Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 26


__ADS_3

Hari ini Alvaro mengizinkan Iren pulang kerumah. Sepulang kuliah Iren langsung pulang, dia harus mengerjakan beberapa hal untuk persiapan sidang skripsi. Rasanya sedikit lega walau belum final. Tapi dia sakin dengan hasil usahanya selama ini.


Mobil Iren perlahan masuk kedalam bangunan mewah yang beberapa tahun ini menjadi tempatnya bernaung.


Iren mengerutkan keningnya, saat melihat ada mobil Alvaro di halaman parkir. Biasanya di jam segini, pria itu masih berkutat dengan tumpukan berkas di kantornya.


Turun dari mobil, Iren langsung masuk menuju dapur. Saat melewati kamar Tery tak sengaja dia menangkap sosok Alvaro ada di dalam sana. Walau pintunya hanya terbuka sedikit, tapi dia bisa mengenali sosok itu hanya dengan sekali lihat.


Gadis itu berdiri kaku di depan kulkas. Melihat kakak angkatnya itu berada di kamar Tery, kenapa hatinya jadi sakit begini. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Mereka tak menjalin hubungan apapun. Jadi dia tak punya hak melarang Alvaro untuk tidak dekat dengan wanita lain. Lagi pula teri adalah kekasihnya, dialah yang seharusnya tak boleh mengganggu hubungan mereka.


"Hhhh!" Iren menghempas nafas kasar. Lalu membuka lemari es. Mengambil minuman kaleng beralkohol rendah. Membuka kaleng itu lalu meminumnya hingga setengah.Dia membiarkan pintu kulkas masih terbuka, berharap mampu mendinginkan hatinya yang sedang panas.


Dia kembali meneguk sisa minuman dalam kaleng, tapi baru saja bibirnya menyentuh pinggiran kaleng. Seseorang merebut minuman kaleng dari tangannya. Iren menoleh dengan perasaan kaget. Tapi saat tau siapa yang melakukannya, wajahnya berubah dingin.


"Masih siang kau sudah minum minuman seperti ini." ujar Alvaro dengan suara rendah.


Iren tak menanggapi, hanya menatap Alvaro sekilas. Lalu menutup kulkas dengan gerakan sedikit keras, kemudian beranjak pergi.


Melihat sikap dingin Iren, Alvaro menggeram marah. Dia mengulurkan tangannya ingin meraih tubuh Iren yang melewatinya. Tapi urung, saat sudut matanya menangkap bayangan Tery di depan sana.


Pria itu hanya bisa menatap Iren berlalu pergi.


Iren menghentikan langkahnya tepat di depan Tery, karena kekasih kakaknya itu penyapanya.


"Iren, kamu udah pulang?" sapa wanita itu ramah.


"Iya, baru aja mbak."


"Skukurlah, padahal mbak baru mau nelpon kamu. Kemarin temenmu Rey datang ke sini. Dia berbincang dengan ibu cukup lama loh." ucap Tery, sembari mengerling nakal.


Sementara Iren terdiam. Rey datang kemari?


"Dia bilang ke ibu kalau kalian pacaran. Ibu senengnya bukan main denger itu. Kayaknya dia pria yang baik deh. Orangnya ramah, tampan lagi." celoteh Tery, tanpa tau seseorang di sudut sana tengah mengepalkan tangannya erat. Hingga buku buku tangannya memutih.


"Ooh dia temen kuliah mbak, bukan pacar." elak Iren. Dia bisa saja mengakui Rey sebagai pacarnya guna membalas Alvaro. Tapi ini bukan hal yang bisa di jadikan candaan dengan orang seperti Alvaro.


"Masak sih?"


Iren tertawa. "Iya loh mbak. Ya udah aku naik dulu mbak." pamitnya sembari menepuk bahu Tery yang terbuka. Karena gadis itu memakai baju yang minim bahan.

__ADS_1


"Oke." sahut Tery dengan mode ceria. Lalu menghampiri kekasihnya yang masih mematung di tempatnya.


"Kapan pria itu datang ke rumah ini?" Tanya Alvaro dengan wajah kaku.


Tery mengernyitkan alisnya. "Kemarin sore."


"Dia menemui ibu?"


"Iya, dia minta restu ke ibu. Dia bilang dia dan Iren sedang ada masalah jadi hubungan mereka sedikit renggang. Dia minta dukungan ibu, karena dia ingin menjalin hubungan serius dengan Iren. Bagus kan sayang?" jelas gadis itu panjang lebar. Membuat Alvaro semakin geram.


"Keparat itu, berani beraninya dia." umpat Alvaro. Membuat Tery kaget.


"Kamu gak suka Rey sayang?"


"Tentu saja. Hhhh! Sudahlah. Aku akan kembali kekantor." sahutnya kemudian melangkah pergi.


Tery terpaku di tempatnya. Awalnya dia sangat senang saat Rey datang, karena kedatangan pria itu menepis kecurigaannya tentang Iren.


Tapi apa yang dia lihat barusan, membuat rasa curiga itu datang lagi. Tery menarik nafas dalam, lalu beranjak dari tempat itu.


Saat makan malam semua berkumpul di meja makan. Sebab besok mama akan berangkat menyusul papa ke luar negeri.


Alvaro duduk bersebelahan dengan Tery berhadapan dengan Iren. Sementara Irene duduk di samping mama.


"Sebelum pergi ada yang mau mama beritahukan ke Ire."


Iren yang sedang menyentuh nasi, menoleh menatap mama. "Apa itu ma?"


Mama tersenyum. "Kemaren Rey datang kesini. Dia udah cerita semuanya ke mama. Awalnya dia ingin menunggu kamu, tapi dia takut kamu malah berubah pikiran. Jadi memilih menemui ibu meminta restu. Karena dia pikir, kamu jauhin dia karena gak mama restuin. Dan opsi kedua dia pikir kamu mundur karena status anak angkat yang kamu sandang. Dia bilang dia bisa menerima semua itu." ujar Mama.


Iren tertunduk. Andai dia bisa memilih tentu Rey adalah yang terbaik untuknya. Tapi....


"Biar aku nanti bicara dengan dia ma." sahut Iren. Dia tak ingin membahas Rey disini. Atau dia akan merasakan pembalasan Alvaro.


"Tidak, mama tidak akan tenang sebelum kamu baikan dengan Rey malam ini juga. Mama sudah memintanya datang." jelas mama.


Tak...!


Alvaro membanting sendoknya dengan kasar di atas meja. "Biarkan Iren yang memutuskan ma, jangan ikut campur." ujar pria itu dengan wajah mengelam.

__ADS_1


"Mama tidak ikut campur Varo. Mama hanya memberi jalan pada Iren dan Rey. Rey pria yang baik, juga dari keluarga yang lumayan. Mama rasa mereka cocok satu sama lain. Nyari pria baik itu susah lo." jelas mama lagi.


Alvaro menatap Iren dengan tajam, kemudian berlalu meninggalkan meja makan. Membuat Tery dan yang lain menatap heran ke arahnya. Kecuali Iren.


"Ada apa sih tuh anak. Bukannya seneng kok malah sewot gitu." gerutu mama. Sementara Tery menatap tajam ke arah Iren. Entah apa yang gadis itu pikirkan saat ini.


"Udah cepetan siapin makan kalian. Bentar lagi Rey datang. Kalau dia datang ajak Rey keluar aja Ren. Agar kalian leluasa bicara." saran mama. Iren mengangguk.


Tepat jam delapan malam Rey datang dengan mobilnya. Kedatangannya langsung di pantau Alvaro dari balkon kamarnya.


Lelaki itu menggeram marah saat melihat Rey membawa Iren keluar rumah dengan mobilnya. Dia bahkan meninju dinding kaca kamarnya. Untung saja dinding kaca itu sangat tebal dan bahkan anti peluru. Andai tidak darah sudah membasahi lantai.


Rey membawa Iren ke sebuah restoran bintang lima, tak jauh dari rumah Iren. Lelaki itu ternyata sudah me-reservasi ruang vip untuk mereka berdua.


Karena mereka berdua sama sama sudah makan malam. Jadi mereka hanya memesan hidangan yang ringan saja.


Rey menatap Iren yang sedari hanya menunduk. "Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya pria tampan itu, dengan suara berat dan dalam. Membuat Iren dengan cepat menatap ke arahnya.


"A-apa?" tanya Iren gugup. Dia tak ingin menebak-nebak arah pertanyaan Rey barusan.


"Kau dan pria bereng sek itu. Menjalin hubungan buka? Itu sebabnya kau memutuskan hubungan kita." Ujar Rey, membut jantung Iren serasa melompat keluar.


Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Dia benar benar tak memiliki harga diri di hadapan Rey saat ini. Padahal dia tak ingin memperlihatkan sisi buruknya pada pria ini.


"Iren tatap aku." pinta pria itu tegas.


Perlahan Iren menatap wajah Rey, lelaki itu terlihat tampan dengan kaos berlengan panjang dan celana jeans.


Iren tersenyum. Dalam hati dia berkata. "Iya ini aku, wanita kotor yang tak tahu malu."


"Kau mengajakku keluar, untuk mengatakan ini?"


Rey menggeleng sembari menatap lekat wajah Iren. "Aku ingin bilang, aku tidak akan mundur. Jadi putuskan saja hubungan mu dengan pria itu. Bukankah dia sudah punya Tery."


Iren terdiam. Bagaimana bisa pria ini tau sebanyak itu?


"Aku menyelidiki mu. Lalu menemukan fakta seperti itu." jelas Rey.


Iren menarik nafas dalam. "Ini gak segampang yang kamu pikirin Rey. Lebih baik kamu jangan ikut campur. Aku gak mau kamu kena masalah." sahut Iren lirih.

__ADS_1


"Sudah aku duga, pria itu pasti mengancam mu bukan?"


Bersambung


__ADS_2