Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 45


__ADS_3

Iren terbaring lemas di atas kasur. Dia baru saja memuntahkan isi perutnya , padahal dia baru saja makan dengan lahap.


Ingin menangis rasanya, merasakan siksaan ini. Hanya buah anggur satu satunya makanan yang tidak di tolak oleh perutnya.


Mata Iren terbuka saat terdengar pintu kamarnya terbuka. Dia menatap sosok Alvaro yang berjalan mendekat, lalu kembali memejamkan matanya erat. Aroma tubuh Alvaro mendadak membuat perutnya semakin mual.


Iren bergegas bangkit lalu berlari masuk kamar mandi, saat Alvaro benar benar berdiri dekat dengan tubuhnya. Disana Iren kembali memuntahkan isi perutnya. Tidak ada yang keluar, sebab memang perutnya tidak ada isi.


Iren mengangkat tanganya, memberi kode pada Alvaro agar menjauh. Saat lelaki itu menyusul langkahnya ke kamar mandi.


Alvaro menghentikan langkahnya, saat melihat kode dari Iren. Menatap Iren dengan wajah menegang. Dia ingin menerobos masuk, tapi tatapan memohon Iren agar dia tetap di luar. Memaku tubuhnya tetap berdiri, menyaksikan gadis itu dengan susah payah memuntahkan isi perutnya.


Iren membasuh wajahnya, lalu berdiri dengan wajah pucat pasih. Menatap Alvaro yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan sayu. Lalu mengibaskan tangannya agar Alvaro mundur kebelakang, sebab dia akan keluar.


"Ada apa?!" tanya Alvaro tak terima.


"Aroma tubuh kakak membuatku mual." ujar gadis itu, sembari menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.


Akvaro mengendus tubuhnya, tidak ada yang salah dengan aroma tubuhnya. Parfum ber-merk mahal masih melekat di tubuhnya. Apa jangan jangan..


"Apa kau merasa jijik pada tubuhku?" tebak Alvaro.


Iren menatap Alvaro dengan mata sayu. "Kakak bicara apa sih, aku tak suka bau parfum semenjak sakit kemarin. Pergilah mandi, tapi jangan pakai apa pun. Sampo juga sabun mandi, kakak gak usah pakai." titahnya pada Alvaro.


Alvaro mengerutkan keningnya. "Apa itu kau sebut mandi?"


"Pakai saja, tapi jangan tidur di kamar ini." sahut Iren. Membuat Alvaro tercengang. Sejak kapan gadis itu yang memerintah di rumah ini. Tapi anehnya lelaki itu malah menuruti permintaan aneh itu. Dari pada di usir keluar dari kamar ini. Mana Alvaro sudi.


Alvaro keluar kamar mandi dengan wajah kesal. Sementara Iren, terlihat rebahan di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan terlihat cekungan di bawah matanya.


"Sudah tau sakit, kenapa malah pergi kerja. Apa kau ke kurangan uang?" omel Alvaro. Dia menatap jengkel wajah cemberut Iren. Karena gadis itu, dia sudah seperti manusia purba. Mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo.


"Bukan begitu, aku baru saja bekerja. Mana bisa libur seenaknya. Apa lagi aku hanya karyawan magang." sungut Iren.

__ADS_1


"Itu sebabnya aku memintamu kerja di sampingku."


Iren menatap Alvaro dengan tatapan galak, seperti anak anjing yang siap menyalak. "Itu sama saja kakak ingin membunuhku."


Alvaro mengernyit menatap Iren. "Membunuh mu?"


"Iya! Tery akan langsung membunuhku bila dia melihatku ada di sisi tunangannya." ujarnya, ada luka pada sorot matanya. Kenyataan bahwa dia hamil anak dari pria milik wanita lain membuatnya ingin menangis. Entah mengapa semenjak tau dirinya hamil, persaan Iren jadi sangat sensitif. Dia ingin segera melepas diri dari pria arogan ini. Buah hatinya adalah sesuatau yang tak di inginkan Alvaro.


"Dia tak kan berani menyentuhmu. Kau tidak usah mencemaskan hal yang tidak perlu." ujarnya sembari naik keatas ranjang, lalu duduk di samping Iren.


"Kapan kalian menikah?" tanya Iren tiba tiba, membuat gerakan tangan Alvaro yang akan membelai wajahnya mengambang di udara.


"Ada apa?" tanya Alvaro, sembari menatap lekat lekat wajah Iren.


'Agar aku bisa melepas diri dari kakak.' sahut Iren dalam hati.


"Aku juga ingin menikah." sahut Iren dengan suara pelan. Membuat wajah Alvaro mengelam. Cepat dia meraih dagu Iren, membawa wajahnya kerahanya.


"Kau menyukai seseorang?" tebak Alvaro. Iren menatap Alvaro lekat lekat, pria berbulu mata tebal ini adalah pria yang dia sukai. Iren mengangguk pelan.


Mata Alvaro nyalang menatap Iren. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Tapi sedetik kemudian dia sudah menggumuli tubuh Iren dengan kasar.


Iren sendiri pasrah dengan kemarahan Alvaro. Entah kenapa mendadak hatinya menjadi sangat serakah. Kalau tidak bisa memiliki Alvaro seutuhnya dia memilih pergi.


Alvaro menggeram marah. Menatap tubuh mulus di bawahnya. Dia sudah akan melakukan penyatuan, tapi tiba tiba hasratnya hilang. Ucapan Iren barusan, membuat amarahnya meluap luap.


"Jangan tinggalkan rumah, sampai aku memberimu izin." titah pria itu dingin. Lalu beranjak pergi meninggalkan kamar.


Iren menarik nafas berat, lalu menatap perutnya yang datar. "Maaf kan mama sayang. Mama sudah membuat papa mu marah. Tapi bukan kah itu lebih baik, agar dia mau melepas kita." bisik Iren sembari mengeluh perutnya yang rata.


Alvaro bisa saja membunuh mereka berdua, kalau dia tau ada benih di rahimnya. Bukan rahimnya yang Alvaro mau, untuk mengandung anaknya. Tentu saja rahim Tery lah yang diinginkan Alvaro.


Iren tertawa sumbang, sembari menyusut bulir benih yang terus menetes di sudut matanya. Takdir benar benar mempertahankan dirinya.

__ADS_1


Esoknya dia tetap bekerja, dia harus jadi wanita pembangkang untuk membuat Alvaro membuangnya.


Iren berdiri di etalase mini market. Dia sengaja mampir kesini sebelum kekantor. Dia tak bisa makan apapun selain anggur, stok anggur di rumahnya sudah habis. Sementara perutnya belum di isi sedari semalam.


Iren mengambil, tiga paket anggur berisi lima ratus gram. Ini cukup untuk sarapan juga makan siangnya.


Saat Iren akan membayar anggur yang dia beli. Tiba tiba pria yang bertemu dengannya kemarin, menyodorkan dua lembar uang pada kasir.


"Saya yang bayar mbak." ujar pria itu, membuat mata Iren membulat.


"Apaan. Siapa suruh kamu bayarin belajaan ku?!" tukas Iren. Membuat gerakan kasir yang akan menerima uang pria itu terhenti.


"Gak apa mbak, dia pacar saya lagi ngambek." ujar pria itu, mengangsurkan uang di tangannya. Kasir itu mengangguk, lalu tersenyum sembari menatap Iren.


Iren sudah akan protes, tapi pria itu cepat mengambil belajaan Iren. "Maaf saya ambil ini, kembaliannya buat embak aja." ujar pria itu. Kasir itu kembali tersenyum.


"Makasih mas." ujarnya senang. Pria itu mengangguk, lalu buru buru pergi menenteng anggur Iren.


"Hey?!" pekik Iren. Terpaksa dia mengekori langkah pria itu menuju ke tempat parkir.


Langkah pria itu berhenti tepat di samping mobil Iren. "Cepat masuk. Kamu gak takut telat masuk kerja." ujarnya dengan tanpa rasa bersalah.


Iren menatap pria itu dengan perasaan geram. "Kau membuntuti aku?" tebak Iren. Bagaimana dia bisa bertemu lagi dengan pria ini, dia seakan tau apa yang tengah dilakukan Iren. Pria itu mengagguk, sorot matanya yang tajam menyorot Iren dengan intens.


"Aku sedang mengejarmu." ucap Pria itu, sembari menyondongkon separuh tubuhnya. Mengikis jarak di antara mereka. Iren bahkan mampu menggidu aroma tubuhnya.


"Kau!" bentak Iren, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh.


Cepat dia membuka pintu mobilnya, dia sudah tak berminat lagi pada anggur di tangan pria itu. Dengan kasar Iren menutup pintu mobilnya.


Tapi pintu tak langsung tertutup, sebab pria itu menahan pintu mobil Iren dengan tangannya. "Kau melupakan ini." ujar pria itu sembari menaruh anggur dalam pengakuan Iren.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2