
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Dara mendudukkan dirinya di atas ranjang hotel. Tangannya tampak sibuk memijat kakinya yang terasa pegal akibat seharian memakai sepatu dengan hak setinggi 7 cm. Memang, sedari dulu Dara tak terbiasa memakai sepatu dengan hak tinggi. Dara lebih menyukai sepatu yang nyaman saat dia pakai, contohnya sneaker.
Ceklek!
Tanpa menoleh, Dara dapat mengetahui siapa yang memasuki kamar saat ini. Yups, benar sekali, jawabannya adalah suaminya.
“Kamu kenapa?” tanya Stevan dengan raut wajah khawatir saat melihat Dara yang tampak sibuk memijat kakinya sambil sesekali meringis.
“Kakiku sakit, gara-gara sepatu sialan itu!” umpat Dara sambil menendang pelan sepatu berhak tinggi yang terletak di sebelah kakinya.
Stevan mendudukkan dirinya di samping Dara, dia mengambil kedua kaki Dara lalu meletakkan di atas pangkuannya.
“Eh, kamu mau ngapain?” tanya Dara tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
“Biar aku pijitin.” Stevan mulai memijit pelan kaki Dara. Dia tahu, tak mudah memakai sepatu berhak tinggi dalam jangka waktu panjang. Apalagi, Dara bukan tipe penyuka sepatu model seperti itu.
Dara memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang Stevan layangkan di kakinya. Lumayan, sakitnya sedikit berkurang.
“Udah mulai mendingan?” tanya Stevan sambil menatap Dara.
Dara mengangguk, dia menurunkan kakinya kembali.
“Ya udah, sana kamu mandi duluan. Aku mau keluar sebentar,” ucap Stevan sambil mengacak rambut Dara lembut.
Dara kembali mengangguk, dia melangkah menuju kamar mandi hotel. Tak lupa membawa pakaian juga handuknya ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Dara telah selesai membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang dililitkan di kepalanya. Saat ini dia merasa lebih segar dari pada sebelumnya.
Dara mengedarkan pandangannya, dia mencari keberadaan suaminya. Apakah Stevan belum kembali?
__ADS_1
Tak ingin pusing memikirkannya, Dara melangkah menuju koper miliknya, lalu mengambil hair dryer dari dalamnya. Setelah cukup kering, Dara kembali mendudukkan dirinya di atas ranjang. Dia meraih ponselnya untuk membuka sosial media guna mengusir kebosanannya.
Beberapa menit kemudian, Stevan kembali dengan sebuah nampan di tangannya. Dia menutup pintu menggunakan kakinya. Stevan membawa nampannya ke atas ranjang, tempat Dara berada.
“Makan dulu, Sayang. Kamu dari tadi belum makan!” titah Stevan sambil memberikan sepiring nasi goreng kepada Dara. Dara meraihnya, keduanya mulai menikmati makanan yang tersaji di hadapan mereka.
“Oh iya, mulai besok kita bakalan tinggal di rumah baru kita.” Stevan mulai membuka pembicaraan setelah beberapa saat hanya terjadi keheningan.
“Rumah yang di mana?” tanya Dara lalu meminum air putih.
“Letaknya nggak jauh dari rumah Mama, bahkan cuma diselat sama dua rumah, jadi kalau kamu kangen sama Mama, nggak bakalan jauh rumahnya,” jelas Stevan yang dibalas anggukan oleh sang istri.
“Oh iya, satu lagi. Kita cuma dapat cuti kuliah selama tiga hari. Dosennya nggak bolehin kita kelamaan, soalnya sebentar lagi kita masih ngurus skripsi,” lanjut Stevan sambil meletakkan sendoknya di atas piring.
Dara mengangguk mafhum. Tangannya sibuk membereskan peralatan makan mereka lalu meletakkannya kembali di atas nampan. Setelah selesai, dia meletakkan nampannya di atas nakas.
“Kamu udah ngantuk?”
Dara menggeleng.
Stevan mengangguk, dia mulai merebahkan dirinya di pangkuan Dara, tetapi terhenti saat Dara menahan kepalanya. Stevan menatap Dara bingung.
“Habis makan nggak boleh langsung rebahan, duduk dulu!” tegas Dara.
Stevan mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk tegak dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, yang menjadi terkesan konyol, tak ada lucunya sama sekali.
Dara meraup wajah Stevan gemas.
“Udah nggak usah cemberut, nih kopi kamu belum kamu minum.” Dara menyodorkan segelas kopi ke arah Stevan lalu meraih segelas cokelat hangat untuk dia nikmati.
Stevan meraihnya, dia hanya meminum seteguk lalu memberikannya kembali kepada Dara. Lima menit telah berlalu, Stevan kembali dengan niatnya. Stevan mulai merebahkan dirinya di atas pangkuan Dara. Kali ini tidak ada tolakan dari Dara.
Tangan Dara terulur mengelus kepala Stevan. Dara menatap Stevan dengan senyum tulusnya yang dapat membuat hati Stevan berdegup kencang. Sungguh, ini terlihat konyol seperti baru pertama kali jatuh cinta. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa Stevan bahagia dengan perlakuan Dara kepadanya.
__ADS_1
Dara selalu memperlakukannya dengan sayang. Dara selalu berlaku lembut kepadanya dan Stevan menyukai itu semua. Stevan menyukai cara Dara menunjukkan rasa cintanya. Stevan suka senyuman Dara dan yang pasti Stevan menyukai segala hal tentang Dara.
Dara adalah wanita terbaik setelah bundanya. Tangan kanan Stevan ikut terulur mengelus wajah Dara, sementara tangan kirinya sudah berperan menggenggam erat tangan Dara yang terbebas.
“Aku bahagia, aku bahagia Tuhan menyatukan kita dengan caranya. Aku bahagia karena aku dapat bersama dengan wanita yang aku cintai. Dan yang pasti, aku bahagia karena kamu hadir di hidupku. Aku mencintaimu, my wife, my future. I hope we will together forever, i love you so much. You is my life.” Stevan mengangkat wajahnya lalu menyematkan sebuah kecupan manis di pipi isterinya.
“I am very also,” balas Dara sambil tersenyum tulus.
Stevan bangkit dari tidurnya.
“Tidur yuk, udah malam. Besok kita harus pindah.”
Dara mengangguk, dia membaringkan dirinya di atas ranjang begitupun Stevan. Stevan mulai menarik Dara ke dalam pelukannya, dia menyempatkan diri mencium kening Dara.
“Happy nice dream, Dear,” gumam Stevan sebelum benar-benar memejamkan matanya, menemui alam mimpinya
...🌾🌾🌾...
Dara mengerjapkan matanya pelan. Azan subuh yang berkumandang seolah-olah menjadi alarm dari tidur malamnya. Dara bangkit dari tidurnya, dia melangkah menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu.
Setelah selesai, Dara melangkah menuju ranjang. Dia menatap wajah Stevan yang tampak damai dengan alam mimpinya. Dara mulai mengangkat tangannya ke arah lengan Stevan. Dia mengguncang pelan lengan Stevan.
“Ste, bangun, sholat subuh dulu!”
Stevan mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan cahaya yang ditangkap oleh retina matanya. Dia mengusap wajahnya guna mengusir kantuk yang masih melanda. Setelah dirasa cukup, Stevan mulai bangkit dari tidurnya.
Stevan menatap Dara yang sibuk menggelar dua sajadah di atas lantai. Stevan turun dari ranjang, dia melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu lalu kembali menghampiri Dara yang nampak sudah memakai mukenanya.
Stevan meraih kopiah yang disodorkan Dara kepadanya. Usai mendengar iqamah, dia mulai mengangkat tangannya membaca doa setelah iqamah, lalu bersiap melaksanakan shalat subuh dengan dia sebagai imamnya.
“Assalamualaikum warahmatullah, Assalamualaikum warahmatullah.”
Stevan membalikkan badannya menghadap Dara. Dia menyodorkan tangannya, Dara meraihnya lalu mencium punggung tangan Stevan. Stevan kembali ke posisi semula lalu mulai mengangkat kedua belah tangannya untuk berdoa kepada Sang Maha Kuasa yang berkuasa atas dirinya dan segala makhluk yang ada di bumi ini.
__ADS_1
To be continued ....