Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 44


__ADS_3

Ruang rapat yang di hadiri puluhan orang itu, terasa sangat mencekam. Tidak ada satupun presentasi dari setiap divisi yang mampu memuaskan Alvaro. Wajah kelamnya membuat bawahannya tak berani mengangkat wajah menatap big bos perusahaan ini.


"Tidak ada satupun gagasan kalian yang membuatku puas. Dari sekian banyak kepala, apa memang semuanya kosong?! Kalau hanya membuat wacana seperti yang kalian presentasikan tadi. Murid sekolah dasar juga bisa membuatnya. Tim kreatif juga sepertinya sudah kehilangan pungsi. Iklan seperti itu sama sekali tidak cocok dengan produk dari perusahaan kita. Dan juga, siapa yang lancang merekomendasikan Tery sebagai model tanpa berdiskusi dulu padaku?!" ujar Alvaro dengan suara beratnya. Walau intonasinya rendah, tapi suaranya yang penuh penekanan itu membuat bulu kuduk mereka meremang.


Salah seorang dari peserta rapat mengangkat kepalanya menatap Alvaro. "Maaf pak, Nona Tery sendiri yang mengajukan diri. Dia bilang dia yang akan bertanggung jawab pada bapak." sahut salah satu penanggung jawab.


Alvro menatap pria itu dengan sorot mata tajam. "Lalu untuk apa segala prosedur di terapkan di perusahaan ini. Kalau orang lain bisa seenaknya mengajukan diri dan langsung di setujui tanpa pertimbangan. Kalaupun dia yang mau, bukankah harusnya aku yang merekomendasikannya pada kalian. Kalian berbuat begini apa karena dia tunangan ku? Karakternya bahkan tidak cocok sama sekali dengan produk kita. Tapi kalian dengan berani menerima dia, tanpa memikirkan perusahaan. Apa aku harus mengajari kalian lagi, dasar dasar membuat iklan?!" ujar Alvaro gusar.


"Maaf pak. Kami memang sudah lancang. Kami akan memperbaiki semuanya. Beri kami seminggu untuk memperbaiki semuanya."


Alvaro menarik nafas dalam. Pria berwajah tampan itu memijit pelipisnya hingga menimbulkan bekas kemerahan pada permukaan kulitnya.


"Lakukanlah sesuai perkataan mu tadi. Cari model dengan karakter yang sesuai dengan produk kita. Aku tidak perduli soal bayarannya. Asal hasilnya memuaskan aku kira akan sepadan. Aku tunggu hasilnya minggu depan. Rapat kali ini cukup sampai di sini." ujar Alvaro. Suasana hati hati Alvaro mempengaruhi pekerjaannya di kantor. Tak satu pun pekerjaan karyawannya yang terlihat baik di matanya. Biasanya dia tak begini, membawa masalah pribadi kedalam pekerjaan.


Pria itu tidak langsung pergi dari ruang rapat. Dia berdiam diri cukup lama disana. Bayangan wajah Iren memenuhi tempurung kepalanya.


Alavaro merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dari dalam sakunya lalu melakukan panggilan.


"Kau sedang apa?" tanya Alvaro begitu panggilannya tersambung.


"Maaf kak kami sedang rapat." terdengar suara berbisik di sebrang sana. Alvaro mengerutkan alisnya.


"Kau dimana?"


"Di kantor."


"Kau pergi kerja?"


"Hhmm, sudah dulu kak kami sedang rapat."


Tut..tut..


Panggilan terputus, membuat Alvaro menggeram marah.


"Hhhh, dasar pembagkang!" geramnya.


Sementara Iren di ruang rapat mendapat tatapan tajam dari Heru. Sebab berani menerima telpon saat sedang rapat.


Iren cepat menyimpan ponselnya, setelah merubah ponselnya ke mode silent. Lalu kembali focus pada materi rapat siang ini.


Iren memutuskan tetap bekerja hari ini. Dia berangkat kekantor saat Alvaro sudah pergi. Dia sengaja tak mengungkit masalah kerja di depan Alvaro tadi pagi. Agar pria itu tak curiga. Awalnya dia ingin berbohong pada Alvaro, tapi pria itu malah menghubunginya saat sedang rapat. Dia terpaksa jujur.


Makan siang kali ini telat hampir dua puluh menit, karena rapat baru saja Selesai.


Iren makan di temani Bagas, juga Niken. Gadis itu hanya makan dengan nasi putih dan sepotong tempe goreng.

__ADS_1


"Menu apa ini?" tanya Bagus, sembari menunjuk potongan tempe di piring Iren.


Iren tertawa melihat itu. "Menu orang sakit." sahut Iren.


"Udah tau sakit kenapa malah nekat masuk kerja. Lihatlah wajahmu, udah mirip mayat hidup." gerutu Bagus. Yang di amin oleh mbak niken.


Iren kembali tertawa. Dia suka berbicara dengan Bagus. Pria itu membuat pikirannya rileks saat bicara dengannya.


"Eh tapi ada gosip yang beredar pagi ini, apa kau tidak dengar?" bisik Bagus.


"Gosip apaan?"


"Ini tentang mu."


"Aku?" Iren menunjuk dirinya sendiri sembari mengernyitkan alisnya.


"Iya."


"Kok bisa?"


Bagus mencebik menatap Iren yang terlihat bingung. "Ya bisa. Seorang CEO membopong tubuhmu lalu membawanya pulang dan tak kembali lagi. Apa menurutmu ini bukan berita besar?!"


"Ceo membopong tubuh ku?" Tanya Iren melongo.


"Kau tidak tau?" Bagus balik bertanya. Iren menggeleng.


"Sumpah aku gak tau." ujar Iren, dia benar benar tak tau. Kalau Alvaro yang membopong tubuhnya. Pantas saja, sedari pagi banyak mata menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.


Iren berdecak kesal. Kenapa Alvaro melakukan itu. Bukan kah dia yang wanti wanti agar Iren hati hati. Lalu kenapa dia yang ceroboh.


"Meteka pikir kamu simpanan pak Alvaro. Dia kan udah tunangan dengan model itu. Makanya mereka pikir kamu simpanannya." tutur Bagus. Iren tersenyum kecut, itu benar. Dia memang hanya simpanan Alvaro.


"Hey! Kok diem, gak ada pembelaan gitu?"


"Apaan gak penting." sahut Iren sembari mengibaskan tangannya.


"Kalau bukan simpanan, apa kamu saudaranya?" selidik Bagus tak mau berhenti.


Iren cuma tersenyum saja, sembari menggigit tempe goreng.


"Udah gak usah kepo." timpal mbak Niken sembari memukul lengan Bagus.


"Adu.. Penasaran aku mbak. Seorang CEO kayak Alvaro, dengan paniknya membopong tubuh karyawan magang di kantor kita. Apa gak bikin penasaran setengah mampus."


"Tau, tapi mulut kamu gak bisa diem apa?!"

__ADS_1


"Enggak..." sungutnya. Membuat Iren tertawa.


"Udah ah gak usah debat. Nanti juga beritanya reda sendiri. Mungkin aja dia memang bos yang loyal sama bawahan. Makanya sikapnya gitu ke aku, aku kan bawahannya."


"He eh deh." sahut Bagus nyerah. Dia suka berteman dengan Iren, jadi dia memilih percaya ucapan gadis itu.


Iren menarik nafas dalam. Dia tak ambil pusing dengan gosip yang beredar. Kalau sudah kepepet dia bisa mengungkap identitasnya sebagai adik angkat Alvaro. Tidak aneh kan, kalau adek angkat di bopong karena sakit?


Hari ini Iren pulang lebih cepat, Bagus dan mbak Niken membantu menyiapkan semua berkas yang kemarin tertunda.


Sebelum pulang dia singgah dulu ke mini market di dekat apartemen. Beberapa kebutuhan hariannya sudah habis. Seperti sampo sabun dan lain lain.


Dengan menenteng keranjang belanja yang hampir penuh, Iren berjalan menuju meja kasir. Tapi mendadak tubuhnya di tubruk seseorang dari arah samping. Hingga tubuhnya terdorong kesamping dengan sangat kuat.


Belanjaan yang di bawa Iren juga jatuh kelantai berserakan.


Dengan perasaan kesal, Iren menatap lelaki yang menabraknya. "Kalau jalan hati hati dong!" bentak Iren kesal. Lalu berjongkok meminguti semua belanjaannya.


"Maaf saya buru buru." sahut pria itu, dia ikut berjongkok di sebelah Iren. Membantu gadis itu memungut berlanjaan Iren yang tercecer.


"Lain kali hati hati, siapa tau wanita yang kamu tabrak lagi hamil. Bahaya tau gak?!" ujar Iren, sembari beranjak bangkit. Di ikuti oleh pria itu.


"Iya mbak maaf." ujar pria itu dibarengi senyum.


Sementara Iren langsung beranjak ke meja kasir. Pria itu mengekori langkah Iren dari belakang. Begitu juga saat gadis itu keluar dari mini market.


"Biar saya bantu bawa mbak." ujar pria itu, sembari merebut bawaan di tangan Iren.


"Gak usah." sahut Iren berusaha mempertahankan pegangannya pada plastik toko di tangannya. Tapi pria itu dengan mudah mengambil alih pekastik toko itu ketangannya.


"Gak papa mbak. Cuma mau nebus rasa bersalah sama mbak. Boleh ya." ucapnya.


"Hhh, serah." sahut Iren lalu beranjak menuju mobilnya. Dia lagi malas berdebat, perutnya mual kepalanya juga pusing. Dia ingin buru buru rebahan di atas kasur.


Iren membuka pintu mobilnya, dia tak langsung masuk. Gadis itu mengulurkan tangannya, meminta belajaannya pada pria yang berdiri di sampingnya itu.


Tapi pria itu malah bergeming. "Boleh minta nomor ponselnya mbak?" ujar pria itu, masih dengan senyum.


Iren menatap lekat wajah tampan di depannya. Makin lama ini lelaki, makin ngelunjak ya!


Dengan gerakan cepat Iren menyaut plastik di tangan pria itu. Lalu bergegas masuk mobil. Menutup pintunya cepat, lalu melajukan mobilnya meninggalkan pria tak jelas itu sendirian.


Pria itu menatap laju mobil Iren dengan senyum miring. "Dia sungguh menarik." gumamnya.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2