
"Maaf membuatmu lama menunggu kedatanganku, sebentar lagi aku akan datang menjemputmu dan kita akan menjadi pasangan yang paling berbahagia di dunia ini. James"
Kata-kata dalam secarik kertas itu terus berputar dalam pikiran Embun. Hanya membaca namanya saja sudah membuat ketakutan dalam dirinya kembali muncul
Di saat ketakutan menguasai dirinya, ponselnya yang tergeletak di atas kasur berbunyi. Ada sebuah pesan singkat yang masuk dan di antara ketidaksadarannya ia berharap bahwa itu adalah pesan dari Mike
Tertatih ia mengambil ponsel tersebut, namun yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. James lagi-lagi mengiriminya pesan romantis tetapi sangat menakutkan baginya
Embun berteriak ketakutan. Ponselnya sudah terlempar entah kemana. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang kini sudah berada di sudut kamar. Tempat paling aman yang ada di pikirannya
Keringat sudah membasahi pakaian yang dipakainya, Ia menutup mata dan kedua telinganya karena merasa pandangan James sedang mengawasinya di kejauhan.
"Papa, ibu, aku takut! pulang…aku mau pulang! tolong aku!" Perkataan yang terus keluar dari bibirnya seakan mantra yang bisa menguatkannya melewati malam yang terasa sangat panjang dan melelahkan ini
Di tempat lain. James tengah menikmati ketakutan Embun dari kamera mini yang ia selipkan di antara bunga yang dikirimnya.
Ia juga baru mengetahui apa yang dialami gadis itu karena perbuatannya. Bukannya iba tetapi James justru merasa sangat senang, karena dengan begitu ia bisa terus membuat gadis itu tidak berdaya dan akhirnya memilih untuk menjauh dari kehidupan Mike
Ia semakin merasa terhibur, manakala Embun yang terlihat sangat histeris saat membaca pesan singkat yang dikirimkannya. Ia terus mengirim pesan-pesan itu sekalipun Embun sudah tidak mau lagi membacanya
Bahkan ia dengan sengaja menghubungi ponsel gadis itu untuk membuatnya makin tidak terkendali. Dan apa yang dilakukannya terbukti.
Suara dering ponsel dengan teriakan Embun saling bersahutan, hingga akhirnya suara gadis itu tertelan oleh ketidaksadaran yang sudah berhasil menguasainya.
__ADS_1
***
Sejak semalam Mike merasa gelisah. Perasaan yang membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang padahal ia sudah memastikan semuanya tetap aman
Saat menghubungi nomer Embun, gadisnya itu tidak menjawab. Ia memaklumi karena merasa Embun pasti kelelahan setelah seharian sibuk mempersiapkan pernikahan mereka
Apalagi Nabila juga mengatakan kalau Embun langsung beristirahat setelah kepulangan mereka dari salon, sehingga Mike bisa bernafas lega karena menyangka itu hanya perasaan tidak beralasan yang biasa terjadi pada pasangan yang akan menikah
Hari sudah berganti pagi tapi tidak seperti biasanya, Embun belum juga keluar dari kamarnya. Para pelayan sudah berulang kali mengetuk pintu kamarnya, mengajak untuk sarapan tetapi gadis itu tidak juga menampakkan batang hidungnya
"Ada apa bi?" Nabila mengernyit melihat kekhawatiran di wajah tua bi Eni
"Itu non, bibi khawatir sama non Embun soalnya dari semalam gak keluar kamar. Di panggil sarapan juga gak ada suaranya padahal biasanya gak begitu"
"Mungkin masih tidur bi. Kemarin Embun bilang kalau dia kecapean"
Nabila teringat pada Mike yang semalam juga menghubunginya karena mengkhawatirkan Embun sama seperti yang dilakukan bi Eni
Meskipun merasa kekhawatiran mereka tidak beralasan, Nabila pun berjalan menuju ke kamar Embun untuk memastikan keadaan adiknya itu tidak seperti yang di cemaskan oleh mereka
"Bun…sudah siang ini, kamu mau tidur sampai jam berapa?" Nabila mengetuk pintu kamar Embun dan berteriak memanggilnya karena pintu kamar tersebut terkunci
"Bun…buka pintunya!" Nabila mulai panik, saat gedoran dan teriakannya tidak juga membuat pintu yang menutup itu terbuka
__ADS_1
Beberapa pengawal berkumpul berusaha membuka pintu kamar itu secara paksa. Cukup lama hingga akhirnya pintu tersebut terbuka, dan Nabila langsung menghambur masuk mencari keberadaan Embun yang tidak ia dapati di tempat tidur
"Ya ampun…Embun, bangun Bun!" Nabila menepuk wajah Embun yang terlihat memucat. Menyingkirkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya dan menyuruh pelayan perempuan membantunya memindahkan Embun ke kasur
"Bi, tolong telepon dokter. Embun sakit"
Bi Eni mengangguk dan secepat mungkin menghubungi dokter keluarga yang biasa mengobati keluarga tersebut. Sementara Nabila tengah mengompres Embun yang demam tinggi sembari menunggu dokter yang datang satu jam kemudian
"Nona Embun hanya kelelahan, setelah meminum obat yang saya resep kan semoga keadaan nona Embun bisa segera pulih" dokter Fath memberikan resep obat kepada Nabila
"Tapi Embun baik-baik saja kan dok? lusa pesta pernikahannya, apa dia bisa pulih secepatnya dok?"
"Saya tidak bisa memastikan, tapi kita doakan saja semoga nona Embun bisa segera pulih dan rencana pernikahan yang sudah di persiapkan bisa di laksanakan. Pastikan juga nona Embun meminum obat yang saya berikan"
"Baik dok"
"Sore nanti saya datang lagi untuk mengecek kondisi nona Embun. Saya harus permisi karena masih ada pasien yang harus saya tangani"
"Terima kasih atas bantuannya dok"
Nabila baru bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Embun.
Ia berencana memberitahukan kabar tentang Embun pada Mike nanti setelah ia memastikan semuanya terkendali.
__ADS_1
Mengingat rasa sayang Mike yang begitu besar pada Embun, pasti akan membuat Mike langsung pulang detik itu juga bila tadi ia sempat menghubunginya
Sedangkan mereka berdua sedang dalam tahap tidak boleh bertemu hingga nanti acara sakral itu di lakukan. Karena pertimbangan itulah Nabila memilih untuk merahasiakan kabar ini dari Mike untuk sementara