
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Di sebuah ruangan yang minim cahaya, terdapat seorang anak yang tengah duduk di kursi dengan posisi terikat. Keadaan anak itu sudah jauh dari kategori layak. Tubuh kecilnya penuh dengan lebam, juga luka sayatan.
Entah sudah berapa hari dia dikurung di dalam ruangan gelap ini, yang dia pedulikan hanyalah, kapan dia bisa keluar dari sini. Dia sudah tak sanggup jika terus berada di sini, siksaan dari pria itu terus saja datang—tanpa tahu waktu. Dia berharap, orang tua dan keluarganya cepat menemukan keberadaannya di sini.
Ceklek!
Pintu yang dibuka itu membuat cahaya menyelinap memasuki ruangan—yang dapat dikatakan sebagai gudang itu. Seorang pria berusia empat puluhan tampak melangkah menghampiri anak yang bergeming di tempat setelah kembali menutup pintu. Jangankan memberontak, berteriak saja rasanya anak itu sudah tak sanggup.
“Selamat pagi, keponakan Paman yang paling ganteng,” sapa pria itu. Tangannya bergerak menyusuri pipi anak itu lembut, sebelum menamparnya keras.
Plak.
“Bangun, jangan malas-malasan terus!” sentaknya, matanya menatap tajam pada anak yang masih saja tak menanggapi.
Plak.
Sekali lagi, tamparan itu mendarat mulus di pipi sebelah kiri anak itu.
“Sa ... sakit, Paman,” cicit anak itu.
Pria yang menamparnya terkekeh, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak, lalu kembali menatap anak itu tajam.
“Gervan, Gervan. Bagaimana, apakah kamu bahagia tinggal bersama keluarga barumu?”
Ya, anak itu adalah Gervan. Dan pria yang selama ini menyiksanya adalah pamannya sendiri—Yuda.
Kepala Gervan yang semula menunduk, kini mulai mendongak. Dia membalas tatapan tajam sang paman.
“Gervan bahagia, Papa sama Mama nggak pernah kasarin Gervan kayak Paman. Mereka bahkan sayang sama Gervan,” jawab Gervan lantang.
Yuda mendesis, pria itu mencengkeram erat dagu Gervan. “Kamu kira mereka benar-benar menyayangimu? Tidak, Gervan. Mereka hanya berpura-pura. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar mmenyayangimu. Mereka hanya kasihan melihat anak malang seperti dirimu lontang-lantung tak jelas.”
Yuda melepaskan cengkeramannya. Dia berbalik badan lalu melangkah maju. Lagi dan lagi, dia tertawa meremehkan.
“Orang-orang yang menyayangimu telah mati. Telah mati, Gervan! Papa dan mama barumu merawatmu karena ada maksud lain. Nanti, saat kamu besar, kamu akan menjadi budak mereka! ”
“Paman bohong, Paman jahat. Papa sama Mama bukan orang yang seperti Paman bilang. Papa sama Mama orang baik, nggak seperti Paman!” bantah Gervan.
__ADS_1
Anak itu berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya. Namun, sekali lagi, anak sekecil dirinya bisa apa, jika dibandingkan dengan orang sedewasa Yuda?
Yuda berbalik, dia kembali menghampiri Gervan sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya. Matanya makin menatap tajam anak yang sudah terlihat ketakutan itu.
“Kamu sudah berani, ya? Oh iya, kamu bilang mereka menyayangimu? Hei, jika mereka benar-benar menyayangi, mereka pasti akan mencarimu. Namun, apa? Mereka bahkan tidak ada niat untuk mencari keberadaanmu.” Yuda berdecak mengejek. “Kamu terlalu percaya diri Gervan!”
Yuda semakin melangkah maju, tangannya bergerak memutar-mutar pisau lipat di tangannya. Dia suka aroma darah, dia suka melihat tingkah ketakutan Gervan, dan tentunya dia suka melihat Gervan terluka karenanya.
Tubuh Yuda membungkuk sedikit, dengan tak berperasaan, pisau yang dipegangnya mulai bergerak bebas mengukir sesukanya di wajah Gervan. Kulit yang semula mulus tanpa cacat itu, kini sudah dipenuhi goresan.
“Paman kasihan melihat hidupmu yang menderita, Gervan,” ucap Yuda mendramatis, tangannya tak henti menggores tubuh lemah anak itu.
“Sa ... sakit, Paman.”
Lagi dan lagi, rintihan kesakitan itu tak dihiraukan oleh Yuda. Pria itu malah tampak makin bersemangat mengukir karya di wajah keponakan tercintanya.
“Karena Paman adalah orang baik ... maka Paman akan mengantarkanmu untuk menyusul kedua orang tuamu.” Yuda menghentikan kegiatan mengukirnya. Dia berdiri tegak, menepuk beberapa kali kepala anak itu.
“Selamat tinggal keponakan Paman!” Yuda segera mengarahkan pisau lipatnya ke perut anak itu.
“Pa ... man ja ... hat,” lirih Gervan, berusaha menahan sakit yang makin menjadi.
“Terima kasih pujiannya.”
Brak.
Yuda segera menghunus pisaunya saat pintu gudang—tempat mereka berada, didobrak oleh seseorang. Yuda menoleh ke arah pintu, di sana terlihat dua orang pria, yang dia yakini salah satunya adalah papa baru keponakannya, juga beberapa polisi melangkah menghampiri mereka.
“Angkat tangan!” seru salah seorang polisi sambil menodongkan pistol ke arah Yuda.
Yuda melepas genggaman pisaunya. Dia mengangkat kedua tangan lalu tertawa pelan.
“Saya tidak membunuhnya!” elaknya, masih mempertahankan tawanya, akal sehatnya seolah telah hilang entah ke mana.
Stevan, pria itu bergegas menghampiri Gervan yang sudah terlihat lemah dengan perut yang terus mengeluarkan darah. Stevan menatap tajam Yuda yang masih tertawa lalu mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang menatapnya sambil tersenyum.
“Pa ... pa,” lirih Gervan.
Stevan mengangguk. “Iya, ini Papa, Sayang. Maaf, Papa terlambat datangnya,” sahut Stevan sambil terus berusaha melepas tali yang mengikat tubuh anaknya itu.
Setelah berhasil, Stevan segera melepas jaket yang digunakan, lalu mengikatnya tepat di perut Gervan.
__ADS_1
“Stevan, lo bawa Gervan ke rumah sakit. Orang gila ini biar gue yang urus!” titah Alden. Ya, pria yang datang bersama Stevan adalah dirinya.
Stevan mengangguk, dia segera mengangkat tubuh lemah Gervan menuju mobil.
“Gervan bertahan, Nak. Papa mohon jangan tutup mata,” ucap Stevan, seiring mobilnya yang makin melaju.
“Sa ... kit, Pa ... pa.”
“Kita akan segera ke rumah sakit, kamu bertahan, Nak.” Namun, ucapan itu tak dihiraukan oleh Gervan, sebab anak itu telah menutup matanya.
Stevan makin menambah kecepatan mobilnya. Dia terasa sangat mengkhawatirkan keadaan anak itu. Sampai kapan pun, Stevan tidak akan pernah memaafkan pria bajingan yang telah melukai anaknya ini. Meski bukan anak kandung, Stevan telah menyayangi Gervan setulus hatinya.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, dia segera mengangkat tubuh Gervan memasuki rumah sakit.
“Suster, tolong anak saya!”
Beberapa perawat segera berdatangan sambil membawa brankar. Tanpa banyak kata, Stevan segera membaringkan Gervan. Mereka bergegas mendorong brankar menuju ruang UGD, sebab terlambat sedikit saja, nyawa orang menjadi taruhannya.
Stevan melangkah mondar-mandir di depan ruang UGD. Rasa khawatir makin terasa merajalela di hatinya. Stevan mengacak rambutnya frustasi. Jika sampai Gervan tidak selamat, rasanya Stevan gagal menjadi orang tua yang baik.
“Stevan.”
Panggilan dari seseorang itu membuat Stevan yang sudah duduk di kursi tunggu mendongak. Di depannya, Arya dan Shira tengah berdiri menatapnya.
“Kamu ngapain di sini? Dara sakit lagi?” tanya Arya.
Stevan menggeleng. “Gervan, Ma, Pa.”
“Kenapa dengan Gervan? Apa dia sudah ditemukan?” tanya Shira penasaran.
Stevan mengangguk. “Iya, Ma. Sekarang lagi diperiksa sama Dokter.”
“Ya Allah, alhamdulillah.” Shira segera menatap Stevan. “Oh iya, kamu sudah hubungi Dara?”
Stevan menggeleng. “Stevan belum sempat, Ma.”
“Ya sudah, biar Mama yang hubungi.”
Stevan hanya mengangguk pasrah. Pria itu merasa terus gelisah. Stevan juga takut, bagaimana reaksi Dara saat melihat keadaan Gervan. Stevan tak ingin keadaan wanita itu kembali drop, apalagi mereka baru kehilangan calon anak mereka.
To be continued ....
__ADS_1