Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 74


__ADS_3

Irene berlari lari kecil sembari menutupi kepalanya dengan tas jinjing yang di bawahnya. Siapa sangka hujan akan selebat ini, padahal matahari masih bersinar terik. Bukan hanya Irene, ada berapa orang yang melakukan hal yang sama.


Gadis itu sedang berada di pusat perbelanjaan. Hujan datang saat dia baru saja meninggalkan mobilnya setelah sekesai di parkir. Karena basemen penuh, Irene terpaksa parkir di halaman mall. Tapi baru saja meninggalkan mobil, mendadak hujan turun mengguyur bumi.


Iren berteduh di samping mall, mengibaskan air yang sempat menempel di gaunnya.


"Gunakan ini." pinta seorang pria sembari menyodorkan sapu tangan untuk Irene.


Irene cepat menoleh ke sumber suara, dan...


"Rey?" ujar Iren, sembari mengerutkan alisnya.


"Aku kebetulan lewat, gak sengaja liat kamu kehujanan. Tadinya aku mau cariin kamu payung. Tapi kamunya keburu lari, jadi ya udah aku tungguin kamu neduh." jelas pria itu dengan ekspresi ramah. Tangannya masih terulur, sebab Iren belum menerima saputangan dari Rey.


"Cepat ambil." pinta Rey lagi. Iren meraih sapu tangan berwarna dongker itu dan mulai mengeringkan wajahnya yang basah terkena air hujan.


"Iren kau sudah makan siang?" tanya Rey, tiba tiba. Iren yang sedang mengeringkan wajahnya, berhenti sejenak menatap Rey. Dia berpikir sejenak lalu mengangguk ragu. Sebab tujuannya datang kesini memang untuk makan siang. Ada gerai ayam goreng kas tanah air yang sangat Iren suka. Dan siang ini dia ingin memakannya.


"Kalau begitu temani saja aku makan." ujar Rey, meminta.


"Aku ada keperluan mendesak, kau makan saja sendiri." tolak Iren. Dia tak ingin ada masalah setelah makan siang bersama Rey nanti.


"Ini tidak akan lama, atau aku akan mengikutimu sampai urusanmu selesai."


Iren terdiam sembari membalas tatapan lembut Rey. "Rey, kau taukan Alvaro tidak menyukai kita berinteraksi terlalu dekat? Jadi aku minta..."


"Aku tidak perduli. Kakak angkatmu itu yang harus mengerti. Bahwa kau bebas menentukan dengan siap kau jalan. Kita cuma teman bukan? Lalu kenapa sikapnya berlebihan begitu?!" potong Rey, dengan suara sangat tenang. Walau sorot matnya menyiratkan kemarahan.


Iren mendesah berat, dia sudah terlanjur terlibat dengan pria ini. Mau tak mau dia harus menghadapinya.


"Baiklah, aku juga ingin makan sesuatu." sahut Iren, lalu beranjak masuk kedalam menuju gerai ayam goreng yang tadi ingin dia datangi. Di belakangnya, Rey mengikuti langkah kakinya sembari tersenyum tipis.


Beruntung saat mereka sampai di gerai, pengunjung tidak terlalu banyak. Jadi tak harus antri terlalu lama.


Iren membawa nampan berisi pesanannya mencari tempat duduk yang dianggapnya nyaman. Sementara Rey mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Iren memilih bangku nomor sepuluh, yang berada di tepi. Mereka duduk berhadapan.


"Makanlah, apa kau hanya ingin melihat ku saja?" tegur Iren. Saat Rey hanya menatapnya tanpa menyentuh makanannya yang hampir dingin.


Rey tersenyum, lalu beralih pada ayam goreng di hadapannya. Kemudian mulai menyantapnya perlahan.


"Aku dengar kalian akan menikah?" tanya Rey, membuka percakapan.


Iren mengangkat wajahnya menatap Rey yang juga menatap kearahnya. "Kau sudah dengar berita itu rupanya." sahut Iren, lalu kembali melanjutkan makannya.


"Perbuatan kejam lelaki itu, tidakkah meninggalkan luka di hati mu? Kau juga berhak bahagia Iren." ujar Rey, dengan suara rendah.


Iren hanya diam, menikmati ayam goreng di piringnya. Dia tak ingin menyahuti perkataan Rey, yang pasti bakal jadi pembahasan panjang.


Karena menurut pandangan orang lain, Alvaro tak layak di beri kesempatan setelah apa yang dia lakukan dulu. Tapi hati Iren berkata lain.


Rey menarik nafas dalam, lalu tersenyum sembari menatap Iren di depannya. Kenapa bukan dia yang di cintai Iren sebesar ini. Dia juga ingin di cintai oleh gadis yang membuat kehidupannya kacau balau begini. Andaikan ada sedikit saja cela, dia pasti jadi orang paling bahagia di muka bumi ini.


"Abis ini mau kemana?" tanya Rey. Matanya yang tajam tak lepas memandang Iren.


"Aku temenin ya?"


"Gak usah."


"Pokoknya aku temeni."


Iren mendesah berat, lalu. "Terserah." sahut Iren akhirnya. Sorot mata menentang dari Rey mana mungkin bisa mencegah keinginannya.


Tak berapa lama keduanya terlihat sedang membeli beberapa cemilan yang di sukai Austin. Tidak memakan waktu lama, karena memang Iren mempersingkat waktu belanjanya agar tak berlama lama berdua dengan Rey. Atau Alvaro tiba tiba datang menemui mereka.


"Biar aku bawa," pinta Rey, saat Iren mengambil belajaan dari meja kasir.


"Tidak usah, biar aku saja." potong suara berat milik Alvaro, saat Rey mengulurkan tangannya hendak mengambil paper bag di tangan Iren.


Keduanya kompak menoleh ke sumber suara. Wajah kelam Alvaro membuat Rey menyeringai senang.

__ADS_1


"Wah lihatlah siapa ini? Kau sudah mirip detective swasta yang selalu memantau keberadaan Iren." cibir Rey. Alvaro tak menyahut. Hanya sorot matanya yang tajam seakan memaksanya untuk segera pergi dari hadapan Iren.


Iren yang tau gelagat tak baik dari dua pria di hadapannya, langsung menghampiri Alvaro. Menyentuh lengan pria itu untuk meredam amarah yang terlihat jelas dari sorot matanya.


"Kak, dengan siapa kakak kemari?" Tanya Iren berusaha mencairkan suasana. Lelaki berwajah rupawan itu beralih menatap Iren. Sama seperti tadi, bibir tipisnya terkunci rapat rapat.


Tanpa kata, Alvaro menarik pergelangan tangan Iren melewati Rey yang pasang wajah sumringah.


Langkah Alvaro baru berhenti setelah mereka berada di tempat parkir.


"Masuklah," ujarnya dengan suara berat. Setelah membukakan pintu untuk Iren. Iren masuk dengan patuh.


"Ke hotel pak." titahnya.


Suasana dalam mobil ini terasa sangat kaku. Alvaro hanya diam sembari menatap lurus kedepan. Entah apa yang ada dalam benak pria itu. Iren tak bisa membacanya.


Tapi tak ada rasa kesal sama sekali di hati Iren oleh sikap Alvaro. Wanita berparas ayu itu malah menyunggingkan senyum sembari menatapi wajah kekasihnya itu.


Lelaki itu terlihat sangat seksi saat menahan marah. Urat urat yang menonjol di rahangnya yang keras, membuatnya ingin menyentuh tanpa permisi.


Cup!


Iren mendaratkan bibirnya di pipi Alvaro. Refleks pria itu berpaling menatap Iren dengan wajah merona. Manis sekali.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya gugup. Seperti pria yang tidak berpengalaman oleh sentuhan wanita. Wajahnya bahkan bersemu merah. Sungguh menggemaskan.


Iren tak menyahut, dia mengulang kembali apa yang tadi dia lakukan. Kali ini bibirnya menyentuh sekilas bibir merah milik Alvaro.


Lelaki itu terpana, menatap Iren penuh binar. Lalu dia tertawa sembari mengusap wajahnya yang bersemu merah. Iren memperdaya dirinya dan dia terpedaya.


"Kau mencoba merayuku dengan cara seperti itu?" ujar lelaki itu, sembari menatap wajah Iren. Bulu mata Iren yang lebat dan lentik terlihat mengerjab berulang kali, lalu kepalanya mengangguk pelan.


"Kakak tidak suka?" tanyanya manja, sembari bergelayut pada lengan kokoh Alvaro. Membuat Alvaro semakin terpana.


"Pak, apa tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya pria itu pada sopir pribadinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2