
James tengah memandangi ruangan yang dulu ditempatinya, ia sudah berada disana setengah jam yang lalu dan kini ia sedang menunggu pemilik baru ruangan itu untuk bangkit setelah sebelumnya ia menghujani mantan asistennya itu dengan pukulan dari sebuah kayu yang biasa mereka gunakan untuk mendisiplinkan anggotanya yang bersalah
Ruangan itu tidak banyak berubah, namun terlihat lebih hangat setelah Erik menempatkan sebuah foto dirinya beserta dengan anak dan istrinya disana
Meski cukup lama tertegun memandangi kebahagiaan kecil dari foto tersebut, tapi kemudian James mengalihkan pandangannya kembali pada sosok Erik yang mulai duduk bersimpuh di depannya
"Apa yang terjadi setelah kecelakaan hari itu?" tanya James langsung karena menurutnya tidak penting mempertanyakan tentang telepon dan pesan darinya yang di abaikan oleh mantan asistennya itu
"Mike dan istrinya selamat dan sekarang mereka sudah hidup bahagia" Erik sangat mengerti apa yang sebenarnya ingin di ketahui oleh bosnya itu sehingga ia hanya menyampaikan kabar yang sekiranya bisa membuat bosnya itu berhenti untuk mengganggu kehidupan mereka
Bug!
"Bang sat!Mereka tidak boleh bahagia setelah membuatku lumpuh seperti ini!" Erik kembali meringis saat James lagi-lagi memukul perutnya dengan tongkat kayu yang di pegangnya
"Saya hanya menyampaikan kebenarannya" Erik kembali bangkit namun kali ini ia sedikit mengambil jarak karena seberapa sering pun ia menerima pukulan tapi tetap saja semua terasa menyakitkan
"Diam kau breng sek!"
"Sudah saatnya bos merelakan wanita itu. Saya rasa bos besar pun akan marah kalau tau bos masih saja menyimpan dendam terhadap mereka"
"Aku hanya ingin mengambil wanitaku dan kau menyuruhku merelakannya bersama dengan musuh besar ku? kau jangan bermimpi!" cibir James
"Wanita itu sudah berbahagia dan sebentar lagi mereka akan segera memiliki anak, sebaiknya bos berhenti untuk memaksakan perasaan bos terhadap wanita itu" nada bicara Erik sedikit meninggi. Stok kesabarannya sudah hampir habis menghadapi bosnya yang bahkan tidak mau mengerti dengan apa yang ia ucapkan
__ADS_1
Deg!
"Hamil? Embun hamil?" gumam James tak percaya karena sepengetahuannya Embun mengalami trauma yang parah akibat ulahnya waktu itu yang hampir memperkosanya sehingga ia yakin kalau wanita itu akan menolak ketika di sentuh oleh seorang pria meskipun itu Mike suaminya sendiri
Tapi mendengar fakta itu dari orang kepercayaannya sudah pasti kabar itu benar adanya
"Ya, wanita yang anda cintai sedang mengandung anak dari musuh besar anda. Saya harap anda tidak lagi melakukan kebodohan dengan menyakiti wanita itu karena saya sendiri yang akan menggagalkan rencana anda!"
"Jadi sekarang kau berani menentang ku,hah!" bentak James pada Erik yang masih menatapnya dengan sengit
"Iya! saya akan terus menentang anda saat kebodohan anda kembali membawa nyawa anda pada kematian"
"Cih! aku tidak butuh perhatian dari pria tidak tau diri sepertimu!"
"Sudah saatnya anda juga menjalani hidup dengan baik, menikah dan mempunyai anak. Supaya anda bisa merasakan nikmatnya dalam hidup" Erik masih saja terus berbicara di sela pukulan yang ia terima. Ia sudah merasa muak dengan drama percintaan yang bosnya itu ciptakan dan kali ini ia tidak akan lagi mau terlibat dengan hal itu
Semakin keras pukulan yang di terimanya maka semakin keras pula suara Erik memberikan kata-kata penyadaran bagi pria yang kini masih sangat dihormatinya itu
Tidak ada suara lain yang terdengar, hanya teriakan dan suara pukulan yang saling bersahutan bahkan anak buah mereka saja hanya berani menonton dari kejauhan karena tidak berani dengan tatapan mata membunuh dari James yang seakan mengancam nyawa mereka kalau sampai mereka menolong Erik
"Hentikan James!" suara tuan Richard bergema di dalam ruangan itu, sebagian orang menarik nafas lega saat melihat kedatangan pria paruh baya itu namun berbeda dengan James yang seakan tidak perduli dengan kedatangan juga teriakan ayahnya
Seperti di beri perintah, para pengawal pria tua itu langsung melepaskan Erik hingga terlepas dari cengkraman tangan James yang bila di biarkan kemungkinan akan membunuh pria malang itu
__ADS_1
"Lusa kita akan kembali ke Belanda, dad harap selama itu kau harus bisa menjaga sikapmu" Tuan Richard berbicara sembari memantik api pada rokok yang di bawanya. Ia sudah menduga kalau putranya itu akan menemui Erik tapi sepertinya ia sedikit terlambat karena hampir saja anak buah kepercayaannya mati di tangan putranya sendiri
"Urusanku disini belum selesai"
"Dad akan mengenalkan mu dengan gadis yang lebih cantik dari gadis bodoh pilihanmu itu" asap rokok berhembus dari bibir pria tua itu
"Aku hanya menginginkan gadis itu!"
"Dad tidak sedang memberikan pilihan padamu. Kau hanya perlu mengikuti semua yang dad ucapkan karena kau juga pasti tau apa yang bisa dad lakukan padamu"
"Tapi dad-"
"Dad bodoh karena selama ini menempatkan mu dalam bahaya apalagi selama ini dad selalu beranggapan kalau kau pasti akan selalu selamat dari kematian,"
Pria tua itu kembali menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Kali ini ia terlihat begitu menikmati tiap gumpalan putih yang kini memenuhi seisi ruangan itu
"Kau putraku satu satunya, dan dad tidak mau sampai kehilangan dirimu untuk kedua kalinya. Dad tidak menyalahkan perasaanmu tetapi dad berharap setelah kehilangan kedua kakimu, kau bisa lebih bijak dalam menentukan hidupmu"
Helaan nafas terdengar samar dari pria tua itu. Ayah dan anak itu pun terdiam dengan pikirannya masing-masing
"Tiga bulan! selesaikan semua urusanmu dalam waktu tiga bulan. Setelah itu kau tidak lagi punya kesempatan untuk bernegosiasi denganku"
Tuan Richard menepuk pundak putranya setelahnya ia berjalan keluar dari ruangan itu menyisakan James yang masih terdiam dengan segala pemikirannya
__ADS_1