lalu keduanya tertawa mencibir kelakuan Iren.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2