
Iren mengaduk teh hangat di dapur sembari menatap ruang tamu. Pria yang biasanya angkuh dan arogan itu terlihat sangat kuyu dan layu. Dia duduk sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seumur hidup Iren selama dia mengenal Alvaro, lelaki itu tak pernah terlihat sekacau ini.
"Ini kak di minum dulu." ujar Iren sembari menaruh gelas berisi teh hangat di atas meja.
Alvaro menurunkan telapak tangannya, lalu menatap wajah Iren di hadapannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu. Tapi tiba tiba saja aku sudah berada di depan pintu apartemen mu." ujar Alvaro gugup. Dia tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya.
"Its oke." sahut Iren dengan sangat tenang.
"Jangan beri tahu Kenji tentang hal ini." sahut pria itu lagi. Membuat kening Iren mengerut. Tapi kemudian dia ingat kejadian tempo hari saat Kenji memperkenalkan dirinya sebagai tunangannya.
"Aku hanya ingin melihat anakku." imbuhnya. Iren tersenyum sambil mengangguk.
"Aku juga tidak mau dia tau akan hal ini. Dia pasti tak senang bila tau tunangannya di kunjungi pria malam malam begini." ujar Iren.
"Ya kau benar." lirih Alvaro, dia terlihat sangat kacau saat ini.
"Di minum tehnya, setelah itu kakak harus pulang. Ini sudah sangat larut untuk bertamu. Aku tidak mau Kenji salah paham." ujar Iren. Membuat tatapan Alvaro menghujam kearahnya lelat lekat.
"A-aku hanya ingin melihat wajahnya sebentar saja. Aku janji tidak akan menggangunya." pintanya terdengar memohon.
Iren menarik nafas dalam. "Baiklah ayo ikut aku." ujar Iren. Membuat Alvaro mengangkat wajahnya, menatap Iren penuh binar.
Dia bergegas bangkit saat Iren beranjak menuju kamar Austin. Iren membuka handle pintu dengan hati hati, tapi tak langsung masuk.
"Jalan pelan pelan, pendengaran Austin sangat sensitif walau saat tidur. Kakak gak mau mengejutkan dia bukan?" ujar Iren. Seperti bocah yang sedang di beritahu ibunya agar tak melakukan kesalahan. Alvaro mengangguk patuh.
"Namanya Austin?" tanya Alvaro sebelum melangkah masuk.
"Hmmm." sahut Iren.
Dalam cahaya temaram Alvaro berdiri kaku di samping tempat tidur Austin. Bocah itu tidur miring sembari memeluk guling. Wajahnya benar benar duplikat Alvaro.
"Dia putranku." gumam Alvaro. Dia ingin menyentuh wajah anak itu. Tapi takut gerakannya membangunkan bocah itu.
Cukup lama dia berdiri disana sembari menatap Austin. Sampai Iren mengajaknya keluar. Alvaro tetap patuh, mereka keluar kamar dengan perlahan.
__ADS_1
Sampai di ruang tamu, Alvaro menghentikan langkahnya menatap Iren.
"Iren, aku akan menemui Austin secara langsung. Dia harus tau bahwa aku adalah ayahnya. Dan kau tidak berhak menghalangi Austin untuk tau siapa ayahnya."
"Setelah kakak mau apa? Mau merampas Austin dari genggaman ku?"
"Hey, kau bicara apa? Aku hanya ingin memperkenalkan diri sebagai ayahnya."
"Pegang ucapan kakak itu."
"Tentu saja." sahutnya sembari menatap wajah Iren lekat lekat.
"Iren."
"Hhmm."
"Aku rindu padamu." ujar Alvaro sembari mendekat. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk tubuh mungil itu dalam rengkuhannya.
"Sudah malam kakak pulanglah." ujar Iren mengabaikan ucapan Alvaro. Dia berjalan melewati pria itu menuju pintu.
Tapi baru beberapa langkah tubuhnya di tarik Alvaro kedalam rengkuhannya. Pria itu memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat. Iren terbelalak kaget, tubuhnya seketika kaku tak mampu bergerak. Ada glenyar halus menjalari sekujur tubuhnya.
"Kak. Kakak tidak boleh melakukan ini padaku. Ingat aku sudah bertunangan." ujar Iren setelah menemukan seluruh kesadarannya.
Alvaro pelan pelan mengendurkan pelukannya, lalu melepas tubuh hangat itu dengan perasaan tak rela.
"Maaf. Hhhh, aku terlalu terbawa perasaan tadi." ujarnya, lalu beranjak menuju pintu. Iren mengikuti langkah Alvaro dari belakang, menatap punggung lebar itu dengan perasaan tak menentu. Empat tahun dia tenggelam dalam lautan rindu pada pria yang telah menghancurkan hidupnya. Seperti sebuah kutukan baginya, merindukan pria yang telah melakukan hal kejam padanya. Tapi itu yang dia rasakan selama hampir lima tahun ini.
Alvaro menghentikan langkahnya di ambang pintu. "Besok aku datang untuk bertemu Austin, aku akan memberitahu Austin secara perlahan. Tolong biarkan aku dekat dengannya, sebelum memberitahu Austin bahwa aku ayahnya." ujar Alvaro, sembari menatap bola mata Iren. Iren tertegun oleh sorot mata Alvaro. Harusnya pria itu memandangnya dengan sorot mata seperti ini dari dulu. Mungkin dia takkan pergi menghilang seperti ini.
"Baiklah, kakak boleh melakukannya. Sekarang pulanglah. Hati hati dijalan." ujar Iren sembari tersenyum. Alvaro mengangguk setuju, lalu beranjak pergi meninggalkan Iren yang terus menatap kearahnya.
Iren menutup pintu apartemennya, lalu bersandar di sana dengan tubuh gemetar. Berpura-pura pura tidak memiliki perasaan apapun lagi sungguh menguras energinya, hingga tubuhnya menggigil lemas.
"Alvaro, kau pria breng sek! Sampai sekarang kau masih menyiksaku dengan perasaan ini." umpat Iren geram. Secara logika dia ingin mengabaikan pria itu. Tapi hati dan tubuhnya selalu tidak singkron dengan logika.
* * * * * *
__ADS_1
Seperti kata Alvaro tadi malam dia benar benar datang menjelang sarapan pagi. Sebelum Alvaro datang, Iren sudah memberitahu Uty siapa pria ini.
"Masuklah," ujar Iren pada Alvaro yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya sepagi ini.
"Terimakasih." sahutnya lalu melangkah masuk melewati tubuh Iren.
"Kakak tunggu saja di meja makan, aku akan panggil Austin."
"Oke." Alvaro melangkah ke ruang makan, menunggu di sana.
Tak berapa lama Iren datang bersama Austin yang sudah memakai baju seragam sekolah.
"Hay," sapa Alvaro, wajahnya terlihat ramah dan sangat lembut saat menatap Austin. Membuat Iren heran.
"Hay paman." sahut Austin ramah. Sebelum kesini, mamanya sudah memberi tahu bahwa ada teman mamanya yang akan menemani Austin kesekolah.
"Duduk dan makan sarapanmu. Austin akan pergi bersama paman ini, hari ini Austin tidak perlu naik bus kesekolah." ujar Iren sembari menarik kursi untuk putranya.
"Bus? Kau membiarkan Austin naik bus kesekolah?!" tanya Alvaro sedikit marah. Membuat semua mata tertuju padanya. Menyadari intonasinya yang mengagetkan Austin dia cepat minta maaf.
"Ah maaf, maksudku dia terlalu kecil di biarkan naik bus sendiri. Harusnya dia di antar kesekolah." ujarnya dengan intonasi berbeda.
"Austin di bus nya rame rame kok paman. Gak sendiri." sahut bocah itu meluruskan kalimat Alvaro.
"Oh ya, tapi tetap saja Austin harusnya di antar saat kesekolah."
"Iya sih, tapi mama sibuk." sahut bocah itu menyetujui ucapan Alvaro. Membuat Iren membulatkan matanya menatap Austin. Bisa bisanya bocah itu langsung membentuk tim untuk melawannya.
"Oh ya paman, apa paman suka coklat?" tanya Austin tiba tiba.
Alvaro mengagguk sembari tersenyum. Kemudian pria itu merogoh sakunya mengeluarkan dua batang coklat dengan dua varian rasa.
"Ini untuk mu."
"Wahh, terimakasih paman." sahut Austin sumringah.
Alvaro mengagguk senang. Ternyata apa yang di sarankan Kenan benar benar ampuh menarik simpati Austin. Tak percuma dia memaki dan mengumpat pria itu karena menyembunyikan informasi berharga darinya. Dan gantinya pria itu memberinya saran yang sangat bagus.
__ADS_1
.
Bersambung