
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Mike selalu teringat ekspresi wajah papanya saat bercerita tentang masa lalunya
Tidak ia sangka papanya memiliki sisi lain yang selama ini tidak ia ketahui, ada hati yang tulus di dalam sikap dingin yang selama ini ia tunjukkan
Namun sayang ketulusan itu berbalas penghianatan dan buruknya penghianat itu sudah memiliki tempat yang khusus dalam hati papanya
Mike menghembuskan nafasnya kasar, hari ini akan menjadi awal di mulainya pertaruhan besar yang ia sendiri tidak yakin akan hasil akhirnya seperti apa. Akankah ia menjadi pemenangnya ataukah ia yang akan keluar sebagai pecundang yang kalah
Di tengah kekalutan hati dan pikirannya, ia melihat sesosok gadis bertubuh mungil berjalan keluar dari warung makan yang berada di depan tempat kerjanya bersama dengan rekan-rekannya
Senyumnya merekah saat ide jahil seketika terlintas di kepalanya bahkan matanya seakan sudah melihat gambaran wajah lucu gadis itu saat nanti mereka berjumpa
Ia pun membelokkan mobil ke arah toko buku tersebut dan berjalan masuk namun tetap dengan mata yang masih menangkap jelas sosok mungil yang di lihatnya tadi
Perlahan ia berjalan mendekat dan dengan sengaja berdiri di sisi sebelah kiri gadis itu yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya lantaran terlalu asik dengan buku yang di pegangnya
"Buku tentang pertambangan ada di sebelah mana?" tanya Mike yang cukup membuat gadis itu terkejut dan menjatuhkan buku yang di pegangnya
"Ada di rak kedua sebelah kanan dekat pintu masuk tuan" jelasnya sambil memungut buku yang tadi terjatuh, beruntung saat ini ia sudah menghapal letak buku yang di jual di toko tersebut sehingga bisa langsung menjawab sesuai dengan yang pria itu tanyakan
Embun tentu saja terkejut dengan kedatangan tiba-tiba mahluk astral yang paling tidak ingin ia temui itu, apalagi firasatnya seketika memburuk saat melihat pria menyebalkan itu tidak bergeming dari tempatnya padahal tadi ia sudah menunjukkan letak buku yang ia tanyakan
__ADS_1
"Buku yang anda cari ada di sebelah sana tuan" Embun mengulangi ucapannya karena Mike terlihat tidak bergeming dari tempatnya
"Apa kau mengusirku?" tatapan mata Mike seakan menembus mata bulat yang juga sedang tertegun menatapnya
"Bu-bukan begitu tuan, hanya saja saya kira tuan tidak mendengar apa yang tadi saya katakan" Ucap Embun beralasan sembari menghindari tatapan mata yang hampir membuatnya lupa diri
"Saya tidak tuli" jawabnya sarkas membuat Embun menghembuskan nafasnya berusaha meredam hati yang mulai terpancing emosi
Ia lalu menyibukkan dirinya dengan kembali menyusun buku-buku yang berserakan dan mengabaikan seseorang yang masih saja berdiam di sampingnya tanpa melakukan apa-apa
"Masih sekolah?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Mike saat keduanya terdiam cukup lama dan hanya mendapat anggukan dari Embun sebagai jawabannya
"Kelas berapa?" Embun mengernyit heran, hubungan keduanya tidak sedekat itu sampai harus berbasa-basi dengan pertanyaan yang terkesan pribadi tapi demi kesopanan akhirnya Embun membalas pertanyaan itu
"Tidak ikut ujian?" Embun kembali menggelengkan kepalanya, membuat Mike makin penasaran hingga lagi-lagi memberikan pertanyaan
"Kenapa?"
"Maaf tuan sepertinya anda terlalu banyak mempertanyakan tentang hal yang bersifat pribadi kepada saya sedangkan kita tidak saling mengenal hanya sebatas pengunjung dan pekerja saja" Emosi Embun kembali berkibar, sungguh pria menyebalkan itu kembali bisa memantik amarahnya seperti pertemuan mereka yang terakhir
"Saya hanya perihatin saja melihat seseorang mengabaikan pendidikan hanya untuk sebuah pekerjaan" ucapnya acuh tanpa memandang wajah Embun yang sudah memerah menahan marah akibat perkataannya
__ADS_1
"Sebaiknya anda tidak perlu mencampuri urusan orang lain dan cukup urusi hidup anda sendiri" Embun pergi meninggalkan Mike yang masih terdiam dengan segala pemikirannya padahal tadi Mike hanya mengutarakan apa yang ada di pikirannya namun tidak menyangka reaksi yang di tunjukkan gadis itu justru terkesan berlebihan menurutnya
Mike kembali berjalan mendekat ke arah Embun karena masih ada hal yang belum selesai mereka bicarakan namun gadis itu justru sudah pergi meninggalkannya
"Apa sebenarnya mau anda tuan? kalau hanya ingin ribut dengan saya sebaiknya tunggu sampai saya selesai bekerja" geram Embun karena pria itu masih saja mengikuti kemana ia pergi sedangkan mata-mata para pengagum pria itu makin mencibir dirinya yang entah bagaimana membuat pujaan hati mereka malah mengabaikan kehadiran mereka
"Saya hanya ingin menagih utang padamu" kedua alis embun kembali bertaut, masih tidak mengerti dengan utang yang di maksud pria itu
"Utang?"
"Waktu itu kamu bilang akan membayar bantuan ku saat kita bertemu lagi jadi sekarang waktu yang tepat untuk menagih utang itu"
Embun terus berusaha mengingat tapi ia sama sekali tidak menemukan benang merah dari ucapan pria menyebalkan itu
"Silahkan pergi dari sini tuan, anda hanya mengganggu saya bekerja"
"Bukankah harusnya kau berterima kasih padaku yang sudah menolong mu saat kabur di hari pernikahanmu waktu itu"
Mata Embun membulat sempurna, secara refleks ia menutup mulut Mike dengan tangannya dan menarik tubuh tegap itu menjauh dari yang lain
Setelah merasa aman, Embun melepaskan tangannya lalu menatap lekat wajah Mike hingga akhirnya ia teringat sesuatu dan memekik dengan keras
__ADS_1
"Om"