Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 61


__ADS_3

Austin duduk di samping Alvaro dengan ekspresi senang. Sesekali dia menatap Alvaro, dia merasa mendapat pengganti Kenji. Sebab paman Kenjinya itu di larang berkunjung, sementara Alvaro mendapat izin dari mamanya.


"Paman." panggilnya ragu. Sebab Alvaro tengah focus pada laptop di pangkuannya.


Alvaro menghentikan aktivitasnya lalu beralih pada Austin. "Ada apa Austin."


Austin tak langsung bicara, dia seperti mengamati wajah Alvaro dengan mata jernih nya. "Kau mau jadi papaku?" tanya Austin dengan wajah polosnya. Membuat Alvaro tercekat.


"Hanya untuk hari ini saja. Aku ingin minta tolong pada papa Glen, tapi sepertinya dia sibuk. Jadi apa boleh aku minta tolong pada paman?" imbunya, sembari menatap Alvaro dengan tatapan penuh harap.


Alvaro kehabisan kata, dia ingin menjawab. "Boleh." Tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Anaknya sendiri memohon agar dia jadi papanya hanya untuk sehari saja. Padahal dia ingin menjadi papanya seumur hidupnya.


"Temanku tidak percaya aku ada papa. Tapi aku bohong pada mereka. Aku bilang aku punya papa. Terus mereka mau ketemu papaku. Aku tidak mau di ejek anak pembohong. Jadi aku minta tolong padamu paman." ujar Austin lagi. Wajah polosnya tertunduk sedih.


'Anak kepa rat mana yang berani mengusik putraku!' umpat Alvaro dalam hati.


"Jadi begitu?"


"He, em." sahutnya sembari mengangguk.


"Baiklah mulai saat ini Austin boleh menganggap ku sebagai papamu. Kita akan temui temanmu itu."


"Yang benar paman."


"Tentu saja."


Tiba tiba wajahnya berubah murung. Membuat Alvaro mengernyitkan alisnya menatap wajah putranya.


"Ada apa, kenapa wajahmu murung?"


"Tapi paman tidak boleh beritahu hal ini pada mama. Dia pasti akan memarahiku." ujar bocah itu, matanya yang bening menatap Alvaro penuh harap.


Alvaro tersenyum, sembari mengusap lembut puncak kepala Austin.


"Jangan khawatir. Aku akan menutup mulutku. Ini akan jadi rahasia kita berdua oke."


"Iya seperti itu paman. Paman hebat." pujinya sembari memeluk tubuh Alvaro erat erat. Alvaro terdiam kaku di tempatnya. Dia tak menyangka Austin akan memeluk tubuhnya seperti ini. Membuat hatinya mendadak menjadi mellow. Oh andai tidak ada Kenji di antara mereka.


Mereka benar benar menemui teman Austin. Pesona Alvaro langsung membungakam mulut teman putranya itu. Membuat Austin merasa sangat bangga pada Alvaro. Hari ini adalah penentuan harga dirinya bahwa dia bukan anak tanpa ayah. Dia memiliki ayah seperti Alvaro yang begitu sempurna yang mampu membuat temannya terdiam.

__ADS_1


Alvaro menatap putranya dengan perasaan bangga. Bocah kecil itu tampak melambai ke arahnya sebelum menghilang di balik ruang kelas.


Menjelang makan malam Iren baru pulang dari kantor. Banyak pekerjaan di meja kerjanya membuat dia tidak bertanya kabar Austin seharian ini.


"Uty, Austin di mana?" tanya Iren pada Uty yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan.


"Loh, belum di antar papanya sedari siang mbak." sahut Uty.


"Apa?!" pekik Iren panik. Kenapa dia tidak waspada begini. Bagaimana kalau ternyata Akvaro membawa Austin pergi.


Iren kebingungan sendiri, sebab tak tau cara menghubungi Alvaro. Kontak pria itu bahkan tak tersimpan di ponselnya. Sedang panggilan masuk tanpa nama sangat banyak di hpnya. Tidak mungkinkan dia menghubungi nomor itu satu persatu untuk memastikan yang mana nomor Alvaro.


Iren memutuskan menunggu mereka sebentar lagi. Kalau mereka tidak juga pulang. Terpaksa dia menghubungi Glen minta bantuan.


Benar saja, tak lama Alvaro datang bersama Austin. Begitu mereka masuk Iren langsung menyambutnya dengan wajah kesal penuh amarah.


"Maaf kami terlambat pulang." ujar Alvaro, sementara Austin bersembunyi di balik tubuh Alvaro saat melihat wajah marah Iren.


Iren tak menyahut, dia menatap Austin yang bersembunyi di balik tubuh Alvaro. "Austin! Pergi kekamarmu. Mandi dengan mbak Uty. Cepat. Mama tunggu di meja makan." bentak Iren. Membuat Alvaro menggeram kesal. Hatinya terasa panas mendengar suara tinggi Iren membentak putranya.


Tak menunggu dua kali, Austin bergegas beranjak kekamar di ikuti Uty.


"Aku minta maaf, harusnya aku menghubungi mu. Tapi aku benar benar sibuk sampai lupa memberitahu bahwa Austin bersamaku."


"Aku tanya kalian kemana?"


Alvaro menarik nafas dalam. "Kami kekantorku."


"Kakak bawa Austin kesana?"


"Hmmm."


"Hhhh." dengkus Iren kesal.


"Apa Austin sudah tau kakak papanya?"


"Belum."


"Kalau begitu kenapa dia mau ikut kakak? Kakak tidak bisa seenaknya membawa Austin kemana kakak mau tanpa seizin ku!" bentak Iren emosi. Sebenarnya dia tidak marah kalau pria itu izin. Agar pikiran buruk tidak membuatnya ketakutan setengah mati.

__ADS_1


Di bentak begitu membuat Alvaro tersulut juga emosinya. Dia sudah menahan diri saat Iren meninggikan suaranya pada Austin tadi.


 "Memangnya kenapa kalau dia ikut denganku? Dia juga anakku. Kau ingat itu."


"Dia memang anak mu, tapi aku yang mengurusnya dari bayi sampai sebesar ini. Lalu setelah sebesar ini kakak datang dan seenaknya saja main bawa dia kesana kemari tanpa ijin. Kakak tidak boleh membawa Austin suka hati seperti itu."


"Itu salahmu. Kau yang membawa dia pergi tanpa kabar. Aku bahkan tidak tau kalau aku memiliki putra seperti Austin."


"Salahku? Aku pikir itu salah kakak karena tak menerima anak itu sebagai anak mu."


"Kapan aku tidak menerima dia sebagai anakku?"


"Dasar buaya, kau mengatakan itu dengan tanpa perasaa. Dan sekarang kau lupa?!" umpat Iren tanpa embel embel kakak.


"Ehem." Uty berdehem memberitahu pada mereka agar berhenti berdebat. Sebab Austin sudah berada diruangan itu.


Keduanya menoleh ke arah Uty, begitu melihat Austin. Melihat Austin menatap mereka dengna tatapan bingung, keduanya merubah ekspresi wajahnya masing.


"Kemarilah, mama sudah lapar." panggil Iren. Austin menurut, sembari berjalan ke meja maka bocah itu melirik Alvaro. Sambil berucap.


"Uncle oke?" dengan bahasa bibir.


"Ya," sahut Alvaro juga dengan bahasa bibir. Hal itu tak lepas dari pandangan Iren.


Meja makan terasa sepi, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Baik Iren maupun Alvaro sama sama mempertahankan egonya.


"Mam, jangan marah pada uncle. Aku yang ingin ikut dengan uncle. Mama marahin aku aja." ujar Austin. Bocah itu menatap mamanya dengan tatapan memohon.


"Mama tidak marah dengan paman karena membawamu bersamanya sayang. Mama marah karena pamanmu tidak mengabari mama terlebih dahulu. Jadi pas mama pulang tadi, mama langsung panik karena kamu belum pulang sekolah. Sementara mama saja sudah pulang kerja." jelas Iren.


"Iya maaf ma. Lain kali aku akan meminta paman meminta izin mama sebelum pergi."


"Lain kali? Memangnya kalian berniat pergi lagi?" tanya Iren sembari menatap keduanya bergantian. Keduanya mengangguk serempak.


Iren menatap Alvaro dengan sorot mata penuh Arti. Yang jelas sorot mata itu adalah perwakilan hatinya yang tengah mengomelinya habis habisan.


Benar kata pepatah, bahwa darah itu lebih kental dari pada air. Dan Iren sudah membuktikannya sendiri.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2