Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 58


__ADS_3

Kenji melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajahnya terlihat sangat ceria, bahkan sesekali senyum tipis terlihat menghiasi bibir tipisnya.


Sementara di sampingnya, Iren tampak pasang wajah masam.


"Hahh, kenapa udara siang ini terasa sejuk dan segar ya." ujar Kenji sembari melirik Iren. Iren balas melirik dengan tatapan sengit. Membuat Kenji tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Dia benar benar senang hari ini, melihat wajah kelam Alvaro di restauran tadi.


"Kau senang sekali ya?" sindir Iren sembari menatap Kenji dengan pupil melebar. Kenji kembali tertawa. Bagaimana tidak senang, dia berhasil membuat saingan cintanya kepanasan terbakar api cemburu.


"Kau benar, aku lupa kapan terakhir kali aku tertawa selepas ini." sahut pria itu di sisa sisa tawanya. Iren percaya itu. Kenji memang jarang memperlihatkan wajah ramah. Dulu saat masih bekerja di kantor Kenji, pria itu bahkan irit bicara. Karyawan di kantornya memberinya julukan malaikat pencabut nyawa.


"Itu adalah kado perpisahan." ujar Kenji, sembari menatap lurus kedepan. Dia harus pulang ke negaranya malam ini, papanya mendadak masuk rumah sakit. Dan dia harus segera pulang untuk menentukan tempatnya, atau dia akan kehilangan segalanya. Andai Iren bisa membuka hati untuknya sedikit saja, dia siap kehilangan nama besar keluarganya. Tapi wanita ini sama sekali tak memberinya cela untuk bisa membuka pintu hatinya. Andai dia bisa menggunakan cara paksa dia pasti akan melakukan itu. Tapi hatinya tak setuju, dia mau Iren datang padanya dengan keinginannya sendiri tanpa paksaan.


"Aku akan mengingat kado darimu, setiap hari." cibir Iren.


Kenji mengangguk sembari tersenyum. Iren pasti akan mengingat kadonya. Dia berharap wanita pujaannya ini menemukan cinta dan kebahagiaannya kembali. Hhhh, cinta memang tak harus memiliki, tapi saat harus merelakan dia dengan orang lain. Rasanya hati ini sangat sakit.


* * * * * * *


Alvaro menendang kursi di depannya dengan perasaan geram. Ini yang dimaksud Kenan rupanya. Dia meminta Kenan menyelidiki Iren, tepatnya kehidupan pribadi gadis itu selama berada di luar negeri. Tapi pria breng sek itu hanya memberinya secuil informasi.


"Ini alamatnya, hanya itu yang bisa aku berikan padamu. Selebihnya adalah kejutan untukmu. Dengan sarat kau sendiri yang mencari tau, anggaplah itu sebagai hukuman mu yang telah menyia nyiakan gadis sebaik Iren."


"Omong kosong, aku tidak menyia nyiakan Iren. Dia yang pergi. Apa kau lupa?!"


Itu percakapan mereka sebelum Alvaro terbang kenegara ini menyusul Iren.


"Breng sek kau Kenan." umpat Alvaro geram. Kalau saja dia tau informasi tentang Kenji lebih awal, dia tidak mungkin bisa di pecundangi oleh Kenji seperti ini.


Kenji adalah rekan bisnis yang baru bekerja sama dengannya beberapa bulan ini. Makanya saat dia mengabari ingin menjamu Alvaro, sekaligus memperkenalkan tungangannya dia langsung setuju.

__ADS_1


Tapi siapa sangka yang datang sebagai tunangan Kenji adalah Iren. Dia benar benar shock saat itu. Tapi tak berani melakukan apapun, dia hanya diam menahan hati melihat kemesraan mereka berdua.


Hatinya sangat sakit saat Iren pergi meninggalkannya tanpa kabar. Tapi ini lebih sakit dari itu. Dunianya seakan runtuh berkeping keping, saat Kenji berkata bahwa Iren adalah tunangannya.


Lalu sekarang, apa yang harus dia lakukan? Sungguh mati dia tak kan menerima hubungan mereka. Iren adalah miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya.


Alvaro berpikir keras, harus dari mana dia memulai untuk bisa kembali merebut hati Iren. Atau dia harus memakai caranya yang dulu, tapi bagaimana bila Iren malah semakin membencinya.


Dia tidak pernah mengejar cinta seorang wanita seumur hidupnya. Wanitalah yang datang padanya dengan suka rela. Saat dengan Iren dulu dia tak pernah menganggap perasaannya sebagai cinta. Dia baru menyadari saat Iren memilih pergi, bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu.


Sementara itu di apartemen Iren, gadis itu sedang berdebat dengan Austin.


"Tapi sudah lama kita tidak pergi main kan mam."


"Mama tau sayang, tapi untuk sementara Austin tidak boleh main di luar rumah. Oke?"


"Austin dengar mama, pergi kekamarmu mama mau bicara dengan uncle Glen." pinta Iren.


"Papa bukan paman." protes Austin sembari beranjak bangkit.


Glen tersenyum mendengar bocah empat tahun itu sudah berani protes pada Iren.


"Dia sudah besar ya?" ujar Glen sembari menatap punggung Austin. Dia sangat menyayangi anak itu, seperti anaknya sendiri. Sebab dari kandungan dia ikut merawatnya.


"Aku dengar Alvaro berkunjung ke kota ini." ujar Glen.


Iren mengangguk. "Itu sebabnya aku melarang Austin bermain di luar rumah. Aku yakin saat ini pria itu sedang mengawasi gerak ku." sahut Iren.


Glen menarik nafas panjang. "Sampai kapan kau akan terus menyembunyikan Austin dari Alvaro. Kau mungkin memiliki banyak masalah dengan pria itu. Tapi Austin tidak. Hati Austin itu sangat lembut dan halus. Dia bisa terluka hanya dengan hal hal kecil."

__ADS_1


"Alvaro belum tentu menyukai keberadaan Austin."


"Itu menurut mu kan? Kita tidak pasti apa yang dipikirkan Alvaro. Aku sangat mengenal bocah itu, kalau dia sampai rela datang mencarimu seperti ini. Itu artinya dia tidak main main dengan perasaannya. Lagi pula setauku dia terus mencarimu selama hampir lima tahun ini."


"Hahh, entahlah. Aku belum siap bertemu dengannya."


"Aku tau itu berat bagimu, tapi pikirkanlah Austin. Jangan jadikan dia korban perasaanmu dengan ayahnya. Dia berhak tau siapa ayahnya. Dia juga berhak mendapat kasih sayang dari ayahnya. Bila nanti Alvaro tak menerima Austin. Itu beda cerita."


"Lalu aku harus apa."


"Beri cela untuk Alvaro agar dia mengetahui keberadaan Austin. Biarkan dia tau tanpa kau beritahu. Kalau dia menghampiri Ausrin dengan kedua tangan terbuka kamu harus siap. Begitu juga sebaliknya. Dengan begitu perasaan Austin tidak akan terluka."


Iren menarik nafas dalam dalam. Dia akui belakang tuntutan Austin pada sosok Ayah sangat besar. Dan apa yang dikatakan Glen benar. Kalau ternyata Alvaro tak menerima Austin dia tak perlu susah payah mengatakan bahwa ayahnya masih hidup dan sehat.


"Mbak Uty, panggil Austin. Kita bersiap pergi ke mall." ujar Iren akhirnya.


Glen tersenyum, Dia lebih senang Iren kembali pada Alvaro. Walau tujuannya sedikit egois, tapi dia benar benar menginginkan Iren kembali kepelukan Alvaro. Tapi dengan status yang jelas, bukan sebagai wanita simpanan seperti dulu.


Austin menggengam jari Glen erat. Dia sangat menyukai saat jalan jalan bersama Glen. Hidupnya terasa lengkap karena orang akan berpikir Glen adalah ayahnya.


"Hay boy, you're happy?" bisik Glen.


"Hmmm." sahut Austin sembari mengangguk.


Mereka langsung menuju tempat bermain anak anak. Berintraksi dengan anak lain bagi Austin sangat menyenangkan. Hal ini jarang sekali bisa dia lakukan karena mamanya membatasi geraknya di tempat umum.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2