
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
“Cie, cucu Opa sudah jadi anak SD,” goda Vano. Pria berusia lima puluh tahun itu tampak asik menggoda sang cucu yang tengah tersenyum lebar.
Malam ini, keluarga besar tengah berkumpul di kediaman Stevan. Mereka tengah merayakan hari kelulusan cucu satu-satunya. Ah tidak, masih ada Gervan yang sudah sah menjadi bagian dari keluarga ini.
“Bagaimana, senang tidak?” Vano kembali bertanya, kali ini pria itu mengangkat tubuh Langit ke atas pangkuannya.
Langit mengangguk antusias.
“Senang dong, kalau udah SD, kan artinya Elang sudah besar. Nah, kalau sudah besar, Elang bisa jagain Mama.”
Mendengar jawaban sang cucu, Arya yang duduk di samping Vano pun tersenyum. Dia menepuk kepala Langit beberapa kali.
“Pintar sekali cucu Grandpa. Elang mau minta apa nih dari Grandpa?”
Sejenak Langit terdiam, bocah itu memiringkan kepalanya sambil menaruh jari telunjuknya di dagu, berlagak berpikir.
“Elang mau robot, Grandpa,” jawab Langit antusias.
Entah sudah berapa banyak mainan yang dia miliki. Bahkan, ada lemari khusus mainan. Kardus-kardus tampak berjajar rapi di dalamnya. Mau sebanyak apa pun mainan yang dimiliki, yang namanya anak-anak tak akan merasa puas.
Arya mengangguk menyanggupi. Hartanya tak akan habis hanya untuk membelikan cucunya mainan. Mau sebanyak apa pun, selagi Arya mampu dan Arya bisa, maka akan dia turuti keinginan cucunya. Bagi Arya, bahagia cucunya adalah bahagianya juga.
Sementara di dekat mereka, terdapat seorang anak yang sejak tadi memandang mereka dengan tatapan kosong. Dia Gervan. Dia juga ingin dimanja oleh kakeknya seperti Langit. Dia juga ingin diajak bercanda dengan sang kakek. Namun, Gervan sadar diri, bahwa hal itu sulit terjadi.
Meskipun kedua pria itu tak menolak kehadirannya, tetapi sampai kapan pun, kasih sayang antara dirinya dan Langit pasti berbeda. Gervan tak lebih hanyalah anak yang merasa beruntung bertemu dengan Dara.
Di depan keluarga, Gervan selalu berusaha terlihat baik-baik saja, terlihat bahagia. Namun, selama ini tak ada yang tahu bahwa mentalnya tak sebaik fisiknya. Mental Gervan terguncang, apalagi setelah insiden penyiksaan yang dilakukan pamannya.
“Hei, kok di sini, Sayang? Nggak ikut kumpul sama Opa dan Grandpa?” Itu suara Shira.
Tadinya, wanita itu bertujuan memanggil Dara yang tengah sibuk di kamar. Namun, Shira membatalkan niatnya saat melihat Gervan yang hanya berdiri di pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu.
Gervan mendongak lalu menggeleng pelan.
“Nggak, Grandma. Gervan tadi mau ke dapur, hehe.” Anak itu tertawa canggung.
Shira mengangguk, berusaha percaya. Walau belum pasti, Shira sedikit mengerti apa yang terjadi. Wanita itu berjongkok di hadapan Gervan. Tangannya mengusap kepala anak itu dengan lembut.
“Gervan sayang, kamu nggak usah sungkan. Ingat, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Opa dan Grandpa adalah kakek Gervan juga,” tutur Shira. “Jadi, Gervan nggak perlu malu untuk minta apa yang Gervan mau, seperti Elang.”
“Terima kasih, Grandma.”
“Ya sudah, ayo ikut Grandma ke kamar mama kamu,” ajak Shira.
Gervan mengangguk, anak itu tersenyum sambil meraih uluran tangan sang nenek. Keduanya mulai melangkah menjauh.
🌾🌾🌾
Tepat pukul setengah delapan, semua orang yang berada di rumah berkumpul di meja makan, bersiap melaksanakan makan malam bersama, juga sebagai ucapan atas kelulusan cucu kesayangan mereka. Ya walaupun hanya lulus TK, tidak ada salahnya merayakannya, bukan?
Di atas meja, sudah terdapat banyak sekali jenis makanan. Mulai dari makanan sederhana, hingga yang terlihat mewah.
“Elang mau makan pakai apa?” tanya Dara, wanita itu menatap Langit sambil mengangkat piring.
Langit tampak menimang-nimang, tentang makanan apa akan dia makan malam ini. Langit mengangkat tangannya, menunjuk makanan yang dia inginkan.
“Elang mau ayam goreng sama udang krispi, Ma.”
Dara mengangguk, dia memberikan sepiring makanan yang sudah lengkap sesuai keinginan Langit. Setelahnya, wanita itu menatap Gervan.
“Gervan mau makan pakai apa?”
Gervan mendongak. “Apa aja yang Mama ambilin, pasti Gervan makan.” Anak itu tersenyum.
Dara mendudukkan dirinya di samping Stevan, usai menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya. Semua orang yang berada di meja makan itu mulai menikmati makanan.
Baru beberapa suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, Dara sudah merasakan mual yang terasa mengocok perutnya. Dengan tergesa, wanita itu beranjak dari duduknya. Dia melangkah cepat menuju kamar mandi dapur, meninggalkan tanda tanya besar di kepala semua orang.
__ADS_1
Mendengar suara muntah yang berasal dari kamar mandi, Stevan segera berdiri. Dia menggedor asal pintu kamar mandi.
“Dara buka! Kamu kenapa, Dar?”
Merasa tak ada jawaban, tatapan Stevan menurun ke bawah, tempat kenop pintu kamar mandi berada. Pria itu memutar kenop pintu, yang ternyata tidak dikunci. Tanpa membuang waktu, Stevan segera melangkah, menghampiri sang istri yang masih sibuk memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Stevan memijit tengkuk Dara pelan.
“Sudah?” tanyanya, setelah Dara usai membasuh mulutnya.
Dara mengangguk, bibir wanita itu terlihat pucat.
“Kamu kenapa?” tanya Stevan. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata wanita itu. “Ada yang sakit, tidak?”
Dara menggeleng.
“Aku baik-baik saja, Ste.” Memang tak ada yang sakit, hanya saja dia merasa tubuhnya lemas.
“Ya sudah, ayo kembali ke meja makan.” Stevan segera menuntun Dara keluar dari kamar mandi.
Sekembalinya Dara dan Stevan, keduanya ditatap penuh tanya oleh mereka.
“Kamu kenapa, Sayang? Wajah kamu kelihatan pucat banget lho,” ucap Anita.
Shira mengangguk, menyetujui opini sang besan.
“Iya, Sayang. Kamu kenapa? Sakit?” Shira menatap Dara dengan tatapan khawatirnya.
Dara tersenyum tipis, dia mendudukkan dirinya di tempat semula. Matanya menatap Shira dan Anita bergantian, lalu menggeleng.
“Dara nggak papa kok, Ma, Bun. Mungkin cuma masuk angin.”
Merasa ada yang tidak beres, Shira dan Anita saling berpandangan, seolah tengah berdiskusi lewat tatapan. Detik berikutnya, keduanya mengangguk secara bersamaan, lalu kompak kembali menatap Stevan.
Stevan yang ditatap pun mengangkat sebelah alisnya. Pria itu tak paham dengan apa yang dilakukan oleh bunda juga mama bermertuanya.
“Mama sama Bunda kenapa?”
Shira dan Anita serentak menggeleng. Mata kedua wanita itu memandang penuh arti ke arah Dara dan Stevan.
Dara mengerutkan dahinya bingung.
“Loh, kan Dara cuma masuk angin. Di bawa tidur juga sembuh.”
“Tidak, pokoknya kalian besok harus ke rumah sakit.”
“Ngapain, Ma? Dara, kan tidak sakit parah.” Itu suara Arya yang sejak tadi hanya menonton perdebatan yang dilakukan istri dan besannya.
Shira menoleh cepat, dia menatap tajam sang suami, membuat Arya seketika diam di tempat.
“Papa tidak mengerti. Ah sudahlah ... pokoknya besok kalian berdua ke rumah sakit. Gervan sama Elang biar Mama yang jaga.”
Anita mengangguk.
“Besok kalian temui dokter Riska.”
“Loh, dokter Riska bukannya dokter kandungan, ya? Terus apa hubungannya?” tanya Vano.
Dara mengangguk paham, dia sekarang mengerti arah pembicaraan Shira dan Anita. Dara menarik sudut bibirnya. Tangan wanita itu terulur mengusap perutnya. Benarkah kembali ada titipan Tuhan di sini? Semoga saja.
🌾🌾🌾
Sesuai dengan perintah Shira dan Anita, kini sepasang suami istri itu tampak bersiap pergi ke rumah sakit. Meski hasilnya belum pasti, tetapi apa salahnya mencoba, bukan?
“Ayo turun,” ajak Stevan. Keduanya melangkah menuju dapur, dengan Stevan yang menggandeng mesra lengan Dara.
“Kalian sudah siap?” tanya Shira, wanita itu tengah sibuk menata makanan di atas meja.
Stevan mengangguk, dia menggiring Dara agar duduk.
“Iya, Ma. Soalnya kalau nanti, takutnya macet.”
Shira mengangguk, dia melangkah menuju kursi Dara. Wanita itu tersenyum sambil membelai lembut rambut Dara.
__ADS_1
“Mama doakan, semoga saja kamu positif hamil, Sayang.”
Dara mendongak, dia ikut tersenyum.
“Terima kasih, Mama. Semoga saja, ya? Aamiin.”
“Aamiin,” sahut Shira. Wanita itu kembali mengusap kepala Dara lalu mengecup kening Dara. “Mama sayang kamu, Nak. Apa pun keadaannya, doa Mama akan terus menyertai langkahmu. Mama selalu ingin melihat anak Mama bahagia.”
...🌾🌾🌾...
Stevan menghentikan mobilnya tepat di parkiran rumah sakit. Pria itu turun, ia memutari mobilnya, membukakan pintu untuk sang permaisuri hatinya.
Sepasang suami istri itu melangkah secara perlahan, menuju ruangan dokter Riska. Sebelumnya, Shira sudah terlebih dahulu menghubungi dokter kandungan itu; bahwa Stevan dan Dara akan datang.
“Assalamualaikum, Dokter,” sapa Dara, seiring dengan terbukanya pintu ruangan dengan tulisan ‘Ruang Dokter Riska’ di atasnya.
“Waalaikumussalam, Bu Dara, Pak Stevan. Ayo masuk-masuk.” Perempuan cantik, dengan jas putih kebanggaannya itu mempersilakan keduanya untuk masuk.
“Terima kasih.”
“Jadi, tujuan kalian kalian ke sini untuk periksa, apakah Dara positif hamil atau tidak?” tanya dokter Riska, dia menautkan kedua tangannya di atas meja.
Dara mengangguk membetulkan.
“Iya, Dok.”
“Sebelum kita lanjut kepemeriksaan, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Terakhir Bu Dara menstruasi kapan?”
Dara tampak menimang jawaban, dia menatap Stevan sebentar, lantas memandang dokter Riska yang masih menunggu jawaban darinya.
“Terakhir dua bulan yang lalu, Dok.”
Dokter Riska mengangguk. Dia beranjak dari duduknya, lalu menunjuk brankar yang terdapat di ruangan ini.
“Baiklah, Bu Dara silakan berbaring di sini. Kita akan menjalankan pemeriksaan.”
Dara membaringkan tubuhnya di atas brankar, tangan wanita itu terus digenggam erat oleh Stevan.
Sementara Stevan, dia mengamati apa yang dilakukan oleh Dokter Riska dengan jantung yang berdetak cepat. Stevan tak sabar menunggu hasilnya. Ah, semendebarkan inikah melihat pemeriksaan ada atau tidaknya calon anak di dalam rahim.
“Pak.”
Stevan tersentak, dia menatap dokter Riska dengan pandangan linglung.
“Eh iya. Ada apa, Dok?” tanya Stevan, mengundang tawa sang istri.
“Kamu kenapa? Kok ngelamun?” tanya Dara.
Stevan meringis, dia menggaruk kepalanya.
“Jadi, istri saya tidak papa, ‘kan, Dok?”
“Coba Bapak lihat ke arah monitor.”
Stevan mengikuti arah pandang dokter Riska.
“Di situ ada sebuah titik putih, itu adalah calon anak Ibu dan Bapak.” Dokter Riska tersenyum. “Selamat ya, Pak. Usia kandungan Bu Dara sudah berusia enam minggu.”
Stevan menatap penuh haru ke arah monitor lalu beralih ke perut Dara.
“Hai, Nak. Selamat datang di rahim Mama. Kamu sehat-sehat di sana, ya? Papa menunggu kehadiranmu di sini,” ucap Stevan dengan nada bergetar, jangan lupakan tangan kanannya yang terus mengusap perut Dara dengan lembut. “Terima kasih, Sayang.” Stevan mengecup kening Dara lama.
Dara tersenyum, dia bahagia. Akhirnya apa yang dia tunggu hadir juga. Dara pasti akan berusaha menjaga calon bayinya. Dia tak ingin, anak yang dia nanti pergi kembali. Cukup sekali, semoga saja takdir berpihak padanya.
Terima kasih, Ya Allah. Aku tahu Kau punya kejutan besar untukku. Setiap detik yang kulalui, tak pernah lepas dari campur tangan-Mu. Aku tahu, Kau tak pernah meninggalkanku sendirian dalam kesusahan. Aku tahu, Kau pasti memiliki rencana terbaik untuk hamba-Mu. Ini bukanlah akhir dari segalanya, tetapi sebuah awal dari kebahagiaan, ya semoga saja.
Kehilangan lebih menyakitkan, tetapi tidak diberikan kesempatan jauh lebih menyakitkan. Untuk ini, kutitipkan pesan pada kalian, jangan pernah menyalahkan takdir Allah. Sadar atau tidak, Allah telah menyiapkan sebuah kebahagiaan untuk kau nikmati, tentunya setelah badai besar menerjang.
Tuhan Maha Baik, bahkan ketika kau meninggalkan-Nya sejauh mungkin, Tuhan tetap mau merangkulmu; membawamu ke tempat yang lebih baik. Tuhan tak membencimu, hanya saja ia sedang melihat, seberapa lama engkau bisa jauh dari-Nya.
Dari kisah ini kita belajar, bahwa takdir tak pernah salah tuan. Setiap manusia telah ditentukan takdir baik dan buruknya.
__ADS_1
—Tamat—