
Ruang vip bernuansa kayu itu ramai oleh debat Tery dan papanya. Gadis itu terdengar sangat emosi, mendengar penjelasan papanya.
"Jangan membantah. Alvaro bukan orang yang bisa di kendalikan dengan mudah. kalau dia mengajukan sarat untuk pernikahan kalian. Itu berarti kau bukan prioritasnya lagi. Kau harus sadar itu. Lagi pula Alvaro hanya akan menjadikannya simpanan. Kau bisa menyingkirkan gadis itu nanti setelah menyandang gelar nyonya Alvaro. orang seperti kita tidak boleh terlalu memakai hati saat menjalin hubungan." ujar pria berwajah kaku itu. dia adalah papa dari nona Tery. Dia sengaja datang untuk berunding dengan Alvaro.
Mau tidak mau lelaki itu harus menerima syarat dari Alvaro. Atau pernikahan antara Tery dan Alvaro tidak akan pernah terjadi.
"Papa tau bukan? Aku mencintai Alvaro dari dulu. Mana bisa menjalin hubungan dengannya tanpa melibatkan perasaan. Aku maunya hati Alvaro hanya milikku, tapi berani sekali dia menyukai wanita lain. Rasanya aku ingin membunuh wanita itu saat ini juga." geram Tery, wajah cantiknya terlihat bersemu merah.
"Jangan gegabah. Gunakan cara halus kalau kau berniat menyingkirkannya. Kalau sampai ketahuan, Alvaro tak kan memaafkanmu. Pria itu membuat perjanjian dengan tujuan melindungi wanita itu. Jadi jangan gegabah." ujar pria paruh baya itu mengingatkan putrinya.
"Iya aku tau pa."
"Bagus, jangan kecewakan papa." ujar pria itu penuh harap. Alvaro adalah pria yang cocok menjadi partner bisnisnya. Dengan kerja sama dua perusahaan milik mereka, mereka akan semakin bertambah sukses di masa depan.
"Kau pulanglah, papa ada janji dengan klien sebentar lagi."
"Baik pa."
Papa Tery sengaja menemui putrinya terlebih dahulu, sebelum membahas masalah pertunangan dengan Alvaro. Dia tak ingin gadis itu merusak semua rencana bisnisnya hanya gara gara cemburu dengan Iren. Baginya hal seperti itu bukan masalah, karena wanita simpanan tak akan memiliki pengaruh penting dalam bisnis Alvaro. Dia hanyalah media untuk bersenang senang. Tak di pungkiri, dia juga melakukan itu di belakang istrinya.
Lagi pula orang seperti Alvaro takkan mau mengotori nama baiknya demi seorang selir. Ada banyak wanita yang rela menyerahkan tubuhnya demi lelaki seperti mereka. Seperti pepatah, hilang satu tumbuh seribu, begitulah wanita simpanan bagi mereka. Tapi hal itu berlaku juga kah bagi seorang Alvaro?
Alvaro menatap benda pipih di pergelangan tangannya. Lalu menatap ke pintu ruang vip restoran. Bakal mertuanya sudah molor sepuluh menit dari waktu yang di janjikan.
Tak lama berselang lelaki itu datang bersama Tery. Gadis itu terlihat memasang wajah masam menatap Alvaro. Bagaiamana tidak, sudah beberapa hari ini dia tak pulang ke rumah.
Selama pembicaraan Tery memilih diam. Dia seperti menyetujui apa yang di ucapkan papanya. Dari pihak Tery menginginkan pertunangan di adakan bulan depan. Sedang pernikahan di adakan setahun setelahnya. Itu atas permintaan Alvaro. Dia beralasan tidak punya banyak waktu luang dalam setahun ini.
Papa Tery tak menolak. Sebab dengan menggelar pertunangan saja sudah sangat menguntungkan untuk bisnisnya.
Setelah pembicaraan selesai. Papa Tery pulang lebih dulu, sementara Tery pulang diantar Alvaro.
"Kau masih marah?" suara Alvaro memecah keheningan. Karena sedari tadi Tery hanya diam membisu.
Tery menoleh menatap pria bermata indah itu dengan seksama. "Apa kau tidak marah bila aku menyukai lelaki lain selain dirimu?" sindirnya.
__ADS_1
"Jangan salah paham Tery. Aku tidak menyukai Iren. Ada sesuatau dalam diriku yang tak bisa aku jelaskan padamu. Ini sangat sulit untukku. Tolong bersabarlah, sampai aku benar benar bisa melepas gadis itu." jelas Alvaro.
Tety mengernyitkan alisnya menatap Alvaro. "Dia mengancammu dengan kelemahanmu?" tebak Tery.
Alvaro menggeleng. "Tidak, dia bukan gadis seperti itu. Masalahnya ada padaku, bukan dia. Aku rasa dia juga tidak ingin ada di antar kita. Tapi aku tidak bisa melepasnya. Aku butuh dia."
"Apa ini masalah ranjang? Kau bisa melampiaskannya padaku Varo. Bukan malah ke dia, aku wanitamu kau tidak boleh melupakan itu."
Alvaro mendesah berat. Justru itu masalahnya. Dia justru tak bisa melakukan dengan wanitanya, dia juga tak habis pikir. Kenapa bisa? Dengan Tery dia juga merasa mual saat tau wanita itu tengah berhasrat padanya. Dia benar benar merasa gila memikirkannya.
"Sudahlah, masalah ini tidak usah kita bahas lagi." tegasnya.
Bahu Tery langsung layu mendengarnya. Dia menyesal, terlalu lama meninggalkan pria itu. Dia pikir cinta Alvaro tak semudah itu berpaling. Nyatanya dia salah besar. Dia tak menemukan sorot mata penuh cinta saat Alvaro menatapnya. Ini membuatnya prustasi.
Mobil mewah yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah mewah Alvaro. Keduanya turun dari mobil. Alvaro berniat bermalam di sini malam ini. Ibunya tadi pagi kembali menghubunginya menanyakan sikapnya yang mengabaikan Tery beberapa hari ini. Sungguh itu bukan maunya. Saat tanpa sadar dia malah mendatangi Iren bukan Tery.
Tery mengulum senyum saat Alvaro ikut turun dari mobil dengannya. "Kau bermalam di sini?" tanyanya penuh harap.
"Hmmmm."
Tery tak ingin buru buru, dia membiarkan saja. Saat Alvaro langsung naik kekamarnya.
Di kamar Alvaro membersihkan diri, setelah itu berkutan dengan setumpuk berkas di ruang kerja.
Sesekali dia menatap benda pipih di depannya. Berharap seseorang bertanya kabar, atau bertanya kenapa sampai jam segini dia belum juga pulang. Tapi benda pipih itu membisu. Membuat hatinya sedikit kesal.
Tiba tiba terdengar pintu ruang kerja di ketuk seseorang.
"Masuk." titahnya. Dia tau siapa yang datang. Sebab pelayan di jam segini sudah beristirahat di paviliun.
Langkah langkah kecil terdengar dengan terlihatnya sosok Tery masuk ruangan. Wanita itu terlihat begitu cantik dengan gaun tipis yang membalut tubuhnya. Sementara di tangannya ada secangkir teh hangat.
"Kau belum tidur?" tanya Alvaro dengan suara lembut.
"Sudah. Tadi terbangun, aku kekamarmu tapi kau ternyata ada disini. Ini aku buatkan teh, agar tubuhmu sedikit hangat." sahut Tery, sembari meletakkan cangkir teh di atas meja.
__ADS_1
"Boleh aku melihat lihat bukumu?" tanya Tery.
"Tentu lihatlah."
Tery melangkah ke samping ruangan. Memilah satu buku, lalu duduk di sofa menghadap ke Alvaro. Sikap gadis itu yang terlihat tak mengganggu membuat Alvaro sedikit lega.
Alvaro kembali berkutat dengan berkas sembari sesekali menyesap teh buatan Tery.
Tapi beberapa saat kemudian, dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Mendadak tubuhnya terasa panas dan hasrat kelelakiannya mendadak timbul.
Sial! Dia menyadari sesuatu, Tery telah membiusnya. Cepat dia menatap Tery, tapi sayangnya pandangannya langsung berubah. Saat melihat tubuh Tery di balik gaun tipis yang dia kenakan.
Pria itu menatap penuh binar saat Tery datang kearahnya dengan senyum yang begitu sensual.
Tery langsung mendaratkan tubuhnya dalam rengkuhan Alvaro. Pria itu menggeram gemas, saat Tery menarik tali pengait gaunnya. Gaun itu luruh kelantai, memperlihatkan tubuh tubuh polos Tery.
Di bawah pengaruh obat, Alvaro menatapnya dengan penuh hasrat. Matanya yang tajam menuntut Tery melakukan hal lebih. Tery tersenyum dia menyukai tatapan itu. Setelah lama merindukan kehangatan tubuh Alvaro.
Lelaki bertubuh kekar itu mencumbui Tery dengan sangat panas. Dalam pandangannya gadis di depannya adalah Iren.
Tubuh polos Tery benar benar di kuasai Alvaro saat ini. Pria itu membopong tubuh Tery ke atas ranjang yang ada di ruang kerja. Mengungkung tubuh molek itu di bawahnya, lalu menjamahi inci demi inci tubuh itu dengan sentuhan bibir basahnya. Tery melayang, sentuhan ini sudah sangat lama dia rindukan. Dan baru malam ini dia dapatkan.
Alvaro benar benar lelaki luar biasa, dia mampu membuat Tery terbang melayang dengan sentuhannya. Kini tubuh lelaki itu tengah memompa tubuhnya dengan gerakan cepat, sementara tangannya meremasi dadanya yang kenyal dan padat berisi.
"Kau nikmat Iren." racau Alvaro di tengah aktivitas panasnya. Membuat tubuh Tety mendadak membeku, hasrat yang menggebu mendadak hilang tak berbekas.
Dengan perasaan marah, Tery mendorong tubuh Alvaro di atasnya. "Lepas." pekiknya. Membuat Alvaro menggeram marah. Dalam pandangannya tubuh yang tengah bertukar kenikmatan ini adalah tubuh Iren. Di tolak saat sudah hampir mencapai puncak membuat emosinya meledak. Dengan perasaan marah dia mencekik leher Tery sembari menyeringai.
"Iren kau lupa? Aku bilang jangan menolakku?!" geramnya sembari terus memompa tubuhnya semakin kencang. Wajah kesakitan Tery malah membuat libidonya melonjak tinggi.
Sementara Tery sudah hampir kehabisan nafas. Pandangannya sudah buram, dan tubuhnya tak lagi mampu dia gerakkan. Untungnya Alvaro melepas tangannya dari leher Tery, Lelaki itu sudah mendapatkan pelepasannya dan kini tengah terkulai lemas di sampingnya.
Air mata Tery tumpah ke pipi tak terbendung lagi. Dia tak menyangka akan di perlakukan seperti ini oleh Alvaro. Dia pikir dia akan mati malam ini. Lalu tiba tiba dia teringat pada Iren. Apa seperti itu dia memperlakukan Iren selama ini.
.
__ADS_1
Bersambung