
Serena menyeka sudut mata Embun yang basah. Ada rasa syukur yang tidak terucap darinya, setidaknya ia tau bahwa kondisi Embun masih bisa di selamatkan
Bergegas ia mengambil putrinya yang masih berada dalam gendongan ayahnya dan membawanya mendekat ke arah dimana Embun berada
Kedua pria yang masih memperhatikan kedua istri mereka nampak cemas dengan yang Serena lakukan. Terlalu banyak ketakutan yang terpancar dari wajah keduanya, bahkan tanpa mereka sadari kini mata mereka tidak lepas dari kedua wanita tersebut
Serena meletakkan gadis kecilnya itu di pangkuan Embun. Beberapa menit berlalu tetap saja kehadiran gadis mungil itu belum mampu membuat Embun tergerak
Justru sebaliknya, gadis kecil itu semakin terlelap dalam pangkuan Embun seakan merasa nyaman. Hal itu juga yang membuat Serena tidak memiliki kekhawatiran kalau-kalau Embun akan histeris dan menjatuhkan putrinya
Namun setelah melewati waktu yang terasa begitu lambat berputar, Serena yang hampir menyerah langsung di buat terkejut manakala putrinya yang tiba-tiba menangis kencang saat ia angkat dari pangkuan Embun
__ADS_1
Di tengah kepanikan hendak menenangkan putrinya, tangisan yang tidak kalah kencangnya pun terdengar dari Embun.
Wanita itu menangis sesenggukan dengan tubuh bergetar. Tangan wanita itu menggenggam ujung baju yang di pakai Serena, sedangkan di bibirnya terdengar kata tolong yang samar karena terhalau oleh suara tangisannya
Serena sedikit bimbang. Naluri sebagai seorang ibu mengharuskannya menghentikan tangisan sang putri, namun ia juga tidak mungkin melepaskan genggaman tangan yang seolah menahannya untuk tetap berada disana
Kehadiran suaminya membuatnya sedikit bernafas lega, ia akhirnya bisa menyerahkan putrinya padanya. Di dalam tas yang mereka bawa sudah tersedia Asip yang bisa langsung di minum oleh putri mereka, setidaknya hal itu membantunya di situasi saat ini
"Jangan menangis adikku, kakak pasti akan menolong mu" Serena memeluk tubuh Embun yang semakin berguncang
"Bawa aku dari sini kak. Hiks... tolong keluarkan aku dari sini"
__ADS_1
"Kalau kakak membawamu pergi dari sini, kakak khawatir dengan keselamatan janin yang ada di dalam perutmu"
"Aku mau hidup. Aku ingin menebus kesalahanku padanya" ucap Embun sembari mengelus perutnya. Tangisan bayi kecil itu ternyata mampu membuat Embun kembali pada kehidupan nyatanya setelah selama ini ia hanya terlarut dalam dunianya sendiri yang ia ciptakan
Usapan lembut Embun pada perutnya juga membuat sang janin bergerak lincah di dalam sana, seolah ikut berbahagia akan kembalinya sang ibu padanya
"Baiklah. Kakak akan membantumu untuk keluar dari sini bagaimana pun caranya. Tapi kakak harap mulai hari ini kembali menjadi Embun yang kakak kenal. Kasihan dia sudah menunggu lama hanya untuk bisa bersama dengan ibunya" Embun mengangguk mengerti.
"Jangan menangis lagi ya sayang. Dia pun di dalam sana pasti selama ini ikut bersedih melihat ibunya bersedih" Serena menyeka sisa air mata Embun yang masih menetes
Ia bersyukur namun pusing dalam waktu bersamaan. Bersyukur karena kehadirannya bisa kembali menyadarkan Embun, namun kepalanya pun terasa pusing karena memikirkan janji yang sudah terlanjur ia ucapkan
__ADS_1
Setidaknya sepulangnya dari sana, ia akan langsung mendiskusikan hal tersebut pada suaminya. Entah bagaimana respon suaminya nanti, satu yang pasti ia akan tetap menepati janjinya sekalipun suaminya menolak untuk membantunya