
Alvaro baru akan terlelap, ketika ponselnya terus bersering. Disaat jam istrahat begini, biasanya orang menghubunginya bila ada hal yang sangat penting.
Alvaro mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Alvaro dingin.
"Maaf mengganggu istrahat tuan, saya ingin memberi tahu. Bahwa nyonya baru saja masuk ruang operasi." ujar asisten pribadi mamanya.
"Memangnya mama sakit apa sampai harus di operasi?"
"Beliau pingsan dua jam yang lalu, menurut Dokter Ada membengkakan di kepala yang menyumbat aliran darahnya. Jadi terpaksa di lakukan operasi sekarang juga."
"Kau sudah menghubungi Glen?"
"Sudah, dia terbang malam ini juga."
"Ooo baiklah. Aku terbang besok pagi."
"Baik tuan, nanti biar aku sampaikan pada tuan besar."
"Hmmm."
Alvaro menaruh ponselnya di nakas, kepalanya terasa berdenyut sakit. Akhir akhir ini dia sering melihat papa dan mamanya kerap kali ribut entah karena masalah apa. Alvaro tak ambil pusing.
Dia sendiri heran melihat sikap papanya yang masih memilih bertahan setelah apa yang dilakukan mamanya. Bukan waktu yang sebentar, mamanya berselingkuh. Tapi papanya tetap mempertahankan mamanya entah dengan maksud apa.
Paginya Alvaro berangkat ke negara tempat mamanya tinggal saat ini. Dia yakin sudah terlebih dulu sampai di sana.
Begitu sampai di bandara, orang suruhan papanya sudah menunggu di sana dan langsung membawa Alvaro kerumah sakit.
Malam tadi operasi mamanya berjalan dengan lancar. Sempat tak sadarkan diri pasca operasi. Tapi pagi tadi sudah sadar sepenuhnya.
Alvaro melangkahkan kaki panjangnya di koridor rumah sakit. Mengikuti langkah kaki orang suruhan papanya yang berada di depannya.
Pria bertubuh tinggi tetap itu berhenti tepat di depan ruang vip di rumah sakit ini.
"Silahkan tuan, nyonya ada di dalam." ujar pria itu. Alvaro mengangguk lalu masuk kedalam.
Alangkah kagetnya Alvaro melihat siapa yang ada di ruangan itu. Mamanya terlihat terbaring pucat di atas tempat tidur, di sampingnya terlihat Glen dan juga dua orang yang membuat Alvaro kaget. Mereka adalah Austin dan Iren.
"Apa apaan ini?" tanya Alvaro pada Glen. Pria itu menatap marah padanya. Melihat itu, papa Alvaro cepat bertindak. Dia tau betul sifat Alvaro yang suka naik darah.
"Alvaro, nanti saja kita bicarakan hal itu. Ibumu baru saja siuman pasca operasi, jangan buat keributan di sini." ujar Papa menegur Alvaro.
Alvaro menghempas nafas kasar, walau marah. Tapi dia menuruti nasihat papanya. Pria berwajah dingin itu kini beralih pada Austin. Bocah itu sedari tadi menatapnya tak berkedip.
__ADS_1
"Apa kau lelah?" tanya Alvaro sambil berjongkok di depannya.
Austin menggeleng. "Tidak pa, aku tidur di jalan. Jadi tidak lelah." sahutnya.
"Bagus, anak pintar." sahutnya sembari mengusap lembut puncak kepala putranya penuh kasih sayang.
Mama Alvaro menarik sudut bibirnya mengukir senyum. Dia tak menyangka akan melihat wajah lembuat putra keduanya itu. Setelah kejadian memalukan itu, sikap Alvaro berubah drastis. Dia jadi pendiam bahkan mudah sekali tersulut emosi hanya karena kesalahan kesalahan kecil.
Perubahan itu membuat wanita paruh baya itu tak berdaya. Sebab dialah sumber masalah bagi Alvaro.
"Austin, sini dekat Oma." panggil mama Alvaro pada Austin.
Austin mengagguk kecil, lalu menggeser tubuhnya mendekat.
"Kenapa Oma sakit? Apa Oma tidak mau makan? Atau Oma tidak suka bobok siang?" tanya Austin dengan wajah polosnya.
Mama tersenyum menatap wajah cucunya. "Kok cucu oma bisa tau sih?" sahutnya sembari menyentuh pipi cabi Austin.
"Iya, kata mama. Kalau enggak makan sama gak bobok siang nanti sakit. Kalau sakit nanti di rawat diruma sakit pakai jarum suntik." sahut bocah itu, sembari melirik Iren.
"Wah pinter cucunya Oma." pujinya. Dia sempat shock saat Glen memberitahu semuanya beberapa minggu yang lalu. Tapi kemudian dia malah merasa ini adalah anugerah untuknya. Walau datangnya dengan cara yang tidak dia inginkan. Benar kata Alvaro ini adalah kara untuknya.
Dia sangat ingin mengubah sifat Alvaro, tapi tak ada y ang bisa dia lakukan sama sekali. Putranya bukan orang yang gampang di bujuk. Sifatnya sangat keras seperti batu. Tapi kehadiran Iren berhasil merubah total kepribadian Alvaro.
"Alvaro, bawa Iren istrahat. Dia pasti lelah di perjalanan. Mama juga mau istrahat. Besok kalian bisa berkunjung lagi." ujar mama pada Alvaro. Dia sengaja menggiring keduanya agar lebih dekat lagi. Glen sudah menceritakan bagaimana hubungan mereka saat ini.
"Baik ma. Nanti malam aku kemari lagi. Biar aku aja yang jaga mama, biar papa bisa istrahat. Besok baru Alvaro yang jaga, malam ini biar dia istrahat bersama Austin." sahut Glen.
Alvaro menatap Iren dan Austin. "Kalian tunggulah di mobil, nanti aku menyusul." pinta Alvaro, pada Iren. Iren pamit pada mama dan papa lalu diantar orang suruhan papa menuju mobil.
Sementara Alvaro mengajak Glen bicara.
"Ide siapa ini?" tanya Alvaro sembari menatap Glen.
Glen menarik nafas panjang. "Mama yang meminta Iren datang, sebelum kejadian ini."
"Kau memberitahu mama?"
"Hmmm."
"Aku tidak memintamu melakukan itu."
"Aku tau, tapi aku ingin melakukannya. Anggaplah itu bentuk kasih sayang ku pada adik ku."
"Adik?" cibir Alvaro.
__ADS_1
"Suka tidak suka kau memang adikku."
"Kita beda ayah."
Glen terdiam, kalimat ini kerap kami di ucapkan Alvaro saat dia jengkel dengan Glen.
"Mau sampai berapa kali kau ucapkan kalimat itu? Kita memang beda ayah tapi kita satu ibu."
"Alvaro, sampai kapan kau akan terus bersikap begitu padaku. Aku juga tidak mau menerima takdir ini. Menjadi anak dari hasil perselingkuhan orang tuaku. Apa kau pikir aku punya kesempatan untuk memilih takdirku? Tidak Alvaro. Aku tau kau sangat tersiksa saat melihatku. Itu akan membuatmu teringat kejadian menjijikkan waktu itu. Tapi apa kau tidak berpikir aku juga merasa tersiksa? Aku juga tersiksa seperti mu. Seumur hidup aku terpaksa memanggil papa pada lelaki yang sudah di hiyanati olah ayah kandungku. Kau pikir itu mudah, tidak. Itu seperti kutukan bagiku."
"Please.. berhenti menganggap aku musuh, padahal aku benar benar menganggap mu sebagai saudaraku. Dan soal Iren. Maaf kalau akau lancang. Tapi gerak mu terlalu lambat, aku takut Iren berubah pikiran. Jadi aku putuskan membantumu." ujar Glen panjang lebar.
Entah mengapa kali ini Alvaro tak berniat mendebat Glen. Dia hanya diam mendengarkan keluh kesah lelaki yang pernah menjadi kakak kesayangannya itu. Sebelum peristiwa keji merenggut kebahagiaan mereka.
"Terserah padamu. Tapi hanya kali ini, lain kali aku tak akan tinghal diam." ujar Alvaro lalu beranjak pergi.
Alvaro membawa Austin dan Iren menginap di hotel yang ada di sekitar rumah sakit. Padahal ibunya meminta mereka menginap di rumahnya.
"Apa dia sudah makan siang?" tanya Alvaro sambil meletakkan tubuh Austin yang terlelap di atas kasur.
"Sudah, dia makan bareng papa tadi di luar."
"Lalu kau sendiri apa sudah makan?"
"Sudah. Apa kakak belum makan?"
"Belum, tapi aku tidak berselera." sahut Alvaro. Pria itu duduk di tepi ranjang sembari menatap Iren.
Iren sendiri terlihat gugup, dia melangkah menuju sofa lalu duduk disana dengan gelisah. Situasi ini sungguh membuatnya tak tenang, dia pikir tak masalah karena ada Austin di antara mereka. Tapi Austin malah tidur di perjalanan menuju hotel.
Melihat Iren gelisah, Alvaro tersenyum miring. Dia beranjak bangkit lalu melangkah mendekati Iren. Duduk tepat di samping gadis itu dengan jarak yang sangat dekat.
"Kau sudah mandi?" tanya Alvaro. Reflek Iren menggeleng.
"Kalau begitu apa kau mau mandi bareng? Sudah lama kita tidak melakukannya bukan?"
Iren membulatkan matanya menatap Alvaro. "Jangan ngaco deh!" cebiknya kesal. Tapi pipinya terlihat bersemu merah.
Alvaro tersenyum simpul. "Sudah berapa usiamu, tapi lihatlah. Aku hanya menggoda mu dengan beberapa kata pipimu sudah memerah."
Iren mencebik kesal, bukan hanya pada Alvaro tapi juga pada dirinya sendiri. Yang tak mampu mengendalikan perasaannya.
"Kau masih memakai parfum yang sama?" tanya Alvaro sembari menghidu Aroma tubuh Iren. Membuat tubuh Iren membeku. Tubuh Alvaro yang condong ke arahnya, nyaris menyentuh kulitnya.
.
__ADS_1
Bersambung