
Rey mengawasi Iren dengan sorot matanya yang tajam. Iren sedang menerima panggilan dari seseorang. Tapi dari caranya bicara Rey tau siapa yang menelpon.
"Siapa? Alvaro?" tanyanya dengan gerak bibir. Iren tak menyahut, dia hanya menatap Rey sembari mendengarkan si penelpon. Dia tampak bingung harus jawab apa. Sedang Alvaro terus saja melontarkan berbagai pertanyaan.
Matanya tampak berbinar saat Iren menjawab pertanyaan Alvaro, dari jawaban Iren dia bisa menebak bagaimana peraan Alvaro saat ini. Hatinya pasti terbakar saat melihat Iren tengah bersama dengannya. Memikirkan hal itu membuat hatinya senang.
"Maaf Rey, apa bisa kita bicara bisnis sekarang. Aku ada janji makan siang dengan Alvaro." ujar Iren sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu menatap pria di depannya lekat lekat. Iren bukan gadis lugu lima tahun yang. Dia wanita yang bersinar di dengan karir yang di gelutinya saat ini. Orang seperti itu tentu saja memiliki banyak keahlian, salah satunya membaca situasi dan keadaan. Juga berusaha membaca pikiran lawan bicaranya, hanya dengan sorot mata.
"Kita akan bicara setelah makan siang," sahut Rey santai.
Iren tampak berpikir, dia tau saat ini Alvaro pasti sedang mengawasinya. Kalau dia pergi makan dengan Rey, Alvaro pasti akan bertindak. Dia tau dua pria ini memiliki dendam kesumat yang belum terselesaikan.
"Kita akan bahas sekarang, atau kita undur besok." Tegas Iren. Membuat Rey berdecak kesal. Iren bahkan bisa melihat kilatan amarah pada sorot mata pria itu. Tapi pria itu masih bisa tersenyum dengan sangat ringan tanpa paksaan.
"Baiklah, karena kau yang pegang kendali. Maka aku harus nurut kan?" ucapnya, sembari menyondongkan tubuhnya ke depan. Mengikis jarak antara mereka berdua, Iren bahkan bisa merasakan nafasnya yang hangat menerpa wajah mulusnya.
Iren menarik tubuhnya kebelakang, membuat jarak dengan Rey sebisanya. Dia tak ingin memprovokasi Alvaro dengan tindakan Rey. Walau dia tak yakin Alvaro bisa menahan diri melihat ini.
Bukannya menjauh, Rey malah bertopang dagu sembari menatap lembuat wajah risau Iren. Dia benar benar menikmati kepanikan Iren, dengan mata penuh binar.
"Ayo mulai," pintanya tanpa beralih pandang.
Iren menarik nafas dalam sebelum membuka laptopnya. Berusaha menenangkan hatinya yang berkecamuk. Lalu mulai menjelaskqn detail rancangannya pada Rey, dengan serius. Sedang pria itu terlihat santai menikmati wajah cantik Iren, dengan kilatan hasrat pada sorot matanya. Andai itu Alvaro, Iren dengan senang hati menerima tatapan menggoda itu. Tapi ini Rey, walau pernah menjalin hubungan tapi kini Iren sama sekali tak memiliki perasaan. Mendapati sorot mata seperti itu membuat bulu kuduk Iren meremang, takut.
"Jadi menurut mu mana yang mendekati seleramu?" tanya Iren setelah memberikan detail kedua rancangan yang dia sodorkan.
Rey mencebikkan bibirnya menatap layar monitor, meneliti dua gambar di layar itu sesaat. Lalu kembali menatap Iren dengan intens.
"Menurut mu?" ujarnya balik bertanya. Membuat Iren menarik nafas panjang.
"Rey, please jangan main main." protes Iren dengan wajah kesal.
Rey tertawa sinis. "Dengan Alvaro kau senang bermain main. Lalu kenapa dengan ku tidak? Bukankah kami sama sama mantan mu?" ucapnya.
Iren mendesah berat. Kenapa dia tak teliti saat menerima klien. Jadinya repot begini.
__ADS_1
"Jadi kau mau pendapat ku?" tanya Iren, sembari menatap bola mata Rey lekat lekat.
"Hmmm." sahut pria itu, terlihat jelas ada getar halus pada sorot matanya saat Iren menatapnya intens. Ternyata lelaki itu tak sekuat kelihatannya. Iren masihlah menjadi kelemahannya.
"Baiklah kalau begitu, kita sudah pertemuan ini. Aku akan memberimu laporan setelah proyek ini jalan." ujar Iren, lalu memberesi peralatannya.
"Eh, tunggu.." cegah Rey kebingungan.
"Sampai jumpa lagi." ujar Iren dengan senyum lebar, sembari melambaikan jari jari mulusnya. Lalu beranjak pergi meninggalkan Rey yang masih bengong di tempatnya. Tapi kemudian pria itu tertawa lebar sembari menatap punggung Iren yang terus menjauh.
"Dasar licik," umpatnya di barengi senyum.
Sementara di tempat lain, tepatnya didalam mobil yang sedang melaju. Alvaro terlihat gusar. Andai ini adalah daerah kekuasaannya sudah pasti dia akan menindak Rey. Tapi ini adalah daerah kekuasaan Rey, jadi dia hanya bisa bersabar menahan sesak dalam dada.
"Apa masih lama?" ujar Alvaro pada supir pribadinya.
"Tidak tuan, di depan itu tempatnya." sahut pria tiga puluhan itu, sembari melirik Alvaro dari spion tengah.
Iren memintanya bertemu di tempat yang sudah di pilih gadis itu. Tempatnya lumayan jauh dari kantornya. Tempatnya juga tak terlalu ramai, hanya Cafe kecil di pinggiran kota. Entah mengapa Iren memilih tempat ini untuk bertemu, padahal ada banyak tempat mewah yang bisa mereka kunjungi di tengah kota.
Di sana terlihat Iren sudah menunggunya di sudut ruang. Gadis itu duduk menghadap ke dinding kaca bening. Dari tempatnya sekarang Alvaro bisa melihat bayangan Iren yang sedang menatap lurus kedepan.
Setiap kali melihat sosok Iren, entah kenapa hatinya terasa sangat tenang. Seakan dunia ini berada dalam genggaman tangannya. Segala resah yang sedari tadi bercokol di dadanya hilang tak berbekas.
"Sudah lama menunggu?" tanya Alvaro begitu berada di depan Iren.
Gadis itu menengadah, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Baru nyampe kok." sahutnya, netranya memindai wajah tampan kekasihnya itu dengan detail.
Alvaro mengangguk anggukkan kepalanya, lalu duduk di depan Iren. "Tempat apa ini?" tanyanya sembari memindai seluruh sudut ruang Cafe. Dilihat dari wajah pelayan yang bekerja di sini, mereka sepertinya berasal dari tanah air.
"Ini tempat pavorite Justin. Putra kita memiliki lidah tanah air. Dan cita rasa makanan di sini yang pas dengan lidah bocah itu. Jadi kami sering mengajaknya kemari." sahut Iren, sembari tersenyum. Netranya juga ikut memindai seluruh ruang kafe.
"Pavorite Justin?"
"Hmmm."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bilang, harusnya kita bawa dia kemari."
"Bukankah ini waktunya untuk kita, ada banyak hal yang harus kita diskusikan. Menjelang pernikahan." sahut Iren, mendengar itu Alvaro menarik sudut bibirnya mengukir senyum.
"Kau juga memikirkan tentang pernikahan kita?"
"Tentu saja, mungkin akulah yang banyak memikirkannya ke timbang kakak."
"Omong kosong, kau yakin memikirkan pernikahan kita sebanyak itu. Kau bahkan masih sempat tersenyum dengan mantan pacarmu dengan begitu luwesnya. Hahhh, memikirkqnnya saja aku merasa gila." omel Alvaro.
Iren tersenyum simpul, sudah dia duga pria ini pasti akan membahas sikapnya terhadap Rey.
"Aku hanya bersikap profesional dalam bekerja. Hanya itu, tidak lebih. Kakak juga pasti akan melakukannya kan pada kolega kakak?"
"Tidak! Aku tidak pernah melakukannya. Kau boleh memeriksanya. Tepatnya sejak kau pergi meninggalkan aku seperti pria bodoh. Sejak saat itu aku tidak pernah bersikap manis pada wanita manapun, semanis sikap mu pada Rey tadi." ungkitnya dengan mimik wajah kesal.
Mendengar omelan Alvaro Iren malah tertawa. Sikap cemburu Alvaro terlihat sangat manis di matanya.
"Jangan tertawa, aku sedang kesal." rajuknya. Membuat Iren makin terpingkal. Tapi kemudian berhenti tertawa, dengan wajah serius Iren meraih jemari Alvaro lalu membelainya dengan lembut.
"Jangan marah, aku juga tidak tau kalau itu dia. Dia datang dengan nama orang lain. Kalau aku tau itu dia, aku pasti sudah menolaknya dari awal." jelas Iren.
"Kau masih bisa menolak, aku pikir belum terlambat."
"Itu benar, tapi hal itu sangat melukai hatiku sebagai pebisnis. Aku hanya bersikap profesional dalam bekerja. Lagi pula aku tidak memiliki perasaan padanya. Kenapa harus menghindar?"
Alvaro mendesah berat. "Aku percaya ucapan mu, tapi aku tidak percaya Rey."
Iren tersenyum. "Kita lihat saja nanti perkembangannya. Kalau situasinya tidak baik, aku akan mundur."
"Hhhh, aku berharap kau melakukan itu. Melihatmu bersama ba jingan itu membuat darahku mendidih." keluh Alvaro sembari mengepalkan tangannya yang masih dalam gengaman Iren.
"Sudah, nanti kita bahas lagi masalah lainnya. Sekarang pesan makan dulu aku lapar." ujar Iren, lalu melambai ke pelayan.
.
__ADS_1
Bersambung.