Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 50


__ADS_3

"Jadi dia belum makan sebutir nasi pun seharian ini?!" bentak Alvaro pada dua bodyguard yang mengawasi Iren.


"Nona bahkan tidak keluar kamarnya tuan." sahut salah satu dari mereka.


Alvaro mende sah berat sembari memijit pelipisnya. "Dia benar benar keras kepala." gerutunya kesal.


"Bawakan aku anggur juga susu dingin. Cepat!"


"Baik tuan." sahut pria itu, lalu tergopoh ke dapur mengambil susu juga anggur.


Tak berapa pria itu kembali lagi dengan membawa anggur dan susu dingin.


"Hhh! Karena janin kepa rat itu aku harus repot begini." geram Alvaro. Tapi mendengar Iren tidak makan apapun membuatnya khawatir.


"Buka pintunya." titahnya pada anak buahnya.


Dengan alat khusus pintu itu bisa di buka dari luar. Alvaro bergegas masuk kedalam. Matanya nyalang mencari sosok Iren di setiap sudut kamar. Rupanya gadis itu bergelung di balik selimut.


Alvaro menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Iren. Membuat Iren yang tengah tertidur pulas, terbangun kaget.


"Ada apa?!" sungutnya kesal.


"Bangun, makan dan minum susu ini dulu. Kau butuh tenaga untuk menggugurkan bayi sialan itu " ujar Alvaro datar.


Iren menatap Alvaro dengan tatapan kesal. Dia tidak tau bayi siapa yang sedang dia umpat. Tapi tau juga apa gunanya pria itu tidak menginginkannya.


"Aku tidak akan menggugurkannya." ujar Iren dengan suara pelan. Tapi terdengar jelas oleh Alvaro. Pria itu mengatupkan rahangnya rapat rapat.


"Kau harus melakukannya, aku tidak mau ada janin pria lain di rahimmu."


"Ini adalah tubuhku, aku yang berhak menentukan. Bukan kakak!"


"Siapa bilang kau boleh menentukan? Kau mimpi kalau kau berpikir begitu. Hanya aku yang boleh menentukan segalanya atas dirimu. Tubuh mu adalah milikku. Kau harus paham itu."


"Kakak yang seenaknya berpikir begitu. Tapi ini adalah tubuhku, aku yang menentukan bukan kakak. Lagi pula aku sudah tidak mau lagi jadi boneka kakak."


"Boneka?"


"Iya."


"Sudah jangan berdebat, cepat makan ini."


Iren melirik buah di pangkuan Alvaro. Dia lemas juga sangat lapar, buah anggur segar di pangkuan Alvaro membuatnya menelan ludah.


Melihat itu Alvaro mengambil sebutir anggur, lalu menyodorkannya ke mulut Iren. "Buka mulutmu." titahnya. Iren menatap sekilas wajah tampan itu lalu membuka mulutnya, mengunyah buah anggur berukuran besar itu dengan perlahan.


Iren tersenyum, sembari tersenyum. Aroma anggur saat di kunyah membuat otaknya terasa segar.


"Aku butuh ponsel ku." sahut Iren, sembari mengunyah anggur.


"Benda itu tidak akan kau gunakan untuk saat ini."


"Aku kangen Hilda, aku ingin mendengar suaranya." rengek Iren dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


Alvaro berdecak kesal, dia benci saat melihat air mata Iren jatuh menyentuh pipinya.


"Aku akan membawanya kemari." ujar Alvaro akhirnya.


Mata layu Iren tiba tiba berbinar menatap Alvaro. "Benarkah, kakak gak bohongkan?"


Alvaro mengangguk tegas. "Iya aku akan membawanya, tapi setelah itu kau harus menjalani perawatan untuk membuang bayi di rahimmu." sahut Alvaro.


Iren terdiam, kalimat terakhir Alvaro membuat sudut hatinya berdenyut sakit. Iren menarik nafas berat, lalu menatap Alvaro lekat lekat. "Kakak tidak benar benar tidak percaya dia anak kakak?" tanya Iren.


Alvaro tertawa sinis. "Kau sudah tau jawabannya bukan, kenapa masih bertanya."


"Bagaimana kalau ini benar benar anak kakak?"


Alvaro memindai lekuk wajah Iren yang begitu sempurna dimatanya. "Kau tetap harus membuangnya, kita hanya partner di atas ranjang. Mana mungkin kau boleh hamil." ujar pria itu tanpa perasaan.


Iren terdiam, kalimat Alvaro menggujam hatinya sangat dalam. Rasanya sakit sekali. Ini salahnya yang berharap lebih pada pria yang menganggapnya hanya sebagai pemuas naf su.


"Terserah pada kakak aja, tapi tolong bawa Hilda kesini." ujar Iren akhirnya.


"Habiskan susumu, nanti orangku akan menjemput Hilda. Malam ini Kau bisa tidur di kamar utama." ujar Alvaro, lalu beranjak pergi.


"Aku tidak mau tidur di kamar itu." ujar Iren. Membuat langkah Alvaro terhenti.


"Jangan membangkang Iren, di kamar ini tempat tidurnya kecil. Kau juga pasti tidak nyaman disini."


"Bukakankah kakak kemarin yang mengusirku dari kamar itu. Lagi pula aku tak sudi tidur di bekas kalian bermesraan."


Alvaro terdiam, bermesraan? Dia bahkan tak menyentuh tubuh gadis itu. Bagaimana bisa mereka bermesraan.


Iren membulatkan matanya menatap Alvaro. Beraninya dia menyamakan Iren dengan pangilan. "Breng sek!" umpatnya, mata beningnya tampak berkaca kaca. "Aku bukan pela cur yang sengaja menjajakan tubuhku seperti dia! Kakak lah yang merusak masa depanku. Lalu kenapa kakak seenaknya menyamakan aku dengan pe lacur itu. Dasar breng sek kau!" pekik Iren sembari menangis. Dia melempar bantal yang ada di dekatnya tepat di wajah Alvaro. Lelaki itu tak mengelak, dia terpaku di tempatnya menatap wajah Iren yang bersimbah air mata.


Kenapa, lagi lagi hatinya berdenyut sakit. Saat melihat wanita itu menangis tersedu.


"Pergi kau!" pekik Iren sembari terus melempari Alvaro dengan benda apa saja yang dia temukan.


Iren menutup pintu kamarnya rapat rapat, mengurung diri di kamar hingga pagi.


Paginya dia bersiap menyambut kedatangan Hilda. Dia sudah sangat rindu gadis itu, sejak wisuda dia tak lagi pernah bertemu Hilda.


Langkah kaki Iren yang akan menuju kedapur, terhenti saat melihat Alvaro juga berada di sana. Pria itu sedang menyedu teh. Menyadari kedatangan Iren, pria itu beralih menatapnya.


"Kemarilah, aku sudah membuatkan mu susu." ujar pria itu dengan nada lembut. Iren tak menyahut, dia berbalik ke ruang tengah. Dia malas melihat wajah Alvaro yang menyebalkan.


Ingin rasanya pindah dari rumah ini. Agar tak lagi melihat wajah pria itu.


"Hilda akan datang pagi ini. Kau pindah saja ke kamar utama. Tadi malam aku sudah mengganti semua perabotan di kamar itu." ujar Alvaro. Membuat Iren berpaling menatap ke arahnya. Tapi kemudian memalingkan wajahnya ketempat lain. Hatinya masih marah karena ucapan Alvaro tadi malam.


Alvaro menatap Iren sejenak lalu kembali ke dapur.


Seperti yang dikatakan Alvaro, Hilda datang pagi ini. Setelah Alvaro berpamitan pergi kerja.


"Kamu sakit Ren?" tanya Hilda khawatir. Tubuh Iren terlihat kurus dan pucat. Matanya bahkan terlihat cekung.

__ADS_1


Iren mengangguk. "Sudah hampir sebulan ini, aku sakit." sahut Iren.


"Udah berobat?"


"Udah, oh ya kamu sibuk apa sekarang?"


"Kerja bantu papa. Iren aku kangen banget sama kamu tau gak?" gadis itu kembali memeluk tubuh Iren. Dia benar benar rindu pada gadis ini.


"Eh, tapi ada angin apa kakak lo bolehin aku nemuin kamu."


"Angin topan mungkin. Udah gak usah bahas dia. Aku lagi gak mood dengar namanya."


Hilda tertawa mendengarnya. "Tapi pria itu sangat kejam ya, dia bahkan menyingkirkan Rey dengan sangat kejam." celetuk Hilda.


"Nyingkirin Rey?" tanya Iren kaget.


"Aku juga baru tau dari papa, saat aku ngotot mau nemuin kamu. Padahal kakak lo udah wanti wanti agar aku gak lagi dekati adiknya. Papa bilang jangan macam macam dengan Alvaro, kalau dia bilang tidak maka lebih baik jangan. Atau nasib kami akan sam dengan Rey."


"Apa yang terjadi dengan Rey?"


"Kau tidak dengar?"


Iren menggeleng, Alvaro memang membatasi segalanya.


"Dia dikirim keluar negeri oleh papanya. Itu terpaksa mereka lakukan karena tekanan dari kakak angkat lo. Kejam kan?"


Iren mengangguk. Dia memang kejam dan Iren sudah tau itu.


"Hil boleh pinjam hp mu gak?"


"Boleh, memangnya hp mu kemana?"


"Rusak."


"Ohh, ini pakailah."


"Makasih ya."


Iren menerima ponsel yang di sodorkan Hilda. Lalu mulai menghubungi seseorang.


"Halo, selamat pagi. Bisa bicara dengan kak Glen." sapa Iren begitu panggilannya tersambung.


"Pagi, saya Glen. Ini siapa ya?"


"Ini aku Iren kak."


"Iren? Ini nomor siapa? Nomor kamu yang lama kenapa gak aktif?" cecae Glen.


"Panjang ceritanya kak. Waktu kita gak banyak kak. Apa bisa Iren minta bantuan ke kakak?"


"Bisa, katakan saja apa yang kau butuhkan."


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2