
Hari masih gelap, namun Embun sudah berangkat bekerja. Ia tidak mau lagi terjebak macet, akibat demo yang di lakukan ratusan orang kemarin yang membuatnya sampai datang terlambat bekerja
Meskipun sudah mengatakan alasan keterlambatannya, Manager toko sepertinya tidak perduli bahkan sampai memberikan peringatan keras padanya yang masih terbilang anak baru disana
"Rajin bener neng, pagi-pagi sudah berdiri disini" goda Imran setelah memarkirkan motor maticnya di depan toko
"Takut di pecat kak," kekeh Embun
Bersama mereka juga sudah ada beberapa karyawan yang berkumpul, tapi Embun masih merasa nyaman bila bercerita bersama Imran dan teman lelaki mereka disana.
Bukan karena sombong atau tidak mau bergaul, hanya saja Embun merasa para wanita di tempatnya bekerja seperti menjaga jarak dengannya
"Kakak datang jam segini, memang tidak terjebak demo di depan sana?" tunjuk Embun kearah perusahaan yang kemarin di lihatnya
"Sudah gak ada demo, aman"
"Yah, percuma dong datang pagi-pagi begini" sesal Embun yang merasa waktu bersantai paginya harus terlewati begitu saja
"Sekali-kali tidak apa Bun, anggap saja ibadah" Imran tertawa melihat bibir mengerucut Embun padanya
Embun tidak sempat menanyakan perihal demo itu pada Nabila yang merupakan pekerja disana. Semalam ia hanya mendengar sekilas percakapan sepasang kekasih itu yang mengatakan tentang seberapa keren atasannya itu menyelesaikan masalah
Meskipun Embun juga penasaran akan siapa atasan yang Nabila sebut keren itu, tapi ia urung menanyakan hanya karena takut semakin penasaran pada atasan kakaknya itu
Saat Embun masih asik dengan lamunannya, seseorang di antara mereka menyebut sebuah nama yang di anggap keramat oleh Embun. Hal itu membuat Embun mengalihkan pandangannya pada sekelompok pria di sampingnya itu
"Gak nyangka, Tuan Mike yang sering kita lihat itu ternyata pemilik perusahaan tambang yang terbesar itu"
"Selama ini tidak pernah tertangkap kamera, tapi tiba-tiba sudah menjabat sebagai presiden direktur disana" timpal yang lain
Pembicaraan itu terus berlanjut, namun Embun yang masih menerka-nerka apakah Mike yang mereka bicarakan itu sama dengan pria yang ia sebut menyebalkan
__ADS_1
"Mike yang di bicarakan itu, yang sering berkunjung kesini kak?" bisik Embun pada Imran yang duduk di sampingnya
"Iya, Mike yang itu. Kenapa? kaget?"
"Sedikit" Embun meringis, tidak menyangka pria menyebalkan itu ternyata sangat kaya tapi kenapa justru meminta uang padanya yang sangat miskin ini
"Sudah tau kan siapa tuan Mike itu, jadi mulai sekarang jaga jarak sama dia. Kita bukan orang yang derajatnya sama dengan dia"
"Bukan saya kak yang mendekat terus sama itu orang," Embun membela diri, ia memang tidak berniat dekat-dekat dengan Mike yang setiap bertemu saja rasanya umurnya makin pendek
"Bagus lah kalau begitu. Tokonya sudah buka, ayo masuk"
Embun mengikuti langkah Imran dari belakang, fakta yang baru saja ia dapatkan bisa menjadi senjata untuk ia keluarkan nanti ketika bertemu dengan Mike
Senyum tipisnya terlihat, sepertinya keinginan untuk mengikuti ujian nasional susulan bisa terwujud karena uang yang sudah ia siapkan tidak akan ia berikan pada pria itu
***
Mengetahui rencananya gagal, bahkan Mike yang tetap terlihat santai saat menghadapi permasalahan yang di timbulkannya membuat Edwar hanya bisa menelan kekalahannya itu
Sebenarnya Edwar telah menyiapkan beberapa rencana yang nantinya secara perlahan akan ia keluarkan untuk membuat perusahaan milik Mike menjadi tidak berdaya
Meskipun ia merasa semua rencananya itu sudah cukup matang, namun ia tidak mau terlalu berbesar kepala bahkan meremehkan musuhnya karena bagaimanapun seorang Mike tidak akan bertindak gegabah apalagi di belakangnya masih berdiri seorang Max yang akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan putranya
Atas pertimbangan itu, Edwar akhirnya meminta bantuan kepada teman lamanya untuk membantu menjalankan rencananya itu.
Pertemuan kedua teman lama itu pun berlangsung di sebuah rumah makan yang memiliki ruangan khusus yang biasa di pergunakan untuk keperluan tertutup
"Maaf Paman, Daddy sedang menjalani pengobatan di Amerika sehingga tidak bisa menemui Paman disini" sapa James ketika keduanya telah berada di rumah makan tersebut
"Tidak apa James, sampaikan salam Paman padanya."
__ADS_1
"Baik Paman. Oh ya Paman, apa yang bisa saya bantu?" tanya James yang hanya di balas oleh gelak tawa pria tua di hadapannya
"Tidak salah Rich menjadikanmu penggantinya, ternyata kepribadiannya melekat erat di tubuhmu"
"Seperti yang Paman tau, saya hanya tidak suka berbasa-basi"
"Ya Paman tau itu, tapi tidak salah kan kalau kita bercerita dengan di temani segelas wine yang begitu nikmat ini" Edwar menuangkan minuman kedalam gelas James, keduanya pun lalu bersulang dan menikmati minumannya
"Paman langsung pada intinya saja, Paman meminta bantuanmu untuk menghancurkan perusahaan milik Max Jarvis"
James menarik sudut bibirnya, tiba juga masanya ia membalas dendam terhadap Mike yang dulu sempat memasukkannya kedalam penjara
James tentu saja tau perkembangan tentang saingannya itu, namun kesibukannya pada dunia hitam membuatnya sedikit teralihkan pada dendam masa lalunya itu
Mungkin sekarang lah saatnya, Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk membalas kekalahannya. Dan tentu saja hal itu tidak akan ia sia-siakan
"Paman menginginkan saya melakukan apa terhadap mereka?"
Secara tidak langsung, James sudah menyetujui untuk membantunya. Tentu saja membuat senyum Edwar makin berkembang di wajahnya
"Untuk saat ini, cukup awasi gerak gerik Mike. Sekiranya kita bisa mengantisipasi apa yang nanti di rencanakan olehnya, bila kita lebih dulu tau pergerakannya"
"Itu hal yang mudah Paman, tapi apa yang bisa saya dapatkan bila rencana Paman berhasil?"
"Melihat kehancuran hidup Mike bukankah termasuk dalam keinginanmu James? Paman tau seberapa besar kemarahanmu padanya"
"Itu saja tidak cukup Paman. Setiap orang yang meminta bantuan ku, akan selalu memperoleh apa yang dia inginkan"
"50:50 apa itu kurang James?"
James terlihat berfikir, jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran perusahaan sebesar Jarvis Company
__ADS_1
"Deal Paman!" James mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Edwar
Hari itu kesepakatan keduanya telah terjalin, kesepakatan dengan tujuan yang sama yaitu kehancuran hidup seorang ayah dan anaknya