Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 33 Perkelahian Kecil


__ADS_3

Seperti janjinya, pukul sembilan malam Bima sudah berada di depan toko tempat Embun bekerja.


Berbeda dari biasanya, kali ini Bima mengajaknya makan malam di sebuah restoran mewah di bagian selatan Jakarta


Untuk mencapai restoran itu pun tidak membutuhkan waktu yang lama karena jalanan kota di malam hari sudah tidak sepadat biasanya


"Apa restorannya gak kemahalan mas? nanti uang mas keluar banyak kalau makan disini" bisik Embun saat mobil memasuki pelataran parkir restoran


"Tidak apa-apa, uang mas cukup kalau cuma bayar makanan untuk kita berdua"


Bima turun terlebih dahulu kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu buat Embun. Keduanya pun berjalan bergandengan menuju meja yang di tunjukkan oleh salah satu pekerja disana


Semua pesanan di lakukan oleh Bima, bukan karena Embun yang tidak mengerti dengan nama makanan yang ada di buku menu akan tetapi Embun merasa sangat gugup karena perlakuan Bima yang sangat lembut kepadanya


Bahkan hingga makanan datang, perutnya seketika terasa kenyang padahal sedari tadi ia sengaja tidak memakan apapun karena takut kekenyangan sebelum makan malam di mulai


"Apa makanannya tidak enak? atau kamu mau mengganti dengan makanan yang lain?" tanya Bima saat melihat Embun hanya menatap makanannya


"Enak…ini sangat enak" jawab Embun gelagapan


"Kalau begitu di makan jangan cuma di pandangi saja"


"Makanan enak begini di makannya harus pakai penghayatan mas, biar enaknya berasa sampai ke hati" canda Embun sambil memasukan potongan besar steak ke dalam mulutnya


"Ada-ada saja kamu ini" kekeh Bima sembari mengacak pelan rambut Embun


Embun semakin salah tingkah, rasanya ia tidak ingin hari ini segera berakhir meskipun ia sadar kalau keinginannya itu tidak mungkin terjadi


Setelah menyelesaikan makannya,Embun pamit ke kamar kecil untuk memperbaiki tampilannya. Ia ingin tetap terlihat cantik di mata Bima sekalipun pakaian yang digunakannya masih sama saat mereka bertemu tadi siang


Begitu kembali ke mejanya, Embun mendapati meja tersebut sudah kosong. Embun menunggu sampai Bima datang setelah menuntaskan hajatnya, tapi ternyata sepuluh menit menunggu pria itu tidak juga terlihat keluar dari toilet pria


Saat akan menanyakan pada pelayan tentang keberadaan Bima, dari balik kaca Embun melihat Bima sedang berbicara dengan seorang wanita cantik di depan mobil Bima terparkir

__ADS_1


Embun merasa ragu untuk mendekati Bima karena melihat pembicaraan mereka yang begitu serius, namun saat wanita itu memukul dada bidang Bima seraya menangis menimbulkan perasaan tidak enak di hatinya


Ia pun memberanikan diri berjalan mendekat kearah mereka, tapi sebuah tamparan sudah lebih dulu mendarat di pipinya


"Jadi kamu perempuan tidak tau malu yang sudah menggoda calon suamiku!" teriak wanita itu


Embun menatap Bima meminta penjelasan sambil memegang pipinya yang terasa sakit


"Apa yang kau lakukan Angel? dia tidak ada hubungan dengan permasalahan kita" Bima mencengkram lengan wanita itu dan menarik Embun ke belakang tubuhnya


"Hanya karena perempuan ini, mas tega memutuskan pertunangan kita padahal pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi"


Seperti tersambar petir, perkataan wanita itu membuatnya mengerti akan apa yang sedang terjadi.


Air mata Embun sudah mengalir mewakili perasaannya. Kini ia sadar, kenapa hingga hari ini Bima masih belum mengatakan perasaannya padanya padahal pria itu sering kali menunjukkannya dengan perbuatannya


Embun menulikan telinganya dari teriakan kedua manusia yang ada di depannya. Sudah cukup hal yang harus ia dengar hari ini, ia takut semakin terluka ketika mengetahui kebenaran itu lebih jauh


"Bodoh…kau tidak berhak menangisi pria breng sek macam dia" Embun memukul mukul kepalanya, namun air matanya justru mengalir makin deras


Embun terduduk sembari memeluk lututnya, malam makin larut tapi ia bahkan tidak tau berada dimana


Hingga seseorang datang menutupi tubuhnya dengan sebuah jas, lalu ikut berjongkok di sampingnya tanpa mengatakan apapun


Embun memalingkan wajahnya, dan tatapannya terhenti pada wajah tampan pria yang ia kenali itu


"Apa yang kau lakukan disini?" ketus Embun pada Mike


"Kau tidak takut, menangis di tempat sepi seperti ini?"


"Tidak usah mencampuri urusanku, pergi saja dari sini" kesal Embun sambil menyembunyikan wajahnya di balik lututnya


"Kau tidak takut disini sendirian? coba lihat di sekelilingmu, banyak pria hidung belang yang sedari tadi melihatmu" bisiknya Mike sambil matanya menatap pada sekawanan pria yang berada tidak jauh dari mereka berdua

__ADS_1


"Pergi!"


Mike menghela nafasnya, gadis itu tidak menyadari akan bahaya di sekitarnya. Namun masih saja keras kepala dan menolak pertolongannya


"Ya sudah, aku pergi. Tapi jangan menyesal setelah ini" langkah kaki Mike terdengar menjauh tapi sedetik kemudian terdengar derap langkah kaki mendekatinya


"Sendirian aja neng, mau Abang temenin gak?"


"Siapa kalian?" tanya Embun sembari bergerak menjauh dari tiga pria yang sudah mengelilinginya


"Jangan takut neng manis, Abang niatnya baik mau temenin neng yang lagi sendirian disini" pria bertubuh ceking dengan tato yang hampir menutupi seluruh tubuhnya mendekat hendak menyentuhnya


"Pergi…atau saya berteriak" Embun bangkit sembari mengeratkan pelukan pada tas yang di bawanya


"Berteriak juga tidak ada gunanya neng, mending ikut Abang nanti kita bisa berteriak sama-sama" ketiga pria itu tertawa dan langkah mereka semakin mendekat ke arah Embun


Merasakan bahaya, Embun langsung berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Namun nasibnya malam ini kurang baik, salah satu pria itu berhasil mengejarnya kemudian menarik rambutnya


"Sakit!" Embun meringis memegangi rambutnya. Pria itu tidak memperdulikan kesakitan Embun, malah semakin keras menarik rambutnya hingga Embun dengan terpaksa mengikuti langkah kaki pria tersebut


Rasa takut serta rasa sakit membuat Embun tidak bisa lagi membendung air matanya. Apalagi saat tangan-tangan jahil itu menyentuh wajahnya tanpa bisa ia cegah, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri


"Brengsek!" sebuah tendangan mendarat di punggung pria yang menarik rambut Embun membuat pria itu terjungkal


Embun pun ikut terdorong jatuh, karena pria yang tadi menarik rambutnya tidak melepaskan tangannya dari sana saat ia terjatuh


Melihat kawannya yang terluka, membuat kedua pria lainnya menyerang maju hendak mengeroyok Mike


Perkelahian tiga lawan satu itu pun tidak terelakkan. Embun yang segera menyadari situasi segera berdiri dan mencari bantuan, namun malam yang telah larut membuatnya kesusahan menemukan orang lain yang bisa menolongnya


Meskipun kalah jumlah, tapi Mike nyatanya bisa membuat ketiga pria itu terkapar dengan luka serta darah yang mengalir dari beberapa sudut di wajahnya


"Ayo pergi dari sini"

__ADS_1


__ADS_2