
Tery mengerjab berulang kali untuk memperjelas pandangannya yang kabur akibat baru bangun tidur. Sayub-sajub dia mendengar suara Alvaro memuntarkan sesuatau dari dalam kamar mandi. Apa dia sakit? Dengan pemikiran seperti itu, Tery beranjak dari tempat tidur.
Dengan tubuh berbalut selimut, Tery turun dari ranjang beranjak ke kamar mandi. Dia mengetuk pintu kamar mandi, memastikan bahwa Alvaro baik baik saja.
"Varo, kau tidak apa-apa?" tanya Tery khawatir. Tak ada jawaban, hanya gemericik air keran yang mengalir yang terdengar dari dalam sana. Tery kembali mengetuk pintu untuk kembali memastikan.
Tok...
Tok...
"Varo, jangan membuatku ku khawatir. Buka pintunya." sunyi sejenak, lalu..
Brak!!
Alvaro membuka pintunya dengan gerakan kasar. Pria itu keluar dari dalam dengan ekspresi marah. Dia melewati Tery begitu saja, lalu keluar dari ruang kerja meninggalkan Tery yang menatapnya ke bingungan.
Alvaro berjalan dengan langkah lebar menuju kamarnya. Setelah mengunci pintu kamarnya, dia masuk kamar mandi. Menghidupkan shower, lalu menempatkan tubuhnya di sana.
Matanya terpejam, jari jemarinya menggengam erat. Hingga buku buku jarinya memutih.
Saat dia bangun pagi tadi. Dia mendapati calon tunangannya terbaring di sampingnya dengan tubuh polos. Bukannya senang dia malah menatap tubuh Tery dengan perasaan jijik, sampai sampai harus memuntahkan semua isi perutnya.
Ini gila, dia mungkin sudah benar benar gila! Bahkan psikiater saja tak mampu mengobati ke gilaan ini. Tapi kenapa melihat tubuh Iren mampu meningkatkan hormon libidonya ribuan kali. Dia bahkan mampu melakukan pelepasan hanya dengan membayangkan adegan percintaan mereka, tanpa harus menyentuh tubuhnya sama sekali. Pikiran Alvaro benar benar kacau saat ini.
Alvaro keluar dari kamar mandi setelah cukup lama mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Begitu keluar, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Juga suara Tery yang memanggil manggil namanya. Alvaro menarik nafas berat. Dia tau apa yang di lakukan wanita itu hingga dia kehilangan kendali atas dirinya. Tapi dia sama sekali tidak marah. Dia hanya marah pada dirinya sendiri. Marah pada ke anehannya.
Masih dengan berbalut baju mandi, Alvaro membuka pintu kamarnya.
Ceklek...
"Ada apa?" tanya pria itu, sembari menatap Tery dengan tatapan datar.
"Kau baik baik saja kan Varo. Aku dengar tadi saat kau muntah. Aku spikir kau sedang sakit. Jadi aku sedikit khawatir." sahutnya sembari meneliti pria di depannya.
"Aku tidak sakit. Kau tunggulah di meja makan. Aku pakai baju dulu." ujar Alvaro. Melihat ekspresi Alvaro yang tidak ingin di ganggu. Tery memilih mengikuti titah lelaki itu.
"Baiklah kalau begitu." sahut Tery lalu beranjak pergi.
Alvaro pergi keruang ganti untuk berganti baju. Pria itu mematut dirinya di cermin sembari mengancingkan kemejanya. Dalam kepalanya bayangan Iren berputar putar tak mau berhenti. Entah sejak kapan perasaan seperti hadir. Dia akan merasa bersalah pada Iren saat bemesraan dengan wanita lain.
Alvaro menarik nafas dalam, lalu beranjak keluar dari ruang ganti. Berjalan menuju meja makan.
Di meja makan tampak Tery sudah menunggunya, gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pendek berwarna putih. Tapi sayangnya Akvaro sama sekali tak tertarik.
Alvaro duduk didepan Tery, tak sengaja matanya menangkap jejak kemerahan melingkar di leher Tery.
"Kenapa lehermu?" tanya Alvaro sembari mengernyitkan alisnya. Tery men desah berat.
"Kau yang melakukannya, aku pikir aku akan mati tadi malam." sahut Tery dengan ekspresi yang begitu tenang.
__ADS_1
"Aku?" tanya Alvaro kebingungan.
"Iya." sahut Tery, sembari menatap lekat lekat wajah kekasihnya itu.
"Ahh, maaf." ujar Alvaro. Lalu mengalihkan pandangannya pada menu sarapan pagi yang ada di meja. Keduanya makan dengan sangat tenang, tak ada percakapan di antara mereka. Masing masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Alvaro yakin memang dia yang melakukannya, dia sadar orientasi seksual-nya yang berbeda membuatnya sering kali melukai pasangan tidurnya. Tapi dia bahkan tak mampu mengingat kejadian tadi malam. Apa dia benar benar bisa bercinta dengan Tery tanpa merasa jijik saat wanita itu menatapnya penuh hasrat.
"Tery." panggil Alvaro setelah dia menyudahi makannya.
"Iya."
"Aku tidak ingat apa yang terjadi tadi malam. Tapi sepertinya aku sudah membuatmu ketakutan, maaf."
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku beritahukan padamu, sebelum kita bertunangan." imbuhnya, sembari menatap lekat lekat wajah cantik Tery.
"Katakan saja, aku akan mendengarnya." Bukan kah hal yang paling pahit pun sudah dia dengar dari Alvaro.
Alvaro menelan salivanya sebelum menjelaskan. "Aku tidak bisa tidur dengan wanita lain selain Iren." ucapnya sembari menatap lekat lekat wajah Tery.
Tery tertawa sinis. "Segitu cintanya kau dengan dia Varo?" cibirnya.
Alvaro menggeleng. "Ini bukan masalah cinta, tapi orientasi se x ku yang berbeda."
Tery mengernyit menatap Alvaro. "Maksudnya?" tanya gadis itu tak mengerti dengan ucapan Alvaro.
"Hhhh, aku benci mengatakan ini. Tapi aku tidak ingin membohongimu. Apa lagi sampai melukai mu." Ucap Alvaro prustasi. Dia menyayangi Tery sejak dulu, selain itu dia juga sudah berjanji pada almarhum kakaknya untuk melindungi Tery.
"Katakan. Aku ingin dengar." pinta Tery.
Tery terdiam, tiba tiba perasaan takut menyusup hatinya. "Apa hal itu berlaku juga untuk ku?" Tanyanya takut. Alvaro menatap Tery dengan perasaan tak menentu lalu mengangguk.
"Hmmm." sahutnya hanya bergumam.
Tery tertawa sinis. "Apa kau pikir aku percaya? Alasan mu untuk menghindar terlalu ekstrem." cibirnya.
Alvaro tersenyum. "Sayangnya itu bukan cuma alasan. Aku hampir gila memikirkannya."
"Kau jangan bercanda Alvaro."
Alvaro menarik nafas berat sembari menatap kekasihnya. "Kenapa? Kau kecewa mengetahui lelakimu mempunyai orientasi se x yang menyimpang."
"Aku tidak percaya, karena kita dulu pernah bercinta kan? Dan kau terlihat begitu sangat menikmati. Lalu sekarang kau bicara begitu, itu membuat aku tidak percaya."
"Itu sudah sangat lama kan. Banyak hal sudah terjadi dalam rentang waktu yang panjang itu. Aku bukan pria normal Tery. Itu yang ingin aku sampaikan."
Tery terdiam, entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Pria tampan di depannya ini telah membuat pengakuan yang mengejutkan hatinya.
"Kalau memang benar, kenapa dengan Iren kau bisa melakukannya?" tanya gadis itu dengan tatapan menerawang.
"Aku tidak tau."
"Kalau begitu jauhi dia. Focus saja padaku."
__ADS_1
"Itu yang ingin aku lakukan Tery. Tapi tidak pernah bisa."
"Cobalah lebih keras lagi."
Alvaro tersenyum. "Kau tidak mengenalku dengan baik rupanya."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Jadi bagaimana? Kau masih mau bertunangan denganku?"
"Tentu saja. Aku akan mencarikan dokter yang hebat untuk mu. Kau pasti bisa normal lagi."
"Jadi sekarang aku tidak normal?" tanya Alvaro dengan mode bercanda.
"Tentu saja tidak normal. " sungut Tery. Alvaro tertawa pelan. Hatinya lega sudah mengatakan semuanya kepada Tery. Dia tak ingin menyakiti Tery dengan menyembunyikan fakta tentang kelainan se x nya.
* * * *
Menjelang makan siang Alvaro pulang ke apartemen yang di tinggali Iren. Alvaro masuk dengan langkah lebar, dia sudah sangat rindu dengan sosok adik angkatnya itu. Saat melewati ruang makan matanya menangkap bayangan Iren di sana. Gadis itu duduk dengan kaki sebelah naik keatas kursi, sembari menyantap mie di dalam panci kecil. Wajahnya yang cantik terlihat berkeringat.
Alvaro mendekat, melihat kedatangan pria itu. Iren cepat menurunkan sebelah kakinya.
"Apa yang kau makan? Apa Sita tidak menyiapkan makanan untuk mu?" tanya Alvaro. Pria itu berdiri tepat disamping Iren.
Iren menengadah menatap Alvaro, keringat di wajahnya membuat rambutnya terlihat basah. Melihat itu Alvaro menelan salivanya dengan kasar. Dia terlihat sangat seksi dan mengairahkan di mata Alvaro. Cepat Alvaro berpaling, atau dia akan menerkam Iren, dan memakan gadis itu di ruangan ini.
"Lanjutkanlah makanmu, aku tunggu di kamar." ucapnya , lalu beranjak pergi. Iren hanya mengangguk, lalu melanjutkan makannya.
Selesai makan Iren langsung masuk kamar. Di dalam kamar dia melihat Alvaro sedang duduk di tepi ranjang sembari memegang ponselnya. Gadis itu menatap sekilas, lalu masuk kamar mandi untuk sikat gigi.
Alvaro pasti bisa mengakses seluruh isi hp-nya. Sebab hp-nya tak memakai kunci layar. Dia tak khawatir sebab tidak ada rahasia di dalam sana. Hanya saja percakapannya dengan Rey yang mungkin membuatnya sedikit terganggu.
Benar saja, begitu keluar kamar mandi. Dia langsung di sambut tatapan tajam pria itu.
"Kakak gak mandi?" tanya Iren. Alvaro tak menyahut, dia hanya menatap tubuh Iren yang beranjak mendekat.
"Kau masih berkirim pesan dengan Rey?" tanya pria itu. Iren menarik nafas dalam, lalu mengangguk.
"Kami satu kampus, akan terasa canggung kalau aku memblokir kontaknya sementara dia tidak berniat macam macam dengan ku." sahut Iren. Tubuhnya berdiri tepat di depan Alvaro, dengan jarak yang sangat dekat. Lalu dengan gerakan pelan dia menyentuh pipi pria itu dengan jari jari halusnya. Wajah tengang Alvaro mengendur, sorot matanya juga berubah sedikit lembut.
"Ada apa ini? Tidak biasanya kau jinak begini." selidik Alvaro.
Iren hanya tersenyum sembari merapatkan tubuhnya, sedikit menunduk dia menghidu aroma lembut dari rambut Alvaro. Dia rindu pria ini sepanjang malam. Hatinya sakit saat tau, pria ini bermalam dan bercinta dengan Tery. Dia marah, tapi tak tau harus marah dengan siapa. Bahkan saat melihat Alvaro, darahnya berdesir mengharap kehangatan pria itu.
"Kau menginginkannya?" tanya Alvaro dengan suara serak. Wajahnya bersembunyi diantara perut hangat gadis itu.
"Hmmm." gumam Irene, dengan darah berdesir kencang.
.
Bersambung
__ADS_1