
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Suara pintu UGD yang terbuka itu mengalihkan perhatian semua orang. Mereka kompak menatap sang dokter yang berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Stevan yang langsung diangguki oleh semua orang.
Dokter Aris menghela napas pelan, matanya menatap Stevan lalu orang-orang yang berada di sana bergantian.
“Maaf, Pak.”
Ucapan maaf yang terdengar ambigu itu membuat mereka menahan napas—takut-takut jika hal buruk yang mereka pikirkan benar-benar terjadi.
“Un ... untuk?” tanya Shira terbata-bata.
“Ibu Dara keguguran.”
Seketika, Stevan menurunkan Langit dari gendongannya. Kakinya melangkah mendekat, menghampiri sang dokter yang masih berdiri di posisi semula. Tanpa banyak kata, pria itu segera mencengkeram jas yang Aris gunakan.
“Dokter jangan bercanda!” sentaknya, napas Stevan terdengar memburu. “Anak saya nggak mungkin kenapa-napa!”
“Tapi, itu memang sudah kenyata—”
Bugh.
Belum usai dokter itu berbicara, sebuah tinjuan mendarat sempurna di rahangnya.
“Lo nggak usah bercanda!” Stevan kembali berseru.
Melihat keadaan yang semakin tidak kondusif, Vano segera menghampiri Stevan. Pria itu menahan tubuh anaknya yang terus saja berusaha memberontak.
“Lepasin, Yah. Dokter gadungan ini pantas diberi pelajaran, dia udah ngarang cerita!” seru Stevan.
“Stevan!” bentak Vano yang mampu membuat Stevan tak lagi memberontak. “Ini sudah menjadi takdir yang Tuhan berikan, kamu tidak bisa mengelak takdir, Ste,” ucapnya, melembut.
“Tapi, Yah ....”
“Stevan, mungkin saja saat ini Allah tengah menguji kekuatan rumah tangga kalian, Allah pasti punya rencana yang lebih baik,” tutur Anita sambil mengusap kepala anak itu lembut.
Stevan akhirnya mengalah, dia melepas cekalan tangan sang ayah, lalu memeluk erat tubuh Anita.
“Anakku pergi, Bunda. Ini salahku, aku nggak bisa jadi papa yang baik. Belum lahir aja aku nggak bisa jaga dia, apalagi kalau dia udah lahir,” adunya.
Tumpah sudah pertahanannya, pria itu menangis deras di pundak wanita yang telah melahirkannya. Stevan lemah, rasanya dunianya benar-benar runtuh seketika. Bagaimana dirinya nanti harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Dara. Stevan tak sanggup melihat wajah sedih Dara.
“Stevan, dengarin Bunda.” Stevan mengangguk. “Manusia diberi cobaan agar dia menjadi sosok yang lebih baik lagi. Tanpa cobaan, kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan,” tutur Anita, tangan wanita itu masih setia mengusap kepala anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Anita tahu bagaimana rapuhnya Stevan. Anita tahu sakitnya yang dirasakan Stevan. Namun, sesedih dan sesakit apa pun Stevan, Anita akan selalu menjadi tempat bercurah hatinya laki-laki itu.
Stevan mengangguk paham, dia melepaskan pelukannya lalu mengusap wajahnya yang berurai air mata.
“Sekarang kamu lihat istrimu, dia yang lebih merasa sakit dan kehilangan,” titah Anita.
Stevan menurut, dia berbalik, lalu melangkah menuju ruang UGD. Saat tatapannya beradu dengan Dokter Aris yang masih di posisi, Stevan melemparkan tatapan tajamnya. Sesampainya di depan pintu, Stevan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Dia harus kuat, dia tak boleh terlihat lemah di hadapan Dara. Stevan harus bisa menjadi pelibur lara wanita itu. Meski dia juga merasa kehilangan, tetapi kebahagiaan Dara adalah yang terpenting baginya.
Stevan memantapkan niatnya, perlahan dia membuka pintu. Kakinya terus melangkah hingga sampai di samping bed hospital sang istri. Wajah Dara tampak damai. Wanita itu masih setia dengan alam bawah sadarnya. Ada yang berbeda dari wanita itu sekarang, wajah Dara terlihat sangat pucat, jangan lupakan perutnya yang sudah tak lagi buncit.
Stevan menarik bangku yang berada di samping bed hospital lalu mendudukinya. Pria itu meraih tangan sang istri, lantas mengecupnya beberapa kali. Air mata pria itu kembali menetes.
“Maafin aku, Dara. Aku nggak bisa jagain anak kita ...,” lirihnya.
Stevan masih ingat jelas bagaimana wajah bahagia Dara saat tahu wanita itu tengah mengandung. Stevan ingat, betapa seringnya Dara mengelus perutnya sendiri dengan bibir tersenyum. Dan sekarang, satu hal yang paling Stevan takutkan. Stevan takut, dia tak dapat lagi melihat wajah bahagia istrinya.
“Eungh.”
Suara lenguhan itu berhasil menyadarkan Stevan dari lamunannya. Matanya menatap Dara yang juga tengah menatapnya. Dada pria itu berdebar kencang.
“Da ... dara.”
“Gervan di mana, Ste?” tanya Dara.
Pertanyaan singkat itu berhasil membuat Stevan bergeming. Dia baru sadar, sejak insiden jatuhnya Dara di ruang tamu tadi, Stevan belum juga melihat sosok Gervan hingga saat ini.
Mendengar jawaban dari sang suami, secepat kilat Dara berusaha mendudukkan diri. Namun, apa ini? Kenapa perutnya terasa sangat sakit. Dara meraba perutnya, kenapa dia tak lagi bisa merasakan perutnya yang buncit? Kenapa dia tak lagi merasakan akan kehadiran makhluk yang sangat dinantikannya. Air mata Dara mulai menetes, dia menatap Stevan dengan pandangan penuh tanya.
“Anak kita, Ste ...?” tanya Dara, lirih.
Stevan menunduk, sambil memejamkan matanya. Pria itu kembali merasakan sesak, apalagi melihat wajah sang istri yang sudah berurai air mata.
“Ste, jawab aku. Anak kita nggak kenapa-napa, ‘kan?” tanya Dara menuntut.
Stevan menggeleng pelan. “Maaf,” ucapnya penuh penyesalan lalu memeluk tubuh Dara erat.
“Nggak, Ste. Kamu pasti bohong, ‘kan? Anak kita baik-baik aja, ‘kan? Anak kita nggak mungkin pergi, Ste.” Air mata Dara terasa makin deras mengalir di pipi.
Stevan tak menjawab, dia makin mengeratkan pelukannya. Berharap, dengan pelukan ini mampu menenangkan hati keduanya.
Seakan tersadar dengan sesuatu, Dara mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan pelukan Stevan, hingga pelukan itu dapat terlepas. Dara menatap Stevan serius.
“Kamu nggak tahu di mana, Gervan?” Lagi dan lagi, hanya gelengan yang dia dapat. “Gervan diculik, Ste. Gervan dibawa sama orang yang nggak aku kenal.”
Stevan mengepalkan tangannya, pria itu membalikkan badannya, lalu meninju udara.
“Argh!” Stevan berteriak frustasi, ia berniat melangkah keluar ruangan—tentunya dengan perasaan yang tak menentu. Namun, langkah pria itu terhenti saat melihat kehadiran orang-orang yang tadi masih berada di depan ruang UGD.
__ADS_1
“Kamu di sini jaga, Dara. Biar Papa sama Vano yang cari keberadaan Gervan,” ucap Arya, menepuk beberapa kali pundak Stevan, mengisyaratkan agar pria itu tak perlu khawatir.
Vano mengangguk. “Iya, kamu di sini saja. Dara masih sangat membutuhkan kehadiran kamu untuk menemaninya.”
Stevan mengangguk pasrah. “Terima kasih, Pa, Yah. Kabarin kalau sudah ada kabar baik.”
Vano dan Arya mengangguk, keduanya kembali melangkah keluar ruangan. Usai kepergian dua orang itu, Stevan menghampiri Dara yang tengah diajak berbincang dengan Langit.
“Mama, Mama kenapa?” tanya Langit, suara anak itu terdengar parau, sebab sejak tadi terus saja menangis, mengkhawatirkan keadaan sang mama.
Dara menggeleng lalu tersenyum tipis.
“Elang doain ya, semoga adik Elang bahagia di surga.”
“Kenapa Adik pelgi, Ma? Elang, kan belum sempat main sama dia.”
“Karena Allah sayang sama adiknya Elang, makanya Allah nggak mau kalau adiknya Elang tersakiti di dunia ini,” jawab Shira, mengelus kepala Langit lembut.
Anita mengangguk setuju. “Iya, oleh karena itu, Elang harus doain biar adiknya Elang bahagia di surga.”
“Elang akan selalu beldoa, bial adik Elang bahagia.”
“Elang sama Oma dulu, Yuk. Kita beli minum di kantin,” ajak Anita. Wanita itu tahu, Shira dan Dara sedang membutuhkan waktu untuk berbicara.
Langit mengangguk. “Iya, Oma.”
Setelah Anita dan Langit pergi, Shira segera menarik Dara ke dalam dekapannya. Tanpa dipandu, air mata kedua wanita berbeda usia itu perlahan menetes.
“Ma, anak aku pergi, Ma,” adu Dara, sambil menenggelamkan kepalanya di pundak sang mama.
Shira mengangguk paham, wanita itu terus mengusap kepala hingga punggung Dara.
“Kamu yang ikhlas, ya? Allah sedang menguji rumah tangga kalian. Allah memberi cobaan bukan karena kalian salah, tapi Allah sedang memberikan pemahaman, supaya kalian menjadi orang-orang yang lebih kuat lagi. Nahnu mudabbir, wallahu muqaddir, kita punya rencana, tapi Allah yang menentukannya.”
Dara hanya bisa mengangguk, meski dalam hatinya terus saja merasakan sesak yang sangat mendalam. Dia kehilangan calon anaknya, dan dia juga tak tahu keberadaan Gervan di mana.
Siapa yang harus kusalahkan atas kejadian ini? Siapa yang pantas kubenci atas perginya anak yang bahkan belum sempat aku lihat rupanya? Siapa yang pantas kumarahi saat aku tak memiliki harapan untuk bertemu anak ini?
Ya Allah, inikah ujian yang mereka sebut pelajaran untuk menguatkan? Ya Allah, ini terasa sakit.
Kita memang tidak bisa melihat bagaimana dan apa yang akan terjadi di depan sana, tetapi kita punya Allah yang dapat kita percaya bahwa rencananya pasti jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan.
Mungkin saja, Allah mengambil anakku karena ingin mengajarkanku apa arti keikhlasan yang sesungguhnya. Meski aku pun tak tahu, dapatkah aku ikhlas secepat itu?
Aku hanya berharap, semoga kamu bahagia. Mama akan selalu menyayangimu, anakku.
To be continued ....
__ADS_1