
Sudah satu tahun, Nabila menjalin hubungan dengan Bian. Selama itu pula hubungan keduanya selalu hangat meskipun pertemuan mereka setahun kemarin sempat berkurang di karenakan kondisi Embun namun hal itu justru semakin membuat rasa di hati keduanya bertambah dalam
Meskipun terbilang mereka pasangan yang serasi tetapi perbedaan yang begitu terlihat membuat Nabila selalu merasa rendah diri manakala Bian mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga besarnya
Pembicaraan terakhir mereka pun sedikit menegang saat lagi-lagi Nabila menolak ajakan dari kekasihnya. Dan sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu, mereka tidak saling bertegur sapa bahkan saling menghindar saat bertemu di kantor
Sejujurnya Nabila merasa lelah harus kucing-kucingan seperti ini tapi ia juga bingung harus melakukan apa supaya hubungan mereka bisa kembali seperti dulu lagi
Nabila begitu menikmati lamunannya sembari menyeruput kopi instan yang tinggal setengah di gelasnya. Pekerjaannya sudah selesai sehingga ia bisa sedikit bersantai di ruang pantry
Ia tidak sendirian disana, tetapi ada dua orang temannya yang lain yang juga mendapat giliran bekerja bersamanya. Tetapi pikirannya yang sedang melayang membuatnya tidak fokus mendengarkan apa yang kedua temannya itu bicarakan
"Hei… gadis yang berjalan itu, bukannya istri pimpinan kita? bisik yang berambut hitam sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang terlihat berjalan menuju ke tempat mereka bekerja
"Iya benar. Waktu pernikahan mereka aku hanya bisa melihatnya sekilas, ternyata selera pimpinan adalah gadis yang seperti itu" timpal yang lain
Nabila memandang heran kedua temannya yang berbincang sambil berbisik padahal di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga saja jadi meskipun berbisik tetap saja akan terdengar
Tapi akhirnya Nabila mengerti apa yang menjadi bahan pembicaraan kedua rekannya itu saat ia melihat ke arah yang di tunjuk salah satu dari mereka
Seorang gadis yang terlihat semakin cantik sejak terakhir ia temui. Gadis yang di rindukannya dan juga yang telah membawa perubahan berarti dalam hidupnya
__ADS_1
Secara tidak langsung Nabila berutang banyak hal pada Embun, karena berkat kedekatan mereka hidup keluarganya bisa terselamatkan
Biaya sekolah adik-adiknya sudah di jamin oleh pimpinannya begitu juga dengan kesehatan ayahnya yang mulai membaik juga berkat kebaikan suami dari gadis yang kini tengah tersenyum itu
Kini ia bahkan bisa bernafas lega karena beban hidupnya sedikit demi sedikit berkurang. Karena itu pula, ia sudah berjanji untuk terus berada di sisi Embun menjadi keluarga yang akan selalu menemaninya
*
*
Embun merasa sangat bosan karena sudah tiga hari ia terus berada di dalam kamar. Ia merasa kondisinya sudah membaik tapi Mike bahkan melarangnya untuk melangkah keluar dari kamar dan terus mengurungnya disana
Setiap ia mengendap-endap keluar mengunjungi taman bunga miliknya, pasti Mike akan mengetahui seakan ia memiliki mata yang selalu mengawasinya meskipun suaminya itu tidak berada disana
Benar saja dugaan Embun, saat ia tiba di pelataran gedung pencakar langit yang merupakan kantor milik suaminya disana Mike terlihat sudah berdiri dengan wajah kesalnya
"Bukannya aku menyuruhmu untuk beristirahat di rumah?" geram Mike sembari mencubit pipi istrinya
"Aku sudah sehat sayang, aku kesini mau ketemu dengan kak Nabil" senyum Embun menggandeng lengan suaminya
"Aku akan menyuruh Lio untuk mencari supir pribadi untukmu. Aku tidak suka kalau kau pergi dengan orang yang tidak aku kenal"
__ADS_1
"Baiklah sayang, terserah padamu saja"
Embun terus bergelayut manja di lengan Mike hingga mereka tiba di ruangan milik suaminya itu. Ia baru bisa bernafas lega saat pandangan mata yang sedari tadi mencuri pandang ke arah mereka sudah tidak terlihat
Ia merasa kurang nyaman di perhatikan seperti itu, namun hal itu wajar terjadi mengingat ia bahkan tidak pernah sekalipun berkunjung kesana
"Aku akan meminta Nabila untuk membawakan minuman untukmu, jadi kau bisa berbincang dengannya disini"
Embun hanya mengangguk, ia takut Mike membawanya pulang sebelum bertemu dengan Nabila kalau sampai ia menolak untuk berbincang disana dengan alasan Nabila pasti akan merasa kurang nyaman
Tidak berapa lama, pintu ruangan di ketuk dan Nabila datang dengan nampan berisi minuman untuk dirinya
"Kak Nabil, aku sakit tapi Kakak sama sekali tidak menjengukku" omel Embun dengan bibir yang mengerucut
"Maaf Bun, kakak lagi banyak kerjaan. Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Nabila sembari melepas pelukan Embun dari tubuhnya
"Aku sudah sehat kak, berkat kebaikan pimpinan kakak yang sudah mengurungku di dalam kamar selama tiga hari ini" sindir Embun melirik suaminya yang seolah tidak mendengarkan ucapannya
Nabila tertawa tertahan, meski mereka bertiga sudah akrab tapi tetap saja di kantor Mike adalah atasannya sehingga ia harus bisa menempatkan dirinya
Keduanya bercerita banyak hal, termasuk tentang liburan bulan madu yang cukup membuat Mike mendelik saat mendengarnya. Meski sedikit berisik karena suara tawa keduanya tapi Mike bersyukur setidaknya ia bisa memastikan kalau kondisi Embun kini sudah membaik
__ADS_1
Sekiranya Ia hanya tinggal memilih tanggal yang tepat untuk bisa berkunjung ke tempat Mey dan memulai program untuk segera memiliki keturunan