
Alvaro menggengam erat majalah bisnis di tangannya. Majalah luar negri yang dikirim mamanya dan baru sampai pagi ini.
Foto Iren terpampang di sampul majalah bisnis sebagai arsitek kenamaan di negara itu.
Pantas saja selama lima tahun ini pencariannya di negara ini, nihil. Tanpa hasil.
Negara tempat Iren tinggal saat ini adalah negara di mana Glen tinggal. Dia yakin Glen adalah dalang di balik hilangnya Iren.
Alvaro tersenyum tipis sembari menatap wajah Iren di sampul majalah itu. Gadis kecilnya kini menjelma menjadi wanita karir. Tapi dimata Alvaro, Iren tetaplah Irennya yang dulu. Iren yang mampu membuat hatinya luluh tak berkutik.
"Kenan. Keruanganku sekarang." titahnya melalui sambungan telepon.
Tak lama kenan datang dengan wajah tak senang. "Kenapa kau selalu memintaku datang di waktu yang tidak tepat. Aku sedang di atas, kau tau rasanya menyudahi itu?!" omelnya sembari duduk tepat di depan Alvaro.
"Tidak aku tidak tau, sudah sangat lama aku tidak melakukannya." sahut Alvaro dengan seringai di bibirnya.
"Dasar bang sat!" umpatnya geram.
"Apa lagi, masih tentang wanita itu lagi? Sudahlah berhenti saja. Dia benar benar tak ingin kau temukan." imbuh Kenan.
Alvaro tersenyum simpul mendengarnya. Membuat Kenan heran, biasanya lelaki ini pasti akan mengupat nya habis habisan saat dia meminta Alvaro berhenti mencari keberadaan gadis itu.
"Dia sudah ketemu. Kerahkan orang mu untuk memantau dari jauh setiap apa yang dia kerjakan. Kabari aku sedateil detailnya jangan ada yang terlewat." ujar Alvaro, sembari melempar majalah bisnis ke hadapan Kenan.
Kenan menatap majalah itu dengan mata terbelalak. Dia benar benar Iren, tapi dengan tampilan berbeda.
"Yakin bisa membujuknya pulang?" cibir Kenan. Alvaro tersenyum sinis. "Bukan Alvaro kalau tidak bisa membawanya pulang." ujar lelaki itu penuh percaya diri.
"Oke kau tunggu saja kabar dariku." ujar Kenan, kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Alvaro.
* * * * *
Setiap pagi selalu seperti ini, apartemen mungil ini terdengar sedikit riuh oleh celoteh Austin. Copy paste dari Alvaro itu memang sedikit bawel pada segala sesuatu. Dia suka bertanya dan ingin tau dalam hal apa saja.
"Mom, kenapa mom melarang paman Kenji untuk datang?" tanya bocah itu sembari membuntuti langkah mamanya menyiapkan berkas berkas.
Iren berhenti sejenak lalu menatap putranya itu dengan tatapan lembut. "Austin, pergi dengan mbak. Siapin alat sekolah mu oke." bujuk Iren.
Austin mengangguk tapi tak beranjak dari tempatnya berdiri. "Udah siap kok." ucapnya dengan mimik menggemaskan.
"Oh ya, kalau gitu sana pergi ke meja makan. Sarapan sama mbak Uty, dia pasti udah siapin sarapan buat kamu."
Austin tak juga mau beranjak, bocah itu terlihat gelisah. "Ada apa sayang, ada yang ingin Austin sampaikan ke mama?"
Bocah itu mengangguk. Sorot matanya yang tajam menatap lurus bola mata Iren. Membuat jantung Iren berdetak kencang. Cepat dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Semakin besar, bocah ini semakin mirip dengan ayahnya.
"Katakan pada sekarang, mama tak memiliki banyak waktu." Desak Iren.
Austin memainkan jarinya satu sama lain sebelum bicara. "Mam, aku meminta paman Kenji datang pagi ini." ujar Austin gugup.
"Apa?!" pekik Iren kaget, dia kehabisan kata. Bagaimana bisa bocah empat tahun ini mengundang pria yang sedang mengejar ibunya, datang ke rumah.
__ADS_1
"Maaf mam." ucap Austin sembari menunduk. Iren tak tau harus bilang apa, bocah ini sangat lembut perasaannya beda dengan ayahnya. Iren tak boleh sembarang bicara saat memarahi Austin.
"Jadi dia setuju untuk datang pagi ini?" tanya Iren. Austin mengangguk, sembari melirik wajah cantik mamanya.
Iren menarik nafas berat. "Baiklah, kita akan sambut paman Kenji. Kau tunggu di luar mama akan bersiap dulu." ujar Iren. Wajah Austin langsung sumringah.
"Baik ma," sahut bocah itu, lalu bergegas keluar kamar. Iren memejamkan matanya sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit.
Dia tak menyangka Austin sudah pandai melakukan hal seperti ini untuknya.
Akhirnya tamu yang di tunggu Austin datang juga. Pria berwajah tegas dengan mata sipit khas pria Jepang, tengah berdiri di ambang pintu.
Pandangan matanya yang tajam tertuju hanya pada Austin saja. "Hay boy?" sapanya sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Austin. "Kemari." ujarnya sembari merentangkan tangan. Memeluk bocah empat tahun itu penuh kasih.
"Kau rindu paman?" tanya Kenji sembari melepas pelukannya. Austin mengangguk. "Ini untuk mu." imbuhnya sembari memberikan sebatang coklat kesukaan Austin.
"Thank you uncle."
Kenji mengangguk pelan. "Bagaimana kalau hari ini biar Austin paman yang antar ke sekolah."ujar Kenji pada Austin. Tatapan pria itu masih tertuju pada Austin, dia sama sekali tak melihat Iren. Seolah Iren makhluk kasad mata yang tak terlihat.
Austin tak langsung setuju, dia menatap Iren meminta persetujuan. Iren mengangguk sambil tersenyum.
"Yeyyy!" teriaknya senang. Melihat itu Kenji tersenyum, kini tatapannya barulah tertuju pada Iren.
"Thank you.." ucapnya hanya dengan gerak bibir. Iren mengangguk sambil tersenyum.
"Kalian sarapanlah dulu, aku harus pergi ada pertemuan penting pagi ini. Tidak apa kan aku tinggal sendiri?" ujar Iren sembari menatap Kenji.
Kenji pria keturunan Jepang itu adalah mantan bosnya saat magang. Saat di bawa Glen ke negara ini, Iren memutuskan kuliah lagi di jurusan arsitektur. Dua tahun dia kuliah, begitu lulus dia langsung magang di perusahaan Kenji. Setahun magang, Glen lalu memutuskan agar Iren pendirikan perusahaan perseorangan di bidang Arsitektur. Yang berjalan hingga saat ini.
Iren berangkat kerja seorang diri. Kantornya yang berada lumayan jauh dari tempat dia tinggal. Mengharuskan dia pergi lebih cepat dari Austin. Sedang Ausin biasanya berangkat sekolah menggunakan bus sekolah.
Iren memang membiasakan Austin mandiri. Dia tak ingin putranya terlalu tergantung pada orang lain. Apa lagi pada sosok yang berjuluk Ayah.
Sesampainya di kantor, Iren sudah di tunggu oleh tamunya. Dia memang sudah bikin janji dengan tamunya. Mereka akan meeting pagi ini, membahas tentang renovasi bangunan terbengkalai yang akan di jadikan kantor. Menentukan tata letak ruang dan gaya desain keseluruhan. Meeting yang hanya makan waktu satu jam itu tidak selesai membahas keseluruhan ide. Mereka terpaksa harus menyambung meeting besok pagi. Sebab Iren hanya memiliki waktu luang satu jam saat pagi.
Sebenarnya Iren sempat menolak proyek ini. Selain sedikit rumit kalau harus merenovasi bangunan yang sudah jadi dari pada membuat dari awal. Dia juga sedang banyak proyek saat ini. Banyak permintaan pembuatan desain bangunan yang menumpuk di meja kerjanya.
Tapi orang itu sedikit memaksa dan tak masalah kalau proyeknya berjalan lamban karena terbentur waktu. Jadilah Iren menerima pekerjaan ini.
Iren menarik nafas, lalu merenggangkan punggungnya yang terasa kaku. Sedari pagi hingga menjelang makan siang dia belum beranjak dari mejanya.
Tok..
Tok...
Tok...
"Masuk." pinta Iren saat mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk seseorang.
Pria bertubuh tinggi masuk sembari menenteng bingkisan di tangannya.
__ADS_1
"Sudah makan siang?" tanya Kenji di barengi senyum.
Iren menarik nafas berat kemudian menggeleng. Dia berusaha keras menghindari lelaki ini, tapi Austin malah memintanya datang.
"Aku tau kau pasti melupakan makan siang mu. Apa penyakit maag mu sudah sembuh?" tanya Kenji. Pria yang terkenal dingin dan bengis itu masih mengingat hal kecil ini. Tapi hal ini pulalah yang mempertemukan mereka berdua. Sakit maag akut Iren mendadak kambuh waktu itu, beruntung ada Kenji. Pria itu sigap melarikannya kerumah sakit. Dari situ mereka jadi dekat dan ternyata Kenji jatuh cinta padanya.
Berada di dekat Kenji malah mengingatkan Iren dengan Alvaro. Sikap dan cara Keji memperlakukan Iren terbilang sama. Keras dan cenderung memaksa. Bedanya Kenji tak mau sembarang menyentuh seperti Alvaro yang suka memaksakan hasratnya.
Kenji menata menu makan siang yang dia bawa, di atas meja. Setelahnya dia meminta Iren untuk makan.
"Tinggalkan pekerjaanmu dulu, jangan main main dengan lambung mu. Kau mau membuat Austin kehilangan ibu setelah dia tak memiliki ayah." ujarnya terdengar sangat pedas. Itulah Kenji dengan lidahnya yang tajam.
Iren mencebik kesal. Tapi dia menuruti perintah Kenji.
"Apa ini?" tanya Iren dengan mata membulat.
"Menu makan siang mu. Apa kau berharap aku bawa berlian?" sahut pria itu, lalu menaruh nasi dalam piring kosong.
"Siapa yang buat ini?" tanya Iren sembari menatap Kenji dengan mata berkaca kaca.
Sementara Kenji terlihat acuh. "Aku sengaja meminta seseorang mengirim bahan masakan ini dari negara mu. Apa kau terharu?" tanya Kenji dengan mimik datar.
"Hhhmm, terimakasih." Sahut Iren sembari mengangguk. Rasanya dia ingin menangis sambil memakan semua hidangan ini. Seenak enaknya hidup di negara orang tentu saja lebih enak hidup di negeri sendiri. Tapi seseorang membuatnya harus tinggal di negara asing dengan perasaan rindu yang menggunung ingin pulang.
"Kapan kau datang? Apa mendengar kau datang dari Glen." tanya Iren di tengah makannya. Kenji juga ikut makan menemani Iren.
"Sudah seminggu, aku tidak berani menemui mu. Takut kalau Austin sudah menemukan papanya." sahut Kenji sembari menatap Iren.
"Jangan ngaco." cebik Iren.
"Sudah hampir lima tahun, apa trauma mu belum hilang?"
Iren menggeleng sembari tersenyum. Bukan trauma yang belum hilang, tapi perasaannya masih ada untuk pria yang sudah merusak hidupnya. Dia seperti mendapat kutukan untuk terus mencintai lelaki yang hanya mengharapkan dirinya di atas ranjang.
"Hhhh, padahal kedatanganku kali ini ingin melamarmu." ujar Kenji. Pria itu menyudahi makannya. Begitu juga Iren.
"Tapi keluargamu menolakku dengan keras." ujar Iren.
Kenji menatap Iren dengan seksama. "Aku bisa meninggalkan segalanya demi mendapatkan mu. Ini yang ingin aku katakan padamu." ujar pria itu penuh harap.
Iren menggeleng. "Andai aku bisa membuka hatiku sedikit saja, mungkin aku akan mempertimbangkan tawaranmu. Tapi aku tidak bisa, lagi pula gadis yang di jodohkan dengan mu begitu sempurna. Kau pasti tak kan menyesal." Iren tau pasti, ada banyak gadis bermartabat tinggi yang sudah siap menerima pinangan Kenji.
"Tapi aku maunya kamu." lirih Kenji. Matanya terlihat sangat kecewa saat tak melihat ketertarikan di mata Iren.
"Hhhh, kau benar benar wanita yang setia ya." imbuhnya. Iren tertawa pelan mendengarnya.
"Aku akan pulang dua hari lagi, jadi luangkan waktu mu besok. Anggap itu sebagai hadiah pernikahanku. Sebab aku akan langsung bertunangan begitu aku pulang." pinta Kenji. Iren mengangguk sembari tersenyum.
.
Bersambung
__ADS_1