
Iren menatap ujung sepatunya dengan jantung berdebar. Saat ini dia berada di halaman rumah sakit. Dia sudah buat janji dengan dokter kandungan.
Test kemarin malam masih belum dia yakini kebenarannya. Dia harus memastikan dengan benar. Baru berpikir langkah apa yang harus dia ambil.
Setengah jam kemudian, Iren sudah keluar dari ruang dokter kandungan dengan tubuh layu. Wajah gadis itu terlihat sangat prustasi. Hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia benar-benar hamil, masa kehamilannya baru sekitar enam minggu. Dia tidak tau harus senang atau sedih. Jujur saja, dia sendiri tidak menginginkan kehamilan ini. Apalagi Alvaro.
Selesai dari rumah sakit Iren langsung pulang. Dia ingin rebahan di kasur sambil menangis. Alvaro tidak akan datang malam ini. Dia ada undangan perjamuan makan malam bersama Tery. Jadi pria itu tidak mungkin mengunjunginya.
Entah apa yang harus dia lakukan dengan janin dalam rahimnya setelah ini. Dia tidak punya teman untuk berbagi, atau sekedar memberinya saran. Alvaro selalu membatasi pergaualanya. Bahkan Hilda juga di buatnya perlahan menjauh. Mau tidak mau dia mengatasi masalah ini seorang diri.
Iren merebahkan tubuhnya sembari mengusap lembut perutnya yang rata. Ada getar halus saat menyentuhnya, hatinya seperti menghangat. Dia hidup tanpa saudara kandung, walau memiliki saudara angkat juga sepupu. Tapi hubungan mereka sangat jauh. Saat tinggal di rumah bibirnya dulu. Dia kerap kali dianggap beban. Hingga tak ada kenangan manis tentang saudara kandungnya.
Lalu sekarang, dalam rahimnya telah dititipkan segumpal daging yang bernyawa. Yang akan menjadi darah dagingnya sendiri. Anak yang bakal jadi teman hidupnya kelak. Karena tak kan ada yang bisa dia harapkan dari seorang Alvaro. Pria itu akan melupakannya saat dia telah menikahi Tery. Sanggupkah dia melenyapkan janin tak berdosa ini, hanya demi menuturi ego pria itu.
Iren mehela nafas berat, sudut matanya berair. Hatinya juga terasa berdenyut sakit. Andai dia bisa mengulang waktu, dia ingin buahatinya hadir dari hasil cinta kasih kedua orang tuanya. Bukan seperti yang terjadi saat ini.
Perlahan gadis itu terisak, tergugu dalam tangis. Bingung dan tak tau apa yang harus dia lakukan, membuatnya Iren frustasi. Lalu tanpa sadar dia terlelap dalam mimpi.
Di tempat lain, Alvaro baru saja mengantarkan Tery pulang ke apartemennya.
"Kau tidak mau mampir?" tanya Tery, penuh harap. Alvaro menggeleng. "Kau tau aku tidak bisa melakukan apa pun padamu. Jadi percuma saja aku mampir."
"Kita bisa ngobrol sepanjang malam." bujuk Tery.
Alvaro menatap Tery lekat lekat. "Kau harus cari pria lain kalau mau melakukan itu. Aku bukan pria yang bisa kau ajak ngobrol saat tengah malam." ujarnya datar.
"Apa salahnya kita coba sesekali. Siapa tau kau bisa melakukannya." bujuk gadis itu lagi.
"Aku bisa saja melukaimu. Aku selalu hilang kendali saat di ranjang, kecuali dengan Iren."
"Hahh, Iren. Lagi lagi Iren." dengus Tery kesal. Dialah tunangan Alvaro, kenapa malah Iren yang mendapat banyak perhatian.
"Jangan berdebat tentang hal itu lagi. Kalau kau tidak kuat, kau bisa mundur. Sudah masuklah, aku lelah." ujar Alvaro, lalu beranjak pergi.
Tery menggeram marah, sampai kapan dia harus bersabar. Melihat Alvaro terus menyambangi Iren. Dia tak kan tahan menunggu jadi istri Alvaro hanya untuk menyingkirkan gadis itu.
__ADS_1
Mobil Alvaro melaju menuju apartemen. Kemana lagi tempat tujuannya pulang. Kalau bukan ke sisi Iren. Dengan hanya melihat gadis itu terlelap di atas ranjang, hatinya terasa sangat tenang.
Satu jam kemudian dia sudah berada di apartemen. Kedatangannya di sambut oleh Sita. Gadis itu memakai baju tidur dengan bahan sedikit transparan.
"Sedang apa kau?" tanya Alvaro saat gadis itu mengulurkan tangannya.
"Berikan tas tuan, biar saya simpan." sahutnya sembari tersenyum nakal. Melihat itu tubuh Alvaro meremang.
Alvaro memberikan tasnya seperti yang Sita minta. Sita seperti sengaja menyentuh tangan Alvaro saat mengambil tas dari tangannya. Rahang pria itu mengeras, dia bisa melihat motif tersembunyi gadis bi nal ini.
"Dimana Iren?" tanyanya, masih berusaha bersikap tenang.
"Dia dikamarnya, mungkin sudah tidur. Tuan mau saya buatkan kopi?" tanya Sita, suaranya terdengar sedikit mendesah. Lelaki manapun yang mendengarnya suara itu, pasti terbit hasratnya.
"Buahlah." sahut Alvaro, lalu beranjak ke sofa. Lima belas menit kemudian Sita datang dengan secangkir kopi hangat.
"Silahkan di diminum tuan." ujar gadis itu sembari menempatkan tubuhnya di samping Alvaro. Dengan pose yang begitu menantang. Gaun transparan dengan belahan dada rendah itu benar benar cantik membungkus tubuh moleknya.
"Sita." panggil Alvaro.
"Kau tau apa jang kau lakukan?"
"Tentu saja. Aku pandai dalam segala hal. Termasuk memuaskan tuan," sahutnya, sembari menempelkan jari telunjuknya ke dada Alvaro.
Dengan sorot mata penuh binar, Sita sedikit memajukan tubuhnya. Mengikis jarak di antara mereka. Jari lentik gadis itu bergerak turun ke bawah. Segala gesturnya benar benar profesional guna menarik perhatian pria.
Dalam cahaya temaram, Alvaro memindai gerak nakal Sita dengan perasaan geram. Dia tak menduga, sikap terbuka Sita ternyata karena dia pemain handal.
Dengan gerakan cepat, Alvaro menangkap tangan Sita yang sudah menyentuh pusarnya. Menarik tubuh gadis itu dengan sangat kasar ke sisinya. Lalu mengungkung tubuh sintal itu tepat di bawahnya. Sita menyeringai, merasa di atas angin karena dia pikir Alvaro menangkap umpannya. Tapi beberapa detik kemudian, wajah cantiknya mendadak memerah. Saat jari-jari kokoh Alvaro melinkari leher rampingnya dengan begitu erat. Alvaro mencekiknya.
Kini giliran Alvaro yang menyeringai. "Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhku tanpa izin dariku. Rupanya kau tidak tahu ya." geramnya, membuat giginya merapat erat.
Sita membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar berusaha menghirup udara. Sementara jari jari lentiknya berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh Akvaro.
Pria itu tak bergeming, dia menatap Sita dengan sorot mata dingin. Lalu tiba tiba terdengar suara Iren memanggilnya.
__ADS_1
"Kak." panggil Iren dengan sorot mata berang. Dari tempatnya berdiri, Iren tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
"Jadi ini yang kakak lakukan di belangku hah!" pekik Iren sembari berhambur mendekati mereka. Dia sudah mengangakat tangannya ingin menghajar Alvaro, tapi tanganya mengambang di udara. Matanya nyalang menatap posisi tangan Alvaro di leher Sita.
"Apa yang kakak lakukan!" pekik Iren, dia menarik tubuh Alvaro sekuat tenaga.
"Pergilah! Aku ingin dia mati." geram Alvaro. Iren gemetar, mungkin Sita sudah benar benar mati, sebab gadis itu sudah tak bergerak lagi.
"Kak." panggil Iren sembari memeluk tubuh Pria arogan itu dengan tubuh gemetar. Alvaro seperti menemukan kembali kesadarannya, dia melepas tangannya dari leher Sita.
"B-Bagaiamana kalau dia benar benar mati." bisik Iren masih dengan posisi memeluk tubuh belakang Alvaro.
"Kalau dia mati kubur saja." sahut Alvaro datar.
"Kak, dia manusia. Bukan binatang." ujarnya dengan tubuh gemetaran.
Alvaro menarik tubuh Iren kearahnya. "Kenapa tubuhmu gemetaran?" Tanya pria itu khawatir.
"Jangan pedulikan aku, cepat tolong Sita. Aku tidak mau kakak membunuh orang." ujar Irene dengan air mata berderai. Tubuh Sita yang belum juga bergerak membuatnya ketakutan setengah mati.
"Sh it!" umpat Alvaro geram. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Doktrer pribadinya.
Tak berapa lama Dokter datang bersama asisten pribadinya.
Iren duduk di sofa tak jauh dari tubuh Sita sambil terus menangis. Membuat Alvaro geram. Kalau bukan karena Iren, dia akan benar benar membuat Sita memegang nyawa.
"Apa dia sudah mati?" tanya Alvaro datar. Membuat Iren membulatkan matanya menatap Alvaro.
"Dia masih hidup, tapi keadaannya kritis tuan. Harus di bawa ke rumah sakit." jelas dokter Alvaro.
Alvaro menatap asisten pribadinya. "Kau urus dia. Jangan sampai menimbulkan masalah. Padahal aku ingin dia mati." gerutu pria itu.
Iren melototkan matanya menatap Alvaro. Apa dia menganggap nyawa Sita seperti nyawa nyamuk. Tak berharga?
.
__ADS_1
Bersambung