Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 57


__ADS_3

Ruang kerja milik Alvaro akhirnya rampung dia kerjakan. Sepertinya pria itu benar benar menyukai hasil kerja Iren. Terbukti pria itu tidak komplain sama sekali. Dia bahkan tidak muncul saat serah terima tadi pagi. Tapi hal ini membuat Iren lega. Walau rindu setengah mati pada pria itu, tapi untuk berinteraksi sedekat itu dengannya Iren masih belum siap.


Pulang dari serah terima, Iren langsung berangkat menuju kantor. Setibanya di sana, Iren di buat kaget oleh buket bunga yang menumpuk di meja resepsionis.


"Wah, kamu dapat kiriman bunga Ndah?" tanya Iren sembari meneliti bunga yang berada paling dekat dengan tempatnya berdiri.


Indah yang juga berasal dari negara yang sama dengannya itu, menggeleng. "Bukan untuk aku mbak." sahutnya.


"Oh ya. Mbak pikir buat kamu." sahut Iren sembari tersenyum.


"Bunga bunga ini dikirim dari orang yang sama buat mbak Iren." sahut Idah sambil tersenyum.


"Aku?" tanya Iren heran. Sebab bila Kenji atau Glen yang memberikan bunga. Mereka tak pernah titip pada orang, atau jasa antar. Mereka lebih suka menyerahkan bunga itu secara langsung pada Iren.


"Iya mbak."


Iren menarik panjang, lalu mengambil salah satu buket dan memeriksa identitas si pengirim.


Semoga harimu menyenangkan


ALVARO


Iren tertawa pelan, membaca nama Alvaro tercetak dengan huruf besar di ujung kertas.


"Susun bunga bunga ini di sudut ruang." pinta Iren lalu beranjak pergi.


Di dalam ruang kerjanya Iren tak bisa konsentrasi, buket bunga yang dikirim Alvaro menyita perhatiannya. Apa maksud dari bunga bunga itu. Apa itu lambang perpisahan. Sebab saat mereka menjalin hubungan dulu, Alvaro tak pernah mengiriminya buket bunga seindah itu.


Apalagi kata yang tersemat di dalamnya menyiratkan pesan. Tapi Iren berusaha untuk tak ambil pusing. Pekerjaan lebih penting dari urusan hati, sebab masa depan Austin butuh dana bukan cinta.


Menjelang makan siang ponsel Iren terdengar berdering. Walau semenjak pagi ponsel Iren memang tak henti menerima panggilan dari konsumen yang memakai jasanya.


"Halo dengan Irene disini, ada yang bisa saya bantu." sapa Iren dengan sangat sopan.


"Kau sudah makan siang?" tanya pemilik suara Barito disebrang telpon.


Iren mengernyit sembari menjauhkan ponselnya dari telinga. Mengamati nomor yang tertera. Nomor ini tidak tersimpan di daftar kontaknya.


"Belum tapi aku ada janji siang ini dengan seseorang." sahut Iren cepat. Terdengar helaan nafas di ujung telepon.


"Begitu ya, kalau begitu selamat menikmati makan siang mu."

__ADS_1


Tut tut tut.....


"Ck apaan sih!" gerutu Iren. Dia merasa di isengi oleh Alvaro. Ya orang yang barusan menelponnya adalah Alvaro. Mengiriminya bunga lalu bertanya dia sudah makan atau belum, memangnya dia mau apa?


Dia memang ada janji Dengan Keji siang ini. Pria itu sudah buat janji dengannya beberapa hari lalu, tapi baru ter-realisasi kan siang ini.


Dia tidak mungkin membatalkan janji makan siang dengan Kenji. Apa lagi makan siang ini adalah perpisahan untuk Kenji yang akan bertunangan setelah pulang ke negaranya.


Menjelang makan siang Iren sudah bersiap sebab Kenji sedang di perjalanan menjemputnya.


Kedatangan Kenji tentu saja membuat karyawan Iren yang perempuan terhipnotis oleh pesona seorang Kenji. Pria berwajah tampan tapi dingin itu berhenti di meja resepsionis terlebih dahulu.


"Nona Irenenya ada?" tanya pria itu dengan sangat sopan.


"Ada pak, apa bapak sudah buat janji?"


"Sudah. Tolong katakan padanya Kenji sudah menunggunya di lobby." ujar pria itu datar.


"Oh baik akan saya sampaikan."


"Terimaksih." ujarnya lalu beranjak menuju lobi. Tak lama menunggu Iren sudah keluar dari ruang kerjanya menemui Kenji.


"Apa aku bawa lari saja kamu Iren?" ujar pria itu saat mereka sudah di mobil. Iren tertawa mendengarnya. Kalimat ini sering di ucapkan Kenji saat orang tuanya mendesak untuk segera bertungan.


"Aku serius." imbuhnya. Iren kembali tertawa, membuat Kenji gemas.


"Kalau kamu bilang iya, maka aku akan siapkan semuanya." ujar pria itu lagi.


"Kamu akan menyesal pernah mengatakan ini padaku, saat kamu sudah jatuh cinta dengan wanita lain."


" Kamu tau aku bukan lelaki yang selalu bisa menahan diri untuk tidak dekat dengan wanita. Tapi kamu berbeda dengan mereka, padamu aku menginginkan hubungan lebih dari sekedar bersenang senang. Aku menginginkan hubungan yang sakral." ujar Kenji.


"Tapi kita hanya cocok untuk berteman."


"Aku tidak menginginkan hubungan pertemanan dengan mu."


Iren menarik nafas berat, lalu membuang pandangan keluar jendela, dia tidak ingin berdebat dengan Kenji. Percuma, lelaki itu sama dengan Alvaro selalu memaksakan pendapatnya agar di setujui.


"Lelaki itu, apa kau masih mencintainya?" tanya Kenji memecah keheningan. Hati Iren berdetak kencang mendapat pertanyaan seperti itu.


"Dia datang mmenemuimu bukan?" tanya Kenji lagi. Cepat Iren menoleh menatap Kenji.

__ADS_1


"Kalian bertemu?"


Kenji menggeleng. "Belum, tapi mungkin nanti." sahut pria itu dengan seringai.


"Jangan lakukan, gak penting."


"Tentu saja penting." sahut Kenji santai, tanpa menoleh ke Iren. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke depan.


Iren menarik nafas panjang. Pria ini pasti akan melakukan apa yang sudah dia katakan. Dan Iren tak bisa mencegah itu.


Lunch kali ini Kenji bawa Iren ke tempat yang sangat mewah dan terkenal di kita ini. Iren mengomel dalam hati, sebab apa yang dia pakai saat ini sangat tidak cocok dengan tempat mewah ini.


"Kenapa gak bilang kalau mau kemari. Untung saja pelayan mengijinkan aku masuk kalau gak terpaksa aku makan di teras." omel Iren sembari mengekori langkah Kenji. Kenji tersenyum mendengar omelan Iren.


"Maaf." ujar Kenji sembari meraih pergelangan tangan agar sejajar dengan langkahnya.


"Dan ada sedikit kejutan untuk mu." bisiknya sembari mengarahkan pandangan pada sosok di depan sana.


Mata Iren membulat demi melihat sosok Alvaro tengah menatap ke arah mereka dengan sorot mata tajam.


Iren menghentikan langkahnya, menatap Kenji dengan pandangan marah.


"Kau sengaja melakukannya?" tanya Iren geram. Kenji mengangguk sambil tersenyum.


"Come on baby, ini bukan saatnya membangkang." ujar Kenji penuh kelembutan. Walau sebenarnya itu adalah ancaman telak buat Iren.


Iren ingin memaki pria ini dengan kata kata paling kasar, tapi dia malah melangkah menghampiri meja Alvaro. Sementara Kenji tersenyum senang di belakangnya.


"Maaf membuatmu lama menunggu. Aku harus menjemput tunanganku dulu di kantornya." ujar Kenji pada Akeno. Tak ada sahutan dari pria itu, matanya tertuju pada pada Iren. Menyorot dengan tajam, seakan menembus jantung gadis itu.


Kenji menarik kursi untuk Iren, layaknya seperti pria sejati.


"Baby, kau mau makan apa?" tanya Kenji dengan sedikit berbisik. Tapi Iren yakin, Alvaro mendengar kalimat itu dengan jelas. Sebab wajah pria itu terlihat bersemu merah.


"Terserah, kamu saja yang pilih." sahut Iren. Bola matanya yang jernih menatap pria yang sedari tadi hak lepas menatap kearahnya. Ada gejolak dalam sorot mata pria di depannya itu. Entah kenapa Iren merasa sangat puas melihatnya. Gadis itu menarik sudut bibirnya mengukir senyum, membuat jemari Alvaro mengepal erat.


.


Bersambung


Terimakasih kopi dan dukungan dari para readers emak 🙏🙏🥰 Buat emak tambah semangat nulis 💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2