Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong

Jeritan Tengah Malam Di Rumah Kosong
31. Pikirkan!


__ADS_3

Kyai Ilham menatap kepada dokter Bagas yang tampak tidak sabar untuk mendapatkan berita darinya. Mengenai pertarungan dia bersama dengan para santrinya melawan siluman buaya yang selama ini selalu mengganggu keluarga Broto.


" Kami lelah dokter. Apakah boleh kalau kami beristirahat dulu? Besok kami akan menceritakan semuanya kepadamu!" ucap Kyai Ilham kepada dokter Bagas yang tampak begitu penasaran dengan hasil pertarungan Sang Kyai melawan siluman buaya.


Bagas terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena dirinya tidak mengerti situasi dan kondisi yang terjadi kepada Sang Kiai yang saat ini sedang kelelahan luar biasa setelah bertarung melawan ratusan bahkan ribuan siluman buaya yang menyerang kediaman Broto.


" Maafkan saya Kyai. Baiklah silakan Kiai dan para santri untuk beristirahat saya akan kembali melanjutkan dzikir saya di dalam tasbih milik Trisna." setelah mengatakan itu dokter Bagas pun langsung berubah menjadi seberkas cahaya putih dan melesat masuk ke dalam tasbih milik Trisna.


Kyai Ilham hanya menatap pemandangan yang ada di hadapannya.


Kyai Ilham benar-benar merasa kasihan kepada dokter Bagas yang hidupnya harus bergentayangan di atas dunia ini setelah dijadikan tumbal oleh ayahnya untuk pesugihan kepada Sang Ratu Buaya.


Kyai Ilham menghela nafasnya dengan berat kemudian dia pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat Isya sebelum akhirnya dia tertidur pulas pada malam ini.


Ya! malam ini adalah malam paling berat yang pernah dialami oleh Kyai Ilham bersama para santrinya. Di mana mereka telah melawan ribuan siluman buaya yang datang dan terus menyerang mereka untuk mencari Kenzo.


" Alhamdulillah ya Allah karena Engkau telah melindungi kami semua dari keganasan siluman-siluman itu! Tolong lindungilah Kami selalu!" doa Kyai Ilham Setelah dia selesai melaksanakan salat isya dan juga salat tahajud.


Sekilas Kyai Ilham melirik ke arah Genta Sang Jenderal siluman buaya yang telah menjadi tawanannya yang saat ini dia simpan di dalam tasbih miliknya.


Kyai Ilham telah memusnahkan raga siluman dari Sang Jenderal dan sekarang jiwanya telah dia simpan di dalam tasbih miliknya.


Ya, Kyai Ilham mempunyai rencana untuk mensucikan jiwa sang jenderal agar bisa menjadi jiwa yang suci dan murni. Di mana dirinya akan menggembleng Jenderal siluman buaya untuk menjadi makhluk yang berakal budi yang luhur dan siap membantu yang lemah.


Tadi dalam perjalanan menuju pondok pesantrennya. Kyai Ilham sudah menugaskan kepada Genta untuk melakukan dzikir tertentu dalam rangka membuat jiwa Genta menjadi bersih dari sikap siluman dan kejahatannya di masa lalu.


Dan sekarang Kyai Ilham sedang melihat Genta yang sedang sibuk berdzikir di dalam tasbih miliknya.

__ADS_1


" Berzikirlah agar kau bisa mempunyai pegangan. Ketika ratumu suatu saat datang untuk mencarimu. Aku yakin kalau Ratumu tidak akan melepaskanmu begitu saja." ucap Kyai Ilham yang sudah selesai salat Tahajud dan bersiap untuk tidur.


Tasbih yang digunakan oleh Kyai Ilham untuk mengurung Genta sudah dipasangi pagar gaib yang tidak akan bisa ditembus. Apabila bukan Kyai Ilham yang membuka pintu ataupun mengizinkan Genta untuk keluar dari tasbih tersebut. Oleh karena itu Sang Kiai bisa tertidur dengan pulas walaupun meninggal kan Genta di dalam tasbihnya.


Sementara itu dokter Bagas yang saat ini berada di belakang rumah Kyai Ilham tampak sedang menatap bintang di langit.


Jiwanya yang saat ini sedang merasa kosong dan hampa. Bagas merasakan kesedihan yang luar biasa. Ketika tadi dia melihat adik bungsunya yang meninggal dan kemudian arwahnya dibawa oleh prajurit sang ratu siluman buaya yang selama ini disembah oleh sang ayah. Bahkan sampai rela mengorbankan anak dan juga istrinya sebagai tumbal bagi sang ratu agar mau memberikan kekayaan dan kejayaan padanya.


" Papah! Apakah sekarang papah masih tertahan di dalam istana siluman buaya? Apakah Papa sudah belajar dari kesalahan hidup yang telah Papa jalani? Semasa Hidup apa telah mengorbankan begitu banyak nyawa hanya untuk menyenangkan Ratu siluman buaya. Papah bahkan tidak segan-segan untuk mengorbankan anak-anak papa sebagai tumbal sang ratu!" terlihat Bagas yang begitu sedih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Trisna yang merasakan bahwa Bagas tidak ada di dalam tasbihnya dia pun kemudian mencari dokter itu.


" Ke mana dokter Bagas? Kenapa dia tidak ada di dalam tasbihku?" tanya Trisna kepada dirinya sendiri sambil kemudian dia pun turun dari atas ranjang dan bergegas keluar mencari dokter Bagas.


Ketika Trisna pergi keluar dan melihat dokter Bagas yang sedang sedih dan melamun sendiri duduk di belakang rumah Sang Kyai.


" Dokter Bagas Kenapa kau tidak tidur?" tanya Trisna merasa khawatir dengan dokter Bagas yang kelihatan sedang sedih dan merana hatinya.


Hal itu terjadi karena dokter Bagas ketika meninggal dia masih berusia 25 tahun dan usianya berhenti di sana.


" Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Trisna merasa khawatir dengan dokter Bagas.


" Aku hanya sedang merenungkan kehidupan ayahku yang telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada siluman buaya." ucap dokter Bagas sambil melirik ke arah Trisna yang sekarang duduk di sampingnya.


" Beristirahatlah dan jangan lupa untuk mendoakan ayahnya dan juga adiknya. Agar mereka bisa hidup damai di sana. nanti besok kita akan berbicara dan berunding dengan biaya kamu untuk mencari cara agar bisa membebaskan ayahnya dari perbudakan Ratu siluman buaya." ucap Trisna berusaha untuk menghibur dokter Bagas agar hatinya bisa tenang dan tidak terlalu meresahkan tentang ayah dan juga adiknya yang baru saja meninggal dunia.


Dokter Bagas menatap Trisna dengan lekat kemudian dia mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Trisna kepadanya.

__ADS_1


" Percayalah padaku. Kami pasti tidak akan membiarkan ayahmu berada di sana untuk selamanya. Kami akan berusaha untuk membebaskan dia di sana agar bisa kembali ke akhirat dan beristirahat di sana!" ucap Trisna memberikan janjinya kepada dokter Bagas.


Akan tetapi dokter Bagas malah menggeleng kan kepalanya. Membuat Trisna menjadi tidak mengerti apa yang diinginkan oleh dokter itu.


" Kenapa?" tanya Trisna bingung.


" Biarkanlah Ayahku berada di sana untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruknya kepada manusia yang telah dia korbankan sebagai tumbal kepada Ratu siluman buaya. Semoga kisah Ayahku bisa menjadi tebar bagi semua orang yang mendengar maupun membaca kisahnya!" Trisna benar-benar terharu mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter Bagas.


Perasaan cinta yang sempat tertimbun karena mengetahui dokter Bagas yang telah memiliki tunangan, kini serta merta perasaan cinta itu seakan meronta-ronta di dalam dada Trisna yang saat ini sedang berdebar sangat kencang. Pesen dokter Bagas seakan memancar dari hatinya yang begitu baik.


" Apakah kau yakin merasa rela ayahmu berada di istana Ratu siluman buaya dan menjadi budaknya di sana?" tanya Trisna seakan tidak percaya dengan ucapan dokter Bagas yang terdengar mustahil baginya.


" Aku sangat yakin. Biarkanlah kisah Ayahku ini menjadi pelajaran untuk siapapun. Dosa musyrik ataupun menyembah selain kepada Allah adalah dosa yang sangat besar yang tidak akan pernah diampuni Allah! Biarkanlah kisah Ayahku menjadi pelajaran untuk semua orang!" ucap Dokter Bagas lesu.


Trisna sangat tahu bahwa hati dokter Bagas saat ini sedang terluka walaupun mulutnya mengatakan hal itu tetapi hatinya tetaplah seorang anak yang baik dan tidak tega dengan keadaan ayahnya sendiri.


" Aku akan berusaha untuk menyelamatkan adik-adikmu yang dijadikan tumbal oleh ayahmu. Mereka tidak berdosa karena mereka tidak menjadi bagian dari pengabdian ayahmu terhadap Ratu siluman buaya. Mereka hanya dijadikan korban dan tumbal untuk melanggengkan kejayaan Ayahmu selama hidup di dunia!" terlihat dokter Bagas yang menganggukkan kepalanya.


Siapa yang menyangka kalau ternyata dokter Bagas menyandarkan kepalanya di bahu Trisna dengan begitu damai sentosa.


Jantung Trisna seakan hendak meloncat dari tempatnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari dokter Bagas.


" Terima kasih Trisna karena kau sudah mau menemaniku sampai sejauh ini." ucap dokter Bagas kepada Trisna.


" Iya tidak apa-apa. Maksudku, sama-sama!" ucap Tresna begitu gugup dalam menanggapi perkataan dokter Bagas kepadanya.


Saat ini hati Tresna sedang mereog sangat bahagia sekali. Ah entahlah! walaupun Tresna tahu bahwa itu salah tetapi Trisna hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan duduk bersama dengan laki-laki yang dia cintai.

__ADS_1


' Cinta?' tiba-tiba Trisna tersentak dengan perasaannya sendiri.


' Apakah benar kalau aku benar-benar mencintai dokter Bagas?' Trisna benar-benar pening dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2