
Air mata Iren tak mau berhenti, padahal ini hari baik untuknya. Hari dimana Alvaro menyatakan perasaannya dan melamarnya di depan orang orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Alvaro bahkan membawa Hilda, untuk menyaksikan betapa besar perasaannya pada Iren.
"Mama tidak suka papa?" tanya Austin, sembari menyeka air mata Iren dengan tangan mungilnya.
Iren menatap Austin sambil tersenyum. "Suka sayang." sahutnya sembari membelai puncak kepala Austin penuh kasih sayang. Sejak bocah ini lahir, hanya kebahagiaan bocah ini yang jadi prioritas utama nya. Dan saat ini dia sedang mewujudkan keinginan bocah ini juga keinginannya yang selama ini terpendam di dalam hati.
"Terus kenapa nangis?" tanya Austin lagi.
"Itu karena mama bahagia di lamar papa." Sahutnya. Mendengar itu Austin mengerutkan keningnya. Dia bingung, kenapa menangis kalau memang merasa bahagia.
Tapi kemudian wajah bocah itu kembali ceria, saat pelayan membawakan semangkuk ice cream untuknya.
"Itu buat Austin, karena sudah bantu papa bujuk mama." ujar Alvaro.
"Waah.. makasih papa." sahut bocah itu dengan wajah polosnya.
Setelah acara lamaran selesai, Iren harus kembali kekantor dengan diantar Alvaro. Sementara Hilda harus menunda rasa kangennya karena harus pulang bareng Glen dan yang lainnya.
"Kapan kakak nyiapin semua itu?" tanya Iren saat mereka berada di dalam mobil.
Alvaro yang sedang menyetir, menoleh ke arahnya sekilas. Lalu kembali menatap kedepan. "Dari menjenguk mama, aku sudah memikirkannya. Tapi aku tidak tau cara melamar wanita, jadi aku minta saran pada Glen." Jawab Alvaro.
"Tidak tau melamar wanita? Benarkah?" ujar Iren, sembari mengerucutkan bibirnya.
"Itu benar, kau tidak percaya?"
"Lalu siapa jang melamar Tery dengan pesta yang begitu mewah." cibir Iren, sembari membuang pandangannya keluar jendela. Dia masih ingat betapa sempurnanya pesta itu di mata Iren.
Alvaro terdiam, dia lalu menepikan mobilnya di tempat sepi.
"Mau apa berhenti di sini?" tanya Iren bingung.
Alvaro menarik nafas panjang lalu menatap Iren. "Kau tidak suka lamaran sederhana tadi?" tanya pria itu dengan sorot mata penasaran.
__ADS_1
"Suka." sahut Iren singkat. Dia memang benar benar menyukai lamaran itu.
"Jangan bohong, kalau tidak suka katakan saja. Aku tidak suka kau mengungkit apa yang aku lakukan saat bersama Tery. Kalau kau ingin pesta pertunangan semewah itu, aku akan buatkan untuk mu. Tapi beri aku waktu untuk menyiapkannya sendiri, aku tidak tau harus menyiapkan apa. Sebab saat dengan Tery, aku tidak menyiapkan apapun. Semuanya dia yang atur, dan aku tinggal datang membawa diri ke acara itu. Tapi dengan mu, aku tidak mau begitu, denganmu aku ingin menyiapkan semuanya sendiri. Jadi katakan pesta seperti apa yang kau mau, aku pasti mewujudkannya." ujar Alvaro dengan mimik wajah serius.
Kini giliran Iren yang terdiam. Dia tak ingin pesta meriah, apa yang di lakukan Alvaro tadi sudah lebih dari cukup. Tapi saat pria itu mengatakan tidak tau cara melamar wanita, hatinya terusik. Lalu pesta meriah untuk Tery itu bukan kah cara melamar yang sangat sempurna. Mana dia tau kalau semua itu bukan Alvaro yang menyiapkan.
"Maaf kak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku benar benar menyukai lamaran yang kakak buat. Hanya saja saat kakak bilang tidak tau melamar wanita, hatiku sedikit terusik. Aku tidak tau kalau bukan kakak yang menyiapkan pesta mewah itu. Aku benar benar minta maaf." sahut Iren.
"Kau mengatakan itu karena takut aku marah?"
Iren menggeleng. "Tidak, aku benar benar tidak ingin pesta mewah. Lamaran kakak tadi sudah sangat manis." sahut Iren sembari menatap Alvaro malu malu.
"Kau serius?" tanya Alvaro lagi, dia masih belum percaya kalau Iren benar benar menyukai lamaran sederhana itu. Itu semua idenya Glen, menurut Glen lamaran seperti tadi lebih berkesan mendalam. Padahal dia ingin mengadakan pesta mewah untuk Iren saat melamarnya.
Iren merapatkan tubuhnya, lalu meraih jemari Alvaro menggengamnya erat erat. "Aku benar benar menyukainya, percayalah. Maaf aku malah meragukan ucapan kakak." ujarnya dengan suara lembut.
Alvaro terdiam. Dia seperti terhipnotis oleh Iren. Aroma tubuhnya yang lembut, serta hembusan nafasnya yang hangat membuat darah Alvaro berdesir halus.
"Hhmmm."
"Bagaimana kalau kita singgah dulu ke hotel." ujarnya.
Mendengar itu, Iren cepat melepas genggaman tangannya. "Tidak bisa, aku banyak pekerjaan. Kalau kita ke hotel sekarang. Berarti nanti malam aku harus lembur."
Alvaro tampak berpikir sejenak, lalu. "Kalau begitu tidak usah. Biar aku antar kau kekantor sekarang." ujar Alvaro sembari menghidupkan mesin mobil.
Dia rugi banyak kalau Iren harus lembur nanti malam. Bukankah lebih baik kalau dia menghabiskan lembur malamnya bersama Alvaro.
Alvaro tidak ikut turun dari mobil, karena dia juga ada keperluan lain. Pulang dari mengantar Iren, Alvaro melajukan mobilnya ke sebuah restauran mewah yang ada di dekat hotel tempat dia menginap.
Di restauran itu, sudah ada seseorang yang menunggu kedatangannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama." ujar Alvaro, lalu menarik kursi di depan pria bertubuh ceking yang sedang menatapnya intens itu.
__ADS_1
"Tidak apa, kau pasti sibuk sekali sampai terlambat datang." sahut pria itu.
"Mana berkas yang aku minta?" tanya Alvaro sembari menatap pria itu lekat lekat.
Pria dengan mata cekung itu mengeluarkan map berwarna coklat, lalu menyerahkannya pada Alvaro.
"Coba kau periksa, aku tidak tau apa data seperti itu yang kau mau." ujar pria itu.
Alvaro menerima berkas itu, kemudian mulai memeriksa satu persatu. Wajahnya mengelam seketika.
"Bagaimana?" tanya pria itu, lalu meneguk air putih di depannya.
"Aku akan transfer upahnya. Tapi tugasmu belum selesai. Pantau pria ini dan laporkan padaku sedetail detailnya. Jangan ada yang tertinggal." ujar Alvaro, sembari menyimpan kembali berkas di tangannya.
"Ck jangan memintaku melakukan hal itu. Aku tidak semahir dulu. Minta saja orang lain melakukannya." ujar lelaki itu, sembari menatap Alvaro.
"Aku percaya kau bisa, lakukan saja pintaku jangan banyak bicara. Kau pikir kau bisa hidup tenang dengan mengabaikan printahku?!" ujar Alvaro bernada ancaman.
Pria itu menyeringai sembari menatap Alvaro. "Kau ini. Hhhhh, aku benar benar tak bisa lepas dari jerat mu rupanya ya. Aku sudah setua ini masih juga kau ancam. Bukankah kau bilang asalkan aku tidak kembali ke tanah air aku bisa bebas menikmati hidupku? Rupanya penjahat tetaplah penjahat, janjinya tidak bisa di pegang teguh." omel pria itu.
Alvaro menarik sudut bibirnya tersenyum sarkas. "Salah siapa kau hidup dengan penjahat, hah?! Kerjakan saja perintahku. Lagi pula hanya tugas ringan, mana mungkin kau tidak mampu." ujar Alvaro.
Lelaki itu mendengkus kesal. Tapi dia tak berdaya untuk menolak perintah Alvaro.
"Ya sudah aku pergi dulu. Aku tunggu laporan mu dua hari lagi. Malam ini Kau bisa tenang menikmati hidup." ujar Alvaro lagi sembari beranjak pergi.
Alvaro menggengam berkas di tangannya erat erat. Hatinya di landa amarah. Lelaki yang pernah dia singkirkan dari hidup Iren. Diam diam menyelidiki kehidupan Iren, belakangan ini. Tepatnya saat artikel tentang siapa Iren diterbitkan oleh majalah bisnis. Beruntung Alvaro cepat mengetahui hal itu, jadi dia bisa antisipasi terlebih dahulu.
"Reytama, kau pikir kau bisa melampaui aku?!" gumamnya sembari menyeringai.
.
Bersambung
__ADS_1