Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 36


__ADS_3

"Kapan kau pulang?" tanya Alvaro pada Glen. Saat mereka hanya berdua di teras samping. Setelah acara pertunangannya Alvaro mengambil cuti sehari. Pagi ini dia memilih bersantai di rumah. Sedang Tery pulang bersama keluarganya.


"Belum tau." sahut pria itu. Dia duduk bersilang kaki sembari menatap lurus kedepan. Mereka kakak adik, tapi memiliki aura yang berbeda. Alvaro memiliki aura dingin, sedang Glen memiliki aura yang hangat.


"Dalam rangka apa kau datang? Aku bahkan tak mengundang mu di acara pertunanganku." tanya Alvaro lagi dengan nada suara yang terdengar begitu dingin, sementara netranya juga menatap lurus kedepan.


Glen tertawa sembari menoleh menatap Alvaro. "Aku juga ingin menyaksikan pertunangan adik ku. Jadi aku memutuskan untuk datang walau tak di undang." sahut Glen, masih dengan sisa tawanya.


"Omong kosong! Kalau urusanmu disini sudah selesai cepatlah pulang. Dan satu lagi. Jangan sok perhatian dengan Iren." ucapnya sembari menatap tajam kearah Glen.


Glen mengerutkan keningnya menatap Alvaro. "Sok perhatian? Dia juga adik ku. Tak perduli sedarah atau bukan. Aku sudah menganggapnya seperti adik perempuan ku."


Alvaro tertawa sinis. "Kalian baru saja bertemu. Apa masuk akal?"


"Saat Iren diangkat anak oleh keluarga ini menjadi keluarga. Saat itu aku sudah menganggapnya sebagai saudara perempuanku. Alvaro, kau tau? Ada banyak perbedaan di antara kita. Salah satunya adalah cara berpikir. Jadi jangan samakan isi kepalamu dengan isi kepalaku. Kau paham."


"Tidak perduli kau mau melakukan apa, tapi jangan dekati Iren. Lebih cepat kau tinggalkan negara ini, maka lebih baik bagimu. Tegas Alvaro, lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Glen menatap punggung Alvaro hingga pria itu menghilang. Sudah belasan tahun, tapi adiknya itu belum juga mau menerima kehadirannya.


Yang membuatnya tak habis pikir, apa salahnya dia dekat dengan Iren. Dia juga masih bagian dari keluarga ini. .


Lamunan Glen buyar saat klebatan bayang Alvaro melewatinya. "Kau mau kemana?" tanya Glen.


"Bukan urusan mu." sahut Alvaro tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Kau kaku sekali, padahal sudah berapa tahun kita tak pernah bertemu." gerutu Glen.


* * * * *


Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sedang menuju apartemen. Dari kemarin malam setelah acara pertunangan, dia langsung menghubungi Iren. Tapi ponsel gadis itu ternyata tidak aktif. Malam itu juga dia berniat menemui Iren. Tapi mama dan papanya malah ribut, bahkan mama juga sampai pingsan. Membuat Alvaro mengurungkan niatnya menemui Iren.


Tapi hingga malam ini gadis itu masih belum bisa di hubungi. Membuat Alvaro geram.

__ADS_1


Mobil mewahnya berhenti di basemen apartemen. Hatinya sudah tak sabar ingin mengintrogasi gadis itu.


Alvaro berdiri tegak di depan pintu apartemen. Baru memutar handle pintu, lalu masuk dengan langkah lebar.


Langkah lebarnya berhenti saat melihat bayangan Iren di dapur. Gadis itu menatapnya sekilas, lalu kembali melanjutkan aktivitas dengan acuh.


Alvaro mengerutkan keningnya menatap sikap acuh Iren.


"Sedang apa kau di situ?" tanya Alvaro sembari mendekat. Iren yang sedang mencelupkan mie kedalam air di panci yang mendidih, hanya diam.


Gadis itu sama sekali tak menghiraukan Alvaro. Membuat Alvaro menggeram marah. Dia mencekal lengan Iren, membawa tubuh yang sedang membelakanginya menghadap ke arahnya.


"Kau kenapa?!" bentaknya. Matanya nyalang menatap Iren.


Iren menengadah menatap wajah Alvaro. "Gak usah datang kalau hanya ingin memarahiku." ujarnya datar. Lalu melepas cekalan Alvaro dengan paksa. Lalu kembali memunggungi pria itu.


Alvaro termangu melihat sorot mata Iren yang terlihat asing dimatanya.


"Kau marah karena pertunangan ku?" Tanya Alvaro sembari menatap punggung Iren. Iren tampak menggeleng tegas.


"Lalu sikapmu ini apa?"


"Memangnnya kenapa sikap ku?" ucapnya lalu berbalik menatap Alvaro lekat lekat.


"Kau acuh Iren." lirih Alvaro, dengan pandangan menelisik.


Iren menarik nafas berat. "Aku harus bersikap bagaimana terhadap pria yang hanya menginginkan tubuhku saja. Coba kakak beritahu ke aku, aku harus bagaiamana?" ucap Iren dengan mata berkaca kaca. Dia ingin berdamai dengan hatinya. Dia berpikir, tidak apa apa Alvaro bertunangan dengan wanita lain, toh dia hanyalah simpanan. Tapi ternyata dia tak mampu melakukannya.


"Jadi benar, kau marah karena aku bertunangan."


"Aku bilang aku tidak marah. Aku hanya merubah caraku memperlakukan kakak. Aku juga membuang semua perasaanku terhadap kakak. Aku juga berharap kak Tery bisa mengambil kakak dari ku seutuhnya. Agar kakak melepasku. Aku juga punya hak yang sama dengan kakak, untuk mencari kebahagiaan ku sendiri. Bukan malah menjadi boneka kakak seperti ini."


"Rasanya tak sabar menunggu hal itu terjadi." imbuhnya masih dengan posisi membelakangi Alvaro.

__ADS_1


"Jadi boneka ku?" Tanya Alvaro dengan suara beratnya.


Iren tak menyahut, dia membawa mie yang tadi dia buat ke atas meja makan. Lalu menyantapnya perlahan. Andai Iren tak sedang makan, sudah pasti Alvaro tak kan melepasnya.


Dengan perasaan kesal Alvaro meninggalkan Iren seorang diri. Dia bukan sengaja mengabaikan Iren, menjelang hari pertunangannya.


Saat itu dia takut hatinya goyah oleh gadis itu. Lalu mengangalkan rencana pertunangannya dengan Tery. Entah mengapa saat melihat wajah sedih Iren, hatinya terasa sakit.


Dia bahkan nyaris turun dari panggung, saat sudut matanya melihat bayangan Iren meninggalkan tempatnya berdiri. Hatinya rusuh saat gadis itu sama sekali tak terlihat dari pandangan matanya. Terlebih lagi saat Glen menariknya keluar dari Ball room. Dia hampir saja kehilangan kendali atas dirinya.


Dia ingin mengucapkan kata maaf, tapi tidak tau bagaimana caranya. Dia benar benar benci mengakui, bahwa dia perduli pada gadis itu. Bahwa dia juga memikirkan perasaan gadis itu. Dan akhirnya dia memilih bungkam.


Dia ingin meyakini bahwa dia sangat mencintai Tery. Tapi melihat Iren terluka, dia juga merasakan hal yang sama. Hatinya terluka.


Apa lagi tadi, saat Iren menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan yang biasanya menatap penuh binar ke arahnya. Kali ini terlihat kosong tak bermakna. Dia seperti telah kehilangan gadis itu. Hal itu membuat hatinya berdenyut sakit.


Ceklek


Alvaro cepat menatap ke pintu yang terbuka. Terlihat Iren masuk, saat pandangan mata mereka beradu. Gadis itu tersenyum hambar. Melihatnya, jemari Alvaro mengepal erat.


"Iren." panggil Alvaro, saat gadis itu hendak ke meja rias.


Iren tak menyahut, tapi dia beranjak mendekat. Langkahnya terhenti, saat jarak mereka sudah sangat dekat. Lalu


Sheet..


Iren melucuti pakaiannya satu persatu. Alvaro termangu di tempatnya. Bukan karena keindahan tubuh Iren yang kini sudah polos tanpa bu sana. Tapi karena ekspresi Iren yang tak memperlihatkan perasaan apapun.


"Apa yang kau lakukan?!" bentak Alvaro, tersulut emosi.


"Bukankah kakak menginginkan ini?" sahutnya, lalu meraih wajah Alvaro yang menengadah menatapnya.


"Iren. Kau keterlaluan!" bentaknya, sembari menepis sentuhan gadis itu. Dengan perasaan gusar Alvaro beranjak meninggalkan kamar. Lalu terdengar dentuman daun pintu yang di tutup dengan kasar.

__ADS_1


Tubuh Iren luruh ke lantai, gadis itu tergugu dalam tangis. Mencintai lelaki seperti Alvaro adalah mala petaka baginya. Tapi hati dan perasaannya benar benar di luar kuasanya. Dia ingin melupakan bila mampu. Lalu melepas jerat yang membelenggu kaki dan lehernya. Tapi sepertinya ini akan sulit, sebab tangannya juga terbelenggu.


Bersambung


__ADS_2