
Sudah hampir dua minggu lebih dokter Bagas pergi ke rumah sakit untuk menemui tunangannya. Trisna terus uring-uringan sejak kepergian dokter Bagas yang tidak jelas akan kembali ke sisinya lagi atau tidak.
" Ra, Apa kamu sudah benar-benar melupakan Kenzo?" tanya Trisna kepada sahabatnya yang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan yang sedang dia tekuni di meja kerjanya.
" Sudahlah tidak usah membahas lagi tentang Kenzo! Aku sudah tidak perduli lagi dengan apapun yang dia lakukan!" ucap Rara yang tampaknya sudah benar-benar bisa move on dan bisa melupakan tentang Kenzo.
Terlihat Rara yang meletakkan pulpen yang ada di tangannya kemudian menatap Trisna.
" Yang aku dengar dari Genta. Jenderal Ratu Siluman Buaya itu, kau masih ingatkan sama dia?" tanya Rara sambil mulai berfokus pada Trisna yang saat ini memperhatikannya dengan serius.
" Kenzo saat ini memiliki banyak istri di mana-mana. Dia telah menjadikan anak yang lahir dari rahim para istrinya sebagai calon tumbal untuk istri tercintanya yang ada di alam gaib. Istri silumannya yang selalu memberikan harta kekayaan untuk dia yang tidak pernah ada habisnya selama di rutin memberikan tumbal kepada ratu siluman buaya itu!" Trisna benar-benar terkejut mendengarkan ucapan Rara yang bercerita tentang Kenzo saat ini.
Trisna menarik nafasnya dalam-dalam.
" Mungkin Kenzo tidak tahan dengan semua keulitan dan kemiskinan. Karena melihat begitu banyaknya rumah sakit yang dimiliki oleh keluarga Broto yang habis terbakar. Kau lihat sendiri kan? Berapa ribu orang yang harus menjadi korban gara-gara Ratu Siluman Buaya yang mengamuk itu? Karena Kenzo yang tetap bersikeras menolak untuk menikah dengannya." ucap Trisna memberitahukan kepada Rara tentang Semua fakta yang terjadi pada keluarga Broto.
Rara terlihat begitu lemas mendengarkan semua cerita itu yang sebenarnya sudah dia tahu dari cerita Genta kepadanya.
Genta sejak tinggal bersama ayahnya. Genta selalu menjadi teman Rara. Apabila Rara kebetulan sedang bermain ke pondok pesantren sang ayah.
Genta merasa sangat senang sekali karena ada manusia yang bisa berbicara dengannya selain Kyai Ilham.
Oleh karena itu Genta selalu meminta kepada Kyai Ilham untuk diperbolehkan bertemu dengan Rara ketika Rara datang ke pondok pesantren.
" Sudahlah Ra! Ayo kita kembali bekerja saja. Jangan sampai nanti kita di tegur sama bos besar. Bahaya juga kalau nanti kita diberikan tugas sampai ke luar kota untuk meredakan amarah sang Bos!" ucap Trisna yang akhirnya memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Rara pun hanya bisa mengganggu dan menyetujui apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
Mereka berdua tampak mulai kembali serius dengan pekerjaan yang telah digeluti oleh mereka hampir 5 tahun lamanya.
Setelah jam kerja selesai mereka berdua pun kemudian janjian untuk bertemu di sebuah kafe. Bagaimana pun mereka butuh waktu untuk bisa berbicara tentang hal-hal pribadi yang mereka lewati selama ini.
Khususnya Trisna yang saat ini benar-benar sedang merasa resah hatinya gara-gara dokter Bagas yang sudah lama tidak pernah kembali lagi menemuinya.
" Kenapa ya? Aku benar-benar merasa resah dan tidak tenang, ketika memikirkan tentang dokter Bagas?" tanya Trisna sambil menyeruput es jeruk yang tadi dia pesan dari pelayan cafe.
Rara pun hanya tersenyum mendengarkan ucapan sahabatnya.
" Itu pasti karena Lu yang sedang merindukan sang pangeran Pujaan Hatimu!" ucap Rara yang auto mendapatkan hadiah bogem mentah dari Trisna yang gemes dengan kelakuan absurd sahabatnya.
" Ayolah Ra! Tolong kau serius dengan apa yang aku katakan tadi. Ra! Apakah kau bisa menemui ayahmu dan minta bantuan kepada Genta untuk mencari tahu tentang kabar dokter Bagas di rumah sakit itu? Entahlah Ra. Selama beberapa hari ini aku benar-benar sangat sulit untuk tidur dan selalu bermimpi buruk tentang dokter Bagas!" ucap Trisna memberitahukan tentang keadaannya saat ini kepada sahabatnya.
Dokter Bagas selalu merasa khawatir dengan keadaan Melisa. Oleh karena itu dia tidak bisa untuk benar-benar meninggalkan Rumah Sakit milik ayahnya yang telah terbakar habis 50 tahun yang lalu.
" Baiklah nanti aku akan menemui Ayahku dan meminta kepada Genta untuk mendatangi rumah sakit itu. Eh! Bagaimana kalau kita berdua ke pondok pesantren bersama? Kau tahu kan? Kalau aku datang sendiri pasti Ayahku tidak akan mengizinkanku untuk pulang dan akan memaksaku untuk menetap di pondok pesantren!" ucap Rara merasa benar-benar dilematis.
Bagaimanapun Rara yang memiliki jiwa bebas dan tidak suka dikekang oleh sang ayah. Rara lebih memilih tinggal di luar dan ngekos daripada harus tinggal bersama ayahnya di pondok pesantren dengan begitu banyak peraturan yang sangat membuat kepalanya pening tujuh keliling.
Trisna tampak tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan Rara yang begitu tersiksa. Kalau dipaksa untuk tinggal bersama sang ayah.
Trisna sendiri merasa bingung dengan kepribadian Rara yang terkesan begitu cuek dan tidak mempedulikan pendapat orang lain.
__ADS_1
Rara yang merupakan anak seorang kyai yang cukup terkenal di lingkungan mereka. Tetapi dia lebih memilih untuk berpenampilan biasa saja seperti para gadis biasanya. Untung saja Rara yang tomboy itu masih bersedia untuk menggunakan jilbabnya kemanapun dia pergi.
" Baiklah Ra! Ayo kita ke rumahku dulu dan aku juga perlu mandi dan juga bersiap-siap. Setelah itu kita akan bertemu dengan Genta di pondok pesantren ayahmu. Syukur-syukur kita bisa ikut dengannya berkunjung ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Bagas!" ucap Tresna dengan begitu bersemangat.
Rara hanya bisa tersenyum dan menggeleng kan kepala melihat semangat 45 yang ditunjukkan oleh sahabatnya.
" Ya ampun apa kau cinta itu dengan dokter Bagas?" tanya Rara sambil merangkul bahu Trisna yang hanya bisa melotot kepadanya.
" Jangan menggodaku terus Ra! Kau tahu kan? Kalau dokter Bagas itu adalah arwah gentayangan yang masih penasaran hidupnya? Kalau dia sudah membereskan urusan dia di dunia. Maka dia bisa kembali ke akhirat dengan tenang dan beristirahat di sana tanpa harus bergentayangan lagi di dunia ini!" ucap Trisna dengan begitu santai.
Padahal hati Trisna benar-benar kebab-kebit saat ini dan dia tidak akan pernah sanggup kalau benar-benar hal itu terjadi.
Rara sangat tahu bagaimana perasaan Trisna saat ini. Bagaimanapun dirinya sudah mengalami duluan bagaimana rasanya kehilangan laki-laki yang dia cintai.
Apalagi kisah cinta Trisna dan dokter Bagas yang benar-benar sangat sulit untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ditambah lagi dengan status dokter Bagas yang merupakan tunangan dari Melisa. Ah, derita percintaan Trisna jauh lebih berat daripada kisah cintanya bersama Kenzo.
Rara sudah mengikhlaskan tentang Kenzo dan tidak pernah mengingat lagi pemuda itu yang sekarang telah berfungsi dan menjadi budak nafsu sang Ratu Siluman Buaya.
Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah membuat Rara benar-benar marah kepada Kenzo dan dia merasa beruntung karena dulu dirinya tidak jadi menikahi Kenzo.
Rara benar-benar tidak bisa membayangkan kalau dirinya dahulu benar-benar menikah dengan Kenzo dan harus menerima kenyataan dirinya dimadu dengan Ratu Siluman Buaya. Lalu setiap anak yang dia lahirkan, anak itu harus diberikan kepada madunya untuk dijadikan sebagai tumbal sang Ratu Siluman Buaya. Hanya untuk menyenangkan dan membahagiakan madu dari suaminya yang merupakan Ratu Siluman Buaya. Hanya memikirkan hal itu sudah sukses membuat Rara bergidik ngeri.
" Kenapa Ra?" tanya Trisna merasa bingung dengan sahabatnya yang sejak tadi hanya merenung sendiri.
__ADS_1
Trisna yang saat ini sedang mempersiapkan dirinya untuk menuju ke pondok pesantren Kyai Ilham. Trisna untuk sejenak menatap ke arah sahabatnya yang masih diam seribu bahasa.
" Tidak apa-apa Tris! Aku hanya merasa bersyukur karena Allah tidak menjodohkanku dengan Kenzo! Aku tidak akan pernah bisa membayangkan diriku sendiri. Ketika aku harus menyerahkan anakku dijadikan tumbal oleh suamiku untuk Ratu Siluman Buaya." ucap Rara sambil bergidig ngeri.