
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Dara memandang puas ke arah dua anak laki-laki yang saat ini telah mengenakan rapi baju seragam khas Taman Kanak-kanak. Bibirnya tak henti mengembangkan sebuah senyuman. Kedua anak itu terlihat lebih tampan dengan balutan seragam kotak-kotak TK Harum Bangsa.
“Anak-anak Mama ganteng semua, ih!” Dengan gemas, Dara mencubit pipi Langit dan Gervan bergantian.
“Mama, pipi Elang sakit,” keluh Langit, sambil berusaha menyingkirkan tangan sang mama dari pipinya.
Stevan yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu pun tertawa. Wanitanya itu terlihat memiliki jiwa keibuan yang kental. Buktinya, Dara dapat menyayangi dan mengurus Langit dan Gervan tanpa mengeluh. Padahal, dua anak itu bukanlah anak kandung mereka.
Dara mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara tawa Stevan. Matanya memandang aneh ke arah sang suami yang masih berdiri di tempat semula. Ia menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa kamu, Pa?”
Stevan menggeleng pelan, pria yang sudah rapi dengan setelan kantor itu melangkah mendekat, menghampiri kedua anak dan istrinya lalu mendudukkan diri di antara Gervan dan Langit yang duduk di atas ranjang.
“Anak-anak Papa ganteng, persis papanya.”
Dara mencibirkan Stevan, sejak kapan suaminya itu menjadi pria narsis?
Langit mengangguk antusias, lalu berkata,
“Iya dong, kan Bang Van sama Elang anaknya Papa Stevan dan Mama Dala.”
Dara menggeleng pelan melihat kenarsisan ayah dan anak itu. Wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang hanya diam sambil mengayunkan kakinya yang menggantung di ranjang.
“Ayo kita sarapan sekarang, biar nanti nggak telat ke sekolahnya,” ucap Dara, sambil mengulurkan tangannya ke arah Gervan.
Gervan tersenyum, menyambut uluran tangan sang mama lalu keluar dari kamar, diikuti oleh Stevan yang tengah menggendong Langit.
Sesampainya di meja makan, keempat manusia berbeda usia itu segera mengambil posisi duduknya masing-masing, kecuali Dara yang lebih dahulu mengambil dua gelas susu juga secangkir kopi dari meja pantri, lalu meletakkan masing-masing gelas di depan suami dan kedua anaknya.
“Hari ini Mama yang bakalan antar Elang sama Gervan, sekalian mau temanin kalian sampai pulang di sana,” ucap Dara—membuka suara setelah mendudukkan diri di seberang Stevan.
Gervan mengangguk. “Telima kasih, Mama.”
__ADS_1
“Tidak perlu berterima kasih, Van. Salah satu tugas seorang ibu adalah menemani anaknya.”
“Ya sudah, ayo sarapan dulu,” titah Stevan. Mereka pun mulai menikmati sarapan dalam keheningan.
...🌾🌾🌾...
Stevan memelankan laju mobilnya saat sudah hampir mendekati area sekolah TK Harum Bangsa. Pria itu meghentikan mobil tepat di depan sekolah itu. Stevan menoleh ke samping—di mana istrinya tengah duduk di sana.
“Jaga diri baik-baik, ya,” pesannya, sambil mengelus rambut Dara lembut. Stevan mengalihkan perhatiannya pada dua anaknya di belakang. “Kalian berdua belajar yang rajin, biar bisa banggain Papa dan Mama.”
Langit dan Gervan mengangguk bersamaan. Kedua anak yang memakai seragam sama itu mencium punggung tangan sang papa lalu turun dari mobil.
“Aku turun dulu ya, Mas. Kamu yang semangat kerjanya,” ucap Dara tersenyum manis, lalu mencium punggung tangan suami tercintanya.
Stevan mengangguk, ikut tersenyum. “Iya, Sayang. Nanti pulangnya aku jemput, ya? Kabarin aja kalau udah mau pulang,” ucapnya yang mendapat balasan, berupa anggukan dari Dara. Stevan menyempatkan diri mencium kening Dara sayang.
Wanita yang memakai baju tunik panjang itu segera turun dari mobil. Di samping mobil, sudah ada Gervan yang tengah berdiri santai, juga Elang yang tengah berdecak—sebab menunggu mamanya yang tak kunjung turun dari mobil.
“Mama lama!” protes Langit, sambil menatap mamanya cemberut.
Dara tertawa, wanita itu melangkah mendekat lalu mengacak pelan rambut Langit—yang langsung mendapat tatapan kesal dari anak itu.
Dara menghentikan langkahnya tepat di depan seorang wanita yang tengah sibuk berbicara dengan anak perempuan di sampingnya. Dara mengambil duduk di sebelah wanita itu.
“Hai, Adisya!” sapa Dara, sambil mengacak pelan rambut hitam Adisya.
Adisya tersenyum hingga matanya menyipit. “Pagi, Tante Dala. Pagi Kak Van!”
Gervan mengangguk, tanpa ada niatan untuk membalas. Sementara di sampingnya, ada Langit yang menatap Adisya sambil berdecak pelan.
“Aku nggak disapa juga?” tanya Langit.
Adisya menggeleng dengan gerakan kaku. “Nggak, memangnya kamu siapa, sampai aku halus sapa?” tanyanya, sambil melipat tangannya di depan dada.
“Aku—“ Belum sempat Langit menyelesaikan ucapannya, tangannya sudah ditarik pelan oleh Gervan.
“Mama, Van sama Elang masuk kelas dulu, ya.” Gervan segera mencium punggung tangan Dara, hingga mau tak mau Langit ikut melakukan hal sama. Kedua bocah itu mulai melangkah menuju kelas masing-masing.
Melihat kepergian teman barunya, Adisya segera turun dari kursi panjang—tempat di mana dia, mamanya, juga Dara duduk. Anak perempuan itu menoleh ke arah sang mama, lalu mengulurkan tangan.
__ADS_1
“Disya ikut masuk, Ma,” pamit Adisya.
Kaki mungil itu berlari-lari kecil, berusaha menyusul langkah kedua anak yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Saat jarak keduanya sudah dekat, Adisya segera menyerobot, dia berdiri di antara Gervan dan Langit.
“Kamu ngapain ikutan aku sama Bang Van?” tanya Langit, ia memandang sinis anak yang tengah melangkah di sampingnya.
Adisya meringis, dia memegang tangan Langit lalu mengayunkannya pelan. Adisya memasang wajah memelasnya.
“Langit, maafin Disya, ya? Tadi Disya cuma belcanda.”
Langit tak menanggapi, bocah itu malah melengos pergi memasuki kelasnya—meninggalkan Gervan juga Adisya yang sudah menatap kesalahan ke arahnya.
Sementara disisi lain, tempat di mana Eva dan Dara berada. Dua ibu muda itu duduk bersampingan, sambil menceritakan banyak hal.
“Dara, gue ... boleh tanya sesuatu nggak sama lo?” tanya Eva.
Dara menoleh, menatap Eva dengan alis terangkat sebelah.
“Tanya apa? Nggak biasanya lo kalau mau tanya harus izin dulu. Biasanya langsung terobos, tanpa tahu titik koma.”
Eva menggaruk tengkuknya, wanita itu ikut menatap Dara.
“Apa benar, kalau Gervan bukan anak kandung lo?” tanyanya skeptis. Dia hanya takut, bahwa pertanyaannya kali ini menyinggung perasaan sahabatnya ini.
“Alasannya lo tanya gitu, kenapa?”
“Gue cuma nggak yakin aja gitu. Nih, kita main logika aja. Usia pernikahan lo sama Stevan aja belum ada lima tahun, lho. Terus, mana mungkin udah punya anak yang usianya lima tahun, oh atau lebih, ‘kan?” jelas Eva—mengungkapkan sesuatu yang sejak kemarin menganggu pikirannya.
Dara tersenyum, kemudian mengangguk.
“Sahabat gue ternyata pintar juga, ya?” Dara tertawa pelan. “Iya, lo benar, kalau Gervan bukan anak kandung gue dan Stevan. Gervan itu anak yang gue temuin di depan toko gue dua minggu lalu.”
Eva diam, wanita itu terus mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Dara.
“Pertama kali gue ketemu Gervan, kondisi anak itu tidak bisa dikatakan baik. Banyak memar yang gue lihat di tubuhnya. Gue memutuskan buat mengadopsi Gervan, tapi sebelum itu ... gue terlebih dahulu mencari tahu soal kehidupan Gervan yang sebelumnya lewat orang kepercayaannya Stevan,” jelasnya.
Eva mengangguk mafhum, wanita itu sangat terharu dengan kebaikan hati sahabat wanitanya ini. Ah, kapan lagi Eva dapat bertemu dengan wanita sebaik Dara?
To be continued ....
__ADS_1