
Iren menggeliat pelan saat Austin mengusik tidurnya. Bocah itu mengguncang tubuh Iren pelan, sembari merengek.
"Ma, papa hilang." rengeknya berulang kali. Iren membuka matanya yang terasa berat, sebab dia masih sangat ngantuk dan masih ingin tidur beberapa jam lagi. Tadi malam tidurnya benar benar tak nyenyak. Alvaro berulang kali melakukannya padahal mata Iren tak lagi sanggup terbuka.
"Siapa yang hilang?" tanya Iren, sembari menatap wajah khawatir putranya. Austin sudah di beritahu oleh Glen bahwa Alvaro adalah papanya. Sementara Alvaro sendiri belum tau kalau Austin sudah tau.
"Papa..." sahutnya hampir menangis. Ini gara gara Glen yang bilang kalau selama ini papanya hilang, dan baru ditemukan sekarang. Alasan itu sengaja di pilih Glen agar Austin tidak bertanya kenapa dan lain sebagainya.
"Dari mana Austin tau kalau papa hilang?" tanya Iren sembari menyentuh pipi cabi Austin.
Bocah itu menatap Iren dengan mata berlinang. "Aku sudah cari papa, tapi papa tidak ada di kamar ini." sahutnya. Mendengar itu Iren tersenyum.
"Ooo gitu, mungkin papa ada pekerjaan penting makanya pergi pagi pagi sekali dan gak sempat pamit. Jadi papa bukannya ilang sayang." jelas Iren. Bocah itu terlihat mengagguk berulang kali, walau air matanya malah terus menetes perlahan di sudut matanya.
"Sini mama peluk." imbuh Iren sembari merentangkan tangannya. Bersamaan dengan pintu kamar hotel terbuka dari luar.
Austin yang sudah beringsut maju, cepat menoleh ke pintu. Begitu melihat Alvaro yang masuk, bocah itu berlari kearahnya lalu memeluk erat erat tubuh Alvaro yang sudah berjongkok di depannya.
Bocah itu memeluk tubuh Alvaro erat erat seakan tak ingin kehilangan pria itu sekali lagi.
"Hey, papa baru pergi beberapa menit saja. Kenapa kau terlihat begitu rindu." ujar Alvaro sembari mengusap punggung bocah itu penuh kasih sayang.
"Austin takut papa hilang lagi." ucap bocah itu dengan suara bergetar menahan tangis.
"Hilang?" tanya Alvaro sembari menatap Iren. Iren menggeleng sembari mengedikkan bahunya.
Alvaro menarik nafas saat Austin tak juga mau melepas dekapannya.
"Ayo kita siapkan sarapan, biar mama mandi dulu. Oke."
Austin mengendurkan dekapannya dia menengadah menatap wajah tampan papanya.
Alvaro tersenyum sembari mengusap lembut puncak kepala Austin. "Papa lihat Austin tidur sangat nyenyak, jadi papa tidak tega membangunkan Austin. Makanya papa keluar diam diam untuk memesan sarapan pagi buat kita. Papa janji tidak akan pergi diam diam lagi, kamu tenang sekarang?" ujarnya, seakan tau apa yang ada dalam pikiran putranya itu. Austin mengangguk sembari menyeka sisa air matanya.
__ADS_1
Di temani austin Alvaro menata makanan yang tadi di pesannya di atas meja.
Bocah empat tahun itu terlihat begitu bersemangat menyiapkan sarapan pagi bersama sang papa tercinta. Ini adalah impiannya, melakukan aktivitas bersama sosok bernama papa.
Selesai mandi dan berganti baju, Iren langsung menuju ke meja makan. Disana Austin dan Alvaro sedang menunggunya.
"Ma ini semua kami yang siapin loh," ucap Austin bangga.
Iren menaikkan alisnya sembari tersenyum. "Oh ya, hebat dong."
Austin mengangguk senang, sembari menatap papanya. Mereka benar benar terlihat sangat bersinar saat bersama.
Selesai sarapan mereka bersiap pergi kerumah sakit menjenguk mama.
Kali ini Alvaro sendiri yang nyetir mobil, sementara Iren duduk di sebelahnya dan Austin di belakang seorang diri.
"Kalian bilang pada Autin aku hilang?" tanya Alvaro memecah keheningan. Sembari menatap Iren sekilas.
"Hmmm."
"Tidak adil kalau kalian malah melimpahkan kesalahan kalian padaku. Aku juga ingin di anggap baik oleh anakku." protes Alvaro.
"Glen hanya bingung waktu itu, hanya kalimat itu yang ada di kepalanya. Jadi yah, mau gimana lagi."
Alvaro menarik nafas dalam. "Kali ini aku maafkan, apa lagi permainan ranjangmu membuatku....."
"Udah gak usah di bahas." potong Iren, sembari menatap Alvaro dengan pupil melebar. Apa dia berniat membahas masalah itu di depan Austin? Bocah itu mampu mencerna pembicaraan orang walau dia tak terlihat focus.
Alvaro tersenyum, lalu meraih jemari Iren. Membawanya kepangkuannya. "Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi." ujarnya, sembari meremas jemari Iren.
Iren mendengkus kesal dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Alvaro. Pria ini mesumnya gak ilang ilang. Tapi pria itu malah menggengamnya semakin erat.
"Kak, ada Austin." bisik Iren.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" ujarnya, lalu berpaling sekilas kebelakang.
"Austin, papa boleh gak genggam tangan mama?" tanyanya, sembari memperlihatkan tangan mereka yang saling menaut satu sama lain.
"Boleh." sahutnya tanpa menoleh. Membuat senyum Alvaro mengembang sempurna. Heran lelaki ini jadi gampang senyum sekarang.
"Udah lepas, kakak lagi nyetir kan? Bahaya tau." ujar Iren, masih berusaha melepas genggaman tangan Alvaro. Tapi lagi-lagi lelaki itu tak menggubris Iren. Dia masi tetap menggengam jemari mungil itu erat erat. Sementara sebelah tangannya terlihat lihai memegang kendali kemudi.
"Jangan memintaku melepas saat aku menggenggam. Aku tidak mau lagi menahan sesak karena ingin menyentuhmu." ujar Alvaro dengan suara berat dan dalam. Sementara pandangannya lurus kedepan.
Kalimat itu mampu membuat Iren terdiam. Jantungnya terasa berdebar kencang, bukan kalimat rayuan. Tapi mampu membuat hati Iren berbunga bunga.Tangan yang tadi menegang, berangsur angsur mengendur. Kenapa harus merasa canggung hanya dengan sentuhan tangan, padahal mereka sudah saling menyentuh di atas ranjang.
Tak berapa lama mobil mereka sampai di halaman parkir rumah sakit.
Saat mereka sampai ke ruang rawat. Glen dan papa sudah ada di sana. Dan keadaan mama sudah terlihat lebih baik dari kemarin.
Begitu melihat Austin wajah wajah tua mama terlihat sumringah.
"Ayo sini sayang." panggilnya pada Austin. Bocah itu mendekat dengan penuh semangat. Bocah haus kasih sayang itu terlihat berbinar matanya saat berkumpul dengan keluarganya. Selama ini yang bisa dia ajak cerita hanya Uty. Sementara Iren dan Glen terlalu sibuk untuk meluangkan waktu untuknya.
Iren menemani mama, sementara Glen mengajak Alvaro keluar ruang rawat. Dua pria kakak adik beda ayah itu memilih taman rumah sakit untuk mereka bercerita.
"Bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Iren?" tanya Glen, membuka percakapan.
Alvaro yang sedari tadi menatap kearah lain, kini beralih menatap Glen. "Berkat seorang Glen, aku kehilangan anak dan calon istriku. Lalu sekarang dia bertanya bagaimana perkembangan hubunganku? Kau bercanda?!" ujar Alvaro sinis.
Glen menarik nafas dalam. "Maaf, telah membuat mu kehilangan kesempatan melihat tumbuh kembang Austin. Tapi saat itu, aku memang harus membawa Iren jauh dari sisimu. Karena akan beda keadaannya bila Iren memutuskan untuk tetap tinggal. Mungkin kau benar benar tak akan melihat Austin melihat dunia ini seperti sekarang. Bahkan kau bisa kehilangan Iren untuk selamanya, tanpa ada kesempatan kedua untuk mendapatkannya lagi." Ujar Glen.
Alvaro menarik panjang, dia tak mengelak bahwa apa yang di ucapkan Glen benar adanya. Sebab saat itu dia memang berniat menghilangkan Austin dari rahim Iren.
"Dan satu lagi, berhentilah menyalahkan mama. Dia sudah tersiksa bertahun tahun, seperti dirimu yang pernah melakukan kesalahan pada Austin mama juga sama. Dia juga ingin memperbaiki kesalahannya dengan maaf mu. Kau juga pasti tau kenapa dia sampai masuk rumah sakit. Setiap detik yang dia lalui hanyalah penyesalan dan rasa bersalah padamu juga papa. Jangan sampai kehilangan mama menjadi penyesalan terbesar mu. Dia tak memiliki banyak masa, jadi biarkanlah dia menikmati hari hari yang hanya tinggal beberapa waktu lagi." ucapnya dengan penuh kelembutan.
Alvaro tak menyahut, tapi apa yang di ucapkan Glen sekali lagi menyentil perasaannya. Dia benar benar egois dan dia baru menyadari itu.
__ADS_1
.
Bersambung