
Ball room Hotel yang di hias dengan pernak pernik serba putih itu terlihat begitu mewah dan megah. Selaras dengan tamu tamu yang datang, yang terlihat begitu anggun dan sangat gagah.
Hari ini adalah hari pertunangan Alvaro dengan Tery. Seperti kesepakatan Alvaro pada papanya Tery sebulan yang lalu. Pesta di gelar sangat mewah, layaknya pesta pernikahan. Dengan mengundang banyak relasi dari kedua belah pihak.
Tery tampil sangat memukau dengan gaun berwarna putih. Giwang dan kalung bertahtakan batu permata putih, menjadi pelengkap penampilannya. Kecantikannya mengundang decak kagum para tamu. Sedang Alvaro tampil gagah dengan tukedo berwarna senada dengan gaun milik Tery. Mereka benar benar pasangan serasi. Dari segi apapun.
Selama acara berlangsung, Alvaro terlihat berulang kali mengulas senyum. Sembari memandang Tery dengan tatapan lembut. Membuat iri tamu wanitanya yang hadir di acara ini.
Kebahagiaan mereka tak hanya menular pada kedua orang tua pasangan. Tapi juga pada para tamu undangan. Tapi tidak dengan Iren. Gadis itu duduk di sudut ruang yang tak terlihat oleh Alvaro. Dia hanya memperlihatkan muka sekejab, lalu menghilang tanpa memberi mereka ucapan selamat.
Dia tak berniat hadir, tapi takut kedua orang tuanya curiga dengan sikapnya. Jadi, mau tidak mau dia terpaksa menghadiri pesta ini. Walau dengan hati yang seperti di tusuk seribu duri.
Iren menghempas nafasnya kasar, sembari menyentuh dadanya yang berdenyut sakit. Senyum Alvaro, juga tawa Tery seolah menusuk nusuk hatinya dengan ribuan belati hingga hancur luluh.
Dua hari sebelum acara pertunangan, Alvaro datang ke apartemen menyerahkan undangan. Pria itu mengundangnya dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hati Iren seperti di hujam beliung tajam, terasa sakit sekali. lelaki itu benar benar menganggapnya hanya sebagai pemuas naf sunya saja. Dia sama sekali tak mempertimbangkan perasaan Iren. Dia bukan pela cur yang sengaja menjual diri. Kalau kemudian dia melayani Alvaro dengan suka rela, itu karena telah tumbuh perasaannya terhadap pria itu. Walau sekarang dia menyesalinya.
Setelah memberikan Iren undangan pertunanganya. Alvaro tak pernah muncul hingga hari ini. Dia juga tak mengabari Iren. Walau hanya dengan sepatah kata maaf, seperti yang di harapkan Iren.
Air mata gadis itu menetes perlahan di sudut matanya. Dengan punggung tangannya dia menyeka bulir bening yang membasahi pipinya. Rasanya dia ingin menghilang saja. Tak sanggup rasanya melihat kebahagiaan mereka disana. Tawa bahagia mereka serasa membakar hatinya. Tapi dia tidak mungkin pergi dari acara ini begitu saja, dia tidak mau membuat mamanya berpikir macam macam.
Lamunan Iren buyar saat dari arah depan, terlihat mamanya melambaikan tangan kearahnya.
"Sayang sini." pangginya, dengan senyum. Iren mengangguk, lalu beranjak menghampiri mama.
"Kamu kemana aja, kita mau ambil foto keluarga lo." ucap mama sembari mengusap bahu Iren. Lalu wanita paruh baya itu menggandeng tangan Iren berjalan kedepan panggung.
Di atas panggung sudah menunggu papa, Alvaro, Tery dan. Iren mengernyit alisnya melihat pria asing ikut berdiri di atas panggung.
Mama menarik tubuhnya menempatkan tubuhnya di samping pria itu, sementara di sebelahnya lagi adalah Akvaro. Sedang mama sendiri beranjak kesamping papa di sebelah Tery.
Sekilas dia melirik Alvaro, pria itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Tatapannya focus kedepan, di sampingnya terlihat Tery bergelayut manja dengan wajah sumringah. Hati Iren berdenyut sakit, dia benar benar tak ada artinya sama sekali bagi Alvaro. Kalau boleh, saat ini dia memilih turun dari panggung lalu pergi meninggalkan acara ini.
"Hey." terdengar sapaan tepat di telinga Iren. Gadis itu refleks menoleh, dan hampir saja bibirnya menyentuh wajah pria di sampingnya.
"Ahh, maaf." ujar Iren sembari menarik tubuhnya sedikit menjauh.
"Its oke, kamu Iren kan? Aku Glen kakak pertamamu." ucap pria itu dengan sedikit berbisik, sembari mengulurkan tangannya. Iren tertegun menatap pria disampingnya, jadi dia Glen. Selama tinggal di rumah mama, tak sekalipun mereka membahas tentang Glen. Bahkan wajah pria ini tak ada dalam foto keluarga.
Iren mengulurkan tangannya menyambut tangan kakak pertamanya.
"Lihat ke depan." ujar pria itu sembari menyentuh bahu Iren, mengarahkan tubuhnya ke depan. Menghadap kamera.
Cekrek..
Iren menarik kedua sudut bibirnya membingkai senyum. Tidak perduli betapa sakit hatinya saat ini, dia harus memperlihatkan wajah bahagia. Mereka berganti pose hingga beberapa kali sebelum sesi foto akhirnya selesai.
__ADS_1
Iren baru akan beranjak turun saat suara Glen kembali berbisik
"Hey, ayo ikut." Glen meraih pergelangan tangan Iren, membawanya turun dari panggung. Iren mengikuti langkah kaki Glen dengan perasaan bingung. Lelaki itu bersikap seolah mereka sudah sangat akrab. Padahal mereka baru saja bertemu.
Iren melirik mama sekilas, wanita paruh baya itu juga menatapnya heran.
"Kak mau kemana?" tanya Iren, sebab Glen membawanya keluar dari Ball romm.
"Ke kafe sebelah. Di dalam sumpek. Aku nyaris tak bisa bernafas." sahutnya. Sembari terus menggenggam tangan Iren.
Glen baru melepas genggaman tangannya saat mereka sudah berada di dalam kafe.
Iren menatap wajah tampan Glen. Pria itu juga menatapnya dengan ekspresi ramah.
"Maaf membuatmu kaget." ucapnya sembari tersenyum.
"Harusnya aku menyapamu saat pertama kali kau datang kerumah. Tapi aku pikir menyapamu sekarang, belum terlambat kan?" imbuhnya.
Tatapan hangat Glen membuat Iren mengiyakan semua ucapannya. "Iya tidak apa apa." sahutnya. Lagi pula Glen adalah kakak angkatnya.
Glen yang ramah dan hangat membuat keduanya menjadi cepat akrab. Banyak pertanyaan yang Glen ajukan pada Iren. Dari hal yang berhubungan dengan kuliah, hingga tentang asmara.
"Jadi tinggal wisuda dong," ujar Glen saat mendengar Iren baru saja menyelesaikan sidang skripsi.
"Iya." sahut Iren singkat.
Iren tertawa ringan. "Kerja lah." rajuknya.
"Ooo kirain. Gimana kalau ikut kakak aja. Kayaknya kalau tiga bulan lagi, kakak bisa carikan lowongan buat kamu."
"Gak ah jauh."
"Pikir dulu kek, gak usah langsung di jawab." ujarnya dengan mimik kecewa.
Iren kembali tertawa. Ekspresi Glen saat bicara padanya, mampu membuatnya merasa nyaman. Sikapnya benar benar terlihat seperti seorang kakak.
"Aku gak mahir bahasa inggris, jadi gak kepikiran tinggal di luar negeri." sahut Iren.
"Kakak ajarin sampai pinter."
Iren kembali tertawa. "Nanti deh pikir pikir dulu." sahutnya. Glen mengangguk sambil tersenyum.
"Tinggal di sana tanpa keluarga rasanya sangat sepi." ucapnya pelan. Walau dia berkata sembari tersenyum, tapi Iren bisa melihat kesepian itu dari matanya.
"Kenapa tidak pulang saja ke tanah air?"
__ADS_1
Glen tersenyum. "Di sini juga sama." sahutnya sembari menatap bola mata Iren lekat lekat.
"Maksudnya?" tanya Iren. Bersamaan dengan dering ponsel Iren yang terdengar dari dompet kecil yang sedari tadi dia bawa.
"Jawab, siapa tau penting." ujar Glen saat Iren hanya diam saja.
Iren menarik nafas dalam. Lalu mengambil ponselnya dari dalam dompet.
"Iya ma."
"Kamu di mana sayang."
"Di Cafe sebelah ma."
"Bareng Glen?"
"Iya ma."
"Hhh! Ya sudah cepat kemari. Acara sudah selesai, kita harus pamit dengan keluarga Tery." ujar mama.
"Baik ma." sahut Iren, lalu panggilan terputus.
"Dari mama?" tanya Glen.
Iren mengangguk. "Kita diminta kembali ke tempat acara."
"Oke, kalau begitu ayo kesana."
Iren dan Glen terpaksa harus kembali ke tempat acara. Tidak sopan rasanya bila mereka pergi tanpa berpamitan.
Begitu mereka masuk, tatapan penuh intimidasi mengarah pada mereka berdua. Tidak hanya Alvaro, mama dan papa juga menatap mereka dengan tatapan itu.
Tapi Iren memilih tak perduli. Hanya satu yang dia peduli saat ini. Keluar dari tempat ini. Lebih tepatnya segera menjauh dari Alvaro. Dia sudah sangat tak tahan melihat kemesraan kakak angkatnya itu dengan tunangannya. Tery juga seperti sengaja memamerkan kemesraan mereka pada Iren. Kalau memang itu tujuannya, dia sudah berhasil membuat Iri setengah mati.
Setelah saling berpamitan dengan keluarga Tery. Glen menawarkan diri, untuk mengantar Iren pulang.
"Iren kamu biar kakak antar pulang aja ya."
"Tidak usah Glen. Iren biar pulang sama supir." sahut mama cepat.
"Iren, kamu pulang bareng supir aja ya. Ada yang ingin mama bicarakan dengan kakakmu Glen." imbuh mama. Dengan ekspresi yang berbeda. Saat dia bicara pada Glen raut tak senang terlihat jelas di wajah mama.
"Iya ma. Kalau begitu aku pamit dulu ya ma."
"Iya sayang, hati hati."
__ADS_1
Iren langsung pergi tanpa berpamitan pada Tery juga Alvaro. Sedang papa masih terlihat sibuk bicara pada relasi bisnisnya yang belum pulang. Sementara pada Glen, dia hanya mengangguk sebelum benar benar pergi dari ruangan ini.
Bersambung