Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong

Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong
63. Tenang


__ADS_3

" Tenang adalah kunci dari semua hal! Percayalah putriku bahwa kita pasti bisa menemukan ibu dan juga kakekmu!" Kyai Ibrahim kemudian membacakan sesuatu ke tubuh putrinya agar tidak bisa dirasakan auranya oleh para siluman yang saat ini sedang menjaga istana kerajaan milik Ratu siluman ular perak.


" Sekarang mereka tidak akan tahu bahwa kita berada di sini. Karena Babah sekarang sudah menyembunyikan aura kita berdua." Trisna menganggukan kepala kepada ayahnya yang sudah berjuang sangat keras sejak kemarin untuk mencari keberadaan istana kerajaan itu.


Trisna sungguh merasa sangat takjub sekali kepada ayahnya yang luar biasa.


Keberadaan istana Ratu siluman ular perak benar-benar terlindungi dan sangat rahasia. Hampir Selama 2 bulan Trisna berusaha untuk mencari tempat itu. Akan tetapi tidak berhasil. Ayahnya dengan mengerahkan kemampuannya selama satu minggu sudah bisa mendeteksi keberadaan tempat itu.


" Melangkahlah hati-hati putriku. Karena tempat ini benar-benar sangat berbahaya. Babah bisa merasakan aura negatif yang sangat kencang di tempat ini.


" Ya Babah, tenanglah! Aku pasti tidak akan ceroboh!" ucap Trisna sambil tersenyum kepada ayahnya.


" Baguslah!" Kyai Ibrahim kemudian menyusuri istana kerajaan ular perak yang benar-benar penuh dengan ular berbisa yang berbahaya.


Kyai Ibrahim sudah melindungi tubuhnya dan juga Trisna agar ular-ular itu tidak bisa mencium kehadiran mereka ataupun melihat keberadaan mereka.


" Babah Kenapa bisa Baba menikahi Ratu siluman yang begitu kejam seperti dia?" Trisna sampai terus menggelengkan kepalanya ketika dia melihat banyak sekali orang-orang yang ada di dalam kerangkeng yang hidup dalam penderitaan.


Ada laki-laki dan perempuan yang ditempatkan di sel yang berbeda-beda.


" Mereka semua pasti adalah orang-orang yang melakukan perjanjian kekayaan dengan Ratu siluman ular perak." Kyai Ibrahim menerangkan kepada Trisna pada laki-laki yang sedang disiksa dengan ribuan ular di sekujur tubuh mereka.


Mereka juga melihat para wanita dan juga anak-anak yang dipasangin tali di leher mereka misalkan akan seekor kambing.


" Lalu mereka itu siapa Babah?" tanya Trisna lagi pada golongan wanita dan juga anak-anak serta kakek dan nenek-nenek yang ada di dalam sana.

__ADS_1


" Mereka pasti tumpal yang diberikan oleh manusia-manusia serakah yang bekerja sama dengan Ratu siluman ular perak demi kekayaan dan juga jabatan. Mereka semua terlihat oleh mereka seperti kambing yang akan dimakan oleh mereka ketika mereka mengadakan pesta di istana mereka!" Trisna benar-benar merasa bingung dengan para Manusia itu yang rela mengorbankan keluarga mereka demi harta kekayaan.


Trisna sudah melihat akhir yang tragis kepada kakeknya Kenzo yang bahkan sampai kehilangan semua keluarganya. Sekarang yang tersisa hanya tinggal Kenzo sebagai keturunannya dan itu pun masih dikejar-kejar oleh Ratu siluman buaya untuk mengabdi kepadanya dan di jadikan sebagai pelampiasan nafsu sangat Ratu Buaya yang jahat.


Kyai Ibrahim telah memenjarakan Ratu siluman buaya di tempat yang sangat terpencil dan tidak akan bisa dia tinggalkan kalau bukan Kyai Ibrahim yang melepaskan dirinya dari tempat itu.


" Sudahlah Trisna. Sebaiknya kita sekarang fokus untuk mencari keberadaan Ibumu dan juga kakekmu. Babah akan mencari di sebelah kanan. Kau carilah di sebelah kiri. Oh ya, apa kau masih mengingat wajah Ibu dan kakekmu?" tanta Kyai Ibrahim pada Trisna.


Trisna tampak berpikir sejenak kemudian dia menganggukkan kepalanya.


" Tasbih milikku akan bersinar ketika kakek sebagai pemiliknya berada di dekatnya!" Trisna kemudian memperlihatkan tasbih yang selalu dia genggam di telapak tangan kanannya.


Kyai Ibrahim menganggukan kepala melihat Trisna memegang tasbih yang selama ini selalu dibawa kemanapun oleh ayah mertuanya ketika dia masih berada di alam manusia.


Hampir sampai di ujung lorong penjara bawah tanah yang ada di istana kerajaan ular perak. Akan tetapi mereka tidak menemukan keberadaan ibu maupun kakeknya Trisna.


" Bagaimana ini Babah? Kita sudah ada di ujung lorong penjara ini. Akan tetapi Kita tidak menemukan ibu dan juga kakek." Trisna terlihat sudah putus asa dengan usaha mereka berdua untuk menemukan keberadaan kedua orang yang sangat penting di dalam hidupnya yang sudah dia cari selama bertahun-tahun lamanya.


Di saat Trisna sudah benar-benar merasa putus asa. Tiba-tiba saja tasbih yang dia pegang bersinar dengan begitu terang.


" Babah!! Lihatlah!!" Trisna Perlihatkan tasbihnya yang saat ini sedang dia pegang kepada Kyai Ibrahim.


" Coba dilihat! Sinar terang yang mengarah ke mana?" tanya Kyai Ibrahim pada Trisna.


Trisna menganggukan kepalanya. Kemudian dia melihat bahwa sinar yang ditunjukkan oleh tasbihnya menuju ke sebuah ruangan yang begitu gelap dan tidak terlihat sama sekali. Kyai Ibrahim mengarahkan tasbih yang digenggam oleh Trisna ke dalam ruangan yang di sana terlihat ada cahaya dari tubuh seseorang yang ternyata adalah Ayah mertuanya yang sedang berdzikir kepada Allah.

__ADS_1


" Kakek!" Trisna merasa senang sekali melihat kakeknya yang sedang bersila dan memejamkan matanya sambil menggulirkan tasbih yang ada di tangannya.


" Trisna hati-hati nak di sekitar kakekmu itu semuanya adalah ular yang sangat beracun!" Kyai Ibrahim memperingatkan kepada Trisna untuk berhati-hati ketika dia hendak masuk ke dalam sel di mana kakeknya dan ibunya saat ini sedang dipenjara.


Trisna akhirnya mundur dan mempersilahkan kepada ayahnya yang masuk ke dalam penjara tersebut.


" Trisna kau jagalah di luar sini ayah akan masuk dan membebaskan mereka berdua!" ular-ular yang ada di situ kemudian menyingkir karena merasa tersiksa dengan Aura dan juga tubuh Sang Kyai yang terasa begitu panas untuk mereka.


" Istriku!! Ayah!! Apa kalian baik-baik saja?" tanya Kyai Ibrahim kepada dua orang yang telah dia cari selama bertahun-tahun lamanya.


" Alhamdulillah akhirnya kalian berdua bisa menemukan kami!" Kyai Ibrahim dan Trisna benar-benar merasa bahagia dan juga terharu karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat mereka cintai.


" Suamiku!!" ibunya Trisna menangis dalam haru Setelah dia bertemu dengan suaminya yang telah dia tunggu sangat lama untuk bisa membebaskan dirinya dan ayahnya dari tempat itu.


" Ibu!!" Trisna langsung memeluk ibunya yang terlihat begitu lemah dan juga sangat kurus.


Kyai Ibrahim membuka semua rantai besi yang mengikat kaki serta tangan mereka berdoa dengan menggunakan pedang yang dia bawa. Pedang yang selama ini selalu diisi dengan zikir dan juga ayat-ayat suci Alquran.


" Trisna segera kau bawa kakek dan juga ibumu keluar. Babah akan berusaha untuk membumihanguskan istana kerajaan Ratu siluman ular perak ini. Papa tidak akan membiarkan ratu jahat itu terus berbuat Keonaran di muka bumi ini!" Trisna hanya menganggukan kepalanya dan kemudian dia pun membimbing ibu dan juga kakeknya yang terlihat begitu lemas dan tidak berdaya.


" Hati-hati Trisna. Babah akan di sini dan menyerang para siluman itu yang sekarang mulai datang dan sudah bisa mencium keberadaan kita!" Kyai Ibrahim kemudian menyerahkan kepada Trisna Sebuah alat untuk mereka melakukan teleportasi dari dunia alam gaib menuju ke alam manusia.


Akan tetapi Trisna menolak untuk menerima alat itu. Karena ayahnya juga harus kembali bersama dengan mereka. Trisna tidak mau kalau harus kehilangan ayahnya hanya untuk bisa menemukan ibu dan juga kakeknya.


" Tidak Babah!! Jita akan keluar dari tempat ini bersama-sama. Kita akan berjuang bersama-sama melawan para siluman jahat itu!" Trisna kemudian mulai mengerahkan kekuatannya dan juga tasbih yang ada di tangannya untuk bisa melawan para siluman yang sudah mulai berdatangan satu demi satu ke penjara bawah tanah. Setelah tadi para ular yang ada di dalam penjara yang mengurung ibu dan juga kakek Trisna melapor kepada Ratu siluman ular perak. Bahwa ada penyusup yang sekarang sedang membebaskan tawanan penting istana kerajaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2