
Embun sedang merasakan sukacita, ia baru saja menerima gaji pertamanya selama bekerja.Tidak begitu banyak, tapi cukup untuk menyambung hidupnya sebulan ke depan.
Semula ia berencana mengambil ujian susulan setingkat SMA, tapi mengingat hutang yang di milikinya ia pun menunda rencananya itu hingga tahun berikutnya
Sangat menyesal ia mengambil keputusan itu, namun saat ini melunasi hutang lebih penting karena umurnya masih muda dan tidak mengapa kalau ia harus mengundurnya setahun lagi sembari ia mengumpulkan uang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
"Jangan kebanyakan melamun, kata orang tua dulu nanti ke sambet" tegur Bima saat mendapati Embun hanya menatap kosong buku yang di pegangnya
"Eh mas dokter, sudah lama datangnya?" tanya Embun salah tingkah
"Iya, padahal sudah saya panggil tapi kamu malah diam saja. Saya dekati ternyata lagi melamun" tawa renyah Bima membuat wajah Embun merona malu
"Mas cari buku apa?"
"Mas cari buku tentang kedokteran"
"Sudah jadi dokter, tapi masih belajar juga?" Embun berjalan ke arah rak buku sesuai dengan yang di inginkan oleh Bima
"Dokter juga manusia, punya batasan dalam mengingat sesuatu hal. Jadi biar tidak lupa, harus banyak membaca" ucap Bima dengan tersenyum, sembari mengambil beberapa buku yang dibutuhkannya
Melihat senyuman Bima, seketika membuat jantung Embun berdetak tidak beraturan bahkan kini wajahnya terasa memanas
"Suhu tubuhmu normal, tapi kenapa wajahmu memerah?" tanya Bima masih dengan posisi telapak tangannya yang menyentuh dahi Embun
"Saya baik-baik saja dok, mungkin pendingin ruangannya mati jadi udaranya terasa panas"
Embun memalingkan wajahnya, sentuhan Bima seperti sengatan listrik di tubuhnya. Masih tetap terasa sekalipun tangan itu sudah tidak menempel disana
__ADS_1
Bima tertawa, sudah pasti itu hanya alasan Embun saja karena posisi mereka yang sekarang ini tepat berada di bawah pendingin ruangan yang masih menyala
Selain untuk mencari buku, alasan Bima datang kesana adalah untuk bertemu dengan Embun. Gadis menarik yang selalu membuatnya ingin datang dan bertemu dengannya
Setelah melewati perdebatan batin dengan dirinya sendiri, ia pun memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Bertemu dengan gadis itu lagi dan berniat mengajaknya untuk makan malam
"Kau ada waktu malam ini?" tanya Bima
"Memangnya kenapa mas?" Embun kembali melemparkan pertanyaan karena tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Bima tadi
"Kalau di tanya harus di jawab, bukannya balik bertanya" Bima menarik cuping hidung Embun lembut membuat pemiliknya sedikit meringis
"Ada, saya selalu ada waktu setelah selesai bekerja" Embun menatap Bima dengan bingung
"Kalau kamu bersedia, malam ini saya mau mengajakmu makan malam"
"Iya, makan malam berdua. Hanya kamu dengan saya, bagaimana?"
"MAU!" pekik Embun senang, namun sedetik kemudian ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya
Bima tertawa,kepolosan gadis itu membuatnya makin terlihat menggemaskan.
"Kalau begitu jangan lupa, malam nanti saya akan datang kesini untuk menjemputmu"
Embun hampir bersorak kegirangan, ia tidak menyangka dokter tampan itu mengajaknya untuk makan bersama malam nanti. Membayangkannya saja sudah membuat senyumnya semakin merekah
"Duh yang baru gajian, keliatannya lagi seneng banget" tanya Imran yang sedari tadi melihat keakraban Embun dengan Bima dari kejauhan
__ADS_1
"Seneng lah kak, ada yang ngajakin diner nanti malam" jawab Embun dengan mata berbinar
"Siapa? pria yang tadi itu?"
"Iya, dia itu dokter loh kak. Keren kan" Embun membayangkan wajah tampan dokter Bima, namun luput menangkap raut kecewa di wajah Imran
"Biasa saja. Masih lebih keren saya kemana-mana"
"Idih…" cibir Embun
"Terus kamu terima ajakan dokter itu?"
"Tentu saja kak, rugi kalau menolak. Kapan lagi ya kan bisa jalan bareng dokter pujaan hati"
"Curang kalau begitu, tiap kali saya yang ajak jalan kamu malah menolak terus"
Embun meringis, dia menolak ajakan Imran karena tidak mau ada salah paham dengan salah satu senior yang diam-diam menyukai pria itu
Mengatakan penolakan secara terang-terangan juga, rasanya tidak enak. Imran sudah begitu baik padanya, membuat ia merasa berat untuk menyakiti
"Tiap hari juga kita makan bersama di warteg depan kak, tapi kalau sama dokter kan tidak tiap hari di ajakin makannya"
"Makan di warteg sama ajak jalan itu beda Embun…" gemas Imran sembari mencubit pipi putih Embun
"Aduh! kakak KDRT nih" sungut Embun kesal
"Nikah dulu baru bisa KDRT, yuk neng nikah sama abang Im…" goda Imran sambil mengerlingkan matanya
__ADS_1
"Ogah!"