Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 15 Dokter Bima


__ADS_3

Baru saja menginjakkan kakinya di kantor, Mike sudah mendapat laporan tentang masalah yang terjadi di cabang perusahaannya yang ada di Kalimantan yang juga merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar yang mereka miliki


Setelah melakukan rapat mendadak, Mike memutuskan untuk datang dan melihat sendiri seberapa parah permasalahan yang terjadi sedangkan untuk sementara waktu kantor pusatnya yang berada di Jakarta akan tetap ia pantau dari jauh karena ia juga tidak tau berapa lama ia akan berada disana


"Atur penerbangan hari ini, kau ikut denganku dan jangan lupa mengabari Paman Abbas untuk menggantikan aku disini untuk sementara"


Mike meminta bantuan kepada asisten papanya untuk membantunya mengurus segala sesuatu di kantornya itu selama ia pergi


"Baik Tuan tapi apakah tuan tidak ingin menggunakan pesawat pribadi milik tuan besar saja karena setau saya pesawat itu tidak sedang digunakan"


"Aku tidak mau berhutang banyak pada tua Bangka itu bisa-bisa hidupku akan semakin menderita di buatnya"


Sebisa mungkin Mike bertahan untuk tidak bersinggungan lagi dengan papanya apalagi sampai berhutang budi, membayangkan hidupnya akan terus di atur membuatnya bergidik ngeri


"Baik tuan, kalau begitu saya akan mengurus segalanya. Tuan silahkan bersiap saja"


Sepeninggalan Lio, Mike kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ia tidak mau meninggalkan begitu banyak pekerjaan yang membuatnya sakit kepala saat dia datang kembali nanti karena itu sebisa mungkin ia selesaikan hari ini juga meskipun harus berkejaran dengan waktu


*


*


*


Hari ini Embun kembali bekerja dengan persiapan yang lebih baik dari kemarin. Pagi tadi ia sempatkan untuk sarapan juga membawa bekal untuk makan siang, setelah kemarin ia harus memakai uang tabungannya yang kian menipis itu untuk membeli makanan.


Ia juga sudah mempersiapkan diri kalau nanti bertemu lagi dengan Mike. Bukan menginginkan, hanya saja ia tidak mau terlihat bodoh demi menyenangkan pria itu


Embun kembali melakukan pekerjaannya seperti yang kemarin ia lakukan. Kali ini ia sedikit berhati-hati karena tidak mau lagi mendapat kata-kata tidak menyenangkan dari para seniornya hanya karena kesalahan kecil yang dilakukannya

__ADS_1


Tanpa terasa waktu terlewati begitu saja, sudah pukul empat sore dan Mike tidak juga menampakkan batang hidungnya membuat Embun berjingkrak kegirangan dan tidak menyadari kalau ada orang lain yang berada di belakangnya


"Permisi nona, mau ta-"


Bug!


Belum sempat orang itu menyelesaikan ucapannya, Embun yang terkejut tanpa sengaja menginjak tumpukan buku yang berada di dekat kakinya


Alhasil, ia pun terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Anda tidak apa-apa nona?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya hendak membantu Embun berdiri


"Sakit" jawab Embun meringis sambil menyambut uluran tangan pria itu


Pria itu tersenyum melihat wajah lucu Embun, ia yakin perempuan di hadapannya itu pasti merasa sakit serta malu namun karena empatinya ia sengaja tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya


"Mau saya antar ke rumah sakit nona?" tawar pria itu ramah


"Hmm…yakin tidak apa-apa? soalnya tadi nona terjatuh cukup keras"


"Tidak apa-apa, cuma memar di bagian siku saja tidak bakal bikin saya tidak bisa lagi menggunakan tangan saya" canda Embun sembari melirik ke arah buku yang tadi di injaknya, ia begitu takut kalau sampai buku-buku itu sampai rusak


"Justru memar kalau di biarkan saja bisa mengganggu fungsi kerja tangan kita, jadi sebaiknya nona periksakan ke dokter untuk lebih pastinya"


"Ke dokter mahal, saya baru bekerja jadi gak punya uangnya" ujar Embun jujur di selingi dengan kekehannya


"Biar tidak mahal, bagaimana kalau saya yang periksa?"


"Jadi tuan ini dokter? wah, sudah tampan dokter pula. Sempurna sekali" tanya Embun dengan mata yang berbinar

__ADS_1


"Iya saya dokter tapi untuk tampan sepertinya terlalu berlebihan" sanggah pria itu sambil tertawa


Embun menikmati tawa renyah dokter muda didepannya, sejak dulu ia tidak bisa memalingkan wajah bila sudah bertemu dengan seseorang yang memiliki wajah yang menarik perhatiannya


"Perkenalkan nama saya Bima"


"salam kenal dok, saya Embun yang munculnya gak cuma di pagi hari saja" keduanya berjabat tangan sekilas karena Embun tidak mau lagi mendapat masalah karena interaksinya yang berlebihan dengan pengunjung


"Panggil Bima saja, kita tidak lagi di rumah sakit sekarang" ucap Bima masih dengan senyum yang tergambar di wajahnya


"Eh gak bisa gitu dok, itu namanya tidak sopan. Saya panggilnya kak Bima saja soalnya umur kakak pasti lebih banyak dari saya"


"Atau panggil mas saja, biar lebih akrab"


"Ok, mas Bima"


Embun melihat buku yang berada di tangan Bima, sekilas ia bisa tau itu adalah buku tentang persiapan ujian SMA mungkin Bima akan memberikannya pada seseorang yang usianya sama dengan dirinya


"Adikku sebentar lagi ujian kelulusan" terang Bima saat melihat Embun menatap buku yang di pegangnya


Sejenak Embun merasa sedih ketika teringat akan sekolah dan teman-temannya, tapi mendengar suara Bima membuat Embun tersadar dan buru-buru menawarkan bantuan untuk mencari buku lain yang mungkin Bima butuhkan


Bima begitu terbantu karena Embun memudahkan dirinya dalam mencari buku yang ia butuhkan


"Ini kartu nama mas, silahkan hubungi nomer telepon mas kalau semisal memar di tangan kamu tidak juga menghilang"


"Baik mas, terima kasih"


"Kalau begitu, mas pamit dulu soalnya sebentar lagi mas ada jadwal operasi"

__ADS_1


Embun mengangguk, kemudian menatap kepergian Bima hingga tubuh pria itu hilang dari pandangannya


__ADS_2