Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
part 32


__ADS_3

Keluar dari gerbang kampus, sopir Alvaro sudah menunggunya di luar halaman kampus.


"Tuan meminta nona segera pulang." ujar pak sopir saat membukakan pintu untuk Iren. Iren hanya mengangguk.


Tak berapa lama mobil yang di tumpangi Iren sudah melaju di jalanan dengan kecepatan sedang. Sementara di jok belakang, Iren duduk sambil menatap keluar jendela.


Menatap pada orang orang yang lalu di sekitarnya. Sungguh mereka benar benar terlihat sangat menikmati hidup. Tawa mereka lepas, wajah wajah lelah mereka terlihat tanpa beban. Tapi itu hanya sebagian kecil. Selebihnya, sama seperti dirinya. Menjalani hidup dengan keterpaksaan dan keharusan. Bukan kemauan sendiri, tapi memang harus di jalani.


"Pak, apa kakak tidak menitipkan ponsel ku pada bapak?" tanya Iren.


Sopir melirik Iren sekilas dari spion tengah. "Tidak non." sahutnya lalu kembali fokus ke jalan.


"Ooh." sahut Iren, lalu kembali menatap keluar jendela.


Tak berapa lama mobil sampai di apartemen. Dengan perasaan malas Iren turun dari mobil, lalu melangkah masuk kedalam lift.


Sesampainya di depan pintu apartemen, Iren tak langsung masuk. Dia berdiri di ambang pintu cukup lama. Baru kemudian masuk. Entah mengapa dia lebih nyaman sendirian di apartemen ini dari pada di temani Sita. Iren sedikit tak nyaman dengan caranya memandang Iren.


Entah hanya perasaannya saja, tapi Iren merasa gadis itu memandangnya dengan sorot mata sarkasme.


Langkah Iren terhenti di ruang tv. Disana tampak Sita tengah bersantai sembari menonton tv.


"Ahh, nona sudah pulang." sapanya, cepat dia membetulkan posisi duduknya.


"Iya, baru saja." sahut Iren dengan senyum kaku.


"Mau saya siapkan makan siang non?"


"Ah, tidak usah. Saya sudah makan di luar tadi. Saya mau istrahat saja di kamar mbak."


"Baik non silahkan."


Dengan langkah lesu Iren naik ke lantai atas menuju kamarnya. Tidak ada hp, tidak boleh main. Dia sudah seperti mayat hidup saat ini. Yang dia lakukan hanya nonton sambil rebahan di kasurnya.


Sementara di tempat lain, Alvaro sedang bicara dengan Tery di rumahnya. Setelah mamanya menelpon, dia langsung mengunjungi Tery.


"Papa, senin depan datang berkunjung ke sini." ujar Tery, sembari menatap Alvaro yang duduk di sampingnya.


"Aku tau, dia sudah mengabari aku." sahut Alvaro dengan suara rendah.


"Dia ingin membahas acara pertunangan kita, apa kau juga tau?"


"Iya." sahut Alvaro singkat.


"Lalu Iren?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Kenapa dengan Iren?" Alvaro balik bertanya.


"Kenapa? Harus kah kupertegas lagi hubungan kita Varo, lalu siapa dia bagi hubungan kita?!"

__ADS_1


Alvaro menarik nafas dalam. menatap gadis berparas cantik di siampingnya itu dengan sorot mata tak terbaca. "Tery, dia hanya selir bagiku. Kaulah permaisurinya. Jadi jangan lagi permasalahkan Iren kedepannya." ujarnya datar.


"Aku tidak mau?!" tolaknya. Apa gunanya jadi permaisuri, tapi harus berbagi hati dengan seorang selir. Sama saja menginjak harga dirinya.


 "Papamu sudah tau, dan dia tidak keberatan."


"Apa?"


"Dia tak masalah, selagi Iren tidak di publikasikan. Dan menerima Iren adalah syarat mutlak dariku untuk persetujuanku menikahimu" jelas Alvaro datar.


Pupil Tery melebar mentap Alvaro. Bagaimana bisa dia mengatakan kalimat itu dengan begitu entengnya. Tanpa perasaan. "Apa kau gila?! Aku belum sah jadi istrimu tapi kau sudah menyodorkan madu untukku! Kenapa kau tega Varo?!"


Alvaro menatap Tery dalam dalam. Dia mungkin bisa melepas wanita ini, tapi tidak dengan Iren.


"Kau benar Tery, aku mungkin sudah gila. Aku benar benar tak bisa melepas Iren, kalau kau keberatan. Kau masih punya banyak waktu membatalkan pernikahan kita."


"Kau benar benar gila Varo! Kau tega mengatakan ini hanya karena ja lang itu?!" umpatnya geram. Rahang Alvaro mengeras saat mendengar kata ****** di sematkan pada Iren. Kalau bukan Tery yang mengatakannya mungkin dia sudah mencekiknya sampai mati.


Alvaro menarik nafas dalam. "Maaf Tery, awalnya aku ingin menyimpannya darimu. Tapi aku tidak bisa , kau harus tau. Karena aku tidak mau membongongimu." ujar Alvaro.


"Aku tidak mau! Kalau kau tidak mau menyingkirkan wanita ja lang itu. Biar aku yang melakukannya!" Ancam Tery lalu beranjak pergi.


"Jangan macam macam Tery. Kau akan berhadapan denganku, kalau sampai kau sentuh dia lagi!" bentak Alvaro dengan wajah mengelam.


Langkah kaki Tery spontan terhenti. Dengan wajah penuh amarah dia menatap Alvaro. "Kau melanggar janjimu pada kakak ku Varo." ucapnya lalu kembali melangkah masuk ke kamarnya.


"Bik, tolong jaga Tery ya. Kalau ada apa apa, cepat hubungi aku." Pesan Alvaro pada kepala pelayan sebelum pergi.


Pulang dari rumah dia langsung bertemu klien. baru menjelang makan malam pria itu pulang ke apartemen.


Dengan wajah lelah, pria itu masuk kedalam rumah. "Di mana Iren." tanya Alvaro pada Sita. Saat wanita itu langsung menyambut kedatangan Alvaro di depan pintu.


"Dikamar sedari siang tuan."


"Biar saya bawakan tas tuan." ucapnya lembut dan sopan.


Alvaro menghentikan langkah kakinya lalu menatap Sita lekat lekat. "Tugasmu melayani Iren. Jadi tidak perlu perdulikan aku." ucapnya tegas. Membuat Sita menciut.


"Maaf tuan." ucap gadis itu, sembari tertunduk.


"Tidak apa, siapkan saja makan malam ku dan Iren." tegasnya, lalu beranjak pergi. Kalau dirinya masih Alvaro yang dulu, mungkin dia sudah melahap pelayannya tak tersisa. Tapi sekarang, dia bahkan tak menganggap Sita sebagai seorang wanita.


"Baik tuan." sahut Sita.


Alvaro memutar handle pintu kamarnya, membuka daun pintu setengahnya kemudian masuk kedalam. Di dalam terlihat Iren sedang tiduran di atas ranjang sembari nonton.


Melihat Alvaro masuk, Iren menyambutnya dengan senyum. "Udah pulang kak?" tanyanya tanpa merubah posisi tubuhnya, berbaring telentang.


"Hmmm." sahut Alvaro, kemudian masuk keruang ganti. Di ruang ganti, pria itu melepas dasi dan kemejanya sembari memikirkan perasaannya terhadap Iren. Sejak kapan dia merasakan perasaan istimewa seperti saat ini, terhadap adik angkatnya. Hatinya menghangat hanya dengan melihat senyumnya.

__ADS_1


Dengan langkah pelan dia mendatangi Iren, gadis itu masih berbaring dengan posisi yang sama, telentang. Gadis itu terlihat begitu santai, tidak seperti biasanya terlihat canggung dan takut takut.


"Kau tadi ke kampus?" tanya Alvaro sembari duduk di tepi tempat tidur. Netranya memindai tubuh seksi Iren. Dia terpaksa menelan salivanya setiap kali melihat tubuh molek itu dengan pose yang menggoda.


"Iya."


"Bukankah skripsi mu sudah beres dan tinggal menunggu sidang?"


"Iya."


"Lalu?"


"Ada data yang harus aku perbaiki." sahut Iren sembari menarik tubuhnya ke posisi duduk.


"Kau bertemu Rey?" selidik lelaki itu dengan wajah dan nada suara yang dingin.


"Kami satu kampus, bahkan satu kelas. Tentu saja kami sering bertemu. Tunggu aku selesai sidang. Baru bisa tidak lagi menemuinya." sungut Iren.


"Kau bisa menghindar."


"Iya aku melakukannya. Tapi tetap saja kami bertemu. Kakak juga bertemu Tery, aku gak masalah." protes Iren.


Alvaro menggeram marah, sembari meraih dagu gadis itu. Meremasnya dengan perasaan marah. "Jangan dekati pria lain. Atau aku akan membunuhnya. Tidak perduli aku dekat dengan wanita manapun. Kau tetap tidak bisa seenaknya dengan sembarang pria. Kau cam kan itu!" Ancamnya lalu beranjak pergi.


"Cepat keluar, Sita sudah menyiapkan makan malam." imbuhnya lagi.


Iren diam tak menyahut. Hatinya berdenyut sakit. Apa Alvaro menganggap dirinya batu? Yang tidak memiliki perasaan. Mereka saling menyentuh bahkan hidup satu atap. Tentu saja sedikit banyak hubungan mereka menimbulkan perasaan. Wajar Iren juga cemburu saat Alvaro dekat dengan wanita lain. Sama halnya dia cemburu pada Rey.


Dengan perasaan malas Iren keluar dari kamar. Gadis itu menekuk wajahnya selama mereka makan. Bahkan dia tak menyahuti perkataan Alvaro yang menanyakan ini dan itu.


"Kenapa wajahmu?" tanya Alvaro menyudahi makannya. Dia tak berselera melihat wajah cemberut Iren.


Iren tak menyahut. Dia juga menyudahi makannya. Tanpa menghiraukan Alvaro gadis itu beranjak meninggalkan meja makan.


"Iren!" panggil Alvaro dengan suara lantang. Iren tak perduli gadis itu terus saja melangkah masuk dalam kamarnya.


Alvaro bangkit dengan gerakan kasar, dia bahkan menjatuhkan kursi yang dia duduki. Dengan langkah lebar dan amarah yang menggunung dia menghampiri Iren.


"JANGAN MENGABAIKAN KU." geramnya sembari maraih tubuh Iren. Mencengram bahunya kuat kuat.


Iren menarik nafas berat. Menatap bola mata Alvaro dengan sangat tenang. "Jangan memintaku untuk peduli sama kakak. Kalau kakak saja mengangapku seperti batu." sahutnya.


"Apa?! Kapan aku melakukannya?!" tanya pria itu kebingungan. Cengkramannya mengendur. Amarah dimatanya juga memudar.


"Hhhh. Kakak bahkan tidak tau." cibirnya.


"Dengar kak. Seperti kakak yang marah saat aku dekat dengan lelaki lain. Seperti itulah perasaanku saat kakak dekat dengan wanita lain. Kalau kakak melarangku memiliki perasaan itu. Aku hanya bisa berperan layaknya batu di sampingmu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2