Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong

Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong
41. Menemui Genta


__ADS_3

Setelah siap, Trisna dan Rara kemudian menuju ke pondok pesantren untuk bertemu dengan Genta.


" Apa kau yakin Genta mau menolong kita?" tanya Rara kepada Trisna.


" Kalau Genta tidak mau menolong Kita untuk pergi ke sana. Maka terpaksa kita berdua yang akan langsung pergi ke rumah sakit itu untuk melihat keberadaan dan keadaan dokter Bagas!" ucap Trisna sambil fokus mengendarai motornya agar tidak terjadi kecelakaan.


" Baiklah! Baiklah! Aku pasti akan menemani apapun yang akan kau lakukan!" ucap Rara sambil tersenyum kepada Trisna.


Trisna benar-benar merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Rara yang sangat toleran dan juga selalu ada di sampingnya dalam setiap kondisi terburuk dalam hidupnya maupun setiap momen bahagia.


Rara adalah sahabat terbaik yang pernah dimiliki oleh Trisna dan mereka berdua sudah melewati begitu banyak rintangan dan juga bahaya. Ketika mereka tengah menangani kasus-kasus misteri untuk bahan artikel yang akan di muat di majalah sebagai pekerjaan mereka.


Begitu sampai di pondok pesantren Trisna dan Rara langsung menemui Kyai Ilham dan meminta kepada sang kyai untuk memperbolehkan mereka bertemu dengan Genta.


" Untuk apa kalian ingin bertemu dengan Genta?" tanya Kyai Ilham dengan tatapan penuh curiga kepada putrinya.


Kyai Ilham sangat tahu tentang hobi putrinya dan juga pekerjaan putrinya yang selalu menempuh bahaya demi profesinya sebagai seorang wartawan misteri.


Rara hanya tersenyum menatap ayahnya kemudian melirik ke arah Trisna.


" Silakan Babah bertanya sama Trisna saja!" ucap Rara yang bermanja kepada ayahnya.


Rara memiliki seorang kakak yang saat ini masih mondok di Jawa Timur. Entah kapan kakaknya itu akan kembali ke pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Kakaknya itu sangat betah mondok di sana. bahkan sudah berapa kali lebaran tidak pulang dan lebih memilih untuk mengabdi kepada Kyai di tempat dia mondok.



Visualisasi Abdullah, kakaknya Rara.


" Kenapa Nak Trisna ingin bertemu dengan Genta?" tanya Kyai Ilham padanya.


" Kyai sudah hampir lebih dari dua minggu dokter Bagas tidak kembali kepada saya. Terakhir dia meminta izin kepada saya untuk mengunjungi tunangannya yang ada di rumah sakit milik ayahnya yang habis terbakar 50 tahun lalu. Entah kenapa selama beberapa hari ini, saya selalu bermimpi buruk tentang dokter Bagas. Saya khawatir dengan keadaan dia Kyai. Oleh karena itu saya ingin meminta tolong kepada Genta untuk mencari tahu keberadaan dokter Bagas di sana!" ucap Trisna to the point dan jujur kepada Sang Kyai.

__ADS_1


Terlihat Kyai Ilham yang mengelus jenggotnya yang berwarna putih dan terus saja menganggukkan kepalanya.


" Berdasarkan penerawangan saya. Dokter Bagas saat ini sedang dikurung oleh rekan kerjanya yang bernama dokter Alfonso. Dokter itu ingin membalaskan dendamnya kepada Broto yang sudah mengorbankan semua orang yang ada di rumah sakit itu kepada dokter Bagas yang merupakan keturunan dari Broto!" Trisna benar-benar terkejut mendengarkan ucapan dari Kyai Ilham tentang keadaan dokter Bagas saat ini.


" Apakah kita tidak bisa menolongnya Kyai?" tanya Trisna kepada Kyai Ilham yang saat ini sedang memejamkan matanya.


Kyai Ilham yang saat ini sedang berusaha keras untuk bisa menembus kekuatan gaib yang ada di rumah sakit itu. Bahkan sampai keningnya mengeluarkan keringat dingin.


" Akan sangat sulit untuk bisa menembus kekuatan ghaib yang ada di sana. Apalagi semua hantu yang ada di sana penuh dengan dendam dan amarah yang mengakibatkan aura negatif berkumpul sangat besar di tempat itu! Akan sangat sulit untuk kita bisa keluar dari tempat itu!" ucap Kyai Ilham masih sambil menutup matanya.


Trisna dan Rara saling menatap satu sama lain mereka benar-benar merasa khawatir dengan keadaan dokter Bagas.


" Lalu bagaimana dengan Melisa? Tunangan dokter Bagas. Bagaimana keadaan dia saat ini?" tanya Trisna dengan wajah khawatirnya.


" Kelihatannya dia sedang hamil anak dokter Alfonso! Hal itulah yang membuat dokter Bagas saat ini mentalnya sangat hancur! Karena dia merasa bahwa semua pengorbanan dirinya selama ini sia-sia atas pengkhianatan tunangannya bersama musuh besarnya yang selama ini selalu mengincar dirinya untuk di bumi hanguskan jiwanya untuk selamanya!" ucap Kyai Ilham.


Terlihat mata Kyai Ilham sekarang sudah membuka dan menatap kepada Trisna dengan lekat.


Krisna benar-benar terkejut mendapatkan pertanyaan itu dari ayahnya Rara yang merupakan Kyai yang sangat dia hormati selama ini.


" Kenapa Kyai bertanya seperti itu?" tanya Trisna terlihat begitu gugup sebelum menjawab pertanyaan dari Kyai Ilham.


Kyai Ilham menarik nafasnya dengan dalam.


" Dokter Bagas tampaknya merasa khawatir denganmu. Hal itulah yang membuat dia masih tertahan sampai sekarang di atas dunia ini. Padahal dia sudah merelakan tentang Melisa akan tetapi hatinya sampai saat ini masih mengkhawatirkanmu!" Kyai Ilham menatap Trisna dengan sejuta pertanyaan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kyai Ilham Trisna sampai kesulitan menelan salivanya sendiri.


" Kalau kau memang benar-benar mencintai dokter Bagas ikhlaskan dan lepaskan kepergian dia agar dia bisa tenang kembali ke akhirat dan beristirahat di sana!" ucap Kyai Ilham berusaha untuk menasehati Trisna.


Tampak bulir air mata menetes di kelopak mata Trisna tanpa dia sadari.

__ADS_1


Rara memeluk sahabatnya yang saat ini sedang sedih hatinya.


" Percayalah nak cintamu dengan dokter Bagas tidak akan pernah bisa bersama. Selain karena kalian saat ini telah beda dunia. Dokter Bagas juga tidak akan pernah bisa membersamaimu sampai kapan pun juga!" ucap Kyai Ilham menunjukkan semua fakta dan kenyataan di hadapan Trisna.


Rara terus memeluk sahabatnya yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu mendengarkan semua yang dikatakan oleh Kyai Ilham tentang hubungannya bersama dengan dokter Bagas.


" Perasaan cintamu kepada dokter Bagas hanya membuat dokter Bagas kesulitan untuk kembali ke alam akhirat! ikhlaskanlah dia mulailah hidupmu yang baru! Lupakan dokter bagas agar dia bisa tenang di akhirat sana!" ucap Kyai ilham terus menasehati Trisna.


" Kyai apakah kalau saya bersedia untuk melepaskan perasaan saya terhadap dokter bagas. Apakah kyai mau menyelamatkan dokter Bagas dari tempat itu? Tolonglah Kyai! Tolong selamatkan dia kyai! Saya benar-benar tidak tega kalau harus melihat jiwa dokter Bagas yang di bumihanguskan begitu saja oleh dokter jahat seperti dokter Alfonso yang penuh dengan dendam dan angkara murka." trisna berusaha membujuk ya ilham untuk mau menolong dokter Bagas dari tangan doctor Alfonso.


Terlihat Kyai Ilham yang menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Trisna.


" Saya berjanji saya akan menolong dokter Bagas dari tempat itu bersama dengan Genta. saya juga akan berusaha untuk menenangkan dan juga menetralkan aura negatif yang ada di rumah sakit itu. Bagaimanapun saya juga tidak bisa membiarkan dokter Alfonso yang selalu menyerap energi manusia yang tanpa sengaja datang ke rumah sakit itu karena terjebak di sana tanpa sengaja!" ucap Kyai Ilham sambil mengelus jenggotnya.


" Apa?" tanya Rara sangat terkejut mendengarkan ucapan ayahnya.


" Jadi itu benar Kyai?" tanya Trisna yang juga terkejut seperti Rara.


Kyai Ilham menganggukkan kepalanya. kemudian dokter Ilham menjelaskan segalanya kepada Rara dan Trisna.


" Dokter Alfonso selama ini selalu menyerap energi manusia yang tanpa sengaja mendatangi rumah sakit itu pada saat mereka melihat rumah sakit beroperasi pada malam hari. Hal itulah yang selama ini membuat dokter Bagas selalu bertahan di rumah sakit itu untuk menolong para manusia itu keluar dari rumah sakit dan bisa selamat dari cengkraman dokter Alfonso!" ucap Kyai Ilham menjelaskan segalanya.


" Dokter Bagas adalah dokter yang baik dan dia selalu berusaha untuk menebarkan kebaikan kepada siapapun yang berada di dekatnya!" Trisna hatinya menghangat mendengarkan ucapan Kyai Ilham tentang laki-laki yang dia cintai.


Trisna tahu bahwa cintanya tidak akan pernah mungkin bisa terwujud mengingat status dan juga dunia yang berbeda antara dirinya dan dokter Bagas.


Akan tetapi Trisna tidak mau menyerah untuk menolong dokter Bagas agar bisa kembali ke akhirat dengan tenang.


" Tolonglah saya Kyai untuk menolong dokter Bagas!" ucap Tresna kembali kepada Kyai Ilham.


" Baiklah sekarang juga saya dan Genta akan mendatangi rumah sakit itu. Saya harap kalian berdua tidak mengikuti kami saat kami pergi kesana. Karena perjalanan ini benar-benar sangat berbahaya!" ucap Kyai Ilham menjelaskan kepada Trisna dan Rara yang saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Hati Trisna sebenarnya tidak sanggup kalau harus berpangku tangan begitu saja tanpa ikut andil dalam perjalanan malam ini bersama Kyai Ilham.


__ADS_2