
Alvaro masuk kedalam rumah dengan langkah gontai. Dia malas pulang ke apartemen ini, tapi hatinya rindu. Rindu bayang bayang Iren yang masih tertinggal di sini. Rindu aroma tubuhnya yang masih melekat di kamar ini.
Sudah sebulan lebih gadis itu menghilang di telan bumi. Tapi Alvaro tak mau berputus asa, dia yakin bisa menemukan Iren di suatu tempat di negara ini.
Sebulan ini dia sudah mengerahkan banyak uang juga tenaga hanya untuk mendapatkan Iren kembali.
Alvaro memutar handle pintu kamar mereka dengan gerakan perlahan. Dia selalu berharap, saat membuka pintu ini dia akan melihat sosok Iren di dalam sana.
Ceklek...
Pria berwajah tampan itu tersenyum kecut. Saat mendapati kamar itu tetap kosong seperti kemarin. Dia melangkah masuk berjalan menuju ruang ganti. Sampai di sana dia tak langsung berganti baju, dia berdiri tepat di depan lemari baju milik Iren. Menyentuh baju baju yang di tinggal gadis itu dengan perasaan tak menentu.
Dia tak tau kalau perasaannya terhadap gadis itu sedalam ini. Lebih baik dia mati dari pada harus kehilangan Iren seperti ini. Apa lagi gadis itu menghilang membawa darah dagingnya.
Dia pikir pengakuan Iren adalah kebohongan. Akibat dari rasa ketakutannya hingga dia melakukan itu. Lalu dengan tanpa perasaan dia mengatakan bahwa itu bukanlah anaknya. Kini dia tau seperti apa luka hati Iren pada saat itu.
Setelah berganti baju, Alvaro merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit langit, mengukir kenangan indahnya bersama Iren.
Tiba tiba ponselnya berdering, itu pasti telpon dari mamanya atau mungkin dari Tery.
Seharian ini dia memang mengabaikan panggilan telpon dari mama dan papanya.
"Halo ma?"
Terdengar helaan nafas berat dari sebrang sana. "Alvaro kamu di mana?"
"Di apartemen ma."
Kembali terdengar helaan nafas berat dari sebrang telpon. "Kenapa kau membatalkan pertunangan? Kalau kalian bertengkar kan bisa baikan lagi. Bukankah itu biasa dalam hubungan. Kau tau mama dan papa pasangan menikah saja sering bertengkar. Tapi bukan lantas harus bercerai kan?"
"Hhhh, maaf ma. Ini bukan masalah seperti itu. Tapi masalah dalam hubungan kali lebih rumit dari apa yang mama pikirkan."
"Apa pun itu, kamu harus ingat tujuanmu di jodohkan dengan Tery. Kita berhutang nyawa pada kakak Tery, demi menyelamatkan nyawamu dia sampai rela kehilangan nyawa."
"Aku ingat ma, tapi maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan itu dengan Tery. Dia telah melakukan kesalahan besar, dan aku tidak bisa mentolerir itu."
"Apa semua itu karena Iren?" tebak mama tiba tiba. Alvaro menarik nafas dalam. Akhirnya Tery mengadu juga dengan mamanya.
"Alvaro, apa yang dikatakan Tery itu benar?" tanya mama mulai panik, wanita paruh baya itu berpikir kalau Tery hanya cemburu berlebihan. Tapi reaksi Alvaro membuatnya takut.
__ADS_1
"Hmmm."
"Apa kau gila?! Dia adik angkatmu!"
"Aku tau, tapi aku tidak bisa mengontrol perasaan ku padanya."
"Biarkan mama bicara dengan Iren. Masih belum terlambat mengakhiri semuanya. Kau bisa memulai hubungan baru dengan Tery."
Alvaro menghempas nafasnya dengan kasar. "Aku kehilangan Iren, dia mengandung ank ku ma." akunya lemas.
"Apa?!"
"Kau membuat Iren hamil? Apa kau sudah gila. Dia adik angkatmu Alvaro."
"Aku tau, aku memang gila dan brengsek. Tapi aku pikir ini adalah hukum karma buat mama."
"Aku? Kenapa kau malah menyalahkan aku? Tidak tau sifat bejatmu itu menurun dari mana?!" umpat mama geram.
Alvaro terkekeh mendengar ucapan mamanya. "Tentu saja dari mama, lalu dari mana lagi."
"Apa kau bilang?"
"Apa maksudmu. Apa karena perlakuan papamu pada kakak mu Glen. Kau jangan salah paham, papa sedang menghukum Glen makanya bersikap seperti itu."
Alvaro kembali menarik nafas dalam. "Aku melihat semua yang mama lakukan dengan paman." ujarnya dengan suara pelan. Mengingat kejadian itu membuat perutnya mual.
"A-Apa maksudmu Varo?"
"Sudah sangat lama, tapi aku masih ingat. Bagaimana bejatnya kelakuan kalian berdua, kalian melakukannya di samping papaku yang sedang tertidur lelap karena obat tidur." desis Alvaro, rahangnya mengeras, jari jemarinya mengepal saat mengatakan itu.
"Alvaro kau...." ucapan wanita paru baya itu terjeda. Entah bagaiamana keadaannya saat ini disana.
Alvaro tertawa sinis, dia berusaha melupakan kejadian itu seumur hidupnya. Kejadian yang membuatnya tak bisa menyentuh wanita dengan normal karena kebenciannya pada mamanya.
"Apa mama sudah ingat sekarang. Dan mama sudah bisa menyimpulkan sifat bejat siapa yang menurun pada darahku?" cibir Alvaro, sudah sangat lama dia menyimpan kalimat ini. Untuk di utarakan pada mamanya.
Terdengar isak tangis dari sebrang sana. Alvaro hanya tersenyum sinis. Papanya pria jujur dan penyayang, sampai sampai rela mengakui Glen yang jelas jelas bukan anaknya.
Mamanya sudah mengandung Glen saat papa dan mamanya masih bertunangan. Dan terpaksa menikah karena hal itu. Papanya yang sangat jujur dan baik hati, tidak tau kalau mamanya punya affair dengan adik kandungnya. Bahkan ketika Glen lahir dan anak itu sangat mirip dengan wajah adiknya itu dia tak curiga. Bagi kerabat dekat hal yang wajar bila salah satu anak kita ada yang mirip dengan mereka. Begitu yang papanya pikirkan saat itu.
__ADS_1
Hingga Akvaro lahir hubungan mereka ternyata terus berlanjut secara diam diam. Bahkan sampai Alvaro beranjak remaja.
Malam itu, tak sengaja Alvaro pulang larut malam. Dia memang berandal saat remaja. Dan Glen lah yang selalu menutupi kenakalannya.
Biasanya saat dia pulang malam, Glen lah yang akan diam diam membukakan pintu. Tapi malam itu Glen kelelahan dan tak terbangun oleh dering telpon. Dengan terpaksa Alvaro harus tidur di paviliun.
Tak disangka disanalah pertama kali dia melihat kebejatan mamanya. Dan dari malam itu Alvaro terus mengintai pergerakan mama dan pamannya. Dia pula yang membuat hubungan mereka terbongkar di depan papanya. Tapi dia bersikap seolah dia tak tau segalanya.
Tapi sialnya perbuatan mamanya mempengaruhi mental Alvaro dalam berhubungan dengan wanita. Kebenciannya pada mamanya dia lampiaskan pada pasangan se ks nya. Sampai suatu hari dia melihat keindahan Iren tanpa sengaja. Saat itu dia pulang kerumah setelah sepuluh hari tak menginjak rumah.
Dalam cahaya temaram dia melihat adik angkatnya itu berenang dengan memakai baju renang yang sangat seksi. Mungkin karena penghuni rumah ini tidak ada di rumah, makanya Iren berani memakai baju renang seseksi itu. Sebab biasanya gadis itu sangat tertutup.
Mulai hari itu, dia mulai terobsesi pada Iren. Dan bisa di tebak selanjutnya apa yang terjadi.
"Alvaro mama minta maaf." lirih mama di antar sesegukan karena tangisnya. Alvaro hanya diam, dia benci mamanya hingga saat ini. Dia benci mengetahui kenyataan bahwa dia lahir dari rahim wanita tak bermoral. Dia juga benci bahwa darah kotor mamanya mengalir dalam darahnya.
"Alvaro jadi bagaimana dengan Iren?" tanya mamanya lagi.
Alvaro menarik nafas berat. "Tery sudah berhasil membuat Iren menghilang bersama anak ku."
"Apa?! Cari dia Alvaro. Kasian anak itu."
"Aku tau ma, itu yang sedang aku lakukan sekarang."
Terdengar tarikan nafas panjang dari sebrang telpon. "Alvaro, mama benar benar minta maaf. Karena mama hidup mu jadi begini. Mama tidak tau harus melakukan apa untuk menembus kejahatan mama pada kalian." ujarnya lirih.
"Tidak perlu melakukan apa apa, semua sudah berlalu. Aku hanya berharap, kedepannya mama jangan lagi ikut campur masalah pribadiku. Masalah hutang nyawa ku pada kakak Tery, aku akan membayarnya dengan caraku sendiri."
"Hhhh, baiklah. Terserah padamu saja. Tapi mama mohon temukan Iren. Dia tak punya siapapun yang bisa melindungi dirinya. Keluarga memperlakukannya dengan sangat buruk. Jangan sampai dia kembali lagi ke keluarganya. Bagaimana pun caranya kau harus membawa dia kembali kerumah kita. Kita akan bicara lagi kalau Iren sudah ketemu."
"Baik ma, akan aku kabari lagi nanti."
"Alvaro, maafkan mama."
"Hmmm."
.
Bersambung
__ADS_1