
Hari ini mama memanggilnya pulang. Sejak kepindahan Iren, Alvaro sudah memberitahu mamanya kalau Iren memutuskan untuk tinggal sendiri. Awalnya mamanya tak setuju. Tapi akhirnya Alvaro bisa meyakinkan mamanya.
Iren keluar dari mobilnya, kedatangannya langsung di sambut wanita paruh baya itu dengan pelukan.
"Aduh kangennya." ujarnya sembari memengusap punggung Iren.
"Aku juga kangen ma," sahut Iren. Dia benar benar rindu mamanya, ingin di peluk sehangat ini setiap hari agar segala gundahnya hilang.
"Tau kangen kok gak mau pulang. Padahal kamu lagi gak sibuk kuliah kan?"
"Iya, tinggal wisuda aja ma."
"Oh ya, semoga mama sama papa ada waktu untuk pulang saat kamu wisuda nanti." ucap mama sembari membawa langkah Iren masuk kedalam.
"Memangnya mama mau pergi kemana?"
"Perusahaan papamu di luar negri mengalami masalah. Jadi untuk sementara kami tinggal disana untuk mengurus itu. Mau minta bantuan Alvaro dia tidak punya banyak waktu, lagi pula Alvaro tidak bisa meninggalkan negara ini, urusannya sendiri sudah sangat banyak." jelas mama.
"Ooo." sahut Iren sembari mengangguk pelan.
Mereka sudah tiba di ruang tamu. Terlihat Glen sedang duduk di sofa menatap Mereka.
"Mama juga mau kenalin kamu ke Glen. Dia kakak pertamamu." ujar mama sembari menggerakkan dagunya kearah Glen.
"Hay, kita ketemu lagi." sahut Glen dengan sikap ramah.
"Iya kak." sahut Iren.
"Kalian ngobrol ya, mama mau siapin makan siang dulu."
"Biar Iren bantu ma."
"Gak usah, kakak mu besok sudah harus kembali. Jadi kamu temani dia untuk hari ini. Entah kapan kalian bisa ketemu lagi."
"Bener gak apa apa ma?"
"Iya sayang."
"Ya udah deh kalau gitu."
Iren duduk di sebelah Glen. Pria itu tak lepas dari menatap Iren. Ada binar pada sorot matanya saat menatap gadis itu.
"Gimana dengan tawaran kakak kemarin. Udah nemu jawabannya?"
Iren tersenyum. "Kayaknya mau stay di sini aja kak. Tapi nanti kalau ada kesempatan aku mau deh berkunjung kesana."
"Gitu ya, padahal kakak ngarep kamu mau ikut kakak."
"Belum berani ninggalin tanah kelahiran kak. Gak punya skil yang memadai juga iya. Ini juga belum tau mau kerja di mana selesai wisuda."
"Alvaro pasti akan bantu kamu. Dia gak mungkin biarin kamu kesulitan sendiri. Ada banyak lowongan di perusahaan miliknya yang bisa kamu tempati. Atau di perusahaan papa."
__ADS_1
"Iya sih. Oh ya, kakak kok cepet banget balik ke sana. Padahal baru beberapa hari di sini."
"Ada banyak pekerjaan yang udah nunggu di sana. Memang cuma bisa tinggal beberapa hari aja di sini, setelah itu harus cepat pulang."
"Oh gitu ya."
"Iya. Oh ya, abis makan siang kita jalan yok. Berhubung kakak besok pulangnya pagi pagi sekali. Hari ini kakak mau kamu habisin waktu kamu bareng kakak."
Iren terlihat berpikir sejenak. Lalu. "Boleh deh. Aku juga lagi suntuk."
"Suntuk? Kenapa? Lzgi ada masalah sama pacar?" tebak Glen. Iren mengangguk.
"Lelaki mana yang berani buat masalah sama kamu. Berani sekali dia."
Iren tertawa. "Udah gak penting." ujar Iren.
"Bagus deh. Kamu harus dapat pria baik, ingat itu." ucapnya sembari menatap wajah Iren penuh kasih sayang.
"Iren. Glen. Ayo makan." panggil mama dari ruang makan.
Keduanya menoleh ke ruang makan. "Tuh, mama dah manggil." ujar Glen, lalu beranjak bangkit di ikuti oleh Iren.
Menjelang sore, Glen berpamitan pada mamanya untuk membawa Iren keluar jalan jalan.
"Mau kemana kita kak?" tanya Iren. Sebab Glen tak bilang mereka mau kemana.
"Kita ke mall aja. Kakak ingin belanjain kamu, abis itu kita nonton." sahutnya, sembari melirik Iren di sampingnya.
"Iren." panggil Glen. Membuyarkan lamunan gadis itu.
"Iya kak."
"Apa keluargaku menyusahkan mu?"
Iren menoleh, menatap Glen. "Enggak kok. Mereka menganggap ku seperti anak sendiri." sahut Iren apa adanya.
Glen terlihat mengangguk anggukkan kepalanya pelan. "Benar, mereka harus melakukan itu padamu." ucapnya dengan mengulas senyum.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di area mall. Glen benar benar menghamburkan uangnya untuk adik perempuannya. Dan Iren, seperti tak sungkan membeli beberapa barang yang menggoda matanya.
Dalam sekejab, mobil Glen di penuhi paper bag berisi pernak pernik yang di beli Iren.
"Cari minum dulu ya, haus." ujar Glen sembari menarik tangan Iren agar mengikuti langkahnya.
Kini keduanya duduk di gerai yang menjual minuman juga cemilan kekinian.
Glen mengulir pandangannya menatap sekelilingnya. Lalu tatapannya berhenti pada Iren. "Hhh, aku pasti rindu saat saat seperti ini." keluhnya.
"Kakak bisa pulang kalau rindu." ujar Iren.
Glen tersenyum, lalu menyesap pipet di depannya. "Aku tidak bisa melakukannya, tidak ada yang menginginkan kepulangan ku disini." sahut Glen, dengan wajah sendi.
__ADS_1
Iren tertegun. "Maksud kakak?" tanya gadis itu, sembari menatap Glen.
Glen terlihat gugup. Tapi kemudian wajahnya terlihat ceria kembali. "Aku hanya asal bicara, jangan di pikirkan." sahutnya. Iren mengangguk, tapi perkataan Glen tadi membuatnya tak tenang.
Apa memang benar, kepulangannya tak di inginkan orang orang di sini. Tapi siapa? Yang jelas masih orang terdekat Glen. Kalau tidak, mana mungkin Glen peduli. Tapi siapa?
Mungkin itu yang membuat lelaki berwajah tampan ini tidak pulang selama bertahun-tahun.
"Hey, kok malah ngelamun. Bioskop dah buka tuh." tegur Glen. Pria itu menggamit lengan Iren.
"Ahh, maaf kak."
"Ngelamunin apa? Pacar gak jelas kamu ya?"
"Apaan sih. Gak lah, udah tau gak jelas. Buat apa dipikirin." sungut Iren.
"Bagus kakak suka sikap mu itu. Ada banyak pria baik buat kamu, jadi jangan buang buang waktu dan tenaga buat lelaki yang tidak jelas."
Iren hanya tersenyum sembari mengangguk. Bukan hanya tidak jelas, lelaki itu juga breng sek! Tapi sayangnya, isi kepala Iren malah di penuhi olehnya.
Selesai nonton Iren di antar Glen pulang ke apartemen. Lagi pula pulang ke rumah juga dia tak akan bertemu mama. Ini sudah hampir jam sebelas, mama pasti sudah tidur.
Glen mengantar Iren sampai depan pintu apartemen. Itu karena barang yang di beli Iren terlalu banyak. Dia tak bisa membawanya sendiri.
"Kakak langsung pulang ya." ujarnya.
"Iya, makasih ya kak."
"Besok kakak gak sempat pamit ke kamu. Sebab kakak berangkat pagi pagi sekali. Kamu jaga kesehatan ya, nanti kakak kabari saat kakak sudah sampai di sana."
Iren mengangguk. Rasanya dia mau menangis, tak ingin Glen pergi. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi entah mengapa Iren sudah merasa sangat dekat dengan Glen.
Glen mengusap bahu Iren, lalu kemudian beranjak pergi. Iren menghela nafas dalam, sembari menatap punggung Glen.
Susah payah Iren masuk sembari menenteng seambrek hasil dari menghabiskan uang Glen. Awalnya dia tak berniat membeli apapun. Tapi sikap Glen yang manis, membuat Iren kalap.
Langkah berat Iren terhenti di ruang tengah. Walau di terangi cahaya temaram, dia bisa mengenali bayangan Alvaro. Pria itu duduk di sofa, sembari menatap ke arahnya. Iren terdiam beberapa detik, lalu kembali melangkah ke kamarnya.
Dia bisa mendengar langkah kaki Alvaro mengikutinya dari belakang. Dan ikut masuk kekamarnya. Tidak, kamar mereka. Sebab Alvaro selalu tidur di sini dengannya saat pria itu menginap.
"Dari mana saja kau?!" tanya Alvaro, dengan suara baritonya.
"Main bareng kak Glen." sahut Iren, sembari menyusun paper bag yang dia bawa di sudut kamar.
"Kenapa tidak ijin dulu dengan ku?"
"Aku pergi dengan kak Glen, apa harus izin juga?"
Alvaro menghempas nafas kasar, dengan langkah lebar dia mendatangi Iren. Meraih tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Lalu menghujaninya ciuman yang membabi buta.
Dia menyentuh tubuh Iren seperti orang yang sedang dahaga. Jemarinya menyentuh dan meremas penuh hasrat. Dia begitu cemburu, walau dengan Glen sekalipun. Rasanya bisa gila membiarkan Iren berkeliaran dengan lelaki lain. Dia benar benar ingin mengurung Iren, agar tak ada pria yang bisa menatapnya dengan tatapan hangat.
__ADS_1
Bersambung.