Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
part 33


__ADS_3

Rey menatap Iren dengan tatapan tak terbaca. Lelaki yang biasanya bersikap santai dan hangat. Kini terlihat begitu dingin. Membuat Iren merasa gugup.


Lelaki itu hanya diam menunggu jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan.


"Iren. Bagaiamana kalau kita menikah saja?" tiba tiba pria itu mengajukan pertanyaan gila, membuat Iren tercengang. Pacaran aja sulit apa lagi menikah.


"Rey, kau pikir nikah itu candaan ya?"


Reytama menggeleng. "Tidak, nikah itu hubungan yang sakral. Aku tau itu. Tapi hanya dengan itu aku bisa melepasmu dari Alvaro." sahut pria itu dengan sorot mata tajam.


Iren menarik nafas dalam. Netranya memindai wajah Rey inci demi inci. Lalu pandangannya terpaku pada sorot mata Rey yang teduh dan hangat. Iren tersenyum, lalu berpaling menatap kearah lain.


"Aku jatuh cinta pada kakak." ucap Iren kemudian. Dia tidak tau apa Alvaro benar benar akan membunuh Rey jika dia nekat melanggar larangan pria itu. Walau begitu dia tak berani melibatkan Rey terlalu jauh. Lagi pula dia juga tak yakin hubungan dengan Rey akan punya masa depan. Rey bukan putra dari keluarga biasa, dan dia hanyalah seorang putri angkat. Rey mungkin bisa menerima keadaan Iren. Tapi tidak keluarganya.


"Kau mengatakan ini dengan sengaja bukan? Agar aku mundur?"


Iren menggeleng. "Bukan, aku benar benar jatuh cinta pada kakak." ujarnya pelan.


"Iren. Kau tidak tau seperti apa pria itu. Dia bukan pria yang baik untuk mu. Lelaki itu hanya menjadikan mu pemuas nafsu. Apa kau tidak tau itu!" sentak Rey geram. Sampai sampai dia mengucapkan kata kata yang tak ingin dia ucapkan.


Iren tersenyum kecut. Rey bahkan tau siapa dia di samping Alvaro. Hanya pemuas nafsu. Hhhh, kenapa hatinya terasa begitu sakit saat orang lain mengingatkan statusnya. Padahal dia sendiri sudah tau hal itu.


"Lalu kau juga menginginkan aku untuk memuaskan nafsumu?" tanya Iren dengan sinis.


"Iren!!" bentak Rey dengan sorot mata tajam. Tapi kemudian sorot matanya berubah lembut. "Maaf, harusnya aku tidak mengatakan hal tak pantas seperti itu. Aku hanya ingin kau sadar, Alvaro bukanlah pria yang baik untuk mu. Kau sangat berharga untukku itu yang ingin aku katakan." ujarnya lagi.


Iren tau, tapi dia tak ingin memberi harapan palsu pada lelaki sebaik Rey. Dia pantas mendapat wanita yang lebih baik dari Iren. Bukan bekas orang lain seperti dirinya.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang. Aku juga ada beberapa data yang harus aku selesaikan sebelum sidang." ujar Iren, mengalihkan pembicaraan.


"Iren.."


"Kalau kau masih mau di sini, gak apa apa aku pulang duluan aja." ujar Iren, memotong kalimat Rey.

__ADS_1


Pria itu menghela nafas kasar. "Ayo pulang." sahutnya. Lalu beranjak pergi meninggalkan Iren.


Mobil melaju di jalan dengan kecepatan sedang. Keduanya tak ada yang angkat bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.


Tiba tiba Rey menyadari, ada seseorang yang sedari restoran tadi membututi mobil mereka.


Menyadari hal itu, Rey menambah kecepatan mobilnya. Dan benar saja, mobil itu juga melakukan hal yang sama.


Tapi saat mobil mereka memasuki area perumahan tempat tinggal Iren. Mobil itu terlihat berbelok ke arah lain.


"Disini saja." ujar Iren. Menghentikan Rey saat pria itu ingin membawa mobilnya masuk halaman rumah, padahal pagar rumah sudah terbuka.


"Oke." sahut Rey. Dia tak ingin membuat wanitanya bertambah kesal.


Iren turun tanpa kata, dan Rey memilih membiarkan saja. Lalu memilih pergi setelah bayangan gadis yang sangat dia cintai itu menghilang di balik pagar yang kembali tertutup otomatis.


Rey pulang dengan perasaan tak menentu, pembicaraan mereka belum menemukan titik temu. Tapi dia tak ingin memaksa, biar Iren berpikir pelan pelan. Bahwa dia tau semuanya dan tetap menerima Iren apa adanya.


Cepat dia memanggil seseorang melalui panggilan telpon.


"Halo bos."


"Aku di buntuti, lacak posisiku cepat kemari." ucapnya lalu memutus panggilan. Sebab mobil di belakang dengan keras menabrak belakang mobilnya.


Rey menambah kecepatan mobilnya, lalu merubah arah tujuan. Dia yakin tujuannya sudah terbaca oleh mereka. Cukup lama mobil mereka kejar kejaran di jalan yang sepi, tapi kemudian keadaan berubah. Mobil di belakang berhasil mendahului, tapi kemudian melambat hingga posisi mereka sejajar.


Kemudian hal yang di takutkan Rey pun terjadi. Mobil itu menghantam mobil Rey dari samping berulang kali, memaksa Rey keluar dari badan jalan. Dan pada hantaman yang entah keberapa kali mobil Rey benar benar keluar dari badan jalan dan terguling.


Lalu ada mobil lain berhenti tak jauh dari tempat kejadian. Dari dalam mobil, tampak seorang pria turun dari sana. Lalu dengan langkah lebarnya dia menghampiri mobil Rey.


Tampak Rey berjibaku membuka seat belt yang macet. Setelah bisa terbuka, dia masih belum berhasil keluar. Karena pintu di sebelahnya penyok, jadi tak bisa di buka. Terpaksa dia memecah kaca mobil agar bisa keluar.


Seseorang mengulurkan tangannya, membantu tubuhnya keluar dari dalam mobil. Rey menengadah, menatap si pemilik tangan.

__ADS_1


"Kau." ujarnya dengan senyum sinis. Tapi kemudian dia menerima uluran tangan itu.


"Ini umahmu kan?" tanya Rey, sembari menepuk nepuk bajunya membersihkan kotoran yang menempel pada pakaiannya.


Alvaro mencebikkan bibirnya, lalu tersenyum. "Ini hanya peringatan. Lain kali, mungkin tubuhmu tak akan bisa di kenali oleh keluargamu. Jadi jangan usik apa yang sudah menjadi milikku. Kau paham?" ujar pria bertubuh jangkung itu sembari menusukkan jari teluntuknya ke dada Rey, lalu beranjak pergi.


"Iren lebih berharga ada di sisiku. Dari pada hanya kau jadikan sebagai pemuas nafsu mu!" tetiak Rey.


Alvaro yang sudah cukup jauh dari Rey. Berhenti mendadak, lalu berbalik. Dengan langkah lebar dia menghampiri Rey. Tanpa aba aba dia melayangkan tinjunya ke rahang Rey, hingga Rey terjerembab kebelakang.


"Jangan menyebut namanya sembarang, di depan wajahku. Atau aku akan membunuh mu." ancam pria itu dengan rahang mengeras.


Rey menyeringai, dia menyeka darah di sudut bibirnya. Lalu beranjak bangkit. "Dia bukan milikmu. Karena Iren tidak suka rela memilihmu. Kau pasti lebih tau, kenapa dia memilih diam di sisimu." cibir Rey.


Mendengar itu, wajah Alvaro mengelam. Sekali lagi dia melayangkan pukulan ke wajah Rey, tapi kali ini lelaki itu tidak lengah. Dia menyambut pukulan Alvaro hingga terjadi baku hantam di antara mereka berdua.


Tapi Alvaro bukan tandingan Rey. Dari tubuh dan tenaga Rey jelas kalah banyak.


Tubuh Rey sudah terhuyung, tapi Alvaro tak berhenti. Dia terus melayangkan tinjunya ke titik lemah Rey, hingga beberapa detik kemudian Rey ambruk tak sadarkan diri.


Alvaro menghentikan pukulannya dengan nafas terengah. Rasanya dia ingin membunuh pria itu sekarang juga. Tapi sangat beresiko bila harus melakukannya sendiri.


"Tiggalkan lokasi, tapi jangan sampai ada jejak yang tertinggal." titahnya, lalu beranjak pergi.


"Ini tuan." lelaki berusia dua puluh lima tahun itu mengulurkan tisu pada Alvaro. Lelaki berwajah dingin itu mengambil tisu itu lalu menyeka buku jarinya yang lecet.


"Kita kemana tuan." tanya pria satu lagi dari balik kemudi.


"Kalian pulanglah, aku biar di antar supir pulang ke rumah. Masalah ini besok saja kita bahas."


"Baik tuan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2