
Bima menepati janjinya, tepat pukul delapan malam ia sudah berada di halaman parkir toko buku tersebut.
Sedangkan Embun keluar setengah jam kemudian, itu pun setelah melalui negosiasi yang cukup pelik dengan para seniornya
"Maaf dok, tadi musti beberes dulu baru bisa pulang"
"Tidak masalah, cuma menunggu sebentar saja" ucap Bima yang ketika melihat Embun, langsung turun dari mobil dan menyambut kedatangannya
Embun memandang takjub pada keindahan mahluk ciptaan Tuhan di hadapannya itu. Celana jeans yang di padu dengan kemeja kotak-kotak yang lengannya di gulung hingga ke batas siku membuatnya enggan untuk memalingkan wajah
"Di lihatnya nanti lagi, saya gak akan kemana-mana" Bima membukakan pintu untuk Embun
"Te-terima kasih dok" Ucap Embun terbata, sembari menyembunyikan rona merah wajahnya
Setelah sempat menanyakan lokasi tempat tinggal Embun, mobil pun melaju menuju ke sebuah restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal Embun
Bima tidak mau kalau sampai Embun sakit karena kelelahan setelah bekerja dan ajakan keluar darinya, karena itu ia memilih restoran terdekat saja.
Padahal pulang jam berapapun Embun tidak masalah, karena di kostan tempat tinggalnya memberikan kebebasan bagi setiap penghuninya
Setibanya disana, Embun memandang sekeliling restoran itu. Ia baru mengetahui adanya restoran dengan dekorasi bergaya anak muda yang terletak di daerah tempat tinggalnya
"Nasi goreng seafood sama es teh manis, kamu mau apa Embun?"
"Bakmi goreng saja sama air mineral" jawab Embun setelah melihat sekilas menu makanan di restoran tersebut
"Ada lagi?" Embun menggeleng
Pelayan pun meninggalkan keduanya untuk menyiapkan makanan pesanan mereka
"Rileks saja bun, dari tadi keliatannya kamu tegang sekali"
"Grogi dok" bisik Embun, yang langsung membuat Bima tertawa mendengarnya
__ADS_1
"Panggil mas saja, kalau di luar begini aneh rasanya di panggil dokter"
"Hmm…iya deh mas Bima"
"Kalau begitu kan, kedengarannya lebih enak. Di panggil dokter berasa lagi makan sama pasien" kekeh Bima
"Emang sering makan bareng sama pasien?"
"Sering sih tidak, cuma sesekali pasti pernah"
"Jadi dokter musti siap setiap saat ya mas? kalau tiba-tiba di butuhkan harus bisa datang secepatnya"
"Resiko lah Bun, berani ambil pekerjaan ini berarti sudah siap dengan semua konsekuensinya"
"Gak capek?"
"Semua pekerjaan sama capeknya Bun, tapi kalau di jalani dengan ikhlas insyaallah gak akan berasa capeknya"
"Maaf Bun, mas cuma penasaran saja. Kenapa Embun gak lanjutin sekolah lagi? bukannya sebentar lagi ujian akhir sekolah?"
Embun terdiam, ia bingung mau menjelaskan apa dan mulai dari mana kepada Bima. Putus sekolah bukan keinginannya, namun mengatakan kalau ia lari dari rumah juga bukan sesuatu hal yang harus ia banggakan
"Gak apa-apa Bun kalau memang kamu gak bisa cerita, maaf ya kalau mas terlalu banyak bertanya" Bima menepuk pundak Embun, mengalirkan kekuatan yang sepertinya di butuhkan oleh gadis itu
"Maaf mas, mungkin lain kali baru bisa saya ceritakan" ucap Embun menunduk
"Gak usah di paksakan, tidak semua hal harus kita ceritakan apalagi sama orang asing macam saya. Mending kita makan sekarang, keburu dingin makanannya"
Mereka menikmati makanan dalam diam, sebenarnya banyak hal yang ingin Bima ketahui tentang gadis manis itu tapi ia harus bisa bersabar karena mustahil seseorang mau membuka dirinya pada orang lain yang baru saja di kenalnya
"Adikku titip salam, katanya dia sangat terbantu dengan buku-buku yang kamu rekomendasikan waktu itu" Bima mencairkan suasana yang sejak tadi terasa canggung
"Syukurlah mas kalau begitu. Saya juga berencana membeli buku itu nanti saat ujian persamaan sudah dekat"
__ADS_1
"Kamu mau ujian persamaan? tahun ini?" tanya Bima bersemangat saat Embun mulai menceritakan tentang dirinya
"Rencananya tahun ini, kalau dananya mencukupi"
"Pasti bisa, memang kapan ujiannya di laksanakan?"
"Bulan maret akhir"
"Masih lama, kamu masih bisa nabung dulu. Sayang banget kalau di tunda sampai tahun depan lagi"
"Ya maunya sih bisa ikut ujian susulan terus lanjut kuliah, tapi kalau memang belum rejeki saya juga gak apa mas lagian masih muda ini"
Bima memandang lekat wajah manis itu, meskipun berkata demikian Bima bisa menangkap seraut wajah sedih saat ia mengatakannya. Bima berharap bisa membantu gadis itu namun ia yakin Embun pasti akan menolak bantuannya
Bantuan Bima murni tanpa alih-alih ingin mendapatkan hati gadis itu. Ia merasa masa muda jangan sampai menjadi sia-sia hanya karena tidak mendapat pendidikan yang layak
Melihat keseriusan niat dan usaha Embun dalam hal pendidikan,sekalipun nantinya ijazahnya akan sedikit berbeda dari teman sebayanya membuat rasa malu di hati Bima.
Apalagi saat mengingat wajah adik laki-lakinya, yang sudah di beri kemudahan dalam hidup saja masih tidak bisa fokus dengan sekolahnya
"Mau terima bantuan ku dulu? nanti kalau uangnya sudah ada baru kamu ganti" tanya Bima hati-hati takut gadis itu malah tersinggung
"Gak perlu mas, makasih."
"Beneran gak mau terima bantuan dari saya? saya tulus kok Bun, gak ada niatan apa-apa sama kamu"
"Iya, saya juga yakin kalau mas itu tulus sama saya. Tapi kalau boleh saya mau berusaha sendiri dulu, kalau semisal butuh bantuan mas pasti nanti saya bakalan bilang"
"Ya sudah, saya gak maksa. Tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari saya"
"Siap bos" Embun meletakkan tangannya ke dahi seperti seorang pasukan yang memberikan penghormatan pada atasannya
Keduanya tertawa bersamaan, acara makan malam berlangsung hingga dua jam lamanya. Entah tema apa saja yang sudah mereka bicarakan, namun yang pasti keduanya merasakan kenyamanan pada masing-masing
__ADS_1