
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Suara bising kecipuk air juga ramai tawa kedua anak itu memenuhi area belakang rumah di hari ahad ini. Di dalam sebuah kolam renang, terdapat Stevan yang tengah berenang, juga Gervan dan Langit yang tengah asik bermain air dengan memakai bebek pelampung.
Gervan melirik sang adik yang tengah sibuk bermain dengan beberapa bebek mini berwarna kuning yang mengambang di atas air. Tiba-tiba, sebuah ide untuk membuat Langit kesal muncul di otak kecilnya. Gervan segera mencipratkan air ke wajah Langit yang langsung membuat anak laki-laki kecil itu memekik kaget.
“Mama!” seru Langit. Dia menatap kesal ke arah sang abang yang justru tertawa lebar, dengan tangan yang terus berusaha menghalangi wajahnya agar tak terkena air.
“Haha, ayo balas, Lang!” seru Gervan sambil terus tertawa, tangannya terus berkerja mencipratkan air ke arah sang adik. Sungguh, rasanya menyenangkan melihat ekspresi wajah adiknya yang terlihat kesal. Seakan-akan semangatnya kian meningkat drastis.
“Mama, Bang Van nakal!” Langit kembali berseru. Anak itu menggerakkan tangannya ke depan dengan cepat, berusaha mencapai pinggir kolam. Seolah-olah jika dia terus berada di sini, hidupnya akan jauh dari kata aman.
Seorang wanita cantik berusia dua puluh delapan tahun itu tampak melangkah ke arah ketiga laki-laki yang masih asik berada di kolam renang. Di leher wanita itu, terdapat tiga buah handuk berbeda warna. Sementara di kedua tangannya, terdapat nampan berisi tiga minuman segar, dan kenyataannya memang benar. Jika mode jail Gervan kambuh, maka Langit akan menjadi korbannya; korban keusilan dari sang abang.
Dara, wanita itu tersenyum ke arah dua anak yang tengah bercanda, ah tidak—lebih tepatnya, hanya salah satunya saja. Dara bersyukur, seiring berjalannya waktu, kondisi psikis Gervan makin membaik. Anak itu sudah mau menampilkan emosi dan ekspresinya. Bahkan, tak jarang anak itu juga mengungkapkan apa yang dia rasakan. Tak seperti sebelumnya yang lebih suka diam saja. Dara lebih senang melihat Gervan menjadi seperti ini, daripada seperti sebelumnya.
Jujur saja, Dara merasa tak tega dengan keadaan Gervan setelah insiden penculikan itu. Sebenarnya, Dara merasa bukan hanya psikis Gervan yang terguncang, tetapi dia juga. Namun, Dara tetap berusaha agar terlihat baik-baik saja, walau kenyataannya dia sama hancurnya dengan bocah cilik itu. Ah, sudahlah ... membahas itu hanya akan membuka luka lama. Lebih baik lupakan, ya walaupun rasanya mustahil.
“Mama!” panggil Langit saat matanya tak sengaja menatap sang mama. Dia kembali mempercepat gerakan tangannya agar cepat sampai.
Dara tersenyum, dia meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja yang berada di sudut kolam. Dara kembali melangkah menghampiri Langit yang sudah menampilkan wajah suramnya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Dara lembut sambil berjongkok di hadapan Langit.
“Abang nakal, masa muka Elang diciplatin ail mulu,” adu Langit, matanya melayangkan tatapan sinis ke arah Gervan yang tengah berenang mendekat.
“Gervan cuma bercanda, Ma,” bantah Gervan. Dia menenggelamkan diri ke dalam kolam, lantas kembali menyembul. Gervan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, membuat air dari rambutnya mengenai Langit yang makin cemberut.
“Abang! Ailnya kena muka Elang!” protes anak kecil itu. Dia merentangkan tangan pada Dara, meminta wanita itu agar mengangkatnya dari dalam kolam renang.
__ADS_1
“Kalau sama yang lebih tua nggak boleh bicara pakai nada tinggi, ya,” tutur Dara, membuat Langit menunduk sebab merasa bersalah.
“Maaf, Mama,” cicit Langit.
“Kenapa sih ribut-ribut?” tanya Stevan yang baru saja tiba di belakang Gervan.
Langit tak menjawab, dia hanya menatap Gervan sekilas, kemudian melengos. Anak itu masih merasa kesal pada Gervan yang terlihat bahagia menjailinya. Oh, tidak bisakah abangnya itu membuat hidupnya tenang?
“Elang ditanyain Papa, tuh,” tegur Dara. Wanita itu tengah sibuk mengeringkan tubuh Langit menggunakan salah satu handuk yang dia bawa.
Langit menoleh, dia menatap sang papa yang tengah menanti jawaban darinya.
“Abang nakal, Papa.”
Stevan tertawa pelan, dia mengacak rambut Gervan yang berada di sampingnya dengan gemas.
“Memangnya, Abang nakal apa sama Elang?”
“Sudah-sudah,” lerai Dara. Dia memberikan dua handuk yang tersisa kepada dua laki-laki itu. “Keringkan badan kalian dulu, setelah itu baru makan siang,” lanjutnya.
Dara beranjak dari jongkoknya. Tangannya mengelus kepala Langit sayang lalu menggiring anak itu untuk masuk ke dalam rumah.
...🌾🌾🌾...
“Besok Elang mau diantar sama Mama sekolahnya,” ucap Langit disela makannya.
Keluarga besar Stevan itu tengah berada di meja makan, menikmati makan siang yang sudah Dara sediakan.
Dara mengangguk. “Boleh, Mama, kan sudah lama tidak mengantar kalian ke sekolah.”
Langit tersenyum lebar, dia menatap mamanya yang duduk di sebelahnya. Anak itu meraih tangan Dara lalu menciumnya.
__ADS_1
“Telima kasih, Mama. Elang sayang Mama.” Langit berujar dengan tulus.
“Mama juga sayang Elang, Mama sayang Papa, Mama sayang Gervan, dan Mama sayang semuanya,” ucap Dara menganggapi. “Yuk selesaikan makan siangnya. Setelah itu, nanti kita cerita di ruang keluarga sambil makan puding.”
Langit berseru antusias, sambil bertepuk tangan ria.
“Wah, puding. Elang udah lama nggak makan puding.”
Sementara Gervan, anak itu menatap binar wajah bahagia adiknya sambil tersenyum tipis. Gervan sungguh bersyukur, dia bisa berada di tengah-tengah keluarga yang menyayanginya, terutama Dara. Ya, wanita itulah satu-satunya alasan Gervan berusaha untuk melawan traumanya. Gervan tak mau melihat mamanya terus bersedih. Apa pun akan dia lakukan, untuk membuat wanita yang paling dia sayang itu bahagia.
“Gervan.”
Panggilan lembut dari suara Dara itu berhasil menyentak Gervan dari lamunannya. Gervan menoleh, menatap sang mama.
“Kenapa, Ma?”
“Besok Kak Van mau dibuatin bekal apa sama mama?” Kali ini Langit bersuara, yang langsung diangguki oleh Dara.
“Gervan bakalan makan apa aja yang Mama buatin. Soalnya semua masakan Mama enak,” sahut Gervan. Dia meletakkan sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik, lantas meminum air putih. “Kalau begitu, Gervan mau ke kamar dulu, Ma, Pa, Lang.”
“Ya sudah, tapi nanti turun ke ruang keluarga. Mama sudah buatkan puding buat kalian, setelah itu baru tidur siang,” ucap Dara.
Gervan mengangguk. Dia turun dari kursinya, lalu melangkah menuju kamar.
Stevan menatap kepergian Gervan. Dia tahu, dalam anggota keluarganya tak ada yang benar-benar dalam kondisi baik-baik saja. Stevan yakin, mereka hanya berpura-pura untuk terlihat kuat, untuk terlihat bahagia, hanya karena tak ingin membuat orang lain ikut merasakan kesedihannya.
“Ste, kok malah bengong. Ayo lanjut makan,” tegur Dara.
Stevan segera menoleh. “Eh, iya, Sayang.”
To be continued ....
__ADS_1