
Seperti biasa, pukul sembilan malam Embun sudah pulang di kostan. Setelah selesai membersihkan diri, ia lalu merebahkan dirinya di samping Nabila yang masih sibuk dengan ponselnya
Ia sedikit uring-uringan hanya karena beberapa hari ini Bima tidak mengunjunginya. Meskipun masih berkirim pesan namun rasanya ada sedikit rindu yang masih mengganjal di hatinya bila tidak langsung bertemu dengan dokter pujaannya itu
"Hhh…" helaan nafas terus terdengar dari bibir Embun membuat Nabila yang berada di sisinya memutar badan menghadap ke arahnya
"Kenapa sih dek? kayak lagi banyak pikiran begitu"
"Kangen kak," jawab Embun dengan tersipu
"Cie yang sudah berani bilang kangen, emang belum ketemu lagi?"
"Belum kak katanya sibuk"
"Namanya juga dokter ya pasti sibuk, kamu harus banyak sabar kalau punya pacar kerjaannya kayak begitu"
Embun hanya mengangguk, ia bingung harus berbicara apa karena posisinya saat ini masih bukan siapa-siapa bagi dokter itu. Kedekatan mereka masih terbilang baru dan tidak layak rasanya kalau Embun mengatakan hubungan mereka sudah sejauh itu
Embun juga tidak mengetahui apakah di kota besar untuk menjalin hubungan harus lebih dulu ada pernyataan cinta atau tidak, karena selama ini ia memang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun tapi kalau untuk pernyataan cinta sudah sering kali ia dapatkan
"Gak usah sedih begitu, kalau memang kangen tinggal video call saja pasti kangennya bakalan hilang" goda Nabila sambil mengedipkan sebelah matanya
"Gak ah, malu kalau nelpon duluan"
"Telpon pacar sendiri gak usah malu dek, kecuali telpon pacar orang baru malu" Nabila terkekeh melihat bibir Embun seketika mengerucut
"Bukan pa-"
drrrt... drrrt...
Embun mengambil ponselnya, disana tertera nomer yang tidak di kenalnya.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa Embun ramah
"Kamu sengaja melupakan saya ternyata"
__ADS_1
"Maksud anda?" Embun mengernyit,ia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan orang yang meneleponnya itu
"Kapan kamu mengembalikan uang saya?"
"Uang? sepertinya anda salah orang"
"Jadi, kamu benar-benar tidak mau mengembalikan uang saya"
"Hhh... maaf ya anda yang namanya saya tidak tau, kalau butuh uang silahkan bekerja jangan meminta pada saya karena saya bukan pemilik yayasan amal" Embun memutuskan sambungan teleponnya, dengan kesal ia melempar ponselnya asal di atas kasur
Kembali Embun merebahkan dirinya namun kali ini ia hanya sendirian karena Nabila sedang menemui kekasihnya di teras depan
Embun menutup wajahnya dengan bantal, rasa laparnya menguap hanya karena penelpon misterius yang suaranya terdengar tidak asing di telinganya
"Uang…kembalikan uang…lupa…uang… ya ampun! itu pasti Mike" pekik Embun
Ia segera meraih ponsel yang tadi ia campakkan, namun baru hendak menghubungi Mike sebuah pesan dari pria itu sudah lebih dulu masuk ke ponselnya
"Temui saya di lobi hotel grand cempedak dalam sepuluh menit"
"Saya tidak menerima penolakan, datang atau saya akan membuat keributan disana"
Embun mendengus, sedari awal ia memang tidak memiliki pilihan. Memilih tidak mau peduli dengan perkataan orang, dengan sebuah celana pendek selutut serta kaos oblong yang di tutupi oleh sebuah jaket Hoodie ia pun menemui Mike yang sudah menunggu disana
"Ini uang anda, sisanya akan saya berikan lagi kalau saya sudah gajian. Permisi" Embun meletakkan sebuah amplop berisi uang yang sudah ia siapkan di hadapan Mike
Sebelum ia melangkah pergi, tangan Mike sudah lebih dulu menarik lengannya dan membuatnya terduduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu
"Siapa yang bilang kalau kau sudah boleh pergi dari sini?"
"Saya tidak butuh izin dari siapapun untuk pergi dari sini, uang anda juga sudah saya berikan jadi tidak ada lagi yang mengharuskan saya tetap ada disini"
"Setidaknya kamu harus tetap ada disini selama saya menghitung uang yang berada di dalam sini" tunjuk Mike pada amplop pemberian Embun
Embun mengelus dadanya, ia memang harus memiliki kesabaran ekstra setiap kali berhadapan dengan pria menyebalkan di depannya ini
__ADS_1
"Silahkan anda hitung uangnya karena ini sudah malam dan saya masih harus bekerja besok"
Bukannya mengikuti perkataan Embun, Mike justru hanya duduk diam sambil terus menatap wajah manis gadis di depannya itu
"Sepertinya anda tidak berniat menghitung uang ini, kalau begitu besok saja kita bertemu lagi karena ini sudah hampir larut malam" Embun menyambar uang yang tadi ia letakkan di atas meja dan langsung pergi dari tempat itu
Tanpa Embun sadari, Mike telah mensejajarkan langkahnya dan tiba-tiba menariknya masuk kedalam mobil yang terparkir di depan hotel itu
Saking terkejutnya Embun tidak sempat marah atau pun memberontak saat tangan kekar itu menariknya
Mobil pun melaju ke daerah yang sama sekali tidak Embun ketahui. Sejak tadi ia bertanya akan kemana pria itu membawanya tapi pria menyebalkan itu hanya diam bahkan tidak berniat menjawab pertanyaannya
Hingga saat mobil yang membawanya itu tiba di sebuah rumah mewah yang nampak sepi baru lah pria itu menyuruhnya untuk turun
"Masuklah, ini rumahku"
Embun menatap Mike terkejut, bukan karena rumah pria itu yang sangat besar dan mewah namun alasan apa yang membuat pria itu membawanya kesana
"Kenapa anda membawa saya kesini?"
"Tolong masakkan sesuatu, saya sangat lapar" Mike awalnya tidak berniat mengajak Embun berkunjung di rumahnya, hanya saja perut yang sedari tadi tidak terisi malah berulah di saat bertemu dengan gadis itu
"Saya tidak bisa memasak"
"Masakan apa saja setelah itu saya akan mengantarmu pulang"
"Hhh...baiklah tunjukkan dimana dapurnya"
Mike berjalan lebih dulu setelah memberitahukan letak dapurnya, ia meninggalkan Embun sendirian disana sedangkan ia kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya
Embun memeriksa isi lemari pendingin milik Mike, disana ia hanya menemukan makanan beku serta beberapa botol minuman. Begitu pula saat ia memeriksa bahan makanan yang bisa ia temukan di dapur, disana hanya ada sebutir telur serta nasi di dalam pemanas.
Ia yang memang tidak mahir dalam hal masak memasak, akhirnya memilih membuat nasi goreng dengan bahan yang ia temukan.
Setengah jam kemudian, ia telah meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan. Mike belum juga keluar dari kamarnya, sedangkan ia sudah begitu mengantuk
__ADS_1
Dengan menyeret kakinya, ia berjalan menuju ke sofa besar yang di letakkan di depan televisi. Ia merebahkan dirinya disana dan tidak berapa lama ia pun tertidur