
Kyai Ilham yang kebetulan datang ke tempat keluarga Broto dengan beberapa orang santri seniornya sebagai ajudan pribadinya saat ini sedang berusaha keras untuk menghadapi para siluman buaya yang mulai menyerang kediaman keluarga Broto secara brutal.
Untung saja para petaziah sudah pulang sejak tadi sehingga apa yang terjadi di dalam keluarga Broto tidak terlalu menjadi perhatian warga sekitar.
" Rara kau ajaklah Kenzo ke pondok pesantren milik kita. Trisna jagalah Kenzo dengan baik! Ingat dia tidak boleh sampai dibawa oleh pasukan siluman buaya itu! Kalau tidak, maka dia tidak akan bisa diselamatkan lagi. Karena dia pasti akan dijadikan suami oleh sang ratu siluman buaya di alam gaib sana!" perintah Kyai Ilham kepada mereka semua.
" Dokter Bagas! Bantulah mereka untuk menyelamatkan Kenzo dulu. Biarkanlah di sini akan kami hadapi. Aku yakin bisa memusnah mereka semua!" ucap Kyai Ilham dengan mantap dan nyaris tanpa keraguan.
Akan tetapi dokter Bagas tampaknya tidak tega kalau harus membuat Kyai Ilham berjuang sendiri hanya untuk melindungi rumah kediaman keluarganya.
Tetapi kalau membiarkan Trisna harus melawan para siluman itu di jalanan pun, benar-benar tidak mungkin. Dokter Bagas benar-benar dalam dilema saat ini.
" Dokter Bagas! Ayo cepat ikut kami!" ucap Trisna yang langsung menarik dokter Bagas untuk mengikuti dirinya dan juga Rara yang sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Broto dan mengamankan Kenzo di pondok pesantren milik Kyai Ilham.
Pondok pesantren Kyai Ilham adalah tempat yang paling aman bagi Kenzo. Karena di sana sudah dipasangi pagar ghaib yang tidak akan bisa ditembus oleh para siluman maupun Jin jahat.
" Kyai! Ayo ikut semuanya bersama kami ke pondok pesantren. Saya benar-benar tidak tega kalau harus melihat Kyai berjuang sendirian di sini. Biarkanlah harta kekayaan milik keluarga Broto diambil kembali oleh para siluman itu!" ucap Kenzo yang benar-benar tidak tega.
Kenzo melihat Kyai Ilham dan juga para santri lainnya yang saat ini sedang bersila dan melawan para siluman buaya dengan menggunakan ilmu batin yang mereka miliki.
" Kalian cepat pergi sesuai dengan instruksi Kyai kami! Jangan mengganggu konsentrasi Kyai untuk melawan mereka. Karena itu akan sangat berbahaya untuk jiwa Kyai kami!" Ucap santri Kyai Ilham yang saat ini sedang membantu Kyai Ilham melawan siluman itu.
Pertempuran antara para santri dan juga pasukan Ratu siluman buaya pun akhirnya terjadi dengan sangat sengit.
" Cepat kalian pergi!" ucap santri itu lagi kepada Trisna dan Rara agar segera menuju ke pondok pesantren.
" Jangan mengganggu konsentrasi Pak Kyai, karena itu akan sangat berbahaya untuk dia!" dokter Bagas akhirnya mengajak semua yang ada di tempat itu untuk segera mengikuti instruksi dari Kyai Ilham yang saat ini sedang duduk bersila di lantai dengan mata terpejam dan tangan yang menggulirkan tasbihnya.
__ADS_1
Dokter Bagas akhirnya mengikuti instruksi dari Kyai Ilham untuk membawa Rara, Trisna dan Kenzo serta ibunya untuk berlindung di pondok pesantren.
" Ra kamu yang pimpin jalan! Karena kan kamu yang tahu di mana pondok pesantren milik ayahmu!" ucap Trisna kepada Rara.
Rara pun kemudian duduk di samping Kenzo dan mengarahkan mobil mereka sementara itu Trisna dan dokter Bagas menghalau siluman yang menghalangi mereka untuk bisa keluar dari kediaman Broto.
" Bagaimana ini? Para siluman itu sepertinya tidak akan membiarkan kita untuk bisa keluar dari sini!" ucap Rara tampak frustasi.
Akan tetapi Trisna tetap meyakinkan Rara bahwa mereka bisa keluar dari kediaman Broto yang telah dikepung oleh ribuan pasukan buaya yang seperti menggila.
Tampak Kyai Ilham yang hampir ke payahan dalam menghadapi mereka semua. Akhirnya Trisna mengambil tasbih miliknya dan menggenggam dengan begitu erat dengan telapak tangannya. Dengan satu kali hentakan saja, terlihat keluar seberkas sinar cahaya putih yang langsung melesat ke atas langit dan akhirnya membuyar di atas langit dan kemudian menyilaukan pandangan mata siluman buaya yang akhirnya kabur dan saling serang sendiri.
Kemudian Bagas pun mulai merapalkan ayat-ayat suci Alquran yang selama ini sudah dia hafalkan. Sesuai dengan instruksi dari Trisna sebelumnya. Bagaimana cara menghadapi setan, jin dan juga siluman jahat.
Tampak terlihat sinar yang begitu menyilaukan dari tubuh Bagas yang akhirnya membuat para siluman itu pun tidak bisa melihat kehadiran mereka di tempat itu.
Kenzo memanfaatkan saat-saat seperti itu agar mereka segera bisa keluar dari keluarga Broto dengan menggunakan mobilnya.
Sang Jenderal akhirnya memerintahkan kepada mereka untuk membubarkan diri. Apalagi pengantin sang ratu sudah tidak ada di tempat itu, maka itu artinya sia-sia mereka telah melakukan pertarungan itu.
" Ajudan, segera kalian semua mundur ke istana kita! Aku akan mengejar pengantin sang ratu yang kabur!" perintah Sang Jenderal kepada pasukannya dan juga ajudan sang ratu siluman buaya.
Para pasukan yang memang sudah tampak begitu kepayahan. Apalagi mereka merasakan mata yang tidak bisa melihat sama sekali. Mereka semua akhirnya mematuhi perintah dari Sang Jenderal dan langsung menghilang dari sana.
Sementara itu Kyai Ilham tidak membiarkan jenderal dari siluman buaya untuk pergi meninggalkan kediaman Broto.
" Kalian cegah Jenderal itu untuk keluar dari tempat ini. Segera kita membentuk formasi untuk membuat pagar gaib sementara!" perintah Kyai Ilham kepada para santrinya yang serta-merta langsung menganggukkan kepala mereka.
__ADS_1
Para santri kemudian duduk bersila bersama dengan Kyai Ilhan dan mulai membacakan ayat-ayat suci Alquran untuk membuat pagar gaib yang bisa menghalangi Sang Jenderal keluar dari kediaman Broto
Sementara para santri membuat pagar gaib, Kyai Ilham mulai bertarung dengan Sang Jenderal yang tampak begitu kepayahan untuk menembus pagar gaib yang sudah diciptakan oleh para santri dengan ayat suci Alquran. Sang Jenderal tanpa menggeram begitu kesal kepada Kyai Ilham dan juga santrinya yang tidak mengizinkan dia untuk keluar dari tempat itu.
" Apakah kalian benar-benar memaksaku untuk membunuh kalian semua?" ucap Sang Jenderal dengan begitu geram.
Jenderal itu pun kemudian merubah wujud nya menjadi buaya raksasa dan siap untuk menggigit dan memakan semua Santri maupun Kyai Ilham yang sedang duduk bersila di lantai dengan mata terpejam.
Akan tetapi sekuat apapun dia berusaha untuk menembus benteng pertahanan yang sudah dibangun oleh Kyai Ilham untuk melindungi dirinya dan para santrinya. Sang Jenderal tidak mampu untuk menembusnya tubuhnya selalu mental dan semakin kesakitan serta kepanasan.
Para santri yang bertugas membuat pagar gaib untuk melindungi kediaman Broto, agar Sang Jenderal tidak bisa keluar dari rumah itu. Mereka tampak sudah kepayahan.
Keringat sudah bercucuran di dahi dan juga tubuh mereka. Bahkan santri yang kekuatan nya tidak tinggi, dia sudah mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Hal itu karena jenderal siluman buaya terus saja berusaha dengan mengerahkan kekuatan nya untuk bisa menembus pagar gaib yang dibuat oleh para santri.
Sang jenderal Siluman buaya tampak begitu frustasi melihat dirinya yang sangat kesulitan untuk keluar dari tempat itu.
" Bagaimana ini? Sepertinya aku akan mati konyol di tempat ini!" ucap Sang Jenderal tampak begitu frustasi dan kesulitan untuk mengendalikan kekuatan Kyai Ilham yang sekarang semakin membesar dan hampir saja mengenai dirinya.
" Menyerah lah maka aku akan mengampuni nyawamu!" ucap Kyai Ilham sambil membuka matanya yang tadi terpejam dengan begitu rapat sekali. Karena harus berkonsentrasi untuk bisa melawan para siluman buaya yang ganas dan juga jahat.
Beberapa bagian dari kediaman keluarga Broto ada yang terbakar. Akan tetapi sudah berhasil dipadamkan oleh para santri dengan menggunakan ilmu batin mereka.
Tampaknya Ratu siluman buaya benar-benar tidak merelakan kekayaan keluarga Broto akan tetap berjaya setelah Kenzo menolak untuk mengabdi kepadanya.
" Jangan pernah bermimpi aku akan takluk kepadamu!" ucap sang jenderal dengan begitu geram sekali.
__ADS_1
Kyai Ilham terlihat menghembuskan nafasnya dengan begitu berat.
" Maka aku dengan terpaksa harus membumihanguskanmu untuk selamanya!" setelah mengatakan itu. Kyai Rasyid pun kemudian menggenggam tasbihnya dan mengarahkannya kepada Sang Jenderal yang langsung terkejut karena tubuhnya merasakan begitu panas dan kesakitan.