Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong

Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong
22. Berdiskusi


__ADS_3

Setelah dokter Bagas berhasil dibebaskan oleh Trisna. Dokter Bagas sekarang tinggal bersama dengan Trisna di dalam tasbihnya.


" Ayo temui Ayahku di rumah kami. Aku ingin berbicara dengannya!" kecap dokter Bagas kepada Trisna.


Trisna menatap dokter Bagas dengan lekat.


" Nanti berbahaya tidak untukmu? Aku takut kalau sampai membahayakan arwahmu." ucap Trisna merasa khawatir dengan keselamatan dokter Bagas. Apalagi saat ini dokter Bagas sedang tidak baik-baik saja.


" Beristirahatlah dulu dan pulihkan kondisimu dengan bersemedi dan berdzikir pada Allah. Kau harus memupuk kekuatan imanmu agar jiwamu menjadi kuat dan tidak mudah diganggu oleh makhluk jahat!" ucap Trisna menasehati dokter Bagas.


Dokter Bagas menatap Trisna, " Katakan padaku. Bagaimana caranya agar aku menjadi hantu yang kuat dan tidak terkalahkan?" tanya dokter Bagas pada Trisna yang tertawa mendengarkan pertanyaan tersebut.


" Dengan kau selalu berdzikir kepada Allah, secara perlahan kekuatan jiwamu akan semakin kuat dan jangan lupa kau pun harus banyak mengaji. Karena Nur Illahi bisa di pupuk dengan banyak mengaji dan berdzikir." ucap Trisna memberikan petunjuk kepada dokter Bagas.


Dokter Bagas tampak menyimak apa yang dikatakan oleh Trisna.


" Baiklah aku akan mencobanya sekarang berikanlah kepadaku zikir-zikir yang harus aku lafalkan setiap saat untuk memperkuat jiwaku agar tidak lemah dan sanggup melawan para hantu jahat yang ada di rumah sakit!" ucap dokter Bagas sambil tersenyum kepada Trisna.


Trisna kemudian mengambil sebuah buku dan meminta kepada dokter Bagas untuk mempelajarinya sendiri. Karena dia tidak mau kalau memberikan informasi yang salah kepada dokter Bagas.


" Bacalah buku itu sehingga kau bisa memahami isinya setelah itu kau bisa mempraktekkannya sendiri!" setelah itu Trisna membaringkan tubuhnya di ranjang.


Trisna langsung melarang dokter Bagas. Ketika dokter Bagas juga hendak naik ke atas ranjangnya.


" Eh jangan sembarangan begitu! Turun ah dari sini! Ingat ya, kita itu bukan muhrim!" ucap Trisna memasang wajah horor kepada dokter Bagas yang kebingungan.


" Trisna aku itu hanya arwah gentayangan dan tidak mungkin akan bisa melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin membaringkan tubuhku yang terasa begitu sakit semuanya setelah disiksa oleh dokter Alfonso!" ucap dokter Bagas dengan memasang wajah memelas di hadapan Tresna.

__ADS_1


Tetapi Trisna adalah wanita yang kuat iman dan takwanya. Dia kemudian memerintahkan dokter Bagas untuk kembali masuk ke dalam tasbihnya.


" Masuklah kembali jiwamu ke dalam tasbih milikku dan beristirahatlah di sana. Ingat! Kau jangan keluar ketika aku tidak memanggilmu!" ucap Trisna kepada dokter Bagas.


Tanpa bisa dikendalikan oleh dokter Bagas, jiwa dokter Bagas langsung berubah menjadi Sinar Putih dan melesat masuk ke dalam tasbih milik Trisna.


Tasbih milik Trisna adalah tasbih warisan dari leluhurnya dan memiliki manfaat yang sangat banyak. Selain untuk berdzikir, tasbih itu juga selalu digunakan oleh Krisna sebagai senjata untuk memukul setan yang bandel dan tidak mau diatur olehnya.


Tidak tahu kenapa, tasbih itu sekarang bisa menampung jiwa dokter Bagas yang telah bergentayangan di alam manusia begitu lama dan tidak bertuan.


Dokter Bagas yang sekarang sudah berada kembali di dalam tasbih hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. " Aku tahu akan sangat sulit untuk menyentuh Tresna karena dia adalah seorang gadis yang kuat imannya! Padahal kalau aku bisa meminjam tubuhnya sebentar saja aku bisa menemui ayahku!" ucap Dokter Bagas yang menyesalih karena tadi gagal untuk meminjam tubuh Trisna.


Padahal niatnya dokter Bagas akan pergi menemui kedua orang tuanya dan ingin bertanya perihal kecelakaan di rumah sakit kepada ayahnya.


" Aku harus bertemu dengan ayahku secara langsung dan menanyakan kepadanya perihal penumbalan seluruh manusia yang ada di rumah sakit oleh ayahku. Aku harus tahu dengan pasti! Kenapa dia melakukan itu?" monolog dokter Bagas.


Akhirnya dokter Bagas pun memilih untuk membaca buku yang tadi dipinjamkan oleh Trisna.


" Hebat juga Trisna! Karena dia memiliki tasbih yang sengat canggih bahkan memiliki tempat tidur dan juga segala kebutuhanku selama aku tinggal di dalam sini." monolog dokter Bagas sambil melihat ke sekelilingnya.


Tanpa membutuhkan waktu lama dokter Bagas pun kemudian beristirahat dan terlelap.


Ya walaupun dokter Bagas adalah hantu. Tetapi dia hantu yang lemah yang masih membutuhkan makanan dan juga tidur.


Dokter Bagas diberikan makanan oleh Trisna berupa dzikir khusus yang ditujukan untuk dokter Bagas. Untuk menguatkan jiwanya agar tidak lemah.


Keesokan paginya Trisna kemudian bangun tidur dan mengalihkan pandangannya ke tasbih yang ada di atas nakas di mana dokter Bagas jiwanya berada di dalam sana.

__ADS_1


" Selamat pagi dokter Bagas!" ucap Trisna sambil tersenyum.


Dokter Bagas yang sejak tadi sudah bangun. Tetapi dia tidak bisa keluar karena Trisna tidak memanggil dia untuk keluar. Dia hanya bisa menjawab tapi tidak bisa menunjukkan wajahnya di hadapan Trisna.


" Kenapa Trisna tidak menyuruhku untuk keluar sih? Padahal aku sudah merindukan dia!" ucap dokter Bagas tanpa dia sadari.


Dokter Bagas saat ini sedang salat subuh dan juga melaksanakan aktivitas seperti yang tertulis di dalam buku.


Membaca Dzikir untuk menguatkan jiwanya, mengaji dan juga terus meditasi. dokter Bagas tampak begitu sibuk sehingga dia melupakan tentang Trisna yang sudah memasukkannya ke dalam jaketnya.


Trisna hari ini akan berangkat bekerja dan melaporkan kejadian ketika mereka berada di dalam rumah sakit kepada pimpinan redaksi.


Trisna memutuskan bahwa hanya dia dan Rara yang akan menyelidiki rumah sakit itu. Dia tidak bisa mengorbankan ataupun mengajak temannya yang lain yang tidak ada sangkut paut dengan tempat itu.


Sejujurnya Trisna juga memiliki kepentingan pribadi untuk menyelidiki rumah sakit itu.


Trisna sedang mencari adik ibunya yang dulu meninggal saat di rawat di rumah sakit itu. Yang sampai saat ini belum diketemukan jenazah maupun kabarnya.


" Cukup aku dan Rara dan aku yakin kalau kami pasti bisa menembus tempat itu. Tanpa harus mengorbankan teman-teman yang lain! semakin banyak orang yang datang akan semakin kesulitan untuk mengendalikan situasi ke sana!" monolog Trisna.


Begitu sampai di tempat kerjanya, Trisna langsung menemui pimpinan redaksi majalah tempat dia bekerja.


" Bagaimana Trisna? Apa kalian menemukan sesuatu di sana?" tanya Pak Rudi dengan tampang begitu penasaran.


Trisna Kemudian menceritakan kejadian malam itu yang membuat pimpinan redaksi sampai berdecak kagum dengan aksinya.


" Saya mohon dengan sangat Pak. Biarkanlah saya dan Rara yang mengurus tentang masalah ini. Saya tidak bisa membiarkan teman-teman berada dalam bahaya lagi!" pinta Trisna kepada pimpinan redaksinya.

__ADS_1


Pak Rudi tanpa memperhatikan Trisna dengan begitu lekat. ada kekhawatiran kekaguman dan juga rasa bingung di sana.


Akan tetapi Trisna mencoba untuk tidak memperdulikannya. Bagaimanapun Trisna tidak ingin membahayakan teman-temannya.


__ADS_2